Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Sobat

victorc's picture
Tema: Teologi Yesus Sobat kita
Subtema: From being alone to being loved, and from being loved to reaching out

Teks: Yohanes 15:15
"Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku."

Pendahuluan
Apakah Anda punya sahabat karib yang selalu setia mendengar cerita atau keluhan Anda? Ciri-ciri seorang sahabat antara lain adalah komunikasi dialogis (2 arah) dan hubungan yang begitu karib dan akrab (intim). Jika meminjam istilah Martin Buber, relasi dialogis antara sahabat dicirikan oleh hubungan I-Thou, bukan I-It. Kali ini saya akan berbagi permenungan tentang makna menjadi sahabat dan bergaul karib dengan Tuhan.  Artikel ini dapat dianggap sebagai upaya memahami persahabatan dalam kerangka filsafat dialogis Martin Buber. Intinya beliau menyarankan relasi dialogis yang intim sebagai sahabat (I-Thou) adalah keinginan Allah sendiri. Dia rindu untuk memulihkan hubungan dengan manusia sebagaimana sebelum kejatuhan manusia. Demikian juga Tuhan Yesus memanggil kita menjadi sahabat dalam relasi I-Thou dengan sesama, khususnya mereka yang terabaikan dan tersisihkan dalam masyarakat. Untuk bacaan lebih lanjut tentang penerapan filsafat dialogis Buber, lihat (16)-(19). Kiranya artikel ini  menolong memahami maksud Allah dalam hidup Anda. Selamat membaca.

A. Being alone: kesepian sebagai masalah eksistensial
Pertama-tama, kita mesti menyadari bahwa sejak kejatuhan manusia yang pertama seperti dicatat dalam Kejadian pasal 3, manusia sering dilanda kesepian dan merasa terasing baik dari Allah, dari lingkungannya dan dari dirinya sendiri. Realitas kesepian manusia itu tercatat dengan baik ketika Allah memanggil manusia, namun mereka menyembunyikan diri di balik pepohonan dalam taman Firdaus. 

Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." (Kej. 3:10)

