Submitted by ely on

Tidak terasa kalau ternyata saya sudah menjadi penghuni yang lumayan atau agak lama di Pasar Klewer ini, sesuai database pasar, hari ini saya sudah 2 tahun 25 minggu telah terdaftar di SS, tapi tentu masih terlalu muda jika dibanding dengan penghuni yang sudah jadi sesepuh di sini. Tapi untuk 2 tahun lebih itu saya mau bilang, “Wow” … kalau di pasar-pasar lain, saya biasanya hanya lewat, beli minuman, makanan atau obat dan keperluan lain, trus pergi dan paling lama bertahan hanya beberapa bulan saja.


Awal saya singgah di Pasar Klewer sebenarnya gak beda dengan alasan saya biasa singgah di pasar lainnya, saat itu saya terkena flu ringan, dan perlu obat. Karena mbah google bilang di Klewer ada jual obat untuk flu, saya akhirnya mampir bentar beli obat di Pasar Klewer.


Dan saat itu saya ingat, saya sedang melihat-lihat dan kemudian membeli barang dagangan dedew seperlunya lalu pulang. Saya membeli obat TULIP-nya karena waktu itu ada yang menyarankan saya untuk mengkonsumsi obat yang terbuat dari TULIP itu. Tapi karena belum yakin dengan obat tersebut, hari berikutnya saya kembali lagi, dan mencari tahu sedikit tentang si penjual obat, apakah obatnya asli apa palsu, hehehehe…


Hanya sayang, sekarang sepertinya si penjual obat tidak terlihat lagi menjual barang dagangannya. Belakangan yang saya tahu, Dedew telah berani melanggar aturan yang ada di pasar sehingga di suruh minggat cari tempat lain oleh satpam Klewer (kalau gak salah loh ya …)… 


Klewer oh Klewer … awalnya saya juga tidak tahu, bahwa Pasar Klewer ini merupakan pasar yang terinspirasi dari Pasar beneran ada di Solo (kalo gak salah denger). Tadinya saya berpikir kalau kata “klewer” di ambil dari kata “kalilawar”, sejenis binatang malam, (asal tebak aja, karena malas cari tahu, hehehehe). Tapi bukan sekedar nebak, tebakan ini saya dapatkan dari pengamatan saya terhadap para blogger yang kebanyakan sering berGADANG, jadi memang seperti binatang kalelawar, yang hanya keluar kalau malam. Hanya memang masih kurang pas jika di sebut kalelawar karena ada perbedaan yang masih nampak mencolok dengan kebiasaan para blogger. Kalau kalelawar hanya bekerja pada malam hari dan beristirahat pada siang hari, berbeda dengan kebanyakan dari blogger Klewer yang sudah bekerja malam, siangnya pun masih tetap bekerja juga… wah…. luar biasa … hehehehe… (jadi banting tulang siang dan malam Tongue out)


Kalau diingat-ingat, bagaimana awalnya saya bisa betahan dan menjadi penghuni di Klewer, banyak kenangan yang akan terlintas. Kotak ijo yang selalu ramai dan rame, tidak pernah sepi, karena waktu itu ada penghuni tetap yang menjaga di sana, yakni Ari Thok, Om Vies, te Joli dan yang lain-lainnya, tidak hanya menjaga kotak ijo mereka juga ngambil kesempatan sambil dagang keripik upil dan minuman dingin lainnya.


Keripik Upil emang enak, itulah yang membuat saya akhirnya selalu mampir tiap pagi dan siang untuk jajan. Karena sering belanja keripik Upil, saya akhirnya mengenal satu persatu penghuni Pasar Klewer yang lainnya.


Ada pangeran Ap, pak Pur (nomo + nawan), mazdanez, hai-hai, mba ik, bie sayang, bu guru Clanit, te lies, om frank, Riyanti, Erick, Om Hiskia, y-c, om jf, freya dan yang lainnya. Mereka ternyata menjual barang-barang yang menarik dan cuku penarik, tidak hanya itu mereka juga pembeli yang baik ketika membeli barang dagangan milik pedagang tetangga.


