Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?----Vantillian

Vantillian's picture

Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? ( Markus 15:34 )

Banyak khotbah Jumat Agung selalu menceritakan tentang penderitaan Yesus di kayu salib. Pendeta atau pengkhotbah selalu mendramatisir kejadian penyaliban seakan-akan menjadi peristiwa yang sangat mengharukan dan memilukan hati. Memanggul kayu yang begitu besar. Disangkali oleh muridNya sendiri. Menghadapi pengadilan yang tidak adil. Tangan yang dipaku dengan paku yang besar. Tubuh yang dipukul sampai berdarah. Kesakitan Yesus menjalan via dolorosa. Pengkhianatan oleh muridNya sendiri. Ditambah dengan pemutaran film "Passion of Christ" yang menggambarkan penderitaan Yesus yang begitu mendalam PLUS lagu Via Dolorosa oleh penyanyi Sandi Patty. Maka lengkaplah khotbah tentang penderitaan Yesus yang begitu menyayat hati. Tidak lupa menghidupkan suasana berkabung dalam gereja sehingga mirip dengan cerita realnya. Semua ini tentu tidak salah. Tetapi apakah penderitaan Yesus yang terdalam adalah penderitaan di kayu salib? Bukankah hukuman kayu salib adalah lazim waktu itu? 

Tentu, Yesus menderita untuk menebus manusia berdosa. Yesus harus menanggung murka yang seharusnya kita tanggung. Kita memperingati Jumat Agung dengan mengingat hal ini, bahwa dosa kita telah dihapuskan. Bahwa kita diterima oleh Allah karena sudah ada korban penggantian. Bahwa Yesus adalah wakil pelampiasan keadilan penghakiman Allah. Yesus menderita untuk kita. Mungkin ada yang mau menderita untuk orang benar dan baik, tetapi untuk seorang musuh atau orang berdosa, siapa yang mau berkorban? Bukankah kita akan mencari selamat sendiri, ketimbang harus menyelamatkan orang lain? Bukankah Yesus juga diejek dalam Lukas 23:35:  Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri...

Penderitaan Yesus yang terdalam adalah ketika Ia harus melakukan korban penggantian. Ia harus menjalankan perintah BapaNya. Meskipun Ia meminta cawan ini dilalukan, tetapi Ia tahu, Ia harus meminumnya. Itulah cawan penderitaan substitusi. Cawan penggantian. Sama seperti kita meminum cawan racun untuk menyelamatkan orang lain. Apakah orang itu layak kita tolong? Apakah orang itu layak kita selamatkan? Yesus meminum cawan karena keadilan Allah. Allah harus menghukum dosa. Karena itu harus ada korban dosa. Yesus meminum cawan karena kasih Allah. Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, ketika kita masih berdosa. Cawan penderitaan yang berdasarkan kasih dan keadilan Allah. Bukankah itu sangat berat untuk diminum? Yesus harus menanggung semuanya demi MUSUH Allah, yaitu manusia sendiri. Musuh Allah sekaligus yang dikasihi Allah. Semuanya harus diwujudkan dalam penderitaan Yesus. Inilah penderitaan terdalam. Karena itu, Yesus berkata :  "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku......

Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah. Ditinggalkan. Itulah penderitaan terdalam Yesus yang lain. Tidak ada kesedihan dan kesakitan dalam dunia ini ketika seorang manusia ditinggalkan sendiri. Kesendirian. Sangat menyakitkan. Tidak ada yang mengerti. Tidak ada yang peduli. Puncaknya adalah di kayu salib. Penderitaan apakah yang lebih dalam daripada menderita ditinggal oleh Allah? Ditinggal oleh Bapa sendiri? 
 
ALLAHKU, ALLAHKU, MENGAPA ENGKAU MENINGGALKAN AKU?
 
Teriakan ini adalah teriakan yang mengerikan. Teriakan yang benar-benar tidak akan pernah dimengerti oleh manusia. Teriakan yang mengandung kesedihan mendalam. Teriakan yang didalamnya terdapat suasana keakraban yang hilang. Teriakan dimana sedang mengalami suatu perasaan yang sangat..sangat..SENDIRI. Alone dan Lonely. Yesus mengalami dua-duanya. Yesus berada dalam kondisi Alone dan perasaan Lonely. Bukankah ini adalah suatu hal yang menakutkan? Tanyalah kepada setiap manusia, kondisi apakah dalam hidup yang paling mengerikan? Bukankah kondisi ditinggalkan sendiri? Bukankah hidup kita sangat kasihan dan menyedihkan jika akhirnya kita ditinggalkan oleh semua orang? Kesendirian. Dalam suasana kelam. Suasana gelap. Suasana yang tak menentu. Suasana ditinggalkan. Bapa yang bagaimana yang meninggalkan Anaknya menderita seperti itu? Bukankah itu adalah Bapa yang tidak bertanggung jawab? Bapa yang bagaimana yang menyerahkan Anaknya sebagai ganti hukuman bagi musuhnya? Bukankah itu adalah Bapa yang gila? Itulah Bapa di sorga...Meninggalkan AnakNya sendiri. Dengan teriakan yang memilukan : Allahku, Allahku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku?
 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
Tetapi, teriakan di atas adalah teriakan awal kemenangan. Kemenangan atas kuasa dosa dan maut. Teriakan kesepian Yesus adalah teriakan menggantikan kesepian kita. Yesus harus mengalaminya, supaya kita tidak mengalaminya lagi. Karena teriakan ini, maka kita sekarang hanya bisa berkata :
 
ALLAHKU, ALLAHKU, MENGAPA ENGKAU MENERIMA AKU, ORANG BERDOSA INI?

 

Karena Kasih dan Keadilan Allah di kayu salib. Itulah jawabannya.
 
Sola Scriptura