Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

keramahan

victorc's picture

Sobat

Tema: Teologi Yesus Sobat kita
Subtema: From being alone to being loved, and from being loved to reaching out

Teks: Yohanes 15:15
"Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku."
victorc's picture

Senyum

Shalom, selamat pagi saudaraku. Ini ada artikel yang saya terima via line minggu lalu dari sepupu saya, semoga bisa menginspirasi...

Ini adalah kisah yang saya dapat dari milis warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di Jerman. Layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
victorc's picture

Ramah

"Monggo mampir, mas." (Mari mampir, kak). "Monggo pinarak." (Mari duduk.) Kalimat-kalimat itu akan sering kita dengar kalau kita yang dari kota mampir ke salah satu desa di jawa tengah atau jawa timur. Tidak hanya itu, kalau ada orang kota datang ke rumah seorang di desa, biasanya dengan senang hati semua yang ada di rumah akan diberikan, termasuk buah-buahan seperti kelapa, jambu, mangga atau yang lainnya. Itu yang mungkin kita sebut keramahan orang desa, atau keramahan khas Indonesia. 
Keramahan yang khas tersebut agaknya sudah mulai luntur kalau tidak ingin mengatakan hilang sama sekali. Sebagai contoh, seorang rekan yang juga pendeta pernah bercerita bahwa dulu di desanya, di depan rumah setiap warga di tepi jalan besar selalu tersedia kendi berisi air siap minum, tujuannya untuk menyediakan minum bagi pejalan kaki yang pulang dari atau pergi ke pasar dan kehausan. Kini, kendi-kendi berisi air itu telah hilang, mungkin tergantikan oleh penjaja air dalam kemasan.