Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Bapak (Gali Kata Alkitab dari Tinjauan Tulisan Ibrani Kuno)

Hery Setyo Adi's picture

Bapak

Kata “bapak”, “bapa”, “ayah”  diterjemahkan dari bahasa Ibrani ’ab (ayin-qames-bet). Kata ‘ab  dalam bahasa Aram Abba. Sedangkan kata ‘ab itu sendiri memiiliki berbagai arti di samping bapak, yakni kakek, nenek moyang suku bangsa, pemula, pendiri suatu kelompok, dan sebagainya.

Pada awalnya kata ‘ab hanya terdiri  dari dua huruf konsonan “alef” dan “bet”. Huruf “alef” dalam piktograf Ibrani kuno adalah gambar kepala sapi jantan, yang melambangkan kekuatan. Sedangkan huruf “bet” adalah gambar denah ruangan tenda, yang bagi orang Ibrani kuno di antaranya mewakili ide rumah atau keluarga. Gabungan dua huruf mati tersebut berarti “kekuatan keluarga”.

Bapak adalah kekuatan keluarga. Sebagaimana tiang adalah kerangka untuk menyangga tenda, demikian halnya bapak adalah kekuatan yang menyangga keluarga. Jika tiang itu runtuh, maka runtuhlah tenda itu. Begitu pula, jika bapak tidak dapat memerankan fungsinya secara baik, maka runtuhlah keluarga itu. Itulah konsep orang Ibrani mengenai “bapak”.

Pada zaman lampau , fungsi bapak sangat menonjol dalam beberapa hal. Dia sebagai pemimpin pasukan keluarga. Bapak sebagai  penyedia keturunan untuk melanjutkan garis keluarga, sebagaimana Yakob sebagai Bapak Israel. Dia juga mengajar Firman Tuhan kepada anggota keluarga dan menjadi imam dalam keluarganya. Jadi fungsi bapak tidak hanya sebagai  penopang kekuatan fisik dan keberlangsungan keturunan secara jasmaniah, tapi juga sebagai pendukung kekuatan rohani keluarga.

Pada zaman Perjanjian Lama, kata “bapak” tidak hanya dikenakan kepada manusia. Nama YHWH (LAI: TUHAN) disebut “Bapa” bagi umat  Israel. Setidaknya beberapa ayat Alkitab menjelaskan hal ini: Mazmur 68:5(6), Yesaya 63:16; 64:8, dan Ulangan 32:6. Bahkan, nabi Yesaya secara propetis juga menunjuk  Tuhan Yesus disebut orang  “bapa yang kekal” (bdk. Yesaya 9:6 (5)). Pada zaman Perjanjian Baru Rasul Paulus menegaskan bahwa Allah (terjemahan LAI) adalah “Bapa” bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (bdk. Roma 8:15 dan Galatia 4:6).

Implikasi

Peran bapak dalam keluarga sangat penting. Dia adalah “kekuatan keluarga”.  Bagi para suami, kita adalah penopang keluarga yang tidak hanya secara fisik-jasmani, tetapi juga secara rohani. Bagi para istri, biarkan suami memerankan fungsinya sebagai kekuatan keluarga, dan jika memerlukan, tolonglah dia sebagaimana peran istri sebagai penolong suami. Bagi para kaum wanita muda yang belum menikah, pilih dan doakan calon pasangan hidup yang bisa melakukan perannya sebagai bapak. Bagi pria muda,  bersiaplah sebagai bapak yang berfungsi sebagai “kekuatan keluarga”.

Peran bapak jasmani di dalam keluarga, dalam kenyataannya memang tidak sempurna. Manusia manakah yang ideal atau sempurna? Tetapi, penghiburan besar telah dimiliki orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Oleh Roh Tuhan Yesus, kita, anak-anak Allah itu, memiliki Bapa yang sempurna, yaitu Allah. Jika Allah adalah Bapa kita, maka “kekuatan keluarga” kita harus kita letakkan pada Allah.

(Artikel ini ditulis oleh Hery Setyo Adi, yang dikembangkan dari artikel “Bapak” yang dimuat dalam Pelayanan via SMS dalam rubrik "Gali Kata Alkitab" edisi 4, Rabu 26 Maret 2008 dari nomor 085294397157. Berbagai sumber dipakai sebagai rujukan tulisan ini)

 

agamaitucandu's picture

Sangat mencerahkan :D

Tulisan anda sangat mencerahkan. 

*menunggu tulisan Anda yg lain*

__________________

.

ebed_adonai's picture

@HSA, sedikit input

Artikel anda sangat menarik, Bro Hery Setyo Adi. Namun keterangan anda di paragraf awal menurut hemat saya kurang tepat, yaitu dalam kalimat:.

..Kata “bapak”, “bapa”, “ayah”  diterjemahkan dari bahasa Ibrani ’ab (ayin-qames-bet)..

Pertama, bukan huruf ayin yang dipakai dalam kata tersebut, melainkan alef. Memang penulisan dari ayin sangat mirip dengan alef, tapi lengkungnya menghadap ke arah yang lain.

Ke-dua, dengan cara penulisan anda tadi, maka bisa saja orang mendapat kesan bahwa kata ’ab itu terdiri dari 3 huruf,  dimana huruf b itu adalah terjemahan latin dari huruf Ibrani bet, a dari qamesh, dan dari alef. Yang benar adalah kata ’ab tsb aslinya dalam bahasa Ibrani memang terdiri dari hanya dua konsonan (huruf mati) saja, yang ditejemahkan sebagai b dan . Jadi bukan pada awalnya (seperti yang anda tulis) terdiri dari dua huruf. Adapun qamesh sendiri (yang dalam terjemahannya ditulis sebagai huruf a ) bukanlah huruf yang sebenarnya, tapi hanya sekedar representasi dari tanda vokal (berbentuk seperti huruf T kecil, dalam teks Ibrani) yang ditambahkan kemudian oleh ahli-ahli bahasa Ibrani kuno (Kaum Masoret), sehingga kata ’ab tsb dalam teks Ibraninya dapat dengan mudah dibunyikan/dibaca, yang tentunya sulit, jika tidak ada tanda vokalnya (masih ingat kontroversi Nama Ilahi YHWH? Nah, permasalahan ini juga terjadi karena masalah tanda vokal yang tepat untuk kata YHWH tersebut). Jadi memang mirip juga dengan alfabet Arab, yang bentuk dasarnya hanya terdiri dari huruf-huruf mati saja, sehingga diperlukan tanda vokal yang ditambahkan kepada huruf mati, supaya kata-katanya dapat dibaca dengan jelas.

Dengan rendah hati, saya tidak bermaksud menambah kerumitan yang tidak perlu di sini, tapi uraian yang menyangkut bahasa jika tidak disertai dengan penjelasan yang memadai memang bisa menimbulkan kekacauan pemahaman.. 

Sekian koreksi dari saya...

Shalom!

__________________

(...shema'an qoli, adonai...)

Hery Setyo Adi's picture

Terima kasih Bung ebed_adonai

Bung ebed_adonai, terima kasih atas koreksinya. Apa yang Anda sampaikan benar. Penjelasan penulisan 'ab (ayin-qames-bet) yang saya tulis di alinea pertama memang keliru, yang benar adalah "alef-qames-bet". Kekeliruan tersebut tentu sangat mengganggu.

Pada alinea kedua saya bahas dua huruf "alef" dan "bet" (bukan "ayin" dan "bet") mencerminkan apa yang sebenarnya saya maksudkan, bahwa kata 'ab memang semestinya dijelaskan dengan penulisan  "alef-qames-bet), yang "aslinya" (pakai istilah Anda) ditulis "alef-bet".

Dalam setiap artikel, saya memang berkeputusan untuk menjelaskan penulisan kata Ibrani yang sudah mendapatkan tanda bunyi hidup (jadi bukan penulisan "aslinya"). Tujuan saya adalah agar pembaca mudah membacanya. Juga, kemungkinan saya lakukan transliterasi yang tidak sempurna (penyederhanaan transliterasi--istilah saya) akan terjadi karena keterbatasan-keterbatasan teknis dan pertimbangan kemudahan membaca bagi para pembaca yang tidak belajar bahasa Ibrani.

Sekali lagi terima kasih Bung ebed-adonai, Tuhan Yesus memberkati.

 

hery setyo adi