Dan keterputusan hubungan dari Allah itulah yang menyebabkan manusia diusir dari taman tersebut dan mereka mesti mengusahakan tanah dengan segala kutuk serta penderitaan yang menyertainya. Itulah akar dari kesepian secara teologis.
Kesepian memang merupakan salah satu pengalaman yang universal dan mendasar pasa setiap manusia. Setiap orang di dunia ini, baik orang kaya maupun miskin, anak-anak maupun dewasa, orang yang beragama dan yang tidak beragama, dapat merasa kesepian. Bahkan, seseorang yang termasuk ke dalam kategori orang yang berbahagia dan memiliki banyak teman pun, dapat merasakan kesepian.(7)
Dengan mudah kita sering menunjuk bahwa orang lain kesepian, namun terkadang kita tidak sadar bahwa diri kita sendiri kesepian, atau bahkan kita enggan mengakui bahwa kita kesepian.(7)
Apakah itu kesepian? Dalam KBBI, kesepian memuat dua makna, yaitu keadaan sepi dan perasaan sunyi (tak berteman). Definisi itu tampak sederhana, namun jika didalami, kesepian memuat beragam kompleksitas. Rolheiser mengatakan bahwa kesepian adalah sebuah pengalaman di mana kita merasakan sensasi berat dan pedih yang muncul dari rasa teralienasi, tertolak, kosong, frustasi, gelisah, tidak puas dan kehilangan. (Rolheiser, 2007, 50, Kindle)
Kesepian dapat melanda semua manusia dari usia manapun. Misalnya, anak-anak dan remaja juga seringkali mengalami kesepian. Dalam teori perkembangan kepribadian, banyak penelitian yang menemukan bahwa identitas diri anak-anak dan remaja cenderung rapuh terutama karena rasa percaya diri (self esteem) yang menurun akibat tuntutan dari orangtua serta guru yang begitu tinggi, sementara mereka masih belum siap dengan semua tuntutan tersebut. 
Ditambah lagi mereka mulai mengalami pubertas, sehingga mereka mengalami begitu banyak masalah kompleks yang kerap membuat mereka tidak dimengerti oleh orangtua.
Ketika mereka beranjak menjadi pemuda, persoalan kesepian masih dapat mencekam, jika mereka merasa sulit diterima oleh lingkungan dalam proses pengembangan diri. Ditambah lagi dengan kesibukan kerja. Meskipun ada banyak gawai dan media sosial yang mestinya dapat membantu mereka untuk bersosialisasi (khususnya untuk generasi Z dan milenial), namun mereka justru menjadi kian terasing dari orang-orang terdekat. Itulah salah satu bahaya dari masyarakat yang terlalu terpapar oleh teknologi komunikasi.
Lalu ketika pemuda tersebut memasuki pernikahan, muncul masalah baru akibat problem kesepian yang belum tuntas pada masa perkembangan sebelumnya. Rolheiser memberikan sebuah contoh yang menarik tentang kesepian di dalam pernikahan. Orang yang menikah karena kesepian, biasanya akan tetap merasa kesepian di dalam pernikahannya. Ia menuntut pasangannya untuk menjadi "mesias," agar kesepiannya hilang. Namun pasangannya tidak sanggup memenuhi keinginannya. Akibatnya, ia lalu berselingkuh dengan orang lain. Dan pernikahan itu berakhir dengan sebuah kepedihan (Rolhesier 2007, 24-36, Kindle).
Kesepian juga melanda orang-orang lansia, entah karena pensiun, ditinggal mati oleh pasangan, bercerai, atau karena pindah ke kota lain bersama anak dan menantu. Para lansia juga kerap mengalami kesepian karena merasa tubuh mereka tidak lagi mendukung semangat mereka, dan akibat perbedaan cara pandang dengan anak dan menantu. Mereka sering merasa tersisih dan tidak dimengerti oleh orang-orang yang lebih muda, bahkan oleh anak cucu sendiri. Lihat (8).
Namun di balik semua masalah dan konflik akibat kesepian tersebut, jangan salah, kita juga dapat memperoleh kesempatan untuk mengalami pertumbuhan iman di dalam kesepian. Blaise Pascal, filsuf dan matematikawan abad pertengahan, pernah menulis: "Di dalam jiwa manusia ada celah kosong, yang hanya dapat diisi oleh Tuhan saja." Senada dengan itu, Thomas Aquinas mengatakan bahwa kesepian adalah suatu tanda kehausan akan kasih Allah dan kehausan akan relasi dengan sesama kita dan dengan dunia. Kita merindukan suatu persekutuan yang radikal dengan Allah dan seluruh ciptaan.(7) 
Secara teologis, sesungguhnya seluruh umat manusia rindu untuk kembali pada persekutuan dan pergaulan yang intim dengan Tuhan dan dengan alam, sebagaimana dahulu di Taman Firdaus. 
Mengutip Aquinas:
"We are built for the infinite, to be in perfect intercommunity with God and others. We hunger for this, long for it, and constantly and thirstily reach out for it. But, when we do reach out, we can meet and touch only particular persons and objects. These can fulfill us to a point, but never completely. Our nature is built for more and it demands more. Accordingly, we go through life always somewhat lonely and dissatisfied, restless and unfulfilled, as we perpetually reach out and seek that radical unity with God and others for which we were made." (Rolheiser, 2007, 121, Kindle).
Refleksi Aquinas di atas lahir dari refleksinya terhadap kesepian yang dialaminya. Rupanya, saat kita merenungkan makna kesepian dan memperjumpakannya dengan kasih Allah, maka kita memasuki sisi yang indah dari kesepian. Meski memang ada sisi-sisi indah dari kesepian atau kesendirian (solitude), misalnya bagi para artis dan inovator ketika mencari inspirasi, namun kita mesti melihat bahwa jawaban sesungguhnya atas problem kesepian baik pada anak-anak, remaja, pemuda, dewasa sampai lansia hanya dapat ditemukan jika kita merasa dikasihi dengan kasih yang tak bersyarat oleh Tuhan sendiri, dan lalu kita mengalami persekutuan serta pergaulan yang intim dengan Tuhan sendiri dalam nama Yesus Kristus. Inilah jawaban yang tepat akan problem kesepian, baik dari sudut pandang psikologis maupun teologis.
Karena itu dalam bagian berikutnya kita akan meneliti apa makna pergaulan yang karib dan intim dengan Tuhan. 

B. Being loved: menyadari betapa saya dikasihi Tuhan
Yang kedua, dalam bagian ini saya akan membahas tentang makna bergaul secara karib dan intim dengan Tuhan. 
Tujuan utama kita sebagai umat percaya adalah menjadi sahabat Allah, seperti kesaksian Alkitab tentang kehidupan Henokh dan Ayub:

"Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." (Kej. 5:22, 24)

"seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku;" (Ayub 29:4)

Untuk ulasan yang lebih rinci tentang bagaimana menjadi sahabat karib Allah, lihat artikel sebelumnya: (2)(3).

