Para pembaca yang budiman tentu pernah mendengar kisah Kejadian 6:1-7. Ya, kisah tentang "Anak-anak Allah" (yang diduga sebagai "malaikat-malaikat jatuh") ini memang sangat menggugah rasa penasaran kita, dan sudah sejak lama menimbulkan perdebatan mengenai hal itu di kalangan orang-orang Kristen dan penganut Yudaisme. Apalagi dengan samar-samarnya uraian di Alkitab mengenai hal-hal yang berkaitan dengan asal-usul malaikat (dan iblis), tentunya akan menambah kerumitan pembahasan seputar masalah ini.
Kali ini saya akan memberikan uraian mengenai Kej 6:1-7 tersebut dari sudut pandang nenek-moyang orang-orang Yahudi. Uraian ini bukanlah bersifat tafsir Kitab Suci, namun diangkat dari mitos-mitos yang berkembang di antara orang-orang Yahudi dahulu seputar Kej 6:1-7. Dan terus-terang, saya sangat menyukai literatur yang bersifat mitos atau legenda, walau banyak juga yang menganggap rendah keberadaan mitos-mitos sebagai kisah isapan jempol yang tidak bernilai. Masih ingat dengan ayat-ayat seperti 1Tim 4:7, atau 2Pet1:16? Ya, mungkin saja mitos-mitos inilah yang disinggung dalam ayat-ayat tersebut. Namun semuanya kembali kepada para pembaca yang budiman mengenai value dari mitos-mitos tersebut.
Untuk sederhananya, dari sekian banyak mitos Yahudi mengenai identitas "Anak-anak Allah" dalam Kej 6:1-7 tersebut, saya sajikan dua versi utama yang saya anggap cukup menarik.
Pertama, yang menganggap bahwa "Anak-anak Allah" tersebut adalah malaikat-malaikat yang jatuh ke dalam dosa. Dikisahkan bahwa dahulu, para malaikat diperintahkan oleh Allah turun ke bumi untuk membimbing manusia ke jalan yang benar. Versi lain mengatakan bahwa mereka turun ke bumi justru untuk membeberkan kepada Allah bukti-bukti kejahatan manusia (versi ini menyatakan para malaikat sedikit cemburu tatkala Allah menciptakan manusia, jadi agak mirip memang dengan kisah cemburunya iblis kepada manusia di dalam Al-Qur’an). Apapun itu, ketika mereka sampai di bumi, mungkin untuk kemudahan berinteraksi, para malaikat itu (menurut tradisi Yahudi mereka berbentuk seperti api yang menyala-nyala) mengambil bentuk tubuh manusia. Namun justru karena mereka mengambil bentuk tubuh manusia itulah, merekapun menjadi rentan terhadap apa yang dialami oleh manusia, termasuk dalam hal nafsu seks. Lalu terjadilah kawin-mengawin antara para malaikat tersebut dengan para wanita di bumi, dan anak-anak mereka menjadi para raksasa (Nefilim) yang sangat jahat (Kej 6:1-4). Menurut mitos tersebut, para malaikat itu lalu menjadi semakin enjoy dengan keadaan ‘baru’ mereka, sehingga mereka betul-betul lupa daratan dan tidak bisa lagi kembali ke wujud mereka semula.
Di antara para malaikat yang jatuh tersebut, ada dua yang ternama, yaitu yang bernama Azael dan Shemhazai. Shemhazai mempunyai dua anak raksasa yang terkenal, yang bernama Hiwa dan Hiya. Mereka berdua ini memiliki naluri karnivora yang luar biasa, sehingga menghabiskan ternak-ternak dan bahkan manusia pun dimakannya. Malaikat yang satunya lagi, Azael (mitos menyamakan dia dengan Azazel dalam Ul 16:8-10), mengajarkan kepada para wanita seni membuat dan menggunakan alat-alat untuk mempercantik diri, yang kemudian digunakan untuk merayu para pria.
Karena semua kejahatan itulah, Allah kemudian memutuskan untuk melepaskan "Air yang di atas" (orang-orang Yahudi kuno percaya bahwa di langit terdapat samudera seperti halnya di bumi, yang dipisahkan oleh cakrawala) dan membuat banjir di muka bumi, yang memusnahkan manusia dan hewan-hewan. Anak-anak Shemhazai, Hiwa dan Hiya, menjadi mati kelaparan, karena tidak ada lagi makanan mereka di bumi. Shemhazaipun lalu menyesal, dan naik ke atas langit selatan. Di sana ia menyesali nasibnya, dan menjadi rasi bintang Orion, dengan pose kepala di bawah dan kakinya di atas. Adapun Azael tetap membandel, dan meneruskan perbuatan jahatnya, sehingga Allah mengutus malaikat Rafael, untuk mengikat kaki dan tangan Azael di dalam gua yang gelap, dan menimpanya dengan batu yang sangat besar, dan tetap di sana sampai nanti di hari Penghakiman. Adapun mengenai para raksasa lainnya, mereka dimusnahkan oleh Allah dengan mengutus Malaikat Gabriel untuk membuat mereka saling berperang satu sama lainnya. Versi lainnya menceritakan bahwa malaikat-malaikat jatuh lainnya pada akhirnya bisa juga pulang ke Surga, tatkala mereka menaiki tangga yang dimimpikan oleh Yakub (Kej 28:12).
Ke-dua, yang menganggap bahwa "Anak-anak Allah" tersebut adalah manusia, yang semuanya saleh dan jujur, keturunan dari Set, anak Adam. Karena itulah mereka disebut dengan "Anak-anak Allah". Mereka ini berbeda dengan manusia-manusia lainnya, keturunan dari Kain, yang semuanya jahat-jahat (kecuali Henokh).
Dikisahkan bahwa anak-anak Set ini pada masa itu banyak yang hidup layaknya para rahib Katolik (menjauhi pernikahan), dan mereka semua mengisi hari-hari mereka dengan senantiasa memuliakan Allah saja. Lalu datanglah "anak-anak perempuan manusia" (Kej 6:1-2, 4) dari keturunan Kain tersebut untuk menggoda mereka, dengan pakaian, dandanan, dan tingkah-laku yang membangkitkan gairah. Menurut mitosnya, saat itu jumlah perempuan memang jauh lebih banyak daripada laki-laki, sebagai buah dari kutukan terhadap Kain sebelumnya. Karena itu, banyak dari para wanita itu yang menjadi liar, lalu melakukan apa saja untuk mendapatkan pria pendamping. Menurut versi lain, kaum pria (selain yang saleh keturunan Set tentunya) juga tidak kalah gilanya, dengan paling tidak beristri dua: satu untuk memberikan keturunan (yang hidup merana, tidak diperhatikan), satu lagi untuk memuaskan nafsu seksnya (dan karenanya, mendapatkan apapun yang diinginkan dari suaminya). Dan dengan godaan para perempuan tersebut, para pria saleh tersebut akhirnya tidak dapat menahan diri, melupakan hukum-hukum Allah, malah menghampiri para perempuan penggoda tersebut, dan pada akhirnya keadaan mereka bahkan tidak lebih mulia daripada seekor anjing. Kejahatanpun lalu merajalela di muka bumi, hingga Allah memusnahkan mereka semua dengan banjir besar.
Demikianlah uraian saya tentang mitos Yahudi mengenai "Anak-anak Allah" dalam Kej 6:1-7. Mohon maaf kalau ada data yang tidak akurat.
(Dari berbagai sumber)