Maret 2000, lima tahun sebelum meninggal, Paus Yohanes Paulus II meminta pengampunan Tuhan atas dosa yang dilakukan gereja Roma Katolik selama dua ribu tahun ini. Dosa itu berupa diskriminasi gender, rasialisme, kebencian terhadap orang Yahudi serta kekejaman yang terjadi dalam mempertahankan iman Katolik.
Semua itu, menurutnya, terutama kebanyakan terjadi di milenium kedua. Berupa perang yang terkenal sebagai Perang Salib, eksekusi para penentang doktrin Katolik maupun eksekusi orang non-Katolik melalui sebuah pengadilan yang bernama Inkuisisi, serta pemaksaan pertobatan penduduk asli Afrika dan Amerika.
Ia tidak menyalahkan pemimpin Katolik, baik pemimpin masa lalu maupun masa sekarang. Juga tidak menyebutkan satu namapun yang berdosa. Ia hanya berkata hanya Allah yang dapat menghakimi tanggung jawab seseorang secara individu.
Tanpa menyebutkan secara spesifik apa yang terjadi, Paus ini juga berkata: "Kami meminta maaf atas perpecahan dalam kekristenan, atas kekejaman terhadap orang Kristen yang melayani kebenaran, atas ketidakpercayaan kami terhadap mereka, serta atas permusuhan yang seringkali terjadi terhadap penganut agama lain."
***
Ken Schei, seorang atheis, menghormati Yesus bukan berdasarkan apa yang terjadi di atas kayu Salib, tetapi atas apa yang Ia ajarkan di atas bukit. Karena apa yang telah dilihatnya dalam sejarah kekristenan, mendirikan "Atheis for Jesus" -- sebuah organisasi yang menerima ajaran dan pesan-pesan Yesus tentang kasih dan kebaikan hati tetapi tidak menerima Dia sebagai Allah maupun mengakui gereja sebagai lembaganya. Dalam website organisasinya, ia menulis:
Sekitar duapuluh tahun lalu, saya mulai melakukan penelitian terhadap pengaruh rasul yang mengangkat dirinya sendiri, Paulus, atas kekristenan. Saya harus mengakui pada awalnyapun saya sangat sedikit memiliki rasa hormat terhadap kekristenan secara keseluruhan. Ketika saya menyadari banyak orang mendapat keuntungan dengan memiliki agama dalam hidup mereka dan bahwa banyak hal baik telah dilakukan atas nama kekristenan, saya juga menyadari fakta, kekristenan telah dimanfaatkan (oleh orang-orang tertentu) sepanjang sejarah sebagai alasan untuk melakukan berbagai kekejian yang paling brutal, tanpa belas kasihan, dan tanpa perasaan, yang pernah dikenal oleh manusia. Contoh-contoh historis yang pernah ada tidak sukar untuk diingat kembali: Perang Salib; Inkuisisi (the Inquisition == pengadilan agama yang ditunjuk oleh gereja Katolik Roma untuk membasmi praktek klenik pada abad ke-15 dan ke-16); pembakaran para ahli sihir; the Holocaust (pembasmian keturunan Yahudi oleh pemerintah Nazi); dan masih banyak hal lain yang terlalu banyak untuk disebutkan ... saya tidak melihat banyak kebaikan dalam kekristenan yang menurut saya berharga untuk dianut.
***
Seorang Jurnalis melakukan investigasi pribadi terhadap bukti tentang kebenaran kristiani, sebelumnya ia sudah menulis buku terlaris "Pembuktian atas Kebenaran Kristus." Sekarang ia, Lee Strobel, menulis buku bercorak hampir sama, "The Case for Faith", "Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani." Ada sebuah bab disana, "Keberatan #7: Sejarah Gereja dinodai oleh Penindasan dan Kekerasan." Suatu keberatan yang menjadi hambatan bagi beberapa orang untuk menerima kekristenan. Lee Strobel meruntuhkan keberatan itu!