C. Reaching out: terpanggil menjadi sahabat
Kita telah melihat di bagian sebelumnya, bahwa problem kesepian adalah problem yang universal dalam diri setiap manusia, baik itu anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, bahkan lansia. Dan problem ini tampaknya makin akut dalam masyarakat dewasa ini yang kian mengandalkan teknologi. Bukankah sering kita menghabiskan banyak waktu dalam sehari di media sosial, namun tidak punya banyak waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak, pasangan dan ortu?
Bukankah para ortu juga kerapkali terlalu sibuk dengan karir dan pekerjaan sehingga hanya dapat menyisihkan waktu sekitar 3-4 jam dalam seminggu untuk anak-anak? Dan mereka menyebutnya dengan istilah eufemisme: waktu berkualitas ("quality time"). Kalau mau jujur, bukankah ini agak mirip dengan para pemilik hewan yang menyediakan waktu jalan-jalan sejam sehari buat anjing atau kucing kesayangan, supaya mereka tidak rewel terus? Jadi secara tidak langsung, istilah waktu berkualitas tidak lain adalah memberikan sisa-sisa waktu dalam seminggu untuk anak-anak, secukupnya sekadar agar mereka tidak rewel dan membuat masalah di sekolah. Dan Anda menyebut itu sebagai "parenting"?
Jadi kebanyakan kita ingin melarikan diri dari kesepian yang mencekam itu melalui gawai dan pelbagai aktivitas, namun malah kita makin tenggelam dalam kesepian yang lebih buruk. Kita semua rindu untuk kembali kepada persekutuan intim dengan Allah sebagaimana di taman Eden dahulu (Kej. 1-2).
Syukurlah, Yesus telah turun ke bumi, dan Ia menawarkan semua umat percaya untuk kembali menjadi sahabat-sahabat Allah, seperti ditulis dalam Yohanes pasal 1:

    11  Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya.  
    12  Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;  

Kita telah melihat bagaimana pola kehidupan Abraham, Musa, Daud, Ayub dan lain-lain yang dikenal sebagai sahabat karib Tuhan. Lalu sekarang apa? Cukupkah menjadi sahabat Allah sebagai tujuan akhir itu sendiri?
Sepertinya tidak. Sebagai umat percaya yang telah dipersatukan kembali dalam pergaulan yang karib dan intim dengan Tuhan, kita terpanggil untuk juga menjadi sahabat bagi semua orang yang kesepian dan rindu akan persahabatan yang sejati, dan juga mereka yang mengalami kesepian yang mencekam itu.
Jelasnya, kita terpanggil menjadi sahabat untuk:
a. Anak-anak dan remaja generasi Z dan milenial
b. para pemuda yang sedang mencari jati diri 
c. Para pasangan yang menikah dan mengalami problem kesepian
d. Para ortu yang kesulitan dalam membesarkan anak-anak
e. para duda dan janda yang telah bercerai
f. para lansia yang kesepian di hari tua mereka
g. Para penyandang disabilitas baik fisik maupun mental
h. Orang-orang sakit terutama yang ditinggalkan oleh keluarga dan saudara
i. Orang-orang dalam penjara
j. Anak-anak yang gagal (drop out) dari sekolah dan anak jalanan
k. Para buruh rendahan, pengemudi angkot,  pekerja seks komersial dll
l. dan juga saudara-saudara kita yang berbeda keyakinan dan terus mencari jalan yang lurus
m. para tunawisma dan pengungsi korban perang
n. para penderita berbagai jenis ketergantungan akibat narkoba, pornografi, judi, alkohol dll.
o. Orang-orang yang ragu-ragu, skeptis, dan para ateis
p. Para budak, tawanan, dan korban perdagangan anak-anak
q. Dan banyak lagi manusia dengan berbagai jenis masalah mereka.
Itulah panggilan kita yang sejati sebagai murid-murid Kristus, karena dengan tindakan-tindakan itulah Yesus Kristus kelak akan menghakimi semua orang ketika Dia datang kembali sebagai Raja dan Hakim yang agung:

"Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;" (Mat. 25:35)

