Submitted by Cania on

Melalui tulisan ini kau pengen cerita tentang pengalaman pribadiku. Tentang hal-hal yang mungkin secara tidak aku sadari, sudah mendorongku untuk masuk ke jurusan psikologi. Hal-hal yang aku rasa sebagai saat-saat terburuk dalam hidupku, yang selalu berusaha aku lupakan. Tapi tak pernah bisa kulupakan meskipun aku sudah melakukan meditasi, aku hanya bisa menekan emosi ku. Tapi aku pikir itu sudah cukup, karna aku sudah tidak mengeluarkan air mata lagi saat mengingat ini.

Saat itu aku masih sangat kecil, aku masih TK seingatku. Keadaan ekonomi keluargaku sangat memprihatinkan. Kami memang sudah punya rumah, tapi kami sering tidak bisa makan 3x sehari. Saat itu aku aku sering berpikir “apa aku ini anak pungut ? dari mana mereka (orang tuaku) mendapatkan aku ?”   aku bisa berpikir sampai kesitu karna aku merasa ibuku sering menyiksakku, secara fisik. Aku sudah lupa kesalahan apa yg kubuat saat itu, yang aku ingat dia mengurungku di kamar mandi. Aku berteriak, merengek, sampai aku lemas dan duduk di lantai kamar mandi yang dingin berjam-jam.

Aku sering berpikir untuk pergi dari rumah, karna aku gak tahan. Pernah ibuku memukuli ku dengan sapu dengan membabi buta sambil berkata “papamu lagi kerja, gak ada yg biisa nolong kamu sekarang”. Yang ada di otakku saat itu adalah “ibuku gila!!”.

Yeeah. Yang aku ingat, hukuman paling ringan dari ibuku adalah cubitan di paha yg membuat pahaku kebiruan, dan aku sering sekali merasakan itu. aTau kadanng hanya sekedar jeweran di telingan tapi sampai merubah warna telingaku.

Adikku lahir saat aku duduk di kelas1 SD. Aku rasa duniaku dan dunianya sangat jauh berbeda. Dia tak pernah diperlakukan kasar seperti aku dan kakaku (tapi kakakku juga kasar, dia sering memukul bahkan menendangku). Dia (adikku)  bagai anak emas, yang kalo salah hanya didingatkan dengan kata-kata. Ini membuatku sangat benci dia!!. Pernah suatu kali aku sudah tidak tahan dengan sikapnya , aku ambil sapu lalu kupukulkan di paha adikku. Gak keras, hanya membuat pahanya sedikit kemerahan. Tapi pukulan itu kulakukan sambil tertawa puas, karna akhirnya dia biasa mrasakan sedikit penderitaanku. Bahkan saat itu aku berpikir, kalaupun ibuku mengusirku, oke aku akan pergi dari rumah dengan perasaan bangga. Tapi ternyata ibuku gak ngusir aku, dia hanya mengambil sapu dari tanganku dan memukulkannkan di pahaku. Tapi tetap saja aku hanya tertawa puas meskipun pahaku sudah berubah warna. Saat itu aku pikir aku mulai gila.

..

Beberapa waktu belakangan ini. Keluargaku sudah tidak banyak keributan. Ayahku meninggal beberapa tahun lalu dan kami sudah  melewati masa-masa sulit itu. Sudah bangaikan keluarga ideal. Ibuku sudah tidak main pukul lagi (kalaupun beliau masih berani memukulku, aku akan langsung pergi dari rumah dan tidak akan kembali sebelum beliau benar-benar minta maaf, ini janjiku pada diri sendiri). Aku juga sudah tidak membenci kakak dan adikku karna orang tua kami (aku pikir) pilih kasih. Sekarang aku pikir aku sudah cukup dewasa untuk bisa mengerti kenapa ibuku dulu begitu. Yaa, memang dulu begitu, tapi sekarang tidak daan aku cinta dia ,dia juga cinta aku.

..

Malam itu aku duduk ruang keluarga, menonton sinetron bersama ibuku (bukan karna aku suka sinetron, tapi karna aku sudah lelah bertengkar dengan anggota keluargaku karna berebut nonton TV, jadi aku ikut saja mereka mau nonton apa).kebetulan sekali, di sinetron itu ada adegan seorang ibu yang menghukum anaknya dengan “gila-gilan”, dipukul dan lain-lain. Ibuku langsung menunjukkan ekspresi kasian sambil berkata “mama dulu gak sampai kayak gitu ya ?” aku tau beliau berharap aku menjawab “ya, gak gitu kok”. Saat itu aku merasa isi perutku dikocok, bagaimana mungkin beliau bisa melupakan begitu saja semua yg telah di lakukan padaku ??. bahkan aku tidak pernah bisa melupakannya !!. pertanyaan ibuku saat itu aku jawab “mama dulu jauh lebih parah dari yg di TV itu” lalu aku langsung meninggalakan ruang keluarga dan masuk kamar untuk tidur.

..

..

Yang pengen aku share sama temen-temen disini, terutama buat yg sudah punnya anak, jangan sampe deh mukulin anak, meskipun atas nama kedisiplinan, itu salah. Karna seorang anak gak akan bisa dengan mudah melupakannya, meskipun bisa memaafkannya.

Aku harap tulisan ini bermanfaat. Dan tulisan ini aku tulis bukan dengan maksud membuka aib keluargaku.