Submitted by
Purnomo
on
Pacar? Mana ada? Kalau istri, ada, kata mereka yang yakin Yesus hanyalah seorang manusia. Dialah Maria Magdalena yang disebut “murid yang dikasihi-Nya” dalam Yohanes 13:23. Mana mungkin lelaki “leaning on Jesus’ bosom” (KJV) kecuali ia gay? Jika ia bukan istri-Nya, mana mungkin dia nekad pagi-pagi buta pergi bergegas ke kubur Yesus? (20:1). Pacar? Apa mereka perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus?
– o –
Seorang masuk ke sebuah toko kain. Perempuan pemilik toko ini sangat ramah. Dan makin ramah ketika tahu pembelinya adalah orang Kristen. “Puji Tuhan! Ternyata kita ini saudara seiman,” katanya. Diskon 10% pun diberikan. Tetapi pembeli ini harus lebih lama berada di tokonya mendengar perempuan itu bersaksi betapa baiknya Tuhan Yesus kepadanya. Di meja kerjanya tergeletak sebuah Alkitab dan sebuah buku renungan harian.
Selesai membayar, si pembeli membalikkan badan dan berjalan keluar. Tetapi langkahnya terhenti karena matanya melihat di atas pintu keluar melambai-lambai sehelai kertas kuning dengan aksara kanji. Ia menoleh ke pemilik toko. Perempuan itu dengan tangkas berkomentar sebelum ia sempat bertanya, “Orang dagang itu harus berjaga-jaga, Pak. Enggak dapat dari sini, apa salahnya berharap dapat dari yang lain?”
Anda boleh terbahak, Anda boleh murka. Tetapi Anda tidak boleh memarahi perempuan ini. Pendapatnya benar, menurut pemikirannya sendiri tentu. Bukankah setiap orang boleh berpendapat sesuka hatinya selama tidak merugikan orang lain?
– o –
Tetapi, apakah perempuan pemilik toko kain ini adalah mempelai perempuan seperti yang disebut dalam Yesaya 62:5 “Sebab seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu”? Pasti tidak. Ia baru memacari Tuhan Yesus. Dan seperti umumnya dalam berpacaran, kita boleh punya pacar lebih dari satu orang, bukan?
Bagi mereka yang saat ini sudah hidup berkeluarga, pasti masih ingat betapa beratnya memilih satu dari beberapa pacarnya untuk diajak masuk ke tahap “going steady” dan selanjutnya menjadi pasangan hidupnya untuk selama-lamanya. Keputusan ini harus diambil dalam waktu yang relatif singkat. Kelamaan berpikir, sang pilihan telah pergi dengan orang lain. Tetapi mengapa ada orang senang berlama-lama tinggal pada tahap pacaran? Pasti ada enaknya, bukan?
Kalau kita mau main game on-line kita ajak Albert yang jago game. Kalau kita mau window shopping, susah bila jalan dengan Albert yang paling tidak suka diajak jalan pelan-pelan mengelilingi seluruh lantai mol tujuh kali. Aha, jangan bingung. Masih ada Roni yang kerja di perusahaan periklanan dan matanya berbinar-binar bila melihat warna-warni gaun perempuan. Tetapi 2 pacar ini tidak bisa diajak mendaki gunung karena badannya kerempeng. Di pucuk gunung bisa hilang diterbangkan angin. Kita telepon Hari yang punya sanggar fitness sekaligus klub pendaki gunung.
Jika kita diminta memilih 1 di antara 3 orang ini untuk going steady, pasti tidak gampang karena ada kesenangan-kesenangan kita yang harus dikesampingkan.
Tadi tentang hobi. Sekarang tentang kopdar. Maaf Opa dan Oma, kopi darat di ruang tamu itu jatah ortu. Buat kita setidaknya di café. Kalau pacar hanya seorang, pasti ia langsung jatuh pailit jika dalam 1 minggu kita ajak 3 kali ke resto. Bukankah dengan mempunyai 3 atau 5 pacar beban biaya ini tidak terasa karena merata terdistribusi? Pacaran tak lagi berat di ongkos, bukan? Selain itu, bila malam ini yang satu tidak bisa keluar rumah karena sedang pilek parah, yang lain bisa segera dikontak untuk menggantikannya.
