Submitted by anakpatirsa on

Teologia yang artinya "ilmu tentang Allah" membuat banyak orang terganggu. Tidak hanya satu dua yang alergi terhadap istilah ini. Seperti kata C.S. Lewis tentang pilot tempur yang berkata, teori tentang Allah tidak berguna baginya. Sebagai anggota pasukan tempur, ia juga religius. Mengetahui Allah itu ada, bahkan merasakan-Nya saat di kepekatan malam sendirian di padang gurun. Itulah yang membuatnya tidak mempercayai dogma dan rumusan tentang Allah. Menurutnya, ini semua menjadi sempit, tidak nyata dan hanya pekerjaan orang-orang yang merasa berilmu. Di mata orang yang merasakan sendiri keberadaan Allah di tengah hamparan pasir tanpa ujung yang penuh misteri, teologia hanyalah sebuah teori.

Siapapun bisa mengalami pengalaman nyata dengan Allah di padang belantara, di tengah rimba, di tengah laut atau dimanapun. Saat berpaling dari pengalaman nyata kepada sederetan pengakuan iman kristen, baginya seperti berpaling dari sesuatu yang nyata kepada sesuatu yang kurang nyata. Seperti kata C.S. Lewis dalam Mere Christianity, orang yang memandang samudera Atlantik dari pantai, kemudian memandang selembar peta Atlantik, seperti berpaling dari ombak nyata yang ia lihat dengan mata kepala sendiri kepada selembar kertas berwarna. Tetapi inilah intinya, memang hanya selembar kertas berwarna, namun, ada dua hal yang harus diingat. Pertama, peta ini dibuat berdasarkan penemuan ratusan bahkan ribuan orang yang telah mengarungi samudera Atlantik. Kedua, jika mengarungi samudera, peta ini benar-benar perlu.

Menurutnya, teologia seperti sebuah peta, hanya mempelajari dan memikirkan doktrin Kristen belaka. Doktrin bukan Allah, hanya sebentuk peta. Peta yang dibuat berdasarkan pengalaman ratusan orang yang sungguh-sungguh bersentuhan dengan Allah. Jika ingin benar-benar mengenal Allah lebih dekat, orang harus menggunakan peta ini.

Orang yang memiliki pengalaman dengan Allah di padang gurun mungkin nyata dan pasti sesuatu yang sangat menarik, tetapi ini tidak menghasilkan sesuatu serta tidak mengarah kemanapun. Hanya sebuah kepercayaan samar, hanya tentang merasakan Allah secara alami; begitu menarik, seperti melihat gelombang dari pantai. Walaupun demikian, tidak akan ada yang pernah menemukan benua Amerika hanya dengan memandang ombak samudera Atlantik dari tepi pantai. Juga tidak akan ada yang mendapat kehidupan kekal hanya dengan merasakan kehadiran Allah dalam sepucuk bunga atau sebuah lantunan musik. Juga tidak ada yang bisa mengarungi samudera hanya dengan melihat peta tanpa berlayar, dan tidak ada yang bisa aman mengarungi samudera tanpa sebuah peta.

Membaca buah karya penulis besar abad ini membuat saya teringat apa yang terjadi tahun 2000. Masih melekat dalam ingatan, seorang pendeta berkhotbah di depan ratusan hamba Tuhan dari seluruh pelosok negeri. Di barisan belakang berjejal hamba Tuhan dari pedalaman yang datang ke Jogja bukan hanya karena ingin melihat Malioboro, tetapi berharap mendapat penyegaran rohani. Di barisan depan, berderet hamba Tuhan bergelar doktor yang sebagian menganggap dirinya ahli teologia dan sebagian memang diakui sebagai ahlinya.

Hari terakhir berarti ada khotbah penutupan. Kali ini pengkhotbahnya hanya bergelar sarjana teologia, tetapi tidak ada yang berani meremehkan apa yang telah ia lakukan bagi Kristus. Dengan lantang ia berkata, setelah menyebut satu-persatu hamba Tuhan bergelar doktor yang ia kenal, termasuk yang duduk di deretan depan. "Lihat mereka ini, sehari-hari pekerjaan mereka hanya membuat makalah, makalah, dan makalah. Mana buah-buah pelayanannya? Mana jiwa-jiwa yang bisa mereka bawa kepada Tuhan? Tidak ada! Karena mereka hanya mempersembahkan berlembar-lembar makalah bagi Tuhan."

Saya memang tidak seberani pendeta yang tidak pernah lagi diundang khotbah di seminar tahunan ini, namun kadang merasakan terlalu banyak orang yang sok kenal dengan Tuhan sehingga membuat pemahamannya sendiri tentang Tuhan dan membuat orang yakin dengan pemahamannya. Baik dalam masalah doktrin, atau masalah yang lain. Walaupun demikian, saya harus mengakui, beberapa orang yang menghabiskan waktunya di perpustakaan teologia, telah mengajarkan saya banyak hal tentang siapa Kristus, mengapa orang yang percaya kepada-Nya bisa menjadi Anak Allah, dan bagaimana kematian-Nya menyelamatkan saya.

Teologia, saya memang sedikit elergi dengan istilah ini. Tetapi akhirnya saya menyadari, asal saja tidak ada lagi orang teologia yang meremehkan "logia" yang lain, maka saya hanya elergi terhadap orangnya bukan pada sebuah kata: teologia.

***

Referensi:

Lewis, C.S., Mere Christianity: What One Must Believe to be A Christian, New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1978