Seekor anak burung, hidup
dalam suatu komunitas yang berbeda dengannya. Dia hidup bersama dengan
sekelompok ayam. Sejak kecil burung itu diperlihara oleh induk ayam dengan
baik. Diberi makan, diajarkan bagaimana menjadi seekor ayam, sampai ia menjadi
seekor burung yang dewasa. Suatu saat ia melihat di langit ada seekor binatang
yang mampu terbang tinggi, berputar-putar, turun naik, dan melihat segala
ciptaan Tuhan tanpa halangan apapun. Burung ini mulai membayangkan, andai aku
mampu seperti itu, pasti menyenangkan. Burung ini hanya sebatas berharap, namun
tidak dapat merealisasikannya karena selama hidup, dia tidak diajarkan
bagaimana terbang, walaupun dia seekor burung yang mampu terbang. Ilustrasi
ini, menggambarkan siapa yang ada disekelilingmu menentukan siapa kamu yang
sebenarnya.
Kau adalah rata-rata dari
kelima orang yang paling sering bergaul denganmu,” kata Jim Rohn, seorang
jutawan swadaya dan penulis sukses. Tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Mungkin
kita mulai mengeluarkan pembelaan diri atau defe....,
dan berkata ah.... belum tentu juga tergantung kitanya aja. Pembelaan itu tidak
salah, dan mungkin juga ada benarnya, tetapi sejauh ini dengan siapa anda
bergaul, menentukan seperti apa diri kita. Kita menjadi orang yang paling sering
bergaul dengan kita.
Dunia ini, menawarkan berbagai
macam tipe orang yang bisa kita temui. Ada orang yang selalu mengeluh dan
menyalahkan orang lain atas keadaan mereka. Ada juga orang yang selalu
menghakimi orang lain, menyebarkan gosip dan hanya berbicara hal-hal yang buruk
tentang orang lain. Ada juga orang yang positif, mendukung dan
membangkitkan semangat. Trust in you... memberi
peluang kepadamu, ikut berbahagia atas segala kesuksesanmu. Tergantung kamu,
mau memilih yang mana???? Pilihanmu menentukan akan menjadi apa dirimu.
Lalu kita harus bagaimana?
Seorang penulis terkenal John Assaraf
dengan bukunya yang berjudul ”The
Street Kid’s Guide to Having It All” berkata Aku tidak berkeliaran dekat siapa
pun yang tak ingin kujadikan teman. Titik. Bagiku, itu merupakan sebuah
karunia, dan aku bisa tetap positif. Aku berkeliaran dekat orang yang bahagia,
yang berkembang, yang ingin belajar, yang tidak keberatan berkata maaf atau
terima kasih... dan yang menjalani saat-saat menyenangkan. Artinya kita perlu ”Selektif”
dalam memilih dengan siapa kita
akan bergaul. Coba kita pikirkan sejenak, buatlah daftar siapa saja yang rutin
anda temui. Kemudian coba lihat, bagaimana cara ia berpikir, merasa, dan
bersikap dalam menghadapi suatu masalah. Bukan bermaksud untuk menghakimi
tetapi tidak salah jika kita lebih selektif.
Langkah selanjutnya, jika kita
menemui orang-orang yang tidak membangun atau sikap negatif, alangkah lebih
baik jika kita ”menghindari” orang-orang yang demikian. Sedapat mungkin hindari
orang-orang yang demikian dengan cara apapun. Lebih baik melewatkan waktu
seorang diri daripada dengan orang-orang yang akan menghambat kita dengan
mentalitas korban mereka dan standar biasa mereka.
Tentunya tidaklah semudah itu,
untuk mencari teman bergaul. Bagaimana kita bisa menemukan orang-orang yang
bersikap positif atau setidaknya mampu mendorongmu untuk menjadi lebih baik?
Kamu bisa gabung dengan orang-orang yang selalu bersikap positif atau bergabung
dengan pelayan-pelayan gereja, mengikuti seminar, simposium atau apalah yang
membawamu kearah yang lebih baik. Bergaullah dengan mereka. Lalu coba lihat
apakah yang menjadi kunci sehingga mereka menjadi pribadi yang menarik. Cobalah
lihat dengan melakukan apa yang mereka lakukan, membaca apa yang mereka baca, berpikir
seperti cara mereka berpikir, dan seterusnya. Jika cara baru berpikir dan
berperilaku itu berhasil gunakanlah. Jika tidak, tinggalkan dan teruslah
mencari serta mencobanya.