Seorang hamba Tuhan yg cukup senior berkata: "Yang penting bukan dengan cara apa seseorang itu mati, tetapi sedang berada di tangan siapa seseorang itu meninggal,.."
Adil, kukira.
Seringkali seseorang tidak tahu dalam kondisi apa dia mati. Bisa saja seseorang sedang menyeberang jalan, tiba2 seorang anak muda ugal2an yang sedang nyetir mobil sambil mabok menabraknya hingga tewas. Bisa saja seseorang yang sedang tidur, tiba2 gempa bumi skala besar, dan dia kejatuhan bagunan rumahnya sendiri sampai tewas seketika. Banyak contoh bahwa seseorang sulit memprediksi dengan cara apa dia mati. Jika seorang anak Tuhan jatuh ke tangan musuh dan "mati kutu" lalu hendak dibunuh, maka apakah mau dipenggal, apakah mau dicincang,
apakah mau ditembak, ataukah mau dibakar SAMA SEKALI TIDAK MENENTUKAN apakah dengan cara matinya itu ia akan masuk sorga atau neraka, tetapi "di tangan siapa" ia saat itu yang jauh lebih penting.
Ya, cara kematian tidak menentukan "nasibnya" di alam baka, apalagi CARA PENGUBURANNYA, karena seseorang yang sudah mati gak lagi bisa meminta dikubur dengan cara apa. Tidak ada satupun ayat Alkitab bahwa seorang yang mati harus dikubur miring, atau telentang, atau tengkurap, dan tidak ada satu pun ayat Alkitab yang menyebutkan bahwa dikubur nungging akan membuat roh orang mati itu pusing.
Stefanus dibunuh mati ketika diakon itu sedang dipenuhi Roh Kudus, sedang berada "di tangan" Yesus, sedang diijinkan untuk mati sebagai martyr, maka Stefanus 100% masuk sorga.
Bagaimana dengan Yudas Iskariot. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa "penjual Yesus" itu layak masuk neraka, tapi benarkah?
Sebelumnya Yudas Iskariot dikuasai oleh keinginan materi. Murid Yesus yang mata duitan ini menjual Yesus dengan tiga puluh uang perak, tetapi tak lama sesudah itu ia menyesal lalu bunuh diri.
3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,
4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"
5 Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri (Mat 27:3-5)
Yudas menyesal, dan penyesalan merupakan bagian dari pertobatan. Mungkin ia berfikir bahwa cara terbaik untuk "menebus" kesalahannya adalah dengan cara menggantung diri, dan ia melakukan itu sebagai satu2nya cara untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Jika pun Yudas harus masuk neraka, maka alasan terkuatnya adalah karena dia bunuh diri, tetapi bukan lagi soal menyerahkan Yesus, lantaran dosa itu sudah disesalinya, dan bukankah jika Yesus ngak mati disalib berarti proses penebusan belum lengkap??? Namun saya yakin - soal Yudas Iskariot - bahwa Tuhan Maha bijaksana. Masih mungkin bahwa kebijakan Tuhan berbeda dengan pendapat sebagian kalangan "rohaniwan" Kristen. Yudas Iskariot membunuh dirinya sendiri, membinasakan "bait Allah" yaitu tubuhnya sendiri dengan sebuah alasan: menyesal. Kita juga dapat membandingkan pembunuhan yang dilakukan oleh Yefta terhadap anak perempuannya dengan alasan: menggenapi nazar. Ada dua macam "pembinasaan bait Allah" dengan dua alasan yang berbeda,..............
Jika Yudas Iskariot sudah menyesal, padahal Tuhan menghendaki pertobatan seseorang, dan bukan kebinasaannya, maka di tangan siapa Yudas sedang mati???
....................
Masih ada Habel yang mati "dilimpe" atau disergap oleh kakaknya sendiri, dipukul hingga mati, tetapi kematian Habel yang tidak siap untuk membela diri, namun posisinya saat itu sedang benar di hadapan Tuhan, maka dimatikan dengan cara seperti itu pun sama sekali tidak menentukan soal sorga-neraka,...
Karena itu, langkah terbaik yang perlu kita kerjakan setiap hari adalah memastikan bahwa kita cinta Tuhan, bahwa kita "haus dan lapar" untuk mencari kehendak Tuhan LALU hidup menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan tersebut, agar dengan langkah ini kita selalu berada di tangan Tuhan. Maka apakah kita tiba-tiba mati ataukah dengan cara apapun kita tiba-tiba harus "meninggalkan dunia ini" maka proses kematian menjadi tidak penting lagi.
Salam.