Submitted by ebed_adonai on

Awalnya saya merasa agak bingung bagaimana harus menuangkan semuanya ini dalam sebuah tulisan yang gampang dicerna.

Sebuah pergumulan lama sebetulnya, berawal dari sebuah chat dengan seorang teman lama di fesbuk, yang membangkitkan kembali rasa penasaran yang sudah sekian lama terbengkelai di pojok ruang hati.

Saya bertemu dengan teman itu, Rosamund Kwan (sebutlah demikian, menurut nama artis idola saya dulu, cakepnya sama sih, hihi), tanpa sengaja lewat friend list dari kolega lain. Kami bergaul sangat akrab dulu. Syukurlah keakraban itu tidak banyak berubah. Dia tinggal di Jakarta sekarang. Sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. What surprised me most, adalah betapa berbedanya Rosamund yang sekarang dibanding yang dulu, bertahun-tahun silam di Kalimantan. She's so religious now. As time goes by, people do change, begitu jawabnya ketika saya mengungkapkan rasa keterpukauan atas perubahannya itu.

Setelah berchit-chat ria saling menanyakan kabar satu sama lain, sampailah kami pada bagian kehidupan pribadi masing-masing. That's where it all started. Dia tertawa (lewat emoticon tentunya) ketika saya menyampaikan bahwa saya melanjutkan studi di Fakultas Theologia UKDW (I really wonder if she still has that gorgeous look when she laughs, but that's another story, haha).

Ketika tiba pada giliran saya untuk menyampaikan story-of-my-life, do'i rada kaget juga. Ya. Saya sampaikan pada Rosamund bahwa untuk ke sekian kalinya dalam hidup ini, saya terpaksa harus membanting stir (lagi).

"Why dear?" sapanya dalam bahasa Inggris (omong-omong Rosamund ini jugalah yang banyak berjasa dulu dalam mengajari saya berbahasa Inggris).

"It's my parents-in-law, hun. They forbade us to leave home. They said that they will surely die etc if we leave, and it's such a huge burden for us to carry on ever, should we proceed on leave."

And to make it short, akhirnya do'i menasehati saya kurang-lebih begini: "God is always right, never doubt Him in any way. If you feel that there's something wrong within your life, and nothing seems to change, seek ye first the Kingdom of God and his righteousness, and these things shall be added unto you," demikian tutupnya dengan mengutip Matius 6:33.

Percakapan kamipun terhenti. Selain karena upload foto-foto saya sudah kelar, salah satu putranya Rosamund juga menangis, sehingga perlu dininabobokkan oleh mamanya.

Kalimat terakhir Rosamund itulah yang benar-benar mengusik benak saya. Entah sudah berapa kali saya mendengar kalimat senada dilontarkan oleh kekasih-kekasih di pelayanan terhadap siapa saja yang sedang mengalami masalah yang tak kunjung selesai.

Ada sesuatu yang membuat saya merasa kurang nyaman dengan penyampaian seperti itu. Sebelum chatting dengan Rosamund, terakhir saya mendengar kalimat dengan nada serupa adalah dari pendeta di sebuah gereja, dalam pelayanan pastoral terhadap seorang ibu yang kebetulan sedang punya masalah keluarga yang berlarut-larut. Bu Li Ling Wei (sebut saja demikian juga), saya kenal sebagai seorang Kristen yang taat. Kalau ditanya bagaimana keimanannya yang sesungguhnya nun jauh di lubuk hatinya, memang saya tidak tahu (never will). Namun dalam kesehariannya, bu Li Ling Wei adalah seorang yang baik dan saleh. That's for sure.

Saya bisa merasakan, bagaimana gundahnya hati bu Li Ling Wei, walau ia tidak mengungkapkannya secara eksplisit. Sudahlah tertimpa masalah sedemikian rupa, datang ke gereja dengan harapan akan mendapatkan secercah jawaban, atau, paling tidak, sejumput penghiburan, namun ia harus pulang dengan tangan hampa. Dengan beban tambahan pula, sebagai seseorang yang HARUS mencari Kerajaan Allah dahulu de el el sebelum masalahnya bisa terselesaikan...

"Ouchh..!! It hurts..." :(

There's no doubt, bahwa di dalam Tuhan, akhirnya kita akan mendapatkan kelepasan dari semua penderitaan. Paling tidak, di rumah Bapa kelak (Wahyu 21:4).