Aku tidak bermaksud menjelaskan apa yang dimaksud oleh si penulis buku. Aku hanya tiba-tiba terpikir sesuatu, menyadari beberapa orang menyebutkan agama lain sebagai agama yang penuh kekerasan. Tiba-tiba saja aku menyadari, sejarah kekristenan ternyata juga dipenuhi awan kelabu.
Perang Salib
Perang yang berlangsung sekitar 200 tahun itu hanya dimulai oleh sebuah pidato. Pidato seorang Paus yang terpilih pada tahun 1088, Paus Urbanus II.
Ia menjadi Paus kuat dan efektif sekaligus politikus yang peka menghadapi keadaan menguntungkan. Tanggal 27 Nopember 1095, di Clermont, Perancis, mengucapkan sebuah pidato yang begitu terkenal di hadapan beribu-ribu masa. Sebuah pidato paling efektif dalam sejarah, mempengaruhi Eropa sampai berabad-abad setelah itu. Pidato itu mengecam keras orang Turki yang menduduki Tanah Suci, mengotori tempat suci orang Kristen serta mengganggu para peziarah Kristen. Ia mengajak dunia kekristenan bahu membahu dalam sebuah perang suci, merebut kembali Tanah Suci.
Sebelum pidato itu berakhir, orang banyak berteriak "Deus le Volt!", "Tuhan menghendakinya!" Sebuah teriakan yang akhirnya menjadi teriakan perang para tentara Salib.
Para uskup lalu bersidang dan mengeluarkan sebuah keputusan, menyatakan siapapun yang turut serta dalam perang suci akan mendapatkan pengampunan dosa, kekayaan para bangsawan selama berperang akan berada dalam pengamanan gereja. Sidang juga menghasilkan kesepakatan, sebuah simbol gerakan, pakaian setiap orang yang turut berperang diberi tanda salib merah pada bagian pundak dan punggung, itulah asal kata Perang Salib. Gerakan pasukan akan diarahkan menuju Konstantinofel. Keputusan lainnya, setiap orang yang pulang tanpa menunaikan tugasnya akan menerima hukuman dari gereja. Perampok, pembunuh, pemerkosa dan pencuri juga boleh ambil bagian, perbuatan jahat mereka akan dilupakan bila mengikuti perang suci.
Perang Salib Pertama, sumber Muslim berkata, sepanjang perjalanan menuju Yerusalem, pasukan merampok, memperkosa, berzinah dan mabuk-mabukan. Akhirnya 15 Juli 1099, Yerusalem ditaklukkan. Sekitar 60.000 orang dibunuh, terdiri dari orang Yahudi, Muslim, baik laki-laki perempuan, dan anak-anak. Para saksi mata hanya melukiskan kengerian itu dengan berkata: "Kami harus berjalan di dalam darah musuh kami sedalam mata kaki."
Perang suci itu menjadi serentetan perang besar dan kecil yang berlangsung selama sekitar 200 tahun. Serentetan perang yang mempengaruhi budaya masyarakat Eropa secara keseluruhan. Perang yang ternyata tidak selesai-selesai ini bahkan memaksa Paus Innocence III pada tahun 1215 menekankan kembali apa yang telah dijanjikan oleh Paus Urbanus, setiap orang yang berangkat Perang Salib akan mendapat keselamatan, namun peminatnya makin berkurang.
Inkuisisi
Inkuisisi, sebuah pengadilan gereja abad pertengahan yang ditunjuk untuk mengusut bidat atau tindakan yang menentang kesalahan dan tradisi Gereja Roma.
Inkuisisi dimulai tahun 1163, ketika Paulus Alexander III menginstruksikan para uskup mencari bukti tentang pendukunan, dan mengambil tindakan terhadap para dukun klenik (klenik kegiatan perdukunan [pengobatan dsb] dengan cara-cara yang sangat rahasia dan tidak masuk akal, tetapi dipercayai oleh banyak orang). Inkuisisi ini akhirnya berkembang menjadi sebuah kampanye teror.