Konsep inilah yang dipegang oleh perempuan pemilik toko kain tadi. Dia baru menerima Tuhan Yesus sebagai pacar agar dia bisa ditraktir oleh pacar lainnya bila Yesus berhalangan menraktirnya. Dia percaya kepada Yesus? Pasti! Tetapi dia belum bisa mempercayakan dirinya 100% kepada Tuhan Yesus. Seorang istri mempercayakan seluruh nafkah hidupya hanya dari suaminya. Bukan dari lelaki lain, walau sebagian saja.
– o –
Pada suatu hari besar Tionghoa, ia diajak teman-temannya ke kelenteng Tuban. Karena ia pernah mendengar pendetanya mengatakan semua makanan itu halal, ia ikut menyantap makanan bekas sembahyang. Beberapa hari kemudian ia sakit. Perutnya membesar dan keras. Bengkaknya sampai ke kaki. Ia menginap di rumah sakit 2 malam dan kemudian dirawat di rumah karena dokter tidak tahu penyebabnya. Ini cerita istrinya.
Istrinya berpendapat makanan di kelenteng itu yang menjadi penyebabnya. Setelah saya meyakinkannya apa yang diyakini suaminya itu benar, ia mengajukan kemungkinan kedua. Santet. Suaminya kena santet yang dikirim oleh seorang familinya. Buktinya? Suatu malam lampu neon TL di ruang tamu meledak. Karena itu mereka sekeluarga setiap malam mengadakan altar keluarga dan tidur di lantai untuk menghindari serangan santet berikutnya. Dua tindakan dari 2 kepercayaan yang berbeda.
Sementara perempuan itu berceloteh, saya melihat suaminya sudah tertidur di kursi di seberang saya. Perutnya sudah tidak sebesar dulu lagi. “Perutnya mulai mengempis setelah minum abu bakaran kertas jimat dari kelenteng,” istrinya menjelaskan tanpa saya tanya. Nah, berarti ada 3 kepercayaan dalam hidup perempuan ini. “Saya orang Kristen, saya tidak mau masuk kelenteng. Itu dosa. Tetangga saya ingin menolong suami saya. Kan tidak baik menolak kebaikan orang. Jadi dia yang masuk ke dalam kelenteng. Saya menunggu di luar.” Orang Kristen memang cerdik menyiasati Tuhannya.
“Sudah memanggil pendeta gereja Ibu?” tanya saya. Keluarga ini tidak segereja dengan saya. “Belum. Saya segan merepotkan gereja. Kami ‘kan orang miskin,” jawabnya. Saya berpamitan. “Bapak tidak berdoa dulu?” tanyanya heran.
Berdoa? Untuk siapa? Untuk sang istri atau sang suami? Dan kepada “pacar”nya yang mana?
—o—
Saya pernah mengunjungi gereja kecil di pedalaman Sungai Musi yang jauhnya 2½ jam berspeed-boat dari Palembang. Seorang jemaatnya orang Bali menceritakan penderitaannya ketika menerima Yesus. Hampir setiap malam ia melihat bola api melayang terbang mengelilingi rumahnya dan ada suara bertanya, “Mengapa kamu pergi meninggalkan aku?” Ia ketakutan, namun tetap bertahan. Ia tidak tahu kapan bola api itu akan meluncur menerobos dinding rumah dan menghantam tubuhnya. Sudah bulat tekadnya untuk mati demi Junjungannya yang baru. Ketika bola api itu tak muncul lagi, ia merasakan suatu perubahan dalam dirinya. Ia makin yakin akan kuasa penyertaan Tuhan Yesus.