Setelah suka dengan makanannya, saya akhirnya berteman dengan beberapa pedagangnya. Dan dari pertemanan itu, saya bisa belajar banyak hal, bisa cerita banyak hal dan bahkan kadang buang sampah seenaknya (sembunyi-sembunyi lagi, ketahuan gak ya…. Hehehehehe … pizzz … ).


Dan di Klewer inilah awal mulanya saya memulai sesuatu. Menjual barang yang selama ini hanya saya konsumsi dan simpan sendiri dalam kotak ajaib saya. Ajaib karena bisa menampung sebanyak mungkin sampah-sampah, makanan enak, dan jenis lainnya, dicampur aduk jadi satu dalam kotak ajaib dan bisa diambil sewaktu-waktu.


Ya, saya akhirnya memutuskan untuk berjualan, meski tidak rutin. Karena saya melihat barang yang saya punya juga ternyata ada dijual di pasar, jadi coba-coba jualan tidak ada salahnya.


Setelah berjualan satu barang, saya kemudian menjual dua barang dan terus bertambah karena bantuan dari beberapa pedangang yang baik hati yang memberikan jasa gratis untuk membersihkan barang-barang saya yang masih kotor, karena tersimpan dan tak terawat di dalam kotak ajaib. Dan juga karena saya terinspirasi dengan jualan-jualan dari pedangang tetangga lainnya.


Ketika berjualan, saya hanya berharap jualan saya masih segar dan masih layak untuk dikonsumsi meski kadang saya meragukan itu (Tapi pada kenyataanya hanya para pembeli yang paling tahu dan dapat menilai apakah makanan atau minuman yang saya jual itu layak dan sesuai dengan kebutuhan mereka).


Namun itu bukan masalah yang besar untuk tetap dapat berjualan di Pasar Klewer ini. Di pasar Klewer hanya beberapa pedagang saja yang kadang peduli dengan pedagang yang menjual barang-barang tidak layak. Kebanyakan pedagang masih berharap satpam Pasarlah yang akan memperingati pedagang-pedagang seperti ini. Selebihnya pedangang lain ikutan marah-marah dan teriak-teriak dongkol, karena sudah tidak tahan dengan ulah pedagang dengan jualannya yang tidak layak sehingga membuat resah pembeli-pembeli yang datang sambil mengeluh dan marah meninggalkan pasar.


Biasanya kalau gak denger-dengar juga, paling dibiarkan membusuk bersama jualannya, kemudian akan dibuang bersama sampah-sampah yang ada. Tapi salute sama para pedangang yang baik hati, yang masih berbelas kasih untuk menasehati, mengajar, membimbing para pedangang seperti ini, tentu saja membantu dengan menjual dagangan yang mereka punya. Hehehehehe Tongue out


Dan semarak Klewer sampai sekarang terlihat tidak pudar, banyak pedagang-pedagang baru yang bermunculan dengan dagangan-dagangan yang berkualitas, biasa, biasa-biasa saja, sangat biasa dan cukup. Itulah yang membuat Klewer menjadi tempat yang cocok untuk setiap jenis pedagang yang sedikit mau beradaptasi.


Yang unik dan menarik lagi adalah bertemunya para blogger secara rutin untuk bina keakrapan dan silahtuhrahmi, hanya saja saya belum pernah ikut yang rutin, baru ikut kalau ada moment tertentu dan tempatnya pun masih di kota saya. Sebelumnya saya tidak menyangka akan bisa bertatap langsung dengan para pedagang pasar, tapi itu terjadi dan saya bisa menatap mata mereka langsung dan menikmati senyuman yang nyata serta cerita-cerita hangat lainnya. 


Saya tidak yakin dapat berjualan secara rutin, tetapi saya yakin tidak akan lupa untuk berkunjung ke Pasar Klewer, kalo gak kena amnesia (mudah2an gk, hehehehe  ).