Katanya (dan memang benar katanya) menyindir itu bagian dari budaya Jawa. Bentuk dari ketidakenakan untuk berkata terlalu frontal. Sekaligus bentuk menghargai manusia sebagai makhluk yang bisa berpikir sendiri lantas bisa berubah dengan kesadaran sendiri. Itu menurut orang yang memaknai sindiran secara positif.
Ada lagi orang yang menilai sindiran itu sebagai bentuk sifat pengecut. Tidak berani terang-terangan menyatakan kesalahan. Orang yang suka menyindir menurut mereka adalah orang yang punya kebiasaan ngomong di belakang. Mereka mungkin melakukannya karena mereka juga terlibat dalam kesalahan yang disindir itu.
Dua pandangan tadi adalah dialektika dalam kebiasaan dan ajaran para pemimpin gereja/pelayanan Kriten Indonesia jika berbicara soal tegur-menegur. Ada yang bilang teguran seharusnya penuh kasih (dengan keragaman nilai timbang soal kasih). Ada juga yang bilang teguran harusnya tegas menyatakan kesalahan (juga dengan keragaman bentuk soal tegas yang dimaksud).
Serba salah memang, niat hati menegur penuh kasih dan penuh kelembutan, eh… yang ditegur tidak kunjung sadar. Giliran tegas malah disalah arti sebagai kekejaman dan penghinaan. Itu kalau kita yang menegur. Di sisi lain saat kita berharap diingatkan, orang malah segan dan sungkan, sampai akhirnya banyak kesalahan yang tidak perlu terjadi. Tahu-tahu tatkala kita sudah merasa cukup bisa, ada saja orang rewel dengan teuran-teguran klisenya yang terkadang kelewatan. Urusannya akan semakin runyam jika ini berkaitan dengan pemimpin pelayanan. Nah, disitulah sindiran bisa memainkan tempat tersendiri yang terkadang, atau bahkan keseringan, memang sangat asyik.
Sindiran itu sendiri bisa beragam bentuknya. Ada yang diucapkan langsung di depan orangnya, ada yang dijadikan idiom bawah tanah dalam komunitas itu, ada pula yang disebar di luar komunitas. Ada yang menyudutkan obyek sindiran, ada pula yang membuat penyindirnya sebagai bagian dari sindirian itu. Yang menyindir juga beragam. Mula dari yang sekedar iseng sampai yang sakit hati. Ada yang justru sudah berkali-kali menegur namun tak digubris, ada pula yang memang tidak berani (entah karena kurang rohani, kurang ilmu atau kurang uang), terutama jika menyangkut pimpinan pelayanan yang dibawahnya kita mengabdi. Lewat sindiran, si penggubah sindir bisa menyalurkan uneg-unegnya tanpa terlalu berisiko bahkan dengan harapan orang yang tersindir bisa berubah.
Tapi bukan pemimpin pelayanan Kristen namanya kalau semua sependapat soal sindiran. Sekedar contoh, baru-baru ini di jaringan pengicau Twitter (“pengicau” ini artinya dekat dengan “pengigau” atau malah “pengacau”) ada akun gokil bertajuk @Gereja_Palsu. Isi kicauannya, sudah sama kita tahu, banyak menyindir praktik-praktik dalam gereja-gereja besar, khususnya gereja besar bercorak kharismatik. Dengan santainya si pemilik akun ini menyebut dirinya sebagai gereja palsu lalu mengidentikkan praktik-praktik gerejanya yang terkadang mirip dengan praktik gereja yang disindir. Lantas ia menambahi dengan motivasi yang menurutnya sungguh mendasari praktik tersebut.
Hasilnya tentu saja banyak yang merespon. Ada yang bersimpati serta menyatakan itu adalah otokritik yang baik dan kreatif, ada pula yang mencak-mencak bilang bahwa pemilik akun adalah penyesat dan punya kepahitan dengan gereja yang disindir. Ah, memang akan selalu begitu…
Sebagai orang yang cukup lama bersentuhan dengan gereja-gereja bercorak kharismatik, saya sebenarnya salut dan ngakak atas kedalaman pemilik akun @Gereja_Palsu menukil pemikiran dan kritiknya. Satu contoh yang paling kocak adalah saat dia bilang : “Puji Tuhan persiapan buat Ibadah besok sudah beres| Pulang lihat tukang becak… skeremanaremana *doa tumpang tangan sambil lewat*” Saya tertawa, sebab saya sendiri juga pernah melakukan hal yang sama, dengan kepolosan yang juga sama. Namun tentu banyak yang tersinggung, entah itu soal ejekan bahwa mereka cuma bisa doa tanpa karya, entah soal sindiran bahwa ritus keagamaan telah mencabut orang dari kepeduliannya akan sekitar atau bahkan sekedar ejekan karena berdoa dengan berbahasa roh.
