Submitted by Julius Tarigan on

Tulisan ini memang secara khusus ditujukan kepada Adam Kurniawan alias Dede Wijaya, karena di dalam salah satu komentarnya, di blog Billy Chien (di tulisan berjudul: “Matius 7:15”), beliau menganjurkan kepada kami (Julius, Billy, Smile, Pardi, dan semua yang lainnya juga) supaya meninggalkan saja gereja-gereja yang selama ini kami hadiri atau tergabung sebagai anggota. Dan, dia juga menganjurkan supaya kami bergabung ke Gereja Baptis Independent Alkitabiah (GBIA), yang tidak lain adalah denominasi dari saudara Dede Wijaya sendiri. Tadinya saya sudah hendak membalasnya di blog Billy tersebut, tetapi setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya pikir lebih baik kalau saya membalasnya sebagai sebuah “new thread” saja, di blog saya ini. Maka, jadilah tulisan ini saya muat di sini.

 

Kalau Dede berpikir bahwa saya sedang mencari gereja yang lain, yaitu yang lebih baik dari gereja di mana saya bergabung saat ini, sebenarnya dia keliru. Dan, khususnya, kalau dia sudah membaca tulisan saya sebelumnya di SS ini, yaitu  yang berjudul “Gereja yang Lebih Baik itu Tidak Ada! Yang Lebih ‘Mahal’, Banyak!”, maka seharusnya dia sudah tahu bahwa saya tidaklah sedang mencari “gereja yang lebih baik”. Judul dari tulisan itu saja sudah menunjukkan apa yang menjadi pendirian saya sekarang ini, yaitu: “Gereja yang Lebih Baik itu, Tidak Ada!....”.  

 

Karena itulah, di dalam tulisan itu tadi, saya menceritakan mengenai seorang bapak yang datang dari tempat yang jauh ke rumah saya dan bertanya apakah dia harus pindah lagi dari gerejanya yang sekarang ini (sedangkan dia sudah lima kali pindah gereja sebelumnya). Setelah saya menyampaikan mengenai kondisi gereja-gereja sekarang ini (yang, tanpa terkecuali, semuanya sudah menjadi “sarang penyamun”), maka diapun bisa melihat bahwa tidak ada artinya untuk berpindah dari gereja di mana sekarang ini kita berada dan mencari “gereja yang lebih baik” (Sebab, “gereja yang lebih baik itu tidak ada!” Tetapi, “yang lebih ‘mahal’, banyak!”).

 

Itulah sebabnya, mengapa sekarang ini saya, seperti orang yang keranjingan, di mana-mana berbicara mengenai REFORMASI atau REFORMASI GEREJA. Dan, yang harus direformasi itu bukanlah hanya gereja-gereja yang tertentu saja, yang sudah kelihatan dengan nyata keburukan-keburukannya, melainkan semua gereja-gereja yang ada sekarang ini, tanpa terkecuali. Tentunya, hal itu pun berlaku juga untuk gereja, di mana Dede Wijaya bergabung sekarang ini (GBIA Graphe)!

 

Namun demikian, sekalipun tadi saya katakan Dede keliru kalau berpikir bahwa saya sedang mencari gereja yang lebih baik (untuk pindah gereja), dalam artian tertentu, Dede ada benarnya juga. Ya, memang, bisa juga dikatakan bahwa saya sekarang sedang mencari gereja yang lebih baik, tetapi bukan seperti yang dibayangkan oleh Dede itu tadi. Gereja yang sedang saya “cari” sekarang ini adalah gereja yang sudah direformasikan. Dan, berikutnya saya akan membagikan hanya dua hal yang menjadi ciri-ciri atau kriteria dari gereja yang sudah direformasikan itu (soalnya, saya nggak mau membuat Anda jadi kecapean, kalau harus membaca 95 kriteria! Hehehe…!).

 

1.      Gereja yang pendeta/gembala dan semua pelayannya melayani dengan tanpa pamrih. Itu berarti, mereka harus bersedia dan mampu melayani dengan sama sekali tidak mendapat imbalan atau gaji, dari pelayanan mereka itu. Dan, untuk mewujudkan hal itu, mereka sendiri (pendeta/gembala dan semua pelayan gereja itu) harus memiliki pekerjaan/usaha masing-masing, yang melaluinya mereka bisa menafkahi hidup mereka (dan keluarganya) sendiri.

