Submitted by Rusdy on

Dari beberapa ibukota di Asia Tenggara yang saya kunjungi, saya selalu berdecak kagum dengan penduduk Jakarta. Alasannya banyak, tapi salah satu yang menonjol adalah 'commuters' ('orang yang pergi/pulang kerja', bahasa Indonya apa yah? Policy SS baru nih untuk menggunakan bahasa Indo baik dan benar :) ).

Macet sih memang sudah menjadi santapan harian di Jakarta. Sebabnya banyak, tapi yang menonjol bagi saya adalah pengendara motornya yang sadis-sadis. Waktu saya mengunjungi Saigon (ibukota Vietnam), walau pengendara motornya juga sama sadisnya dengan Jakarta, masih nggak separah dibanding Jakarta (dalam masalah kuantitas).

Para commuters di Jakarta, dari yang saya tahu, bisa menghabiskan antara 2 sampai 4 jam sehari (pulang dan pergi) di jalanan. Dari kenalan saya, ada yang menghabiskan sampai 5 jam sehari. Makanya, setiap kali saya mengemudi di Jakarta (yang mana cuman sekali setahun paling banyak), saya selalu mengalah. Kasihan sama mereka, stress setiap hari, 365 hari setahun. Setidaknya, saya cuman perlu stress sekali setahun, adil toh?

Beda dengan kampung (relatif dengan Jakarta) tempat tinggal saya sekarang. Untuk perjalanan pergi/pulang kerja, paling lama 45 menit di jalan (satu arah, dengan mobil). Apalagi di tempat kerja saya sebelumnya, lebih gampang lagi untuk commute. Ah, jadi kangen juga dengan tempat kerja saya yang dulu. Tempat kerja saya sebelumnya di pusat kota. Infrastruktur sepedanya sangat baik, jarak 20km pun bisa ditempuh dengan mudah, apalagi dibubuhi pemandangan yang OK.


Sumber foto disini

 

Berhubung saya nggak terlalu atletis, saya memakai sepeda satu arah saja. Arah sebaliknya saya gunakan kereta dan bus umum. Biasanya saya membutuhkan 40-45 menit dengan sepeda, dan sekitar 50-60 menit dengan angkutan umum (lama ganti bus / kereta / muter2). Jadi, menggunakan sepeda justru lebih cepat, dan sehat pula.

Di tempat kerja yang sekarang, angkutan umum sama sekali nggak ada. Jadi, kalau saya mau pakai sepeda, harus menempuh 60km bolak-balik (3 jam bersepeda sehari). Infrastruktur jalan sepeda pun tidak sebaik ke pusat kota, saya harus menempuh kawasan industri, yang mana harus kompetisi dengan truk dan jalan yang berkerikil (musuhnya ban sepeda). Alhasil, hari pertama saya bersepeda ke tempat kerja yang sekarang, ban saya bocor tengah jalan. Anehnnya (baca: mujizat), bannya tahan sampai saya ke tempat kerja, lalu langsung kempes ketika saya sampai.

Nggak enaknya kerja di tempat yang nggak ada angkutan umum dan jauh, saya jadi menggunakan mobil lebih sering daripada bersepeda. Batal deh niat mau mengurangi kontribusi greenhouse gasses.

Balik ke masalah commuting, kadang saya mikir, What Would Jesus Do kalau dia harus commute. Dulu aja, perjalanan singkat jadi berhari-hari gara-gara Dia tergerak hatinya untuk menyembuhkan, mengajar, dll terlebih dahulu (sepertinya, "The Journey is more important than The Destination" bagiNya). Di Jakarta, bisa-bisa Dia membutuhkan waktu satu tahun hanya untuk menempuh jarak 10km. Bagaimana tidak, Dia harus mengobrak-abrik banyak gereja dulu, menyembuhkan, mengajarkan pengemudi bagaimana mengemudi dengan penuh kasih, dll.

Catatan: paragraf terakhir ditambahkan dengan paksa biar masuk kategori 'renungan'.