Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Berkotbahlah, Sebab Kerajaan Allah Sudah Dekat!

PlainBread's picture

Pernyataan yang saya pakai sebagai judul di atas terus mengganggu saya beberapa tahun terakhir ini.

Kenapa saya suka berkotbah? Apakah karena sifat ini diturunkan secara spiritual-genetic ke saya sebagai orang kristen sehingga saya dan mungkin jutaan orang kristen lainnya suka sekali mengkotbahi orang lain? Ataukah ada hal-hal lain?

 

Ada beberapa hal yang saya renungkan kenapa saya suka sekali berkotbah:

 

1. Saya mau orang lain bertobat

Motivasi yang bagus tentunya. Melihat semakin banyak orang datang ke Kristus, tentunya adalah pemandangan yang indah. Tapi keinginan yang tulus ini tentunya tidak bisa diaplikasikan kepada semua orang secara keseluruhan, karena akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru, misalnya:

- Saya tahu dari mana kalau orang tersebut memang perlu bertobat?

- Apakah saya memang sudah bertobat sehingga menginginkan orang lain juga untuk bertobat?

Yesus berkotbah, Yohanes berkotbah, Paulus berkotbah. Tetapi kenapa mereka berkotbah? Dorongan dari Roh Kudus? Lalu apa bedanya dengan klaim yang sama yang saya buat juga, bahwa saya suka mengkotbahi orang lain karena didorong oleh Roh Kudus?

 

2. Saya menganggap saya lebih tahu tentang kebenaran daripada orang lain

Suatu pernyataan yang keras, terutama buat saya sendiri. Awalnya saya menganggap bahwa ketika saya bertobat, orang lain juga perlu bertobat. Ketika saya mengetahui apa yang saya anggap sebagai kebenaran, orang lain juga perlu mengetahui apa yang sama.

Kenyataannya tidak semudah itu. Kenapa? Karena ukuran yang saya pakai, saya kenakan ke orang lain. Suatu hal yang naif kalau saya memiliki sepatu berukuran 12, lalu saya menganggap bahwa otomatis orang juga harus memiliki sepatu berukuran 12.

Ketika saya menemukan saya berada di dalam situasi seperti ini, saya terjebak di antara tembok-tembok kesenangan, kesombongan, kesedihan, dan kemunafikan. Saya senang karena saya merasa saya lebih tahu kebenaran daripada orang lain atau lawan bicara saya. Ada perasaan yang nyaman membahagiakan terasa di dada saya ketika mengetahui saya memiliki kelebihan dibanding orang lain. Saya menjadi sombong karena hal yang sama. Saya menjadi munafik karena menyadari bahwa ukuran yang saya pakai hanyalah perasaan dan prasangka belaka. Dan saya sedih ketika mengetahui situasi tersebut adalah jerat buat saya.

 

3.  Saya suka mengkotbahi orang lain karena saya sebenanya orang yang gagal

Berapa kali kita sering mendengar cerita, seorang anak perempuan dari kecil sudah diarahkan menjadi penari atau balerina bahkan terkadang suka berlebihan, dan pada kenyataannya kita mengetahui itu karena ibu dari si anak memiliki cita-cita menjadi penari atau balerina sejak dari kecil, namun tidak kesampaian? 

Berapa kali kita sering mendengar cerita seorang anak laki-laki diarahkan untuk menjadi insinyur, dokter, tentara, pendeta karena sang ayah ternyata memiliki cita-cita yang sama?

Sudah menjadi hal yang umum, ketika kita gagal, kita cenderung menyangkal kenyataan tersebut. Ketika kita menyangkal, kita menyangka masih ada harapan. Dan kita secara tidak sadar menaruhkan harapan tersebut kepada orang lain.

Masih segar di memori otak saya, bagaimana 1-2 orang pendeta yang gemar berkotbah mengenai bahaya seks, mengenai amat bencinya Allah dengan para pemburit, pelacur, dan para kriminal seksual lainnya, ternyata jatuh pada dosa yang amat sangat sama, yaitu dosa seksual. Seketika itu juga banyak orang menuding bahwa para hamba Tuhan tersebut sesat, munafik, dan lain sebagainya. Saya merenung, bukankah ini sebenarnya adalah salah satu aplikasi dari altruism? Bisa jadi para hamba Tuhan tersebut sebenarnya sudah lama berkubang dalam dosa seksual, namun penyangkalan dan penghindaran mereka dari hal itu adalah mengkotbahi orang lain mengenai hal yang sama. Mereka mencoba berusaha menolong diri sendiri, dengan mencoba menolong orang lain.

Begitu juga dengan saya. Ketika saya mengkotbahi orang lain tentang menjadi bijaksana, membagi waktu, mengasihi orang lain, dan bermacam hal lainnya, tetapi selanjutnya saya menemukan kenyataan bahwa pedang tersebut bermata dua. Dan lebih parahnya, saya menemukan kenyataan bahwa saya sudah gagal di situ. Mungkinkah seseorang yang gagal di suatu hal malah berceramah atau mengkotbahi orang lain tentang bagaimana bisa berhasil di hal yang sama? Mungkin saja. Bijaksanakah perbuatan seperti itu? Saya tidak tahu jawabannya.

 

Berkotbah, kