Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Biar buta kedua mataku

Purnomo's picture
Saudara-saudara tentu sudah tahu bagaimana Andi (bukan nama sebenarnya) anak saya. Baru setahun ia kuliah, ia terjerat narkoba. Syukur ia bisa sembuh. Tetapi ia malu sehingga tak mau kuliah dan ke gereja lagi. Pergi ke rumah teman pun tidak. Setiap malam saya menangis ketika menyebut namanya dalam doa selama hampir 2 tahun ini. Sering saya bertanya mengapa Tuhan tidak mendengar doa saya. Saya menolak anjuran orang untuk membawanya ke orang pintar, karena saya tetap berharap kepada Tuhan kita. Hari Minggu lalu sesuatu terjadi pada dirinya, ia . . . . .” ibu itu tak bisa meneruskan perkataannya karena berusaha menahan tangisnya.

Ketika pindah ke komplek perumahan di pinggir kota ini, Ibu Endang (bukan nama sebenarnya) ini berkunjung dan mengajak istri saya untuk menyelenggarakan persekutuan oikumene. Perumahan ini berada di padang rumput yang hijau pekat sehingga tidak ada sebuah gereja pun yang mau berkiprah di sini. Empat orang perempuan dari 4 denominasi berbeda kemudian berkeliling door-to-door mencari orang-orang Kristen untuk diajak bergabung dalam sebuah persekutuan. Pertemuan pertama di rumah saya hanya dihadiri 14 orang. Banyak yang tidak hadir karena takut.

Hasil pembicaraan adalah menyelenggarakan sebuah Sekolah Minggu di rumah saya, karena mereka repot bila harus membawa anak-anaknya ke SM di gereja masing-masing dengan bersepeda motor. Perumahan ini memang jauh dari pusat kota. Pamong Katolik perumahan ini yang juga sulit melangkah menitipkan 20 anak-anaknya ke SM kami sementara mereka belum memiliki sendiri dengan pesan agar saya tidak membicarakan doktrin Katolik yang ditolak Protestan. Penerimaan kami membuat warga Katolik akrab dengan warga Protestan. Mereka menyemangati kami untuk mengadakan persekutuan doa bulanan seperti yang telah mereka adakan. Natalan pertama kami bergabung dan nekad meminjam balai pertemuan desa.

Bertahun-tahun saya tidak berhasil “menjual” Sekolah Minggu ini ke gereja-gereja karena mereka takut mempunyai “cabang” di sini. Setiap hari Natal saya mencari gereja yang mau menerima anak-anak SM ini mengikuti acara Natal anak mereka. Jika dalam acara itu mereka membagikan bingkisan, saya bersedia memberi sumbangan uang agar anak-anak SM saya juga menerima bingkisan itu.

Sekitar 10 tahun kemudian barulah gereja-gereja mulai menyelenggarakan persekutuan di sini setelah mereka melihat persekutuan oikumene tidak lagi diganggu. SM juga sudah dinaungi oleh sebuah gereja. Ketika saya mengusulkan persekutuan oikumene dibubarkan, anggota-anggotanya menolak. Mereka ingat betapa sulitnya dulu memulai persekutuan ini. Mereka tetap mempertahankan persekutuan ini sebagai tempat bertukar informasi lintas denominasi.

Setelah belasan tahun meninggalkan perumahan ini, maka begitu saya kembali segera saya berkeliling mengunjungi mantan teman-teman seperjuangan dan mantan murid Sekolah Minggu saya dulu. Seorang pemilik warung bakso urat bercerita tentang anaknya. “Eko sekarang tidak di sini lagi. Ia tinggal di asrama Akademi Kepolisian. Sejak kecil ia memang ingin jadi polisi, padahal kami tidak mungkin menyekolahkan ia ke sana. Tahu sendirilah mahalnya uang masuk ke Akpol. Tapi mengherankan, ia bisa masuk tanpa dikenai biaya yang aneh-aneh itu. Tuhan betul-betul mengasihinya.”

Rasanya semua jerih payah dan ketakutan saya karena teror dulu terbayar lunas mendengar cerita-cerita tentang mantan anak SM kami. Apalagi ketika ada yang berkisah, ”Kami berdua sekarang ke gereja lho. Wah, kalau tidak didorong-dorong anak kami, pasti kami masih abangan.” Tetapi kesukaan saya menguap ketika berada di rumah Ibu Endang yang berkeluh kesah tentang Andi. Anaknya setelah sembuh dari narkoba hanya berkurung di kamar saja. Mendengar radio atau kaset dan bermain gitar. Saya meminjamkan 2 buku musik saya dan berpesan kepada ibunya agar nanti Andi sendiri yang mengembalikannya ke rumah saya. Saya ingin bertemu dengannya.

