Sulit kumengerti alasannya marah. Kalau bukan dia yang tadi bercerita tentang kejengkelannya pada Si Treni, aku bisa sedikit lebih mengerti. Aku benar-benar bingung. Lima menit lalu, dengan penuh kejengkelan, ia mengata-ngatai perempuan itu. Tetapi sekarang ia membelanya. Tadi aku tidak mengatakan wanita kerjanya hanya lahir, besar, kawin lalu melahirkan. Tidak! Tadi aku hanya berkata, isi otak temannya itu seperti isi otak sebagian wanita purba. Kira-kira seperti itu, dan akupun tidak akan berani berkata demikian jika ia tidak menceritakan tingkah perempuan yang menjengkelkannya itu.
Wanita memang makhluk yang sulit kupahami.
***
Berangkat penuh semangat. Hanya pulang ke rumah sebentar, mandi dan ganti baju. Lalu berangkat lagi bersama teman yang menjemputnya. Inilah kegiatan adikku setiap Sabtu, naik getek ke kampung tetangga. Ada Kejar Paket A di sana, ada banyak orang tua yang dulu tidak pernah lulus sekolah dasar. Mereka sudah memenuhi syarat mengikutinya, bisa Calistus, membaca, menulis, dan berhitung. Kebanyakan pernah masuk Sekolah Rakyat, tetapi hanya sampai kelas dua atau tiga. Setelah itu hidup tanpa buku, pensil atau pulpen. Hanya parang dan alat penyadap karet yang mereka pegang dari pagi sampai sore.
Hanya lima belas pria tua yang menjadi muridnya. Semuanya sudah berumur lima puluhan ke atas. Adikku sudah bercerita bagaimana ramainya mereka ini di kelas. Mereka belajar di gedung sekolah dasar yang sepi di sore hari. Tetapi suara yang mereka timbulkan tidak kalah dengan suara anak-anak di pagi hari. Di hari pertama saja sudah terjadi keributan, mereka berebutan duduk di deretan bangku paling belakang. Bahkan seorang bapak mengusir orang yang menduduki bangku yang seharusnya menjadi tempat duduknya. Alasannya sederhana, dirinya paling berhak duduk di bangku cucunya.
Deretan bangku depan jadinya kosong, tetapi adikku membiarkannya. Lalu kelasnya berubah menjadi acara 'reuni'. Mereka pasti senang bisa keluar dari kebun karet, lalu kembali duduk di bangku sekolah. Bukan karena kembali belajar, tetapi karena bisa bernostalgia. Semuanya berebutan ingin menceritakan perasaannya setelah empat puluh tahun kembali duduk di bangku yang modelnya tetap sama.
Adikku juga bercerita tentang pengalaman kakak ipar yang mengajar matematika. Pelajarannya menjadi bahan lucu-lucuan saat seorang bapak menyelutuk, "Lebih mudah menghitung jumlah cucu-cucu kita, ya?"
"Anak pertamaku anaknya tiga, anak yang kedua punya empat, yang ketiga punya dua, lalu si bungsu punya satu anak juga," katanya melanjutkan. Iparku yang sedang menjelaskan kalau jumlah ketiga sudut segitiga selalu berjumlah 180 derajat itu sama sekali tidak sempat berkata apa-apa, "ayo siapa yang tahu jumlah cucuku?"
"Heh! Cucuku lebih banyak," timpal seorang bapak dari pojok kelas, "aku hanya punya dua anak, tetapi sekarang sudah punya enam belas cucu."
Ingin iparku menimpalinya dengan pidato Keluarga Berencana. Tetapi tidak jadi, tanpa ditimpalipun, kelasnya sudah menjadi acara menghitung jumlah para cucu. Lebih tepatnya, adu banyak cucu. Ada murid yang merasa bersalah sehingga menghibur ipar dengan berkata, "Nak, kalau kami ribut tidak apa-apa, ya? Sebentar lagi kami mati, jadi hitung-hitungan yang itu tidak perlu, tetapi kami tetap ingin sekolah."
Itu yang membuat adik dan iparku tetap mengajari mereka. Mereka mungkin tidak peduli ijazahnya, tetapi tetap ingin mati sebagai lulusan sekolah dasar. Di sini, orang mati kebanyakan memang dikubur bersama parang dan ijazahnya.
