Submitted by
smile
on
Suatu hari saya ngobrol dengan seorang SPV dari sebuah perusahaan kontraktor di daerah saya. Dia menceritakan tentang bosnya yang seperti BELANDA.
Saya berpikir, apa orangnya yang seperti orang Belanda? Saya memberanikan bertanya lebih dalam lagi, kepadanya. Akhirnya dia menjelaskan seperti ini.
Bos saya adalah seorang pengusaha yang besar dari modal dengkul. kagum saya padanya, hanya saja saya kurang menyukai caranya yang satu ini : DE VIDE ET IMPERA....
Dia mengatakan kalau bosnya itu suka mengadu domba pekerja yang satu dengan pekerja yang lainnya, karena dengan begini, tanpa ada pengawasan-pun, mereka tanpa sadar telah melakukannya untuk bos tersebut.
Begini maksud saya. Jika dilapangan ada 10 orang pekerja, dalam bidang yang berlainan, adukan satu dengan yang lainnya, beritahu bahwa mereka begini dan begitu, sehingga ada kesan si bos itu sudah benar benar muak dengan kelakuan dari pekerja tersebut, ditambah dengan sedikit bumbu mengadu domba, maka akan tercipta suatu permusuhan antara pekerja yang satu dengan pekerja yang lain. Sehingga saat ingin mengetahui sepak terjang dari satu orang pekerja, tinggal menanyakan kepada pekerja lain yang tidak suka dengan pekerja yang dimaksud.
Otomatis tugas mengawasi si bos jadi berkurang, dan bos secara santai bisa selalu mengawasi semua pekerjanya dari para pekerja itu sendiri.
Bisakah anda bayangkan apa yang saya tuliskan ini?
Otomatis tugas mengawasi si bos jadi berkurang, dan bos secara santai bisa selalu mengawasi semua pekerjanya dari para pekerja itu sendiri.
Bisakah anda bayangkan apa yang saya tuliskan ini?
Saya berpikir, luarbiasa cara dunia ini. Luar biasa cara bos “BELANDA” ini...tapi apakah kita juga sebagai pekerja sadar kita diperlakukan seperti itu? Dan saya coba menanyakan kenapa rekan saya itu bisa mengetahui. Karena dia adalah orang paling lama yang ikut bekerja dengan bos “BELANDA” itu, maka dia mengetahui sepak terjang bosnya.
Sebagai pertanyaan, apakah pantas cara devide et impera itu kita praktekkan dalam kehidupan kita secara kita ini disebut orang kristen?
Saya sendiri jujur menyukainya, tapi dilain sisi saya membencinya. Apa yang harus saya lakukan?
TIDAK USAH DIPIKIRKAN,karena untungnya bos saya tidak seperti itu.hihihi...
CHAPTER LAIN.
Yang ini saya berbagi dengan semua rekan blogger.
Suatu ketika saya sedang meeting dengan pimpinan saya...dan ketika setiap pendapat peserta meeting itu dipatahkan begitu saja dan tidak adanya sharing atau tukar pendapat yang baik dan bersifat dua arah dalam meeting itu, maka saya memberanikan diri untuk mengatakan : MAAF PA….ini bukan Meeting namanya, ini hanya sekedar mendengarkan perintah anda saja. Jika begini, buat apa kita meeting kalau ujung ujungnya adalah mendengarkan semua kata kata pimpinan tanpa pimpinan mendengarkan semua pendapat kita sebagai peserta meeting. Dan apa yang terjadi? Sekarang bos saya berubah dan selalu mendengarkan saran dan sharing kami ketika meeting terjadi.
By smile
April 19th -2010
April 19th -2010