Submitted by Andreas Priyatna on

Sering ia menangis sendiri di tengah malam, sementara anak dan istrinya sudah tertidur lelap. Ia menangis serta bertanya pada Tuhan, Tuhan…, “salah apakah saya…?, dosa apakah yang telah saya perbuat sehingga saya mendapat hukuman hidup susah seperti ini…?”. Tidak ada jawaban dan tidak ada yang bisa menjawabnya…, rumput yang bergoyang pun tidak dapat menjawabnya….


Kasihan sekali saudara sepupu saya itu. Ketika saya masih kecil…, mungkin masih kelas  tiga SD, saudara sepupu saya itu sudah bekerja untuk membantu ekonomi orangtuanya. Dia adalah anak paling besar di keluarganya, dia mempunyai dua orang adik, laki-laki dan perempuan. Walaupun dia hanya lulusan STM, namun dari hasil gajinya dia dapat menyekolahkan kedua adiknya sampai ke perguruan tinggi dan kedua adiknya menjadi orang yang berhasil. Karena dia berkorban untuk adik-adiknya, maka walaupun dia adalah anak pertama, tetapi  dia adalah anak yang terakhir menikah.  Ketika kedua adiknya sudah dapat berleha-leha, karena anak-anak mereka sudah menjadi orang…, dia masih berkutat untuk menyekolahkan anaknya yang masih di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Anak dari adiknya laki-laki ada dua orang dan kedua-duanya sudah menjadi dokter, sedangkan anak dari adiknya yang perempuan ada dua orang juga dan kedua-duanya sudah lulus S-2.


Air matanya selalu menetes setiap pagi ketika kedua anaknya berangkat ke sekolah, “Dapatkah saya menyekolahkan anak saya sampai menjadi sarjana, sementara untuk menyambung hidup dari hari ke harinya saja sudah susah?”.  Dia meratapi hidupnya…, “Mengapa hidup saya harus seperti ini, kasihan anak-anak saya…, tapi mengapa Tuhan tidak mengasihani saya…, mengapa Tuhan tidak mengasihani anak-anak saya?”. “Dari muda saya sudah menolong kedua orang tua dan kedua adik saya, dari muda saya sudah mencari uang untuk menghidupi orang-orang disekeliling saya yang sangat saya sayangi…, tetapi sekarang saya harus menerima kenyataan hidup yang pahit seperti ini tanpa daya, tanpa ada seorangpun yang mau menolong saya”. “Apakah harus orang Samaria yang menolong saya?’.


Krisis moneter yang terjadi  pada tahun 1997 telah membuat perusahaan tempat dia bekerja menjadi limbung dan terpaksa melakukan rasionalisasi dan dia termasuk di dalam daftar karyawan yang dirasionalisasi. Dengan berbekal uang pesangon yang dia terima dia membuka usaha, namun usahanya yang pertama tidak membuahkan hasil. Dia berhenti dan usahanya ditutup, namun dia tidak dapat berlama-lama istirahat karena bagaimanapun juga dapur harus tetap ngebul. Dia kembali membuka usaha lainnya yang lebih menjanjikan karena memang memiliki pangsa pasar yang jelas. Akan tetapi barangkali karena kurang pengalaman dalam mengelola usahanya, maka usahanya yang kedua pun bangkrut. Apa mau dikata…, usaha sudah tutup…, uang sudah habis…, but the show must go on.


Karena umurnya sudah kepala lima, maka untuk mencari kerjaan baru rasanya sudah tidak mungkin, maka  akhirnya dengan sangat terpaksa, istrinya sekarang harus bekerja, sedangkan dia hanya di rumah mengurus anak-anaknya dan juga mengurus rumah mulai dari mencuci piring, mencuci pakaian, menyapu, mengepel dan juga memasak. Di usianya yang tidak lagi muda, dia harus terus berkutat menghadapi hidup keseharian, sebuah hidup yang suram tidak berwarna yang tidak tahu kapan akan berubah menjadi cerah. Tak heran apabila dalam sehari dia bisa meneteskan air mata dua sampai tiga kali dan tak heran juga apabila dia berdoa bisa mencapai sembilan sampai sepuluh kali dalam sehari. Namun sejauh ini doa-doanya belum mendapatkan jawaban…, mengapa Tuhan?.


Bukankah ada tertulis di Alkitab:  "Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong."


Jika memang benar demikian, mengapa Tuhan tidak menjawab Doanya?