Yesus tidak hanya memberi perintah. Ia sendiri datang ke dunia dan menjadi sahabat bagi orang-orang yang terabaikan dan tersingkirkan dalam masyarakat. Ia memanggil 12 murid dari nelayan sebagai sahabat-sahabat awal. Ia memanggil Matius dan Zakheus dan banyak lagi orang-orang berdosa. Bahkan Ia rela diejek dan diolok-olok orang sebagai sahabat orang berdosa:

"Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat. 11:19, Luk. 7:34)

Bagaimana dengan Anda dan saya, sudahkah kita meneladan Yesus yang rela "blusukan" dan menjalin persahabatan dan komunikasi akrab dengan masyarakat khususnya mereka yang dianggap sampah masyarakat?
Sebagai ilustrasi, marilah kita melihat metode yang kerap digunakan Yesus dalam menjangkau orang lain, yaitu dalam narasi Yohanes 4 yang berkisah tentang percakapan Yesus dengan perempuan Samaria:

    5  Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf.  
    6  Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.  
    7  Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: "Berilah Aku minum."  
    8  Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan.  
    9  Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)  
    10  Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup."  
    11  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?  
    12  Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?"  
    13  Jawab Yesus kepadanya: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi,  
    14  tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal."  
    15  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air."  
    16  Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini."  
    17  Kata perempuan itu: "Aku tidak mempunyai suami." Kata Yesus kepadanya: "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami,  
    18  sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar."  
    19  Kata perempuan itu kepada-Nya: "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi."

Dari teks yang sangat terkenal ini, kita melihat bahwa Yesus menjadi sahabat bagi orang-orang yang kesepian, sehingga perempuan yang kesepian itu pun bisa menjadi sahabat bagi teman-teman sekampungnya yang juga kesepian dan merindukan Air Hidup yang sama.
Tentu posisi kita tidak sama dengan Yesus yang mahatahu, namun kita bisa belajar menjadi sahabat bagi orang lain setelah menerima dan mensyukuri persahabatan yang ditawarkan Yesus. 
Bagaimana proses persahabatan antara Yesus dan perempuan itu dibangun? Berikut ini ada 3 langkah yang dapat kita petik dari teks, menurut Pdt. Yesie Irawan(7):
- pertama. Beranilah untuk mengambil resiko. Sebagai seorang Yahudi, Tuhan Yesus berani melintas batas ke daerah Samaria. Bahkan, Tuhan Yesus berani meminta air kepada perempuan Samaria itu untuk memulai percakapan mereka. Walaupun Yesus mendapatkan risiko penolakan ataupun sindiran pedas dari perempuan itu, Yesus memiliki keberanian yang melampaui ketakutan untuk ditolak oleh orang lain, sebagaimana yang sering ada di dalam kita.
- kedua. Beranilah mengakui bahwa setiap kita adalah orang yang rapuh. Orang yang mengakui kerapuhannya akan berani mengakui bahwa kita adalah orang yang kesepian atau pernah merasa kesepian. Sebelum berjumpa dengan Yesus, perempuan Samaria itu berusaha menutupi rasa sepinya dari orang lain dengan beragam cara, sehingga ia memiliki lima suami. Dia berusaha memikat orang lain dengan apa yang ada pada dirinya, sehingga yang tersisa adakah luka pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Ia tidak mendapatkan pemenuhan akan intimasi yang didambakannya. Padahal, pemenuhan itu hanya didapatkan ketika kita berani dengan jujur mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita adalah orang yang kesepian dan membutuhkan cinta-Nya. Dan ini terbukti dalam kisah tersebut, ketika perempuan ini mengakui dengan jujur di hadapan Tuhan bahwa ia tidak bersuami, maka Tuhan pun memulihkannya.
- ketiga. Jadilah sahabat bagi orang lain yang kesepian. Perempuan itu menjadi sahabat bagi orang-orang lain yang merindukan Air Hidup juga. Ia menjadi perempuan  pewarta Kabar Baik. Dari seorang perempuan yang rapuh, hancur, dan kesepian, Tuhan mengubahkannya menjadi seseorang yang hidupnya penuh makna, dipenuhi keindahan dan menjadi berkat bagi orang lain. Tak heran di dalam Injil Yohanes 4:39 dikatakan bahwa banyak orang Samaria dari kota itu menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: "Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat."
Demikianlah beberapa hal yang dapat kita petik dari narasi perjumpaan Yesus dan perempuan Samaria di sumur Yakub. Pada akhirnya, hanya perjumpaan dengan Allah yang disembah dalam roh dan kebenaran yang akan dapat menghapus kesepian kronis dalam jiwa banyak manusia saat ini.
Untuk diskusi yang lebih luas tentang bagaimana menyampaikan Kristologi persahabatan dalam konteks masyarakat plural, silakan lihat (14).

