Saya sedang dilanda pergumulan yang cukup berat. Saya mempunyai seorang pasangan yang saya cintai, dan kami sudah memasuki masa pertunangan. Dulu ketika kami pertama kali bertemu, dia telah menyampaikan dengan jujur masa lalunya tentang dosa seksual dengan mantannya (hubungan fisik mereka telah sampai hubungan suami-istri) dan juga kejatuhannya di dalam judi sebelum bertemu dengan saya. Ketika bertemu dengan saya dia berkata telah berhenti judi, dan juga karena mantannya berselingkuh dengan orang lain sampai berhubungan intim, dia mengatakan pada saya bahwa perselingkuhan mantannya itu adalah hukuman untuknya mengenai dosa seksual mereka.
Ketika itu saya sama sekali tidak memikirkan masa lalunya, karena bagi saya yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan, dan saya mencintainya sehingga saya menerimanya, menjalani hubungan, dan kami telah bertunangan dan merencanakan menikah akhir tahun ini.
Akan tetapi dengan berjalannya waktu, kami mendapat cukup banyak pencobaan. Diawali dengan pencobaan seksual sehingga kami terjatuh bersama dalam dosa seksual, saya selama ini berusaha menjaga diri saya dan virginitas saya agar tidak sampai jatuh ke dosa seksual, dan karena kejatuhan kami bersama meski tidak sampai *maaf* ML, saya tetap trauma sehingga kami selalu bertengkar pada saat itu.
Dan ternyata dalam masa saya berusaha mengampuni, ternyata dia mengaku telah kembali berjudi sampai uang tabungan menikah kami yang semula dia pegang menjadi berkurang 50 % dan rencana menikah menjadi mundur karena uang yang hilang untuk berjudi.
Pada saat itu saya bingung, dan saya lari kepada orang tua saya, dan orang tua saya masih mencoba memberi kesempatan kepada hubungan kami agar dapat diselesaikan sendiri.
Namun, ternyata saya pun tanpa sadar terluka dengan rencana mundurnya pernikahan ini, dan ketika saya mencoba menggali lebih dalam ternyata tunangan saya masih mengulangi perbuatan judinya (dengan pinjaman uang teman yang juga penjudi) sampai beberapa bulan setelah pertengkaran tentang seksual tersebut.
Judi yang dilakukan oleh tunangan saya adalah judi internet, dengan berbagai macam permainan dan taruhan bola yang ada di internet (saya tidak begitu paham) sehingga tidak termonitor melalui kegiatan sehari-harinya atau saat tidak bersama saya.
Saat ini saya bingung.
Saya tahu saya masih mencintainya, saya masih yakin selama ini dia telah setia dengan saya, trauma seksual dalam hubungan kami sedang dipulihkan dan kami bertahan dalam komitmen untuk tidak berhubungan fisik kembali sampai resmi menikah. Saya juga masih meyakini dia tidak seperti laki-laki yang pernah saya temui sebelumnya (saya sering mendapat pengakuan adanya dosa seksual dari laki-laki yang pernah dekat dengan saya, beberapa di antaranya bahkan sampai aborsi).
Namun terus terang kejatuhannya dalam judi membuat saya yang semula ingin hidup bersamanya menjadi ragu. Orang tua saya pun mulai berkata tegas bersedia untuk membatalkan pertunangan ini. Memang kepercayaan saya terhadapnya sudah jauh berkurang (khususnya dalam hal keuangan) karena dia tidak menunjukkan pertobatan yang berarti, saya juga takut apabila sudah memiliki anak, saya takut masa depan anak-anak saya hancur karena dia tidak berhenti judi. Kekuatan cinta saya semakin lama semakin berkurang.
Dan yang lebih parah, tunangan saya adalah seorang Gembala Jemaat atau Pendeta. Saya tidak percaya diri lagi menjadi seorang Ibu Pendeta.
Apakah yang harus saya lakukan?