Tetapi sampai sebulan Andi tidak muncul. Saya ke rumahnya lagi dan ibunya memberikan buku itu kepada saya. “Andi tidak mau ketemu orang,’ katanya sedih. “Tolong, doakan dia.”

Karena itu saya merasa was-was ketika mendengar cerita Bu Endang di persekutuan doa oikumene ini. Ada apa dengan Andi? Apakah ia mencoba bunuh diri?

Setelah bisa mengendalikan emosinya, Ibu Endang melanjutkan ceritanya. “Hari Minggu itu sekitar pukul 3 sore bekas teman SMA-nya datang ke rumah. Andi pamitan mau dolan ke rumah temannya itu. Ia hanya mau bergaul dengan teman akrabnya ini saja. Biasanya ia hanya pergi 1 jam saja ke rumah teman akrabnya ini. Tetapi kali ini sampai magrib ia belum juga datang. Saya panik. Saya tidak tahu di mana persisnya rumah temannya ini. Nomor teleponnya juga saya tidak punya. Pukul 7 malam lebih baru Andi pulang. Pakaiannya tidak ada yang robek. Terima kasih Tuhan, ia tidak mengalami kecelakaan di jalan. Ia langsung mandi. Waktu ia makan, pelan-pelan ia saya beritahu kalau tadi saya kuatir sekali ia tidak pulang-pulang. Saya tanya mengapa ia pergi lama. Jawabannya mengagetkan saya membuat saya gagu. Dia bilang, dia pergi ke kebaktian sore di gereja temannya. Lalu dia tanya apa dia boleh Selasa sore bersama temannya pergi ke persekutuan doa pemuda di gereja itu. Duh Gusti, terima kasih, terima kasih sekali.”

Esok harinya ketika saya tengah bekerja, cerita Ibu Endang kembali terngiang dalam benak saya. Sayup-sayup saya mendengar sebuah melodi. Makin lama makin jelas bergaung dalam kepala saya seperti di telinga tertancap earphone yang terhubung dengan sebuah music player. Susah saya berkonsentrasi karena melodi ini bergalau di benak saya.

Saya mengambil pinsil, karet penghapus dan selembar kertas. Saya menggambar suara itu dalam notasi angka. Setelah selesai, gaung suara itu menghilang dari otak saya. Dulu, dalam mengarang lagu saya selalu menuliskan syairnya terlebih dahulu. Dari perasaan yang tersirat dalam syair itu barulah saya bisa membuat melodinya. Karena itu saya meletakkan catatan itu di meja karena saya tak berminat menulis syairnya. Pasti sulit. Aneh, kalimat-kalimat yang pernah diucapkan Ibu Endang terngiang. Saya ambil kembali kertas itu. Saya menulis beberapa perkataan itu dan coba mencocokkan dengan not-not yang ada. Tidak lebih dari 1 jam sebuah lagu yang lengkap notasi dan syairnya telah selesai saya tulis. Itulah lagu yang paling singkat waktu penulisannya. Saya tidak pernah bisa menyelesaikan sebuah lagu di bawah satu minggu.

Lalu saya mencoba memperbaiki syairnya karena menurut penilaian saya masih kurang bagus. Tetapi saya tidak berhasil. Bulu kuduk saya meremang. Saya tahu ini bukan lagu karangan saya. Saya hanya mendengar dan mencatatnya. Proses penulisannya juga berlawanan dengan cara yang biasa saya lakukan. Saya tahu ada tugas untuk saya.

Karena itu ketika saya memimpin kebaktian Sabtu untuk pemuda di sebuah gereja saya membagikan catatan lagu itu dan menyanyikannya. Hari Minggunya saya menyanyikan di depan jemaat gereja saya pada ibadah sore yang dihadiri sekitar 150 orang. Jangan menyangka saya seorang solois. Suara saya jelek, cempreng. Bukankah saya bisa menunda “publikasi”nya supaya saya bisa mencari seorang solois yang mau menyanyikannya? Tetapi dorongan untuk menyanyikan lagu itu dalam 2 kebaktian itu sangat kuat dan tidak bisa ditahan-tahan. Apakah ada anak Tuhan yang saat itu sedang putus asa dan Tuhan ingin saya menyanyikan lagu ini untuknya? Saya tidak tahu.

