"Jangan berani bilang kamu ngerti. Aku yang ngerasain, jadi cuma aku yang tahu gimana sakitnya. Kamu nggak akan bisa ngerti!"
Kata-kata itu mengalir deras dari bibir yang bergetar milik teman saya. Ia cukup mempercayai saya untuk mendengarkan kisahnya. Sambil memandangi matanya yang sudah tergenang dengan air mata, saya hanya bisa berkata dengan separuh putus asa, "Iya kamu benar. Aku nggak bisa merasakan, tapi paling tidak aku bisa mendengarkan. Kalau aku nggak bisa kasih saran, paling nggak kamu bisa merasa baikan setelah cerita."
Teman saya itupun kemudian mencurahkan kisahnya. Jangan tanya isi kisahnya. Saya memilih untuk melupakannya, karena dia berpesan jangan pernah bilang siapa-siapa. Tapi saya tidak akan pernah lupa pernyataannya bahwa hanya dia yang tahu betapa dalamnya rasa sakit itu. Orang lain tidak akan mengerti. Benarkah demikian? Bila ia benar, maka empati menjadi suatu hal yang tak mungkin terjadi. Pasalnya, tak mungkin kita menjelma menjadi orang lain untuk dapat menyelami hati dan pikirannya. Bahkan ketika kita mengalami peristiwa yang sama sekalipun, reaksi dan persepsi kita tidak akan tepat sama. Saya mungkin akan menanggapi hujan dengan bersungut-sungut karena jemuran saya tidak akan kering hari ini, sementara seorang petani bergirang ria karena sawahnya mendapat air dengan cuma-cuma. Seperti kata pepatah, dalamnya lautan dapat ditebak, dalam hati siapa tahu. Bila demikian, teman saya ini benar. Tidak akan ada yang mampu mengerti perasaannya karena memang hanya dialah yang merasa.
Sekali lagi saya bertanya; benarkah? Kalau mengerti diartikan sebagai mengetahui dan memahami maka saya meragukannya. Bisa jadi teman saya itu pun tidak mengetahui dengan jelas perasaannya sendiri karena telah dibanjiri dengan emosinya -yang kala itu negatif. Padahal emosi negatif yang kuat cenderung membuat seseorang hanya memperhatikan penghalang ataupun beban yang dihadapinya; emosi positif yang kuat pun cenderung membuat kita mengabaikan hal-hal kecil. Jadi, saya meragukan objektivitas teman saya itu dalam menghadapi masalahnya; ia sendiri pun mungkin tidak mengetahui dengan pasti perasaannya meskipun dia sendiri yang merasakan. Mungkin justru orang lain yang dapat melihat dan mengetahui keadaannya dengan objektif. Dalam kerangka berpikir ini maka saya tak harus menjadi dia untuk dapat mengatakan 'saya mengerti.'
Lalu mana yang benar? Haruskah saya menjadi dia untuk dapat memahaminya? Ataukah saya hanya sekedar perlu mengetahui apa yang dia alami dan mencoba mengerti? Pilihan pertama hampir tak mungkin dilakukan, dan pilihan kedua pun tak menjamin suatu pemahaman yang mendalam. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu saya mencoba memetakan beberapa kemungkinan situasi.
Posisi pertama -dia paham dan saya paham.
Suatu keadaan yang ideal. Karena sama-sama paham, maka saya dapat berkata, 'Saya mengerti.'
Posisi kedua -dia paham tapi saya tidak paham.
Dalam hal ini teman saya tadi benar. Saya tidak akan mungkin mengerti karena hanya dialah yang benar-benar paham betapa dalam sakitnya. Saya tidak mungkin berkata, 'Saya mengerti.'
Posisi ketiga - saya paham tapi dia tidak paham.
Bisa jadi karena terbenam oleh emosinya sendiri, teman saya tidak dapat melihat keadaan dengan jelas. Meskipun saya paham tapi akan sangat beresiko mengatakan, 'saya mengerti.' Pasalnya emosi yang luar biasa kuat cenderung membuatnya tidak dapat berpikir objektif. Bisa-bisa dia langsung membangun benteng pertahanan yang tak mungkin ditembus.
Posisi keempat - dia tidak paham, dan saya pun tidak.
Saya tidak tahu apa yang benar-benar dirasakannya karena saya tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya, dan dia pun dikuasai oleh emosinya sehingga tidak dapat melihat dengan jernih. Dalam kerangka ini mengatakan, 'saya mengerti' jelas tidak mungkin.
Ternyata pilihan terbaik ada pada posisi pertama; ketika kita berdua sama-sama memahami permasalahan dengan objektif. Caranya? Sesuai cara lama, malu bertanya sesat di jalan. Jadi kalau mau tahu ya harus bertanya. Jadilah saya bertanya pelan-pelan sambil mendengarkan dia. Harapan saya, pertanyaan-pertanyaan saya dapat mengarahkan dia melihat masalahnya dengan lebih objektif sekaligus membangun pemahaman saya atas permasalahannya. Pada akhirnya teman saya ini memang tidak memerlukan saran, karena jawabannya atas pertanyaan yang saya ajukan dia anggap sudah dapat mengatasi permasalahannya. Hingga saat dia meninggalkan saya saat itu, saya tidak berani berucap 'saya mengerti.'
Hari ini ketika saya berpikir tentang hidup saya dan tentang DIA, saya tergoda untuk berkata, 'TUHAN ngerti nggak sih?' Itulah titik yang mengingatkan pada teman saya itu, dan kemudian pada DIA. Ketika saya renungkan, segala perkara dalam hidup sudah pernah DIA alami, tentu saja DIA mengerti. Pertanyaan saya pun berkembang, mengapa DIA mau bersusah-susah menanggung sengsara di dunia ketika DIA bisa saja bersenang-senang di Surga?
Pertanyaan itu terpuaskan dengan sepenggal lagu yang entah berapa tahun lalu saya nyanyikan bersama teman-teman.
Mengapa Yesus mati bagi saya
KasihNYA
Ya karna kasihNYA
Ya, supaya ketika kita berteriak dalam kesesakan, DIA dapat berkata, 'AKU mengerti sayang, karena AKU juga pernah mengalaminya.'
GBU