Seorang istri pasti memercayakan keselamatan tubuh dan jiwanya dalam perlindungan suaminya. Tidak kepada orang lain. Kecuali, ia sudah tidak lagi memercayai suaminya.
—o—


“Dibandingkan agama-agama lain, agama Kristen adalah agama yang paling gampang,” begitulah yang sering saya dengar dari teman-teman yang bukan Kristen. Mengapa? “Karena, begitu seseorang percaya kepada Isa Almasih, saat itu pulalah tiket ke sorga sudah berada di kantong mereka.”
Seperti juga orang-orang Kristen lainnya, saya mengamini bahwa sorga yang disediakan oleh Yesus adalah karunia yang diberikan kepada saya tanpa harus melakukan kegiatan-kegiatan yang menyengsarakan badan. Tetapi agama Kristen adalah agama paling gampang? O o, nanti dulu.
Dalam kosa kata bahasa Inggris kita mengenal kata “to hear” (tanpa sengaja mendengar) di samping “to listen to” (sungguh-sungguh mendengarkan), kata “to see” (kebetulan melihat) di samping “to look at” (sengaja melihat), begitu juga dengan kata “percaya” yang kita kenal dengan “to believe”.
Ketika badai krismon melanda negeri ini, perusahaan tempat saya bekerja memberi tambahan tugas kepada para manajernya untuk memotivasi bawahannya “to trust the company”. Mengapa tidak “to believe the company”? Apakah “trust” dipilih karena “believe” berbau agama? Tidak! Ada perbedaan yang signifikan antara 2 kata itu seperti perbedaan arti “to see” dengan “to look”.
Saya sudah bekerja di perusahaan ini lebih dari 15 tahun. Setiap teman pasti tahu saya “believe” perusahaan ini memberi gaji dan fasilitas – pada masa lalu, masa sekarang, dan masa mendatang – yang cukup sehingga saya bisa bertahan lama di dalamnya. Tetapi apa yang sebaiknya saya lakukan bila perusahaan dalam menyembuhkan lukanya akibat terbanting-banting krismon akan menghapus kenaikan gaji selama 2 tahun mendatang; tidak menaikkan uang makan untuk waktu yang sama; meningkatkan kinerja dalam bentuk menaikkan jumlah produksi sekaligus menaikkan target penjualan; menambah panjangnya daftar jobdes; menjual seluruh bangunan kantor pemasaran di daerah-daerah dan sebagai gantinya mengontrak kantor di pinggir kota; tidak lagi memperbolehkan para manajer membawa mobil dinas pulang ke rumah agar belanja BBM bisa dihemat?
Saya “believe” gaji tidak naikpun saya tidak akan berkekurangan karena di perusahaan ini gaji terkecilnya saja hampir 1½ kali UMR. Tetapi setelah krismon banyak tawaran datang dari perusahaan-perusahaan lain dengan gaji dan fasilitas yang lebih baik. Perusahaan-perusahaan ini dalam mempersingkat “waktu penyembuhan”nya melalui biro jasa yang biasa dikenal dengan julukan “head hunter”, merekrut manajer-manajer yang sudah jadi. Seorang rekan saya yang pernah disekolahkan oleh perusahaan selama 1 tahun di Amerika, pindah ke perusahaan lain. “Tak usah sungkan jika mau pindah,” katanya kepada saya. “Antara kita dengan perusahaan tidak ada hutang-piutang. Setiap akhir bulan ketika kita terima gaji, semuanya impas. Aku disekolahkan juga untuk kepentingan perusahaan, bukan untuk kepentingan diri sendiri.”
Ketika head hunter membujuk saya pindah kerja, saya menolak walaupun disediakan uang transfer sebagai ganti uang pesangon yang hangus karena saya keluar atas kemauan sendiri. Saya tidak saja “believe” kepada perusahaan ini tetapi juga “trust”. Trust lebih berarti “mempercayakan diri kepada”. Biar gaji lebih rendah dari tarip pasar, biar banyaknya pekerjaan membuat saya tidur 4 atau 5 jam sehari, saya mempercayakan diri saya kepada perusahaan ini. Jika Anda mengatakan saya penakut, bodoh bahkan tolol, saya memakluminya. Karena begitulah yang dikatakan oleh rekan-rekan saya yang sudah pindah pekerjaan.
