Pernyataan yang saya pakai sebagai judul di atas terus mengganggu saya beberapa tahun terakhir ini.
Kenapa saya suka berkotbah? Apakah karena sifat ini diturunkan secara spiritual-genetic ke saya sebagai orang kristen sehingga saya dan mungkin jutaan orang kristen lainnya suka sekali mengkotbahi orang lain? Ataukah ada hal-hal lain?
Ada beberapa hal yang saya renungkan kenapa saya suka sekali berkotbah:
1. Saya mau orang lain bertobat
Motivasi yang bagus tentunya. Melihat semakin banyak orang datang ke Kristus, tentunya adalah pemandangan yang indah. Tapi keinginan yang tulus ini tentunya tidak bisa diaplikasikan kepada semua orang secara keseluruhan, karena akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, misalnya:
- Saya tahu dari mana kalau orang tersebut memang perlu bertobat?
- Apakah saya memang sudah bertobat sehingga menginginkan orang lain juga untuk bertobat?
Yesus berkotbah, Yohanes berkotbah, Paulus berkotbah. Tetapi kenapa mereka berkotbah? Dorongan dari Roh Kudus? Lalu apa bedanya dengan klaim yang sama yang saya buat juga, bahwa saya suka mengkotbahi orang lain karena didorong oleh Roh Kudus?
2. Saya menganggap saya lebih tahu tentang kebenaran daripada orang lain
Suatu pernyataan yang keras, terutama buat saya sendiri. Awalnya saya menganggap bahwa ketika saya bertobat, orang lain juga perlu bertobat. Ketika saya mengetahui apa yang saya anggap sebagai kebenaran, orang lain juga perlu mengetahui apa yang sama.
Kenyataannya tidak semudah itu. Kenapa? Karena ukuran yang saya pakai, saya kenakan ke orang lain. Suatu hal yang naif kalau saya memiliki sepatu berukuran 12, lalu saya menganggap bahwa otomatis orang juga harus memiliki sepatu berukuran 12.
Ketika saya menemukan saya berada di dalam situasi seperti ini, saya terjebak di antara tembok-tembok kesenangan, kesombongan, kesedihan, dan kemunafikan. Saya senang karena saya merasa saya lebih tahu kebenaran daripada orang lain atau lawan bicara saya. Ada perasaan yang nyaman membahagiakan terasa di dada saya ketika mengetahui saya memiliki kelebihan dibanding orang lain. Saya menjadi sombong karena hal yang sama. Saya menjadi munafik karena menyadari bahwa ukuran yang saya pakai hanyalah perasaan dan prasangka belaka. Dan saya sedih ketika mengetahui situasi tersebut adalah jerat buat saya.
3. Saya suka mengkotbahi orang lain karena saya sebenanya orang yang gagal
Berapa kali kita sering mendengar cerita, seorang anak perempuan dari kecil sudah diarahkan menjadi penari atau balerina bahkan terkadang suka berlebihan, dan pada kenyataannya kita mengetahui itu karena ibu dari si anak memiliki cita-cita menjadi penari atau balerina sejak dari kecil, namun tidak kesampaian?
Berapa kali kita sering mendengar cerita seorang anak laki-laki diarahkan untuk menjadi insinyur, dokter, tentara, pendeta karena sang ayah ternyata memiliki cita-cita yang sama?
Sudah menjadi hal yang umum, ketika kita gagal, kita cenderung menyangkal kenyataan tersebut. Ketika kita menyangkal, kita menyangka masih ada harapan. Dan kita secara tidak sadar menaruhkan harapan tersebut kepada orang lain.
Masih segar di memori otak saya, bagaimana 1-2 orang pendeta yang gemar berkotbah mengenai bahaya seks, mengenai amat bencinya Allah dengan para pemburit, pelacur, dan para kriminal seksual lainnya, ternyata jatuh pada dosa yang amat sangat sama, yaitu dosa seksual. Seketika itu juga banyak orang menuding bahwa para hamba Tuhan tersebut sesat, munafik, dan lain sebagainya. Saya merenung, bukankah ini sebenarnya adalah salah satu aplikasi dari altruism? Bisa jadi para hamba Tuhan tersebut sebenarnya sudah lama berkubang dalam dosa seksual, namun penyangkalan dan penghindaran mereka dari hal itu adalah mengkotbahi orang lain mengenai hal yang sama. Mereka mencoba berusaha menolong diri sendiri, dengan mencoba menolong orang lain.
Begitu juga dengan saya. Ketika saya mengkotbahi orang lain tentang menjadi bijaksana, membagi waktu, mengasihi orang lain, dan bermacam hal lainnya, tetapi selanjutnya saya menemukan kenyataan bahwa pedang tersebut bermata dua. Dan lebih parahnya, saya menemukan kenyataan bahwa saya sudah gagal di situ. Mungkinkah seseorang yang gagal di suatu hal malah berceramah atau mengkotbahi orang lain tentang bagaimana bisa berhasil di hal yang sama? Mungkin saja. Bijaksanakah perbuatan seperti itu? Saya tidak tahu jawabannya.
Berkotbah, kata yang bermakna positif. Mengkotbahi, kata yang bertendensi negatif. Kerajaan Allah memang sudah dekat, sejak dari 2000 tahun yang lalu. Tapi pendakian spiritual saya pribadi, menemukan kenyataan bahwa saya harus belajar jauh lebih banyak dan jauh lebih keras, untuk mengkotbahi diri saya sendiri, dibanding untuk berkotbah dan mengkotbahi orang lain.
Kenyataan yang pahit memang, karena saya tidak suka dikotbahi orang lain, tapi saya sering melakukan hal yang sama ke orang lain yaitu mengkotbahi mereka. Untuk itulah saya sampai saat ini saya hanya berani berkata seperti itu. Biarlah saya mengkotbahi diri sendiri. Pengecut? Mungkin. Tapi setidaknya saya jujur (dan saya tidak tahu apakah pernyataan jujur saya itu merupakan suatu kejujuran, ataukah hanya untuk mengibur diri sendiri.)
So help me, God.