Setiap Inkuisisi terdiri dari sekitar 20 petugas yang mempunyai fungsi dan tugas berbeda-beda. Ada penyidik agung, petugas sipil, petugas penerima harta benda sitaan, sipir, konselor bagi tertuduh, pelaksana hukuman yang ahli baik dalam penyiksaan maupun penahanan ataupun pembakaran, dokter yang mengawasi proses penyiksaan, notulis yang mencatat pengakuan terdakwa ke dalam bahasa Latin, satu atau dua mata-mata yang mencari informasi, serta seorang saksi yang disumpah untuk menjaga kerahasian prosedur pelaksanaan hukuman. Semuanya begitu rapi dan begitu rahasia sehingga terdakwa sendiripun tidak akan pernah mengetahui siapa yang menuduhnya.
Pada awalnya Inkuisisi memang hanya menangani tuduhan bidat, tetapi kekuasaannya meluas sehingga mencakup tuduhan tentang tenung atau sihir, alkemia (cikal-bakal ilmu kimia, mencari cara membuat emas), penghujatan, penyimpangan seksual, pembunuhan anak, pembacaan Alkitab dalam bahasa rakyat jelata, serta pembacaan Talmud oleh orang Yahudi ataupun Alquran oleh orang Muslim.
Tidak peduli apa pun tuduhannya, pelaksana Inkuisisi melakukan pemeriksaan dengan kekejaman yang luar biasa, tanpa belas kasihan, tanpa pandang bulu. Semua terdakwa mendapat perlakukan yang sama. Tidak peduli pria atau wanita, keturunan bangsawan atau rakyat jelata, pejabat atau pencuri, sehat atau cacat, waras atau gila. Walaupun demikian, 'perhatian lebih' tetap diberikan kepada mereka yang menentang doktrin dan otoritas Paus, terutama mereka yang dianggap murtad dari Gereja Roma Katolik.
Sekali lagi, akar Inkuisisi ini pada awalnya hanyalah karena kerisauan para Paus terhadap masalah pendukunan, terutama di Perancis Selatan. Mereka telah mengirim para misinoris kesana tetapi tidak berhasil menghentikan praktek pendukunan tersebut. Lalu ada sebuah pendekatan alternatif. Inkuisisi! Tetapi kemudian maksud mulia ini bercampur dengan kepentingan politik sehingga akhirnya berkembang menjadi sebuah teror yang mengerikan.
Histeria Kristen
Tahun 1692, di sebuah desa yang tenang, di Salem, Massachusetts, muncul tuduhan tukung sihir kepada warganya. Sembilan belas orang mati digantung dan satu orang, karena tidak mau mengaku, dihimpit batu hingga tewas. Dalam sejarah, kejadian ini dikenal sebagai "Histeria Kristen". Sebuah histeria yang terjadi setelah delapan gadis desa tiba-tiba menderita kejang-kejang secara misterius, berteriak histeris serta mengalami halunisasi.
Seorang warga punya ide, apakah penyakit ini karena sihir? Caranya membuat kue Rye yang mengandung air kencing para gadis itu, lalu memberikannya pada hewan. Jika hewan yang memakannya mengalami sakit yang sama, berarti penyebabnya adalah tukang sihir. Seorang pendeta lalu memberikan kue bercampur air kencing kepada anjingnya. Anjingnya bukan hanya menggonggong histeris, tetapi malah jatuh sakit. Mulailah perburuan tukang sihir yang dalam sejarah terkenal sebagai "Legenda tukang sihir dari Salem."
Gereja lalu terlibat dalam pengadilan, memeriksa para saksi yang berkata melihat penampakkan binatang-binatang, melihat temannya berada di tempat lain, padalah tidak mungkin manusia berada di dua tempat sekaligus kecuali ia seorang tukang sihir. Pengadilan sama sekali tidak memperhatikan faktor lain seperti keinginan merebut tanah tetangga, rasa iri dan kebencian.
