Jika aku tidak melakukan sesuatu, selimutku bakalan tersingkir dari daftar blogger di halaman utama. Si Dede Wijaya hanya perlu mencari satu topik Top Ten lagi untuk membuatku tersingkir.
Aku harus melakukan sesuatu. Tidak ada cara paling cepat mempertahankan posisi selain mencari arsip lama, blog lokal kantor. Akupun menemukan blog pertamaku.
***
Jatuh cinta, manusia normal pasti mengalaminya, termasuk diriku. Ada Si Susi yang sudah kuceritakan, dan masih ada beberapa lagi. Tersimpan rapat di lima buku harian. Si Berli merupakan salah satunya yang bisa kuingat tanpa membuka kembali buku kenangan itu. Aku duduk di kelas 1 STM, sedangkan ia masih berseragam biru-putih, kelas 1 juga. kami sama-sama mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang sama. Membuatku sangat menyukai hari Rabu dan Minggu, bisa bertemu dengannya. Bahkan kadang bisa pulang bareng. Kebetulan rumah kami searah, ia di Jalan Cempaka, dan aku di jalan Seth Adji.
Suatu hari, selesai latihan, Berli bertanya, "Hei...! Kamu naik sepeda atau jalan kaki?"
"Kenapa?" tanyaku. Pura-pura tidak tahu, padahal tadi kulihat ia berangkat jalan kaki. Artinya kalau aku pulang jalan kaki, kami bisa jalan bareng. Atau mungkin juga ia ingin dibonceng dengan sepeda bututku. Sepeda gunung tanpa boncengan belakang. Berli bisa duduk di besi yang memanjang dari arah sadel ke stang. Itu yang ada dalam pikiranku.
Dan kuharapkan.
"Sepedaku rusak," jawabnya, "kalau kamu jalan kaki, kita pulang bareng, ya?"
Aku sedikit kecewa. Ia tidak meminta aku memboncenginya.
Dan aku juga menyesal, mengapa tadi pakai sepeda. Mengapa ban sepeda butut itu tidak bocor? Padahal ketika benar-benar kubutuhkan, ada-ada saja penyakitnya.
Walaupun kecewa, tetap senang juga mendengar ajakannya. Harapan itu jadinya makin tinggi. Ge-er istilahnya orang gaul.
Tiba-tiba saja aku bisa berpikir lebih cepat dari biasanya, penuh pertimbangan.
Kalau aku menjawab "Bawa sepeda," artinya Si Dadang, anak elektro yang terang-terangan mendekatinya bakalan menang satu langkah lagi. Sepeda butut pasti kalah dengan motor merah besar itu. Kalau menjawab, "Tidak bawa sepeda," artinya berbohong.
Tidak sampai lima detik, aku membuat pilihan.
Berbohong!
Jadinya kami pulang sama-sama. Jarak STM ke rumahnya hanya tiga kilometer. Aku malah berharap jaraknya sepuluh kilometer. Waktu berjalan sendirian, tiga kilometer itu terasa berjam-jam, tetapi sekarang rasanya hanya beberapa menit.
Kami berpisah di depan rumahnya. Lalu aku berjalan terus, seolah-olah pulang ke rumah. Di pertigaan sekitar seratus meter dari tempat kami berpisah, aku berbelok ke kanan. Kembali ke arah sekolah.
Sampai di sana, tempat parkir sudah kosong, sepedaku sudah lenyap.
Sampai kelas 2 STM, aku terpaksa jalan kaki ke sekolah. Seringkali aku mendengar seseorang memperlambat sepedanya, lalu berkata, "Duluan ya."
"Ya," kataku sambil memandangi Berli dengan seragam biru-putihnya.
***