Tapi celakanya, too often, banyak pelayan-pelayan firman yang terlihat (maafkan saya) berpandangan dangkal (atau cupat barangkali?) dalam memberikan masukan terhadap kekasih-kekasih yang sedang dirundung bencana...

"What is this??"

Apakah keadaan yang dialami oleh bu Li Ling Wei disebabkan oleh imannya yang kurang? Sebaliknya, apakah beriman=bebas hutang, bebas dari sakit-penyakit, bebas problema percintaan, keluarga rukun damai, rumah tingkat tujuh, mobil lima, dan seterusnya (feel free to draft your own list)?

Bukan sekali dua kali, ketika seseorang mengharapkan perubahan yang (tampaknya) tidak kunjung terjadi dalam hidupnya, sering kepadanya dialamatkan kalimat sakti ini: "Seek ye first the Kingdom of God and his righteousness, and these things shall be added unto you", yang terkesan sangat memojokkan yang bersangkutan.

Once again:
"Ouchh..!! It really hurts..." :(

Taruhlah bu Li Ling Wei memang adalah orang yang belum menemukan Kerajaan Allah, atau katakanlah, orang fasik sekalian. Lalu di mana Allah yang terlebih dahulu membebaskan orang-orang Israel dari Mesir, baru memberikan (atau tepatnya, memperbaharui) perjanjianNya dengan mereka? Di mana jugakah Allah yang mengasihi semua orang, yang menerbitkan matahari dan menurunkan hujan bagi orang-orang benar maupun yang brengsek? Apakah ada semacam "syarat dan ketentuan berlaku" dalam ayat "Mintalah maka akan diberi ketoklah maka akan dibukakan"? Saya tidak mengatakan bahwa ayat-ayat di atas adalah kalimat pemanis semata dalam Alkitab. Sekali-kali tidak. Juga sekali-kali saya tidak menganggap remeh pentingnya makna pertobatan. Tapi jelas ada sesuatu yang harus ditelaah secara mendalam sebelum melemparkan ayat-ayat tersebut secara serampangan kepada mata yang sembab, tampang yang kuyu, dan hati yang remuk redam.

To make the things even worse, malahan ada yang mencela, jika seseorang komplain kepada Tuhan atas apa yang dialami dalam hidupnya. "You doubt Him if you question His way," begitu kata mereka. Celakalah pak Ayub dulu, kalau memang benar demikian adanya.

"Ouchh.., ouchh.., ouchh..!!"

Bagi saya sendiri, terus terang saya tidak tahu harus berkata apa jika diperhadapkan dengan perkara sejenis. I really don't know. Stay with God, keep the faith, mungkin hanya itu yang saya bisa katakan...


"Memuaskan?"

"Mungkin tidak."


"Mencerahkan?"

"Mungkin tidak juga."


"Klise?"

"100%."


"Menghibur, menguatkan?"

"Hmmm. Bisa ya, bisa tidak."


At least, just remember this: "The LORD is nigh unto them that are of a broken heart; and saveth just as be of a contrite spirit." (Isa 34:18)


"So, when will I ever find my solution?"

"I don't know for sure."


"How?"

"Can't tell precisely either."


"Are you sure that God will always fulfill His promises?"

"Yep, certainly. You can read the Bible yourself to your own satisfaction that God is faithful."


My prayers will always be with you, beloved brothers and sisters in God.... :)


PS:
Kepada kekasih-kekasih dalam pelayanan: Maafkan saya jika ada kata-kata yang kurang berkenan...

Sebenarnya sudah banyak tulisan yang membahas hal ini. There's this book, judulnya: When Bad Things Happened to Good People, karangan seorang rabbi yang bernama Harold Kushner. Sebuah kontemplasi yang bagus untuk problema di atas. Tapi agaknya belum banyak yang membacanya sebagai sebuah perenungan untuk bekal pelayanan. Ada juga pernah saya baca, sebuah jurnal lepas dari sebuah gereja (aduh, maaf lupa data penerbitannya), yang kira-kira menuliskan demikian: "Mengapa tulisan-tulisan kristiani yang berkisah tentang orang-orang beriman yang terbelit 1001 masalah cenderung kalah populer dengan yang sebaliknya?"

To Rosamund Kwan: Thank you for enlightening my mind that night. Love you still.., always been, always will...