Anti-Yahudi
Anti-Yahudi, suatu sikap permusuhan atau prasangka terhadap kaum Yahudi dalam bentuk penganiayaan/penyiksaan terhadap agama, etnik, maupun kelompok ras, mulai dari kebencian terhadap orang Yahudi sebagai individu hingga sebagai sebuah lembaga. Anti-Yahudi, sebuah penyakit terburuk dalam sejarah kekristenan. Sebuah ironi, karena Yesus sendiri adalah orang Yahudi dan murid-murid-Nya juga orang Yahudi.
Anti-Yahudi benar-benar telah menodai sejarah kekristenan. Sebuah sikap yang terjadi karena sebagian besar orang Yahudi tidak menganggap Yesus sebagai Mesias. Penolakkan yang membuat orang Kristen menganggap orang Yahudi sebagai musuh Kristus. Beberapa orang bahkan memiliki pikiran bahwa mereka bertanggung jawab atas penyaliban Kristus sehingga begitu membencinya.
Dalam hanya beberapa dekade setelah penyaliban, banyak orang Kristen memilih melupakan bahwa kedua belas rasul serta Kristus itu sendiri adalah orang Yahudi. Bahkan sebelum gereja menjadi agama resmi kekaisaran Romawi, ketika gereja masih berdiri sendiri, sudah ada hukum yang mengatur masalah anti-Yahudi. Contohnya pada tahun 306, Gereja di Synod dan Elvira melarang perkawinan, hubungan seksual dan kontak sosial antara orang Kristen dengan orang Yahudi.
Kebencian itu diperparah dengan adanya rumor-rumor bahwa orang Yahudi meracuni sumur-sumur selama terjadi wabah yang membunuh berjuta-juta penduduk Eropa, wabah yang dikenal sebagai Black Death atau 'Kematian Hitam'. Mereka juga dituduh mengacaukan sakramen-sakramen kristiani, mengacaukan Kitab Suci orang Kristen, membunuh anak-anak Kristen yang belum puber sebagai persiapan perayaan roti tidak beragi. Orang Yahudi yang identik dengan hidung besar dan tubuh tinggi jangkung, dilukiskan dengan tambahan ekor dan tanduk, sebuah gambaran orang Yahudi di abad pertengahan.
Selama Abad Pertengahan itu, di Eropa terjadi banyak penganiayaan terhadap orang Yahudi, pengusiran, pemaksaan pertobatan dan pembunuhan massal. Pembenaran dan praduga utama terhadap Yahudi adalah masalah keagamaan. Martin Luther, bapak reformasi, pada masa tuanyapun sempat mengeluarkan perkataan begitu buruk tentang orang Yahudi. Padalah pada awalnya ia seorang pecinta Yahudi. Karena cintanya itu, ia berharap akan ada pertobatan massal di mana mereka mau menerima Yesus sebagai Mesias mereka. Karena bangsa ini tetap keras kepala -- Allah sendiripun mengatakan bangsa ini memang tegar-tengkuk -- pada masa akhir hidupnya, Luther menjadi semakin jengkel dan sempat mengatakan beberapa hal yang menghebohkan dan patut disangkal oleh para pengikutnya.
Orang Yahudi begitu sering dibunuh secara masal dan diusir dari berbagai negara Eropa. Pembunuhan massal pertama kali muncul selama Perang Salib. Dalam Perang Salib Pertama (1096) masyarakat Yahudi di Rhine dan Danube benar-benar dihancurkan. Di Perang Salib Kedua (1147) orang Yahudi di Perancis juga seringkali menjadi korban pembantaian massal. Sepanjang Perang Salib, harus diakui memang terjadi banyak sekali pembantaian massal terhadap orang Yahudi.
Akhirnya, tahun 1998, gereja Roma Katolik meminta maaf untuk "kesalahan-kesalahan serta kegagalan" dari beberapa orang Katolik karena tidak menolong orang Yahudi dalam masa pembantaian etnis Yahudi oleh perintah Nazi (Holocaust).
