Submitted by
Purnomo
on
Artikel yang baru saya posting langsung terpampang di halaman utama situs ini. Selama satu menit saya memandangi halaman utama sambil cengengesan. Saya membuka aplikasi imel untuk melihat apakah ada surat masuk. Setelah selesai, saya kembali ke situs ini. Ternyata tampilan halaman utamanya telah berubah. Ada blogger baru mengunggah 5 artikel sekaligus sehingga artikel saya tidak tampak di layar monitor karena pindah ke bawah. Saya tutup situs ini. Tetapi sesaat kemudian saya buka kembali karena teringat ada baiknya bersurat ke blogger ini. Begitu halaman utama terbuka mata saya terbelalak. Ada blogger yang baru saja mengunggah 9 artikel nostalgia semasa ia duduk di PG sampai kelas 6 SD. Artikel saya sudah pindah ke halaman dua.
Apakah saya marah? Marah sih tidak, jengkel iya. Jengkel karena artikel saya telah tergusur keluar dari tempat pajangan yang paling strategis. Dalam ilmu marketing sebuah produk harus dipajang di rak toko setinggi pandangan mata (eye level). Ini adalah tempat yang paling strategis. “Prime site” istilah kerennya. Karena itu pemilik supermarket memungut biaya sewa tempat itu kepada para produsen yang menginginkan produknya dipajang di situ. Beberapa survey yang dilakukan telah membuktikan bahwa semakin rendah tempat pajangan produk, semakin kurang laku produk itu.
Tetapi begitulah keunikan di situs ini yang belum bisa ditemui di tempat lain. Begitu seorang blogger memposting artikelnya, tanpa melalui seleksi Admin, artikel itu langsung terpajang di halaman utamanya. Tetapi dalam waktu 1 hari, bila sedang musim panen, tidak perlu terkejut bila artikel itu sudah berpindah ke halaman dua bahkan tiga. Hal ini sudah saya ketahui sebelum saya mulai aktif memposting artikel. Tetapi ketika kasus itu menimpa saya, saya terkejut. Apakah penggusuran ini membuat artikel saya terkubur, mati, dan tidak terbaca lagi?
Ini sebuah tantangan yang menyenangkan. Pengetahuan saya tentang situs ini belum cukup untuk memecahkan masalah ini. Karena itu segera saya melakukan survey mini untuk menetapkan (bagi diri saya sendiri) berapakah target hit/hari untuk sebuah artikel untuk bisa disebut artikel ini “laku terbaca”.
Angka hit/hari kumulatif
Saya menggali “kuburan” artikel-artikel yang telah berusia 1 tahun lebih dari beberapa blogger yang masih aktif menulis dan mencatat berapa hit yang telah diperolehnya. Artikel-artikel yang saya ambil adalah yang tidak berisi topik yang provokatif atau memancing polemik. Saya mendapat angka rata-rata 2.7 hit/hari. Sementara itu 3 puisi saya hit/hari-nya masih di bawah 2.0. Jadi saya tetapkan angka 2.0 – 2.9 sebagai “sehat”. Angka 1.0 – 1.9 sebagai “sakit” dan 0.1 – 0.9 sebagai “bau tanah”.
Untuk menetapkan angka di atas normal, saya masuk ke kios grosir terbesar di situs ini, yang dagangannya komplit dari kain kafan sampai baju pengantin, dan mencari tahu seberapa besar “omzet”nya. Agar Anda tidak mendapatkan data basi, saya memperbarui data saya pada tanggal 24.08.2008 pukul 00.00.
Cara menghitung hit/hari kumulatif adalah [jumlah hit sampai hari ini] dibagi [umur artikel dalam satuan hari]. Tiga artikelnya yang diposting tanggal 24.03.07 menghasilkan angka 5.2, 5.2, dan 5.3. Satu artikel yang lahir tanggal 08.07.07 menghasilkan 3.1 dan yang diunggah tanggal 28.07.07 mempunyai angka 2.8. Pasti yang bersangkutan mengerutkan kening sambil mengomel, “Purnomo, kamu curang. Mengapa mengambil artikel yang rendah omzetnya?” Dengan survey yang curang ini saja kita masih mendapatkan angka rata-rata kumulatif sebesar 4.3 hit/hari/artikel. Siapa yang bisa menyainginya?
Jadi saya memasang angka 3.0 – 3.9 sebagai “laris manis” dan 4.0 ke atas sebagai “wow”.
Artikel berjudul merangsang
Lalu berapakah hit/hari artikel-artikel yang provokatif atau “merangsang”? Dari artikel beberapa blogger saya mendapat angka minimum 7.6 hit/hari atau 230 hit/bulan. Mau tahu artikel yang “high sales”?
Pada menit pertama tanggal 24.08.2008 artikel “Aku tidak percaya mukjizat” (25.05.2007) telah mengumpulkan 11.044 hit atau 24.2 hit/hari. Dua puluh empat jam kemudian angka ini naik menjadi 11.080 hit. Ada penambahan 36 hit. Pada hari pertama tahun 2008 sebuah artikel yang mengusili seorang pendeta tenar diposting dan malam itu saya melihat artikel ini telah mengumpulkan 3.341 hit atau 14.2 hit/hari. Fakta ini saya paparkan untuk menunjukkan bahwa kelompok artikel “merangsang” masih harus dipilah-pilah lagi.