 

Mengapa saya menganggap penting kriteria yang pertama ini? Sebabnya ialah: mustahil seseorang itu bisa murni dalam pelayanannya, jika dia masih mengharapkan atau menggantungkan (kebutuhan-kebutuhan) hidupnya dari pelayannya itu. Dan, kalau seseorang itu tidak bisa memenuhi persyaratan itu (yaitu melayani dengan tanpa pamrih) atau kalau dia menjadi tidak atau kurang fokus dalam menunaikan pelayanannya, jika harus “sambil” bekerja juga, maka harus disimpulkan bahwa orang tersebut tidak dipanggil oleh Tuhan untuk mengemban pelayanan tersebut. Tak peduli betapa hebatnya pun “pengalaman rohani” yang pernah dialaminya! Dan, tak peduli seberapa dalam dan tingginya pun pengetahuan teologi yang dimilikinya! Dan lagi, tak peduli seberapa banyak orang yang berhasil “dimenangkan”-nya “bagi Kristus”, seberapa banyak orang yang “disembuhkan” melalui pelayanannya, tak peduli…(sebut saja apa pun lagi pencapaian-pencapaian yang lainnya).

 

2.      Gereja yang bisa meniadakan atau membuat menjadi seminimal mungkin posisi-posisi kekuasaan dan aset-aset yang bersifat materi. Mengapa hal ini menjadi sebuah kriteria yang perlu? Sebabnya ialah: Jika ditelusuri hingga sampai mentoknya, maka akan ditemukanlah bahwa semua keburukan yang terdapat di dalam gereja-gereja sekarang ini sesungguhnya bermula dari sini, yaitu karena adanya posisi-posisi kekuasaan dan aset-aset gereja, yang cukup bernilai untuk diperebutkan dan/atau dikuasai.

 

Sesungguhnya adanya kedudukan dan aset-aset yang cukup bernilai yang terdapat di dalam suatu gereja adalah semacam “bom waktu”, yang pasti akan meledak pada suatu waktu, di masa depan dari gereja tersebut. Tak terhitung banyaknya gereja yang sudah mengalami “ledakan” yang menghancurkan itu selama ini. Dan, gereja-gereja yang memiliki kedua hal itu tadi di dalamnya (yaitu posisi-posisi kekuasaan dan aset-aset material yang cukup bernilai), hanya tinggal menunggu waktu saja untuk terjadinya “ledakan” dahsyat yang menghancurkan itu! Hal itu pasti akan terjadi, terkecuali kalau gereja-gereja itu telah mengalami reformasi sebelumnya. (Maaf, gereja saudara Dede Wijaya pun, jika tidak direformasi, tidak akan selamat dari kehancuran, yang diakibatkan oleh ledakan dari “bom waktu” tersebut!).

 

 

Itulah dua hal (dari sekian banyak kriteria dari gereja-gereja yang telah direformasikan itu) yang sengaja saya pilihkan, untuk tulisan yang khusus ini (menjawab anjuran untuk beralih ke gereja/denominasi saudara Dede Wijaya).

 

Jadi, begitulah. Sebenarnya saya tidaklah sedang mencari “gereja yang lebih baik”, karena saya sudah tahu pasti bahwa yang seperti itu tidak ada. Tetapi, dalam artian tertentu, bisa juga dikatakan bahwa sekarang ini saya memang sedang mencari GEREJA YANG LEBIH BAIK, yaitu gereja yang sudah direformasikan (yang saya sebut di buku saya, “Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun”, sebagai “reformasi gereja yang sebenarnya”). Dan, saya berharap, semoga dengan memaparkan kedua kriteria dari gereja yang sudah direformasikan di atas itu tadi, khususnya, saudara Dede Wijaya bisa melihat, bahwa gereja di mana dia bergabung itu sendiri pun (yaitu GBIA Graphe, yang sangat diagung-agungkan olehnya) masih merupakan bagian dari gereja-gereja yang harus direformasi juga, pada masa sekarang ini.

 

Bagaimana? Apakah Anda tertarik untuk mengimpikan dan mewujudkannya bersama saya?