Misionaris yang Kejam
Dalam wawancaranya dengan John D. Woodbridge, Ph.D, salah seorang nara sumber bukunya, Lee Strobel menunjukkan kutipan tuduhan terhadap misionaris ini:
Para misioner itu datang tanpa diundang. Meskipun tujuan mereka mulia, tetapi mereka tidak tahu apa-apa tentang wilayah yang mereka datangi, dan mereka mendirikan kantor-kantor dan tidak peduli terhadap batin dan nilai-nilai orang-orang yang mereka datangi untuk dibantu. Mereka juga mencampuri masalah-masalah yang sama sekali tidak ada urusannya dengan mereka. Mereka berasumsi bahwa spiritualitas tradisional orang-orang pribumi itu bercacat, bahkan merupakan pemujaan setan. Mereka menyuap atau memaksa penduduk pribumi itu untuk meninggalkan adat-adat tradisional mereka, sampai-sampai, dalam proses mereka mencoba 'menyelamatkan' orang-orang itu, para misioner itu akhirnya malah menghancurkan mereka. [Dale and Sandy Larson, Seven Myths About Christianity, dikutip oleh Lee Srobel dalam bukunya "Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani."]
Peran para misionaris tidak bisa dipandang sebelah mata. Masalahnya, gerakan ini pada awalnya seringkali berkaitan dengan kebijakan ekonomi dari kekuatan kolonial yang dikenal sebagai merkantilisme. Sebuah teori yang secara sederhana berkata, "Negara yang memiliki emas paling banyak akan menjadi negara yang paling berkuasa." Kekuatan sebuah negera akhirnya ditentukan melalui seberapa sukses ia mengeksploitasi Amerika Latin dan tempat-tempat lain. Eksploitasi ini bercampur aduk dengan kegiatan para misionaris.
Salah satu negara itu adalah Spanyol. Banyak catatan sejarah tentang perbuatan mengerikan yang mereka lakukan di Amerika Latin, sehingga dalam abad ke enambelas, ada perdebatan sengit disana tentang apakah yang terjadi di Amerika Latin itu kristiani atau tidak.
Gerakan misionaris pada awalnya tidak bisa dipisahkan dengan tiga kata yang menjadi tujuan dua negara Eropa yaitu Portugal dan Spanyol mengarungi samudera. Paus yang saat itu ikut menganggap dunia ini datar membaginya menjadi dua, bagian timur untuk Portugal dan bagian barat untuk Spanyol. Sistem ekonomi Merkantilisme membuat kedua negara membutuhkan persediaan emas yang lebih banyak. Tetapi bukan hanya emas atau Gold yang menjadi tujuan penjelajahan itu, ada Glory dan Gospel. Kejayaan sebuah negara ditentukan oleh besarnya wilayah, itulah Glory. Misi suci penyebaran agama Kristen juga ikut menjadi motifnya, itulah Gospel. Akhirnya ketiganya membentuk sebuah sistem perekonomian dunia baru, kolonialisme.
***
Walaupun dianiaya dan ditindas secara brutal, kekristenan menyebar begitu cepat di seluruh Kekaisaran Romawi. Sejarah berkata salah satu penyebabnya karena orang Kristen yang mula-mula itu adalah orang-orang yang begitu baik. Kebaikan hati mereka serta pelayanannya terhadap orang miskin dan orang-orang tertindas menarik banyak pengikut baru. Kemurahan hati mereka begitu mengagumkan.
Alkitabpun berkata demikian. Mereka tidak hanya mengurusi dirinya sendiri. Mereka memperhatikan tetangga, para janda, orang-orang miskin serta orang-orang yang terluka. Pada dasarnya mereka mengasihi. Mereka menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak, anak-anak yang sering diperlakukan kasar oleh orang Romawi dan Yunani sejak lahir, terutama bayi perempuan. Gaya hidup merekapun cocok dengan ajarannya, sehingga tidak akan malu berkata, "Tirulah kami karena kami meniru Kristus." Mereka tidak akan berkata "Jangan melihat kami, lihat saja kepada Kristus!"
