Dulu, bila akal dan dayaku yang terbatas telah membentur jalan buntu aku selalu pergi ke situ. Sebuah tempat yang teduh di bilangan Ambarawa yang memang ditujukan untuk berdoa, dan merenung untuk mengheningkan batin. Tapi itu dulu. Dulu sebelum tempat itu jadi terlalu ramai oleh muda-mudi yang sedang mencari tempat untuk melepaskan kasmaran itu.
Salahkan aku yang merasa terganggu melihat pasangan muda-mudi bermesraan di taman hijau yang dibangun untuk mengingat mukjizat-mukjizat yang dilakukan TUHAN YESUS itu?
"Ah, bilang saja kamu cemburu melihat mereka, Non!" begitu seloroh temanku menanggapi kegusaranku.
"Cemburu? Yang benar saja. Aku cuma merasa terganggu; bukan cemburu! Pacaran kok di sini" jawabku.
"Eh, aku berlebihan ya?" lanjutku lagi; menadari bahwa mungkin reaksiku memang berlebihan.
"Ya. Jujur, aku juga terganggu sih. Mana bisa konsen kalau harus berbaur dengan anak-anak muda yang cekikikan pacaran begitu,"tanggap temanku yang akhirnya membenarkan kegusaranku.
"Aku ada ide," cetus temanku itu tiba-tiba."Bagaimana kalau kita ke sana pagi buta. Nah, dijamin anak-anak muda itu belum memenuhi tempat itu. Jadi kan lebih tenang," ujarnya dengan tersenyum puas layaknya Archimedes yang berseru 'Eureka' saat menemukan jawaban pertanyaannya.
Kuakui idenya bagus, dan aku setuju pergi ke tempat itu bersamanya saat matahari baru mengintip di suatu Sabtu. Dia benar. Tempat itu belum lagi dibersihkan, dan terbilang sepi. Hanya ada beberapa gelintir manusia saja yang memang benar-benar mengarahkan hati pada penciptaNYA.
Sepulang dari sana, aku pun berpikir. Bukankah aku kadang tak jauh berbeda dengan para pemuda yang asyik bercinta di tempat doa itu? Sering ketika aku datang ke gereja, hatiku tak benar-benar di sana.Ia mengembara mengurusi segala keinginan, ambisi, dan bahkan amarah yang tentu arah. Begitupun, aku yakin DIA tetap menerimaku dengan segala penyelewenganku.
Ah, seharusnya sebising apa pun, ketika hanya ada aku dan DIA semua kan jadi hening dan tenang.
Submitted by
clara_anita
on