***
Sabtu lalu ia langsung bercerita begitu pulang dari kampung tetangga. Aku bisa melihat senyum cerahnya begitu melihatku duduk di ruang tamu. Tetapi sekarang, kulihat wajah cantik itu begitu muram, bahkan si Atik yang tiduran di atas sofa tidak diganggunya. Biasanya ia selalu membangunkan kucing manja itu sambil bernyanyi, "Tik... Atik... kerjanya kalau tidak makan cuma tidur."
Setelah menyapaku sebentar, ia langsung masuk kamar. Di luar, hari sudah hampir gelap, kupikir ia capek. Mungkin perjalanan membuatnya lelah. Bahkan setelah mandi, ia kembali masuk ke kamarnya.
Mungkin aku bukan kakak yang baik. Tidak banyak yang bisa kukerjakan di liburan ini. Telingaku yang sakit mendengar suara-suara cempreng di Sinetron Cinderella yang tidak tamat-tamat itu membuatku tidak peduli kelelahannya. Aku ingin mendengar cerita perjalanannya. Siapa tahu ada cerita konyol seperti minggu lalu. Ketika seorang bapak yang begitu bangga pada cucunya, mengaku tidak mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya. Ia ingin semua orang tahu kalau cucunya bisa mengerjakan PR untuknya dengan nilai sempurna.
Aku tidak mengetuk pintu. Ada aturan tidak tertulis di rumah ini, pintu terbuka berarti siapapun boleh masuk tanpa mengetuk.
Ia sedang membaca, sepertinya senang melihatku masuk. Langsung meletakkan majalah yang dibacanya. Bukan majalah Gadis atau Aneka lagi, tetapi majalah Kartini milik kakak kedua kami, majalah yang juga kubaca siang tadi. Ayah membuatku tidak mampu membedakan jenis majalah. Setiap pulang dari kota, ia selalu membawa majalah bekas. Majalah wanita, pria, berita atau majalah mistik semua diborongnya. Membuat kami mengabaikan jenis majalah ketika membaca Femina, Matra atau Jakarta-Jakarta.
"Mau menggosip lagi, ya?" katanya memulai pembicaraan.
"Bukan nggosip, tetapi membicarakan manusia dengan sifat dan karakternya," kataku. Aku selalu menghiburnya dengan perkataan ini. Ia biasanya menimpali dengan berkata, "Membicarakan orang itu tidak apa-apa, selama orangnya tidak ikut mendengarnya."
"Jengkel aku hari ini," katanya.
Aku langsung tahu, artinya kami harus membicarakan siapa yang membuatnya jengkel.
"Gara-gara siapa?" tanyaku. Tidak kutanyakan gara-gara 'apa', tetapi 'siapa'. Sudah kupelajar teknik ini secara alami, karena hidup bersama enam saudara perempuan.
"Si Treni, adiknya Oteng, temanmu dulu," jawabnya.
Si Treni? Tentu saja aku kenal. Aku baru lulus sekolah dasar saat Si Treni masuk TK. Masih bisa kuingat ingusnya yang keluar saat berangkat ke sekolah. Sekarang, ia mampu membuat semua lelaki yang berpapasan dengannya melirik kesurupan. Dulu aku sering melihatnya berjalan sambil 'menghapus' ingus dengan pergelangan tangan, membuat cairan kental itu malah menyebar ke pipi. Sekarang, setiap pagi kulihat ia berangkat mengajar dengan pakaian yang pasti bermerk kreditan.
"Jalannya sekarang kayak peragawati, padahal dulu membersihkan ingusnyapun tidak pernah bisa beres," kataku. Seperti kata Ibu, aku memang memiliki bakat alami untuk mengompori orang.
"Dan sekarang, setiap pagi kamu duduk di teras menunggunya lewat," balas adikku setengah menggoda. Aku lebih tua enam tahun darinya, tetapi ia biasa memanggilku 'kamu'. Budaya membuat kami bisa ber-kamu-kamu.
Ia membuatku meringis masam. Memang aku suka duduk di teras setiap pagi. Melihat anak-anak SD dan SMP berangkat sekolah. Bukan salahku jika ada ibu guru yang masih muda lewat. Biasanya mereka melirik sekilas, atau melemparkan senyum. Ini sebuah kampung, tidak sopan berjalan tanpa melemparkan senyum pada orang yang sedang duduk di atas tangga rumahnya. Di hari ketiga, adikku bercerita kalau seorang temannya bertanya, "Itu kakak cowokmu, ya?" Tentu saja aku senang, sayangnya setelah itu adikku mengulangi komentar temannya, "Kok kayak gembel?"