Penutup
Maukah anda mengalami Tuhan yang begitu karib dan intim, Sang Jehovah Jireh itu? Mulailah untuk berjalan dengan iman, dan ambillah langkah untuk mulai menghadapi badai di sekitar Anda. Beranilah melangkah dengan iman seperti Abraham, Daud, Samuel, Ayub, Daniel, Yusuf, Petrus dan para pahlawan iman lainnya. Itulah rahasia hidup dalam pergaulan yang karib dengan Tuhan.
Setelah itu, mulailah belajar menjadi sahabat bagi orang-orang lain termasuk mereka yang berbeda budaya dan pengalaman keyakinan. Itulah panggilan mulia bagi murid-murid Kristus, Sang Sahabat Agung, khususnya menjelang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus kali kedua.
Tuhan memberkati Anda sekalian sebagai sahabat sejati bagi sesama yang menderita dan kesepian. Amin.

Versi 1.0: 21 april 2017, pk. 21:00
Versi 1.1: 22 april 2017, pk. 3:12
Versi 1.2: 27 april 2017, pk. 15:03
Versi 1.3: 4 mei 2017, pk. 12:29
Versi 1.4: 5 mei 2017, pk. 11:57
Versi 1.5: 6 mei 2017, pk. 10:02
versi 1.6: 13 mei 2017, pk. 10:41
Versi 1.7: 15 mei 2017, pk. 10:40
VC

Bacaan lanjutan:
(1) Henry T. Blackaby. Created to be God's friend: Lessons from the life of Abraham. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1999
(2) http://sabdaspace.org/idmc
(3) http://sabdaspace.org/abraham
(4) John Ortberg. If you want to walk on water..., url: http://www.zumbrolutheran.org/uploads/worship/sermons/2011-worship/3.9.11-walkonwater1.pdf
(5) David B. Burrell. Towards a Jewish-Christian-Muslim Theology. Chichester: John Wiley & Sons Ltd., 2011
(6) Edmund Chan. Cultivating your inner life. Singapore: Covenant Evangelical Free Church, 2017.
(7) Pdt. Yesie Irawan. Sahabat bagi yang kesepian. Panduan Persekutuan Doa Lingkungan, Minggu II Mei 2017, GKI.
(8) Benyamin Agustinus Abednego. Pak Abed berbicara: Teologi, kepemimpinan dan keluarga di mata Benyamin Agustinus Abednego. Surabaya: Penerbit Berderaplah Satu, 2011. Bab 5: Lansia ke mana?
(9) Joyce Meyer. Straight talk on loneliness: overcoming emotional battles with the power of God's word. Warner Faith, ebook version.
(10) Richard Stivers. Shades of Loneliness: pathologies of a technological society. Lanham: Rowman & Littlefield Publishers Inc., 2004
(11) Christina Victor, Sasha Scambler and John Bond. The social world of older people: understanding loneliness and social isolation in later life. Berkshire: Open University Press, 2009.
(12) Anonymous. Coping with loneliness. J & S. Garrett Pty. Ltd. 
(13) http://www.danielnugroho.com/ourstory/persahabatan-dalam-yesus/
(14) Hendri M. Sendjaja. Kristologi persahabatan dalam konteks masyarakat plural Indonesia. Url: http://teologikristiani.blogspot.co.id/2008/06/kristologi-persahabatan-dalam-konteks.html
(15) Lihat juga url: https://www.verywell.com/loneliness-causes-effects-and-treatments-2795749
(16) Martin Buber. I and Thou. Translated by Walter Kaufmann. New York: Charles Scribner's and Sons, 1970
(17) Lynda S. Brown. It is not just about you: a dialogic approach to forgiveness. Conflict and communication online, vol. 10 no. 1, 2011
(18) Mona DeKoven Fishbane. I, Thou, We: a dialogic approach to couples therapy. Journal of Marital and Family Therapy, vol. 24, no. 1, 1998.
(19)  Imre Ungvari-Zrinyi. Dialogue ethics for business. Url: http://econpapers.repec.org/article/akasoceco/v_3a25_3ay_3a2003_3ai_3a2_3ap_3a235-248.htm
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - John Ortberg

The Second Coming Institute