Menjadi anak remaja yang memakai baju putih abu-abu aadalah mungkin sebagian impian seorang anak yang seperti saya saat itu, memakai baju seragam kebesaran itu seperti sudah masuk dalam strata masyarakat yang saya anggap dewasa dan bila saya punya pendapat akan lebih didengarkan. Jadi saya termasuk bangga dengan memakai baju itu.
Terbiasa dengan lingkungan bersekolah dengan teman-teman sekepercayaan dan seiman sempat membuat shock tersendiri masuk sekolah menengah atas negeri, karena daari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah pertama masuk dalam pendidikan swasta Kristen. Sekolah menengah atas negeri tempat saya bersekolah adalah tempat dimana saya menjadi orang Indonesia dengan ragam agama, budaya dan etnis, sungguh saya merasa berbhineka tunggal ika di sekolah itu, bahkan disekolah itu juga saya untuk pertama kalinya menitikkan airmata terharu saat menyanyikan lagu kebangsaan kita, Indonesia raya.
Cerita ini dimulai ketika saya baru merasakan enam bulan memakai baju kebesaran putih abu-abu. Masuk dan aktiv dalam kegiatan ekstra kurikuler adalah pengalaman yang baru bagi saya pribadi, karena saat –saat yang lalu lebih mengetengahkan anak muridnya untuk aktiv dalam kegiatan intrakurikuler, jadi kegiatan tambahannya bukan diselenggarakan oleh sekolah tapi mandiri dari murid-muridnya mengejar kegiatan diluar sekolah.
Sibuk dan menyenangkan saat saya bersama dengan teman-teman satu ekskul mau menyelenggarakan kegiatan Paskah dengan dana terbatas tapi ingin memberikan sesuatu yang tak terlupakan dan berkesan dihari dimana Yesus menyatakan kasihNya dengan mati dikayu salib menebus kita semua dari maut. Hal itulah yang ingin kita bagikan bagi seluruh anggota ekskul Kerohanian Kristen saat itu.
Dana lah yang mmenjadi penghalang kita saat itu, keuangan anak sma yang terbatas membuat saya merasakan betapa susahnya menyelenggarakan acara paskah, kalau saya ingat dulu betapa gampangnya saya, tinggal membayar iuran dan saya menikmati acara paskah tanpa kerja keras, tapi saat itu saya belajar hal yang indah. Saat saya mau membeli pulpen perak untuk saya tulis dikartu sebagai pembatas Alkitab kenang-kenangan acara paskah itu, saya sadar bahwa pulpen saya mulai macet-macet dan menjadi gangguan tersendiri buat saya yang diberi tugas untuk menulis itu.
Dengan berbekal uang seadanya saya pergi ke toko buku besar di dekat sekolah saya, berharap mendapat pulpen perak yang sesuai dengan kantong saya sebagai anak sekolah saat itu, saya mulai mmencari dan mencoba ribuan pulpen yang dijual di toko itu dengan mencorat-coret kertas yang disediakan diatas rak pulpen itu. Akhirnya saya menemukan sebuah pulpen perak mungil dengan harga yang pas dengan saya, bergegas saya ke kasir untuk mendapatkan pulpen itu agar menjadi sah punya saya. Sambil menunggu antrian untuk membeli pulpen itu ternyata ada pulpen bertinta perak yang jauh lebih murah dibanding pulpen yang hendak saya punyai, kontan saja saya berteriak “asyik ada yang lebih murah”. Teriakan saya ternyata membuat ibu-ibu didepan antrian saya menengok dan tersenyum seolah merasakan kebahagiaan kecil saya itu.
Saat petugas kasir sedang menghitung belanjaan ibu-ibu paruh baya itu,tiba-tiba ibu yang baik hati itu mengambil pulpen yang ada digenggaman saya dan menaruhnya dihitungan kasir itu. “sudah biar saya yang bayar saja, itu pulpen kamu tidak jadi beli ambil saja, biar sekalian.. “ saya masih takjub dan tidak bisa berbicara apa-apa, 15 tahun saya hidup tidak pernah ada orang yang tidak saya kenal membayarkan belanjaan saya walaupan itu hanya satu buah permen. Hal yang dilakukan ibu itu membuat saya terdiam sambil tersenyum beberapa detik.
Akhirnya saya mendapatkan pulpen perak bertinta kasih, karena didapatnya dari kemurahan hati seorang ibu yang sampai sekarang saya kenang bahkan saya tidak tahu namanya, dan saya belum sempat memberi tahu nama saya. Perbuatan kasih memang selalu lebih dahsyat dari sekedar perkataan. Dan kemurahan hati ibu itu membuat tulisan saya dikartu untuk paskah itu lebih terasa Indah, Yesaya 53:5 “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
Perbuatan Kasih Yesus yang besar dituliskan dengan pulpen perak bertinta kasih.