"Treni membuatku sangat jengkel. Sepanjang perjalanan tadi, ia hanya bercerita tentang mertua, suami dan kebiasaan iparnya," lanjutnya. Membuatku terbangun dari lamunan sesaat.
Bisa kubayangkan suasana di atas getek, perahu bermesin itu. Biasanya dua orang yang sama-sama langsing bisa duduk bersebelahan di bagian tengah. Adikku pasti bersebelahan dengan Treni sehingga bisa mendengar suaranya yang menyaingi suara mesin.
Adikku tidak akan stress bila mendengar murid-murid yang sudah berkepala lima itu hanya mampu bercerita tentang cucu-cucunya. Itu sesuatu yang wajar, sepertinya setelah melewati setengah abad, otak manusia berubah. Menyempit sehingga hanya mampu memikirkan hal-hal sempit, seperti cucu dan kuburan. Tetapi menghadapi perempuan duapuluhan yang sudah mengalami penyempitan otak, bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Masalahnya, memang ada orang seperti itu, memiliki daya pikir yang begitu rendah. Apa yang ada di otaknya hanyalah hal-hal sempit yang muncul dalam kehidupannya.
Treni memang menjadi guru, mengajar matematika malah. Mengingat cerita adikku saat mereka masih SMP, saat aku masih sekolah di kota, agak sulit bagiku menerima kenyataan ia akhirnya kuliah jurusan matematika. Waktu mereka SMP, adikku suka menceritakan kejengkelannya karena sekelas dengan gadis yang otaknya hanya berisi murid laki-laki. Paras Treni memang lumayan, dan paras lumayan memang mampu menyembunyikan isinya.
"Aku benar-benar bosan dan jengkel sepanjang perjalanan tadi. Ia memaksaku mendengar cerita tentang kakak iparnya yang berkelahi dengan ibunya. Juga bercerita tentang istri iparnya yang cemburu karena mertua pilih kasih. Cemburu karena ibu mertua itu lebih sayang Treni sehingga membiarkannya kesiangan," kata adikku tanpa sempat menghela nafas.
Aku diam saja, "Bukan saat yang tepat untuk memotong," batinku.
"Dua minggu yang lalu, sebelum kamu datang, sepanjang perjalanan ia menceritakan tentang bapak mertua. Ayah suaminya ternyata suka mengigau kalau tidur dan pagi-pagi sudah bangun untuk menyapu halaman. Sepanjang perjalanan yang ia ceritakan hanya keluarga suaminya dan apa yang terjadi di rumah mereka."
"Tidak semua wanita hanya 'berdandan, memasak, dan melahirkan,'" kataku dengan gaya seorang filsuf. Gaya yang sering membuat kakak-kakakku marah dan menyebutku sok tahu, "tetapi orang seperti Treni termasuk tipe ini. Apa yang ada dalam pikirannya hanyalah duduk di depan cermin dan kawin saja."
"Jahat kamu!" kata adikku tajam.
"Tetapi benar, khan?" balasku agak kaget dengan reaksinya, "Di atas getek, yang ia bicarakan hanya mertua dan keluarga mertuanya saja. Mertua yang lebih menyayanginya daripada siapapun, dan segala macam bla bla bla yang membosankan itu."
"Tetapi jangan begitu," katanya. Makin kentara nada marah itu.
Wanita, aku tidak memahaminya. Tadi aku berusaha membelanya, ia malah menyalahkanku. Aku memang salah, mungkin. Tetapi cerita tentang Treni membuatku hanya bisa mengingat apa yang dulu diperjuangkan oleh Kartini.
"Aku hanya pingin cerita, bukan untuk dikompori," katanya sedikit melunak.
Wanita, aku benar-benar tidak memahaminya. Ceritanya tadi membuatku sedikit terbawa emosi. Aku tadi tidak mengatakan wanita itu kodratnya seperti yang kusebutkan. Bukan! Tadi aku hanya berkata, "Hanya Treni yang seperti itu."
Tetapi reaksinya benar-benar membuatku bingung.
***