Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Arus Balik

y-control's picture

Sejauh ini, buku ini adalah buku tertebal yang tuntas kubaca. Aku sudah sejak lama berniat menghabiskan semua karya Pram. Sekarang niatku pun makin besar. Yang paling tebal (sepertinya) ternyata bisa dituntaskan. Tapi aku tidak sedang membuat perayaan karena sudah membaca novel 750 lebih halaman. Sejak skripsi dan apalagi pertemuan di hotel Majapahit itu, aku makin sulit objektif dengan karya Pram. Tapi, menurutku itu bukan kesalahan.

Arus Balik membawaku ke ingatan belasan tahun lalu, atau juga akhir tahun lalu. Tuban, kota yang sempat kusinggahi saat ke Bali kemarin. Tuban, dengan klenteng yang kudatangi bersama orang tua dan beberapa temannya saat aku masih SD. Seandainya aku membaca Arus Balik sebelum dua kejadian itu, mungkin aku bisa lebih ingin berlama-lama di sana. Sebagai anak kelas 2 SD, aku hanya ingat ketika pertama kali aku melihat kapal-kapal di pinggir lautan. Sebelum mengunjungi klenteng itu, aku mungkin hanya pernah melihat laut di Parangtritis, jelas tidak terlalu banyak kapal di sana. Waktu itu, terus terang aku heran, ternyata memang benar masih ada kapal dengan layar di tepi laut sebanyak itu. Aku, si anak pedalaman, mengira Indonesia atau terutama Jawa adalah hanya tentang darat, sawah, atau kuda. Membaca buku ini membuatku lebih tahu lagi, lebih tahu mengapa waktu kecil aku bisa berpikir demikian juga.

Mengenai cerita, cerita tentang Galeng sendiri menurutku sebenarnya tidak terlalu istimewa. Masih lebih bagus tokoh Minke atau Arok atau si gadis pantai. Mungkin karena memang dia fiktif dan tiga nama di atas ada tokoh nyatanya. Atau karena aku sudah memikirkan bahwa tokoh itu murni fiktif. Kisah Galeng seperti kisah silat, meski aku juga suka kisah dunia persilatan. Dan kadang aku membaca dengan takut. Apakah peran Galeng tidak terlalu besar sehingga membuat orang meragukan keakuratan fakta sejarah novel ini? Tapi, aku memang masih perlu banyak belajar tentang teknik membuat fiksi.

Kalau Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Arok Dedes kubaca terutama dengan kekaguman tentang bagaimana sejarah bisa dipaparkan demikian menarik, Arus Balik membuat aku menyadari sesuatu. Sesuatu itu adalah bahwa karya-karya Buru selalu memuat klimaks ketika si musuh dikalahkan dengan pertandingan kata-kata. Aku rasa tentunya itu dilatarbelakangi jeritan nyanyi sunyi dari si bisu itu. Aku mulai menyadari, dan makin merasa trenyuh dengan Pram. Banyak orang boleh memuja-muja tetralogi ataupun Arus Balik dan Arok Dedes dengan melekatkannya pada heroisme Sang Pram. Tapi, barangsiapa yang tidak bisa membaca karya-karya itu dengan turut merasakan sesak dan sakit seorang pecinta Indonesia yang begitu menderita dan diinjak-injak oleh bangsa yang ia cintai itu sendiri, ia harus membaca ulang buku-buku itu.

hai hai's picture

Setelah Arus Balik

Setelah membaca Arus Balik saya berharap Pram akan menulis tentang Gajah Mada. Namun harapan tinggal harapan.

Gajah Mada ditulis oleh orang lain. Walaupun ditulis dengan baik namun tetap jauh di bawah Pram.

Kepda teman-teman yang telah membaca Arus Balik biasanya saya mereferensikan Ebook ini, Tionghua Dalam Pusaran Politik. Umumnya setelah membaca buku ini teman-teman tersebut tertarik untuk membaca ulang Arus Balik.

Banyak orang belajar sejarah untuk MERASA bangga, saya belajar sejarah untuk BELAJAR tidak melakukan kesalahan yang sama.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

y-control's picture

Mata Pusaran

Urutan karya Buru secara kronologis waktu sejarah Indonesia mestinya begini: Arok Dedes - Mata Pusaran - Arus Balik - Mangir - Bumi Manusia - Anak Semua Bangsa - Jejak Langkah - Rumah Kaca. Mata Pusaran, buku kedua dari tetralogi Arus Balik, itulah yang mengisahkan tentang kerajaan Majapahit yang mungkin saja akan berkisah tentang Gajah Mada. Sayang, katanya naskah itu disita dan kemungkinan besar hilang di tangan militer di Pulau Buru.

Yah, itulah.. :(( 

Purnomo's picture

YC, resensi buku 600 ribu

YC, teruslah menggarap resensi buku karena untuk sebuah resensi buku yang dimuat, Kompas membayar Rp.600.000,-

 Bisa mulai mencoba di surat kabar lokal walau honor yang diterima jauh di bawah Kompas. Tetapi, seperti kata Pak Wawan, bangganya itu lho! Dan, pemuatan perdana akan memberi motivasi yang besar sekali untuk terus melangkah.

 Selamat berkarya.

 

y-control's picture

ujicoba

terima kasih atas supportnya pak pur. dulu, sewaktu masih kerja di sebuah penerbit di jogja, satu kali di rubrik resensi sebuah koran lokal ada resensi sebuah buku yg saya sunting. ternyata, resensinya disalin dari bagian backcover buku itu, yg adalah tulisan saya.... tapi tentu saja sama sekali tidak ada nama saya di situ hihihi. 

yah,  semoga lain kali saya bisa membaca dan mengapresiasi buku yg kayak resensi beneran.. ujicobanya di sini dulu.. hehe