Isu konflik agama tetangga masih terus menghangat. Ini tentang aliran Ahmadiyah vs penentangnya. Sentral permasalahan ialah soal nabi. Ahmadiyah meyakini adanya nabi setelah Muhammad, sementara penentangnya bersikukuh bahwa nabi terakhir adalah Muhammad. Nampaknya persoalan ini belum menampakkan tanda-tanda akan selesai. Lalu siapa yang salah atau patut dipersalahkan? Bagi Islam tidaklah mudah menerima kehadiran Ahmadiyah karena itu menyangkut masalah aqidah, sementara itu Ahmadiyah juga merasa benar, sebab menyangkut soal keyakinan dan hak untuk menentukan masa depan di akhirat. Sepertinya banyak orang masih perlu belajar menerima perbedaan keyakinan satu sama lain.
Kita sebenarnya dapat belajar dari Alkitab, Firman Allah.
Ketika Yesus menjadi manusia dan berkarya selama plus minus tiga tahun, Dia memiliki pengikut dan bahkan murid-murid, namun sementara itu dari pihak cendekiawan
agama Yahudi, yakni para ulama Farisi, Saduki dan imam-imam, beberapa diantaranya menentang keras keberadaan Yesus sebagai “nabi yang dijanjikan” berdasarkan pemahaman mereka saat itu. Yesus waktu itu dibilang “si penyesat“. Dan ketika gelombang penolakan Yesus begitu besar, mereka berembuk untuk melenyapkan Yesus, dan pernah kejadian bahwa Kayafas, sang Imam Besar waktu itu, dia berkata: “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."(Yoh 11:49-50) yang lalu oleh penulis Injil Yohanes, dia sebut ucapan Kayafas itu sebagai sebuah nubuatan (ayat 51-52).
Datangnya suatu ajaran baru yang “merombak” pengajaran (lama) yang sudah “mapan” apalagi jika itu menyangkut soal perbedaan prinsip yang mencapai 180 derajat, tak terhindarkan menimbulkan “rasa sakit” yang dapat memicu kebencian.
Mirza Ghulam Ahmad (?) diyakini sekte Ahmadiyah sebagai nabi mereka. Tentu saja keyakinan seperti itu sungguh bertolak belakang dengan keyakinan saudara mereka yang membenarkan klaim Muhammad bahwa dirinya adalah nabi terakhir, yang artinya, setiap nabi yang ada setelah Muhammad otomatis nabi palsu.
Baik agama Kristen, Islam, Ahmadiyah, Hindu, Budha dan yang masih banyak lainnya, semuanya meyakini bahwa mereka lah yang paling benar, walau tidak tertutup kemungkinan adanya suatu agama yang mengakui keberadaan agama lain,…
Celakanya, kebenaran itu akan terungkap setelah zaman berakhir. Setelah tiba hari penghakiman, maka akan nyata terungkap mana yang benar dan mana-mana yang palsu bin sesat.
Jika setiap agama (yang yakin bahwa ajarannya yang paling benar) kemudian mengajarkan umatnya untuk melenyapkan agama lainnya, maka persoalan tidak akan pernah selesai. Lebih heboh lagi, kalau suatu agama itu sudah memperoleh pengikut radikal yang merupakan mayoritas, yang berhasil mencuci otak umat sehingga menjadi mesin pembunuh berdarah dingin dengan mengantongi sebuah keyakinan bahwa kalaupun mati dalam peperangan demi agama, pasti dijamin masuk sorga, dan JIKA TERNYATA sebenarnya itu bukan agama yang benar, maka inilah saatnya, telah datang “kerajaan maut” .
Kristen tidak mengakui Budha sebagai nabi; Budha tidak mengakui Yesus sebagai nabi; Hindu tidak mengakui Yesus sebagai Juruselamat; Kristen tidak mengakui dewa-dewi yang dipuja Hindu, Budha maupun Kong Hu Chu; Islam tidak mengakui Yesus sebagai Juruselamat; Ahmadiyah juga tidak mengakui Yesus sebagai juruselamat, sama seperti Kristen tidak mengakui sebagai nabi, baik untuk Mirza Ghulam Ahmad maupun Muhammad sendiri. Singkat ceritera, kalau Islam tidak mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, sebenarnya itu memiliki bobot yang sama dengan: bahwa Islam tidak mengakui Yesus sebagai juruselamat, dan sama juga dengan: bahwa Kristen tidak mengakui Muhammad sebagai nabi, ataupun: bahwa Ahmadiyah tidak mengakui Budha sebagai nabi dan seterusnya.
Nah,…
Karena semua ini menyangkut keyakinan, pantaskah setiap orang memaksakan keyakinannya kepada orang lain? Iya kalau agamanya memang benar; kalau salah???? Kan kita menjadi penyesat,…
Biarkan setiap agama menjajakan dagangannya, biarkan setiap orang memilih jualan agama dengan bebas. Kalau pun ada perbedaan keyakinan, janganlah dijadikan alasan untuk saling bunuh. Karena membunuh seorang penyesat tidak membuatnya masuk sorga, tetapi (mungkin) neraka. Justru kalau kita tahu ada orang sesat, yha didoakan dan dikasih tau jalan yang benar, dan bukannya malah dibunuh. Pemaksaan keyakinan kepada orang lain sebenarnya adalah pemberangusan hati nurani.
Salam.