Salah satu cabang “merangsang” ditunjukkan oleh blogger yang sama melalui “Berahi wanita” (24.06.2007) yang memiliki 13.718 hit atau 32.1 hit/hari. Sayang sekali sepanjang hari Minggu penambahannya hanya 19 hit. Tetapi “Pecandu masturbasi jangan kuatir” (10.06.2007) memiliki 43.639 hit atau 99.0 hit/hari dan sepanjang hari Minggu bertambah 104 hit. Apakah ini berati kaum pria pada hari Minggu lebih banyak menghabiskan waktunya menjelajahi internet dibandingkan dengan wanita? Jangan tergesa menarik kesimpulan sebelum membandingkannya dengan artikel lain.
Pada tanggal 28.07.2007 blogger ini bertobat dan mengunggah “Aku percaya mukjizat” yang pada tanggal 24.08.2008 telah mengumpulkan 1.120 hit atau hanya 2.8 hit/hari. Apakah ini berarti artikel yang lazim tidak digemari?
Memaparkan artikel merangsang terasa tidak lengkap bila tidak menyertakan “Aku sudah tidak perawan” milik seorang blogger wanita. Bagian ke-2 (04.12.2007) mengumpulkan 25.331 hit atau 96.0 hit/hari. Wow, sudah mendekati artikel dari blogger pertama. Dalam waktu 24 jam terjadi penambahan 120 hit atau 15% lebih tinggi dari saingan terdekatnya yang mendapat tambahan 104 hit. Anehnya, bagian ke-1 (30.11.2007) hanya mengumpulkan 2.177 hit atau 8.1 hit/hari. Mungkin perlu mengedit bagian ke-2 untuk me-link-kan dengan bagian ke-1 agar bisa mendongkrak penambahan hit-nya
Dari pemaparan ini jelaslah bahwa walaupun sudah tersingkir ke halaman belakang, artikel-artikel di bawah “judul yang mengundang” tidak terkubur. Judul-judul ini akan membuat para pengguna mesin pencari (misalnya Google, Yahoo) meng-klik-nya dan membawa mereka masuk ke Sabda Space yang jumlahnya berkisar 100 - 120 orang per hari. Dua blogger di atas telah berjasa mempromosikan Pasar Klewer ini kepada orang luar yang tentunya setelah selesai berkunjung ke kios mereka ada yang mampir ke kios blogger lainnya setelah mereka meng-klik “Halaman Utama” situs ini. Karena itu, kita patut berterima kasih kepada mereka berdua.
Temuan ini semoga tidak membuat blogger memasang “label” yang berbeda dengan “isi”nya hanya karena ingin mendapat hit tinggi dalam waktu singkat sehingga bisa mengundang kembali komentar “bagai mobil berbelok tanpa lampu sein”. Label yang menggelitik bisa dibentuk dari permainan kata. Contohnya?
“Ayah, mari jadi pengantin” yang berbicara tentang tekanan orangtua kepada anaknya agar tidak terlambat menikah. “Tuhan, Pesolek yang baik hati” untuk artikel yang menyadarkan pembaca betapa Tuhan telah menyiapkan bumi ini begitu cantik untuk manusia. “Menzalimi yang tidak lazim” untuk mengupas kecenderungan kita yang bergegas meninju orang yang berperilaku aneh. “Demonisasi dalam denominasi” untuk . . . . sebaiknya blogger penggembira saja yang menguraikannya. “Pendetamu pendeta apa, pendetaku apa pendeta?” yang pasti akan mengundang hujan peluru.
“Tarian erotis penebas leher nabi” yang sebaiknya tidak Anda pergunakan karena siapa tahu sudah didaftarkan di kantor hak paten oleh seorang blogger kita yang sedang mengambil spesialisasi S2 – sexy stories. (Hayo, mangkel lagi). “O ouw, kamu ketuaan” yang menyemangati para lanjut usia untuk tetap berkarya. Btw, eyang puteri kita berobat ke mana ya, kok tidak muncul-muncul.
Syarat berikutnya agar artikel kita menarik adalah jangan terlalu panjang. Kalau memang harus panjang seperti artikel ini, lebih baik dibuat serial. Karena itu saya mohon rehat dulu. Sampai bertemu kembali di bagian kedua. Bagi blogger yang tersenggol karena tulisan ini, saya . . . . . .
“Sebentar Pur!” rasanya saya mendengar ada yang berteriak. “Apakah ini bukan sebuah trik untuk membuat bagian ke-1 ini tetap hidup? Setelah bagian ini terlempar ke halaman ke-5 atau hit/hari-nya mulai menurun, baru kamu memposting bagian ke-2 yang kamu beri link ke bagian ke-1? Begitu ‘kan ‘hidden agenda’-mu?”
O ouw, kamu ketauan.
(bersambung saja ya)
bagian ke-2 klik di sini