Pada pertemuan persekutuan doa oikumene bulan berikutnya, saya memberikan catatan lagu ini kepada Ibu Endang dan menyanyikannya bersama mereka yang hadir. Hanya tiga kali itu saya menyanyikannya di depan umum. Setelah itu saya menyimpan catatan itu.

Seminggu ini saya ingat lagu itu dan dan enggak tahu kok ingin sekali mem-posting-nya di Sabda Space. Padahal saya tidak tahu apakah memposting lagu diperbolehkan di sini. Semoga saja keinginan ini tidak dilambari perasaan “show up” atau karena dapat penglihatan Anda sedang berputus asa. Anggap saja seorang penyiar CNN yang selalu mengisahkan berita-berita mengerikan sedang mencoba beralih profesi menjadi penyiar MTV yang bertralalalili.

 

 

dennis santoso a.k.a nis's picture

....................

entah kenapa lagu ini jadi terngiang2 di kepala pas gue baca blog ini:

tiap langkahku diatur oleh Tuhan
dan tangan kasihNya memimpinku
di tengah gelombang dunia menakutkan
hatiku tetap tenang teduh
tiap langkahku kutau Tuhan yang pimpin
ke tempat tinggi ku dihantarNya
hingga sekali nanti aku tiba
di rumah Bapa surga yang baka


terngiang dan terngiang, terutama dua baris terakhir dari lagu itu.

ps. salam buat si ibu; juga anaknya sekalian.
oche's picture

Kesaksian yang menguatkan

Saya terharu sekali membaca kisah ini. Kiranya membawa berkat kepada semua yang membacanya. Kesaksian pak Purnomo mengingatkan kita bahwa keajaiban Allah tidak dibatasi hanya dengan menyembuhkan orang lumpuh atau mencelikkan mata yang buta, tapi juga pulangnya anak yang hilang. Setiap suka cita di dalam Kristus adalah bukti dari kasih sayang dan pemeliharaan Allah Bapa. Jadi, jangan pernah putus asa dan meninggalkan Dia yang telah memanggil nama kita untuk masuk ke dalam kerajaanNya. Jalan tidak mudah, itu PASTI!!! Tapi kita akan selalu mendapat pertolongan dari yang selalu tahu berapa helai jumlah rambut kita. Pertolongan bisa datang dari seseorang atau saudara kekasih di dalam Kristus yang bisa menguatkan entah lewat doa, perhatian atau pemberian. Atau lewat kesaksian, seperti dari pak Purnomo ini ;-) GBU
esti's picture

Mas Pur.... ..dan kisah ibu Endang.... "

Dear mas Pur, Apa yang dialami anak ibu Endang pernah terjadi pada anakku 10 th lalu, setelah berlutut tiap tengah malam sekarang semua sudah dipulihkan. Ditempat dimana dia terlibat pelayanan itulah saya pernah ketemu pertama kali dengan saudara2 SS. Saya tidak punya keberanian untuk menceritakan ke teman2 anggota PS di gereja yang lama, karena saya takut dicemooh, sebagai ibu tidak bisa mendidik anak, bahkan saya mengundurkan diri dari pelayanan dan pindah ke Bogor, kebetulan suami dapat job di Bgr bisa jadi alasan yang tepat. Suatu hari mereka (anggota PS yg lama) datang menyanyi di gereja Bgr tempat aku bergereja dan mereka mampir untuk makan2 dirumahku, mereka mendorongku untk aktif lagi. Anakku yang kecil kupakai sebagai tameng kenapa aku tidak lagi melayani, juga tidak mengajar, meski hati ini rindu untk pelayanan. Akhirnya sambil berurai air mata saya ceritakan kondisiku, mereka menanggapi bahwa sesungguhnya mereka sudah tahu dari dulu, tapi mereka tidak tega untuk bertanya ke saya, kecuali kalau saya mau terbuka, dan mereka tidak menyalahkan, bahkan sebenarnya ingin membantu tapi tidak berani. Mereka senang mendengar kabar bahwa anakku sudah pulih bahkan terlibat pelayanan, waktu itu baru masuk kuliah lagi. Sekarang bukan hanya anakku yang sudah pulih tapi sayapun masih diberi kesempatan untuk melayani lagi bahkan lebih dari yang saya harapkan. Terima kasih mas Pur atas kesaksiannya yang membuat saya berani bercerita untuk menanggapi tulisan mas Pur, Tuhan memberkati" Salam"