Naik kereta api, terutama yang menempuh perjalanan panjang, adalah sebuah perenungan tersendiri. Entah naik ekonomi, bisnis, eksekutif, sampai ngambing di sepur grenjeng
Menikmati perjalanan dengan kereta api, paling enak mengambil tempat duduk di dekat jendela. jadi kalau ingin duduk dekat jendela, pilih tiket bernomor tempat duduk A atau D.
Naik kereta api nggak perlu khawatir soal delay karena badai. Mau hujan badai, hujan petir, asal rel nggak terganggu, tetap aman.
Ketika kereta berjalan, maka dimulailah perjalanan penuh pengamatan. Pemandangan stasiun dan emplasemennya mulai berganti perlahan dan semakin cepat dengan pintu perlintasan kereta api atau pos jaga lintasan (PJL). di sinilah pengamatan dimulai. Kita bisa melihat ada orang yang naik sepeda, sepeda motor, mobil, becak, andong. Semuanya ngalah pada kereta api (kalau nggak mau ngalah, silahkan diadu). terkadang ada ambulan, mobil polisi, pemadam kebakaran,bahkan panser (ini saya temui di Jogja).
Ada yang menunggu dengan sabar. Ada yang menunggu dengan gelisah. Ada yang menunggu sambil melirik kiri kanannya. Ada yang bermesraan dengan pacar atau istrinya. Ada yang smsan. Ada yang marah2 nggak sabar (mungkin dah kebelet mau setor).
Yang khas dari pintu perlintasan adalah lambaian setia petugas PJL. Sebenarnya ini bukan lambaian biasa. Mereka menggantikan fungsi SEMBOYAN 1 (artinya: kereta api aman untuk melintas) dengan lambaian tangan kepada masinis. Sebenranya SEMBOYAN 1 harus dilakukan dengan mengacungkan sebilah tongkat berbentuk seperti lolipop dengan ujung lingkaran pipih berwarna putih. Tak apalah. Mungkin para petugas itu cukup lelah mengangkat tongkat SEMBOYAN 1 yang cukup berat.
Lalu pemandangan berganti dengan bagian belakang bangunan gedung-gedung atau rumah-rumah. Tidak seperti angkutan jalan raya yang hanya bisa melihat bagian depan bangunan, kereta api bisa melihat sisi lain sebuah bangunan yang megah: bagian belakangnya. Sebuah gedung yang megah atau rumah yang indah, tidak terlihat indah lagi tatkala bagian belakangnya hanyalah tembok kosong yang bahkan masih kasar karena tidak dicat.
Kereta api menampilkan sisi lain keindahan bangunan. Tak semuanya indah dari belakang. Hanya bangunan-bangunan tertentu yang memiliki dua sisi sama indahnya.
Pemandangan berubah lagi menjadi pemandangan sawah yang menghampar. Apabila kita melintas paska musim tanam, maka kita akan mendapati hamparan hijau. terkadang hamparan itu akan bergelombang layaknya air terkena angin. Terkadang kita mendapati hamparan sawah yang menguning yang siap dituai. terkadang pula kita mendapati hamparan tanah persawahan kosong, yang hanya menghitam dan mengkilap karena diairi.
Ketika kereta melintasi jembatan, kita bisa mendengarkan gema rel yang terpantul pada tiang-tiang jembatan. Pemandangan sungai pun terhampar dengan segala dinamikanya. Air sungai (ada yang tenang karena dalam, dan ad yang beriak karena dangkal) mengalir melewati batu-batu sungai yang menghitam.
(bersambung...)