Kata “mujizat” diterjemahkan dari kata mopet (disusun dari huruf-huruf konsonan dan vokal Ibrani: Mem-Holem Waw-Pe-Sere-Taw). Kata mopet diturunkan dari akar-kata induk PT (Pe-Taw). Dalam tulisan Ibrani kuno huruf Pe adalah sebuah gambar mulut terbuka atau lubang, sedangkan huruf Taw adalah sebuah gambar tonggak atau tiang untuk menggantung panji-panji atau bendera. Gabungan dari dua gambar tersebut berarti “lubang untuk sebuah tonggak.”
Apa hubungan antara kata “mujizat” (mopet) dengan makna harfiah “lubang untuk sebuah tonggak”? Sebuah lubang dipakai untuk menancapkan tonggak atau tiang dengan panji-panji atau bendera yang tergantung di atasnya. Panji-panji atau bendera yang berkibar itulah yang mengundang kekaguman bagi orang-orang yang melihatnya. Mujizat, bagi orang Ibrani kuno, adalah suatu penglihatan yang mengagumkan.
Mujizat “Nabi”
Mujizat memang membuat orang kagum. Tapi, firman Tuhan mengingatkan bahwa hal yang paling utama adalah mengikuti Tuhan. Ulangan 13:1-4 menjelaskan masalah ini.
Nabi atau pemimpi tidak lantas diikuti, sekalipun mujizat atau tanda menyertainya. Ada patokan yang utama, yaitu apakah ia membawa orang untuk mengikuti Allah yang benar? (ayat 1-2). Bila ia membujuk untuk mengikuti allah lain, Tuhan dengan tegas melarang umatNya untuk mengikuti perkataannya, meskipun tanda atau mujizat itu telah dibuatnya. Mujizat atau tanda-tanda itu Tuhan pakai untuk mencoba umatNya, apakah mereka itu sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa (ayat 3). Firman Tuhan mengharuskan umatNya untuk mengikuti Tuhan, takut akan Dia, berpegang pada perintahNya, mendengarkan suaraNya, dan berbakti serta berpaut kepadaNya (ayat 4).
Peringatan Tuhan itu tegas. Bahkan, nabi atau pemimpi yang mengatakan tanda dan mujizat, dan meskipun terjadi, tapi kalau menyesatkan umat Tuhan, ia harus dihukum mati (ayat 5).
Implikasi
Zaman yang semakin susah ini menjadikan mujizat dan tanda-tanda ajaib sangat mempesona banyak orang. Tanda dan mujizat seringkali menjadi hal yang lebih diutamakan. Kita terpesona kepada orang yang melaluinya tanda dan mujizat itu terjadi. Sehingga, kita semakin dekat dan lekat kepada orang ini, bukan kepada Tuhan. Seringkali kita tidak berpikir kristis lagi terhadap ucapan dan perilaku “nabi” yang melakukan tanda-tanda dan mujizat itu.
Firman Tuhan dalam Ulangan 13 tersebut mengingatkan umatNya untuk melihat hal yang paling utama, yaitu mengikuti Tuhan. Kita tidak boleh dibutakan dengan tanda-tanda dan mujizat yang dilakukan “nabi” ataupun “pemimpi” itu. Kita harus bersikap kritis dan selalu membandingkannya dengan sumber kebenaran, yaitu firman Tuhan.
Mari kita selalu cek perkataan “nabi” atau “pemimpi” itu! Apakah ia membawa orang untuk mengikuti Tuhan, bukan mengikuti dirinya? Apakah ia membawa orang untuk takut kepada Tuhan, bukan takut kepadanya? Apakah ia membawa orang untuk berpegang kepada perintah atau firman Tuhan, bukan berpegang kepada perkataannya? Apakah ia membawa orang untuk mendengarkan suara Tuhan, bukan suaranya? Apakah ia membawa orang untuk berbakti dan berpaut kepada Tuhan, bukan berbakti dan berpaut kepadanya?
Mujizat memang suatu penglihatan yang mengagumkan. Tapi, firman Allah mengingatkan bahwa hal yang utama adalah mengikuti Tuhan.
(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang menggunakan rujukan dari berbagai sumber)