Nah, selaku orang yang rindu Tuhan memulihkan umat-Nya, tentu banyak yang tergerak untuk menegur ketimpangan dalam gereja dan lembaga pelayanan. Sindiran mungkin jadi senjata ampuh, apalagi jika ketimpangan-ketimpangan yang ingin ditegur masih sangat nisbi nilai timpangnya. Ada yang begitu menolak ada pula yang sangat gigih mempertahankan. Untuk kasus seperti ini, khotbah dan pendalaman Kitab Suci terbaik, yang mencoba meneggali secara seimbang, tidak akan lebih didengar ketimbang sindiran yang mengena. Tapi sindiran juga sering menjadi pupuk penyubur untuk begitu banyak cap dan kebencian yang sering membutakan orang untuk memahami yang lain. Tinggal pilih saja, keduanya menawarkan tingkat keasyikan yang sama. Yang satu untuk hiburan, sedang yang terakhir untuk saluran emosional. Kombinasi keduanya mungkin lebih asyik.
Pertumbuhan kekristenan juga tak lepas dari sindiran. Kata “kristen” sendiri awalnya sebuah sindiran. Sama seperti “protestan” untuk kaum Reformis, atau frasa “Londo Wurung Jawa Nanggung” untuk umat Kristus di Jawa, atau “Angka Sisean Si Bontar Mata” untuk pengikut Nomensen. Reaksi sejarah atas hal itu mencuatkan bermacam pemecahan. Pengikut Al-Masih di Antiokhia menerima kata “kristen” dengan bangga, sebab mereka memang mengamini bahwa mereka memang “budak Kristus”. Sebaliknya pengikut Luther di Eropa malah mengartikan “protestan” sebagai “pro-testament (pendukung Kitab Suci)” dan bukannya “tukang protes” seperti maksud sindiran. Kyai Sadrach ingin membuang sindiran “Londo Ireng” atau “Londo Wurng Jawa Nanggung” dengan memperkenalkan kepercayaan Al-Masih yang khas Jawa, bukan Belanda.
Berkaca dari hal tersebut kita bisa memecah kebuntuan. Bahwa reaksi atas sindiran tidak melulu harus mendiamkan atau balik menyerang. Kita bisa saja tidak berubah dan membenarkan sindiran, kita bisa mengartikan sindiran dengan makna baru, atau kita bisa merubah diri hingga tidak disindir seperti itu lagi.
Kita bisa tetap ngotot pada suatu keyakinan bahkan mengamini sindirian yang disematkan pada kita. Misalnya saja orang biasa ibadah gede-gede bilang : “Iya, memang kami Gereja Besar Indonesia, terus mau apa? Toh Tuhan berkenan.” Atau gereja yang keseringan memunculkan pendeta penyangkal doktrin soteriologi bilang: “Iya memang kami Gereja Kurang Iman, toh semua orang percaya juga masih perlu menambahkan iman.” Atau yang suka ribut bilang: “Memang kami ini Himpunan Keributan Besar Protestan, sebab bukan Protestan namanya kalau tidak suka ribut”. Ups…
Pemaknaan lain atas sindiran juga bisa dilakukan. Misalnya saja orang yang sering disindir ‘tidak reform’ boleh membela diri dengan berkata: “Memang benar kami bukan reform, sebab kalau ‘re-form’ melulu kapan ada bentuknya?” Atau kaum yang dibilang kuno bisa bilang :”Katolik itu kan artinya satu sekaligus universal. Lah kalau di luar katolik artinya di luar yang satu itu, donk.” Kaum yang dituduh pewaris doktrin Belanda bisa saja berdalih dengan bilang: “Kami memang Gereja Penjual Inventaris Belanda, sebab kami menjual karena kami mencintai Indonesia.”
Cara Kyai Sadrakh, dengan mengubah diri sehingga tidak lagi disindir sedemikian, mungkin adalah solusi yang kita kira paling waras atas sindiran yang benar. Tapi toh dalam praktik memang kebanyakan orang kristen di Indonesia tidak selalu waras. Nah, saya sudah mulai ketularan asyiknya menyindir… Ups…