Lucian, Satiris Yunani abad kedua berkata:
Makhluk-makhluk yang disesatkan itu mulai dengan keyakinan umum bahwa mereka tidak akan pernah mati selama-lamanya, yang menjelaskan bahwa konsep kematian dan pengabdian diri dengan sukarela merupakan hal yang umum di antara mereka. Kemudian mereka diajari oleh sang pemberi hukum yang sejati bahwa mereka semua adalah bersaudara, sejak saat mereka bertobat, dan menyangkali dewa-dewanya orang Yunani, dan menyembah guru mereka yang tersalib, dan hidup menurut hukum-hukum yang diajarkan. Semua itu mereka imani dengan sungguh-sungguh, dengan akibat mereka menolak semua dewa duniawi dan semacamnya, dan hanya menganggap mereka sebagai benda-benda biasa. [Lucian, The Works of Lucian of Samosata, seperti dikutip oleh Lee Strobel.]
Semuanya begitu indah!
Mereka dianiaya, dibakar dan disiksa, tetapi mereka tetap setia. Hidup dan perkataan mereka sama. Lalu tiba-tiba seorang kaisar bertobat. Penganiayaan itu berhenti, kekristenan menjadi agama resmi di seluruh kekaisaran Romawi. Lalu sedikit demi sedikit, gereja mulai berhubungan dekat dengan pemerintah, kemudian memanfaatkan pemerintah sebagai agen penganiayaan, dan kemudian, keduaniawianpun masuk gereja.
Sejarah kelam itu dimulai!
***
Kenapa Tuhan diam? sering kutanyakan ketika mendengar kabar angin tentang penganiayaan orang Kristen. Tetapi sekarang aku tidak akan bertanya seperti itu lagi.
Aku punya pertanyaan lain dan sampai sekarang belum terjawab. Mengapa Tuhan diam ketika umatnya melakukan pembunuhan keji, pembakaran hidup-hidup, penyiksaan? Mengapa Ia diam ketika umat-Nya menindih seorang dengan batu sampai mati karena orang tersebut tidak mau mengaku ia seorang tukang sihir?
Aku belum tahu jawabannya. Aku punya banyak pertanyaan ketika berjumpa dengan-Nya. Tetapi saat ini aku tidak akan ikut-ikutan menyebut agama lain penuh kekerasan. karena ternyata sejarah agamaku juga penuh dengan darah-darah orang tak berdosa.
Sumber:
- Strobel Lee, "Pembuktian atas Kebenaran Iman Kristiani", Gospel Press, Batam: 2005.
- Boudreaux, Richard. "Pope Apologizes for Catholic Sins of Past and Present", http://www.bibleanswer.com/26Mar00_No_04.htm, Maret 2000.
- Crabtree, Vexen. "Anti-Semitism", http://www.vexen.co.uk/religion/antisemitism.html, Oktober 2004.
- Hart, Michael H. "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah", http://media.isnet.org/iptek/100/Urban2.html, 1982.
- islamkristen , "KEBIADABAN KRISTEN DALAM PERANG SALIB", Arsip: http://www.mail-archive.com/islamkristen@yahoogroups.com/msg45668.html, 14 April 2006.
- SarapanPagi.org, "Penganiayaan oleh Paus & Inkuisisi (1208-1834)", http://www.sarapanpagi.org/Inkuisisi-dalam-sejarah-gereja-vt1554.html#p5507
- Sasi, Indres. "Tukang Sihir di Salem: Apakah yang Sebenarnya Terjadi?", http://wrm-indonesia.org/content/view/468/10/, Juli 2005.
- Schei, Ken. "What is an Atheist for Jesus?", http://www.atheists-for-jesus.com/about.php.
- Wikipedia. "The Holocaust", http://en.wikipedia.org/wiki/Holocaust, Mei 2008.