– o –
Agama Kristen adalah agama yang paling gampang, bahkan agama murahan, bila orang berpikir “just to believe Jesus” sudah cukup untuk mendapatkan sorga. Dalam perjalanan rohani, setiap orang percaya akan mengerti bahwa “to believe” saja tidak cukup.
Ketika seorang Kristen menderita sakit, ia “believe” Tuhan Yesus bisa menyembuhkannya. Tetapi bagaimana bila sampai 1 tahun sakitnya tidak hilang sementara beberapa orang kenalannya datang memberitahu di kotanya ada seorang dukun yang dengan biaya murah dan waktu singkat telah berhasil menyembuhkan penyakit mereka? Apakah ia berani “to trust/entrust”, mempercayakan hidup matinya termasuk penderitaannya kepada Tuhan Yesus? Di sinilah “trust Jesus” diterjemahkan dalam satu kata saja, beriman. Di titik inilah setiap orang tahu agama Kristen bukan agama gampang terlebih lagi murahan. Ketika seseorang mempercayakan hidup matinya kepada Tuhan Yesus, ia tidak mempertanyakan keadilan Tuhan sampai hari kematiannya atau pada puncak penderitaannya. Ia seperti seorang istri setia yang tidak mempertanyakan mengapa sampai ajal menjelang ia tidak pernah menikmati kemewahan hidup. Ia sudah merasa cukup dan berbahagia melihat kehadiran suaminya di sampingnya dari hari ke hari sepanjang hidupnya.
Ketika hidup seorang Kristen porak-poranda; masa depan tidak jelas bahkan memprediksinya saja ia tidak mampu; ia tidak tahu pasti apakah bisa menyelesaikan kuliahnya; ia tidak tahu apakah bisa mendapatkan pekerjaan yang layak; ia tidak tahu apakah kelak bisa mendapatkan pasangan hidup yang serasi, apakah “to belive” saja sudah cukup guna menghambat keinginannya atau bujukan orang lain untuk pergi kepada orang pandai agar ia bisa mengintip masa depan?
Apakah orang Kristen tidak boleh – sekali saja seumur hidup – menanyakan masa depannya kepada orang pandai? Tidak boleh, bila Anda berstatus pengantin perempuan milik Mempelai Mahaagung. Jika status Anda masih pacar Yesus, saya pikir oke-oke saja. Satu saja yang perlu diwaspadai, yaitu biaya yang harus Anda bayar itu diberi label apa oleh orang pandai itu. Jika ia menyebutnya uang lelah, uang honor, biaya konsultasi atau fee, tidak ada masalah. Tetapi setahu saya mereka lebih suka menyebutnya uang mahar. Mahar adalah uang atau barang yang wajib diberikan oleh seseorang kepada mempelainya ketika dilangsungkan akad nikah. Sekarang ini orang lebih suka menyebutnya mas kawin. Bila uang mahar ini Anda serahkan, berarti Anda tidak bisa lagi menjadi pacar Yesus karena Anda sudah sah menjadi mempelai tuhan orang pandai itu. Jika tuhannya saja tidak mau Anda jadikan pacar, terlebih lagi Tuhan Yesus.
Jadi, berapa orangkah pacar Tuhan Yesus? Saya tidak tahu jumlahnya. Tetapi saya tahu pasti kita bisa mengurangi jumlahnya paling tidak 1 orang, yaitu diri kita sendiri. Marilah kita mempercayai-Nya sekaligus mempercayakan diri sepenuhnya kepada-Nya sehingga kita bisa mendengar jelas sapaan-Nya,
“Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” (Kidung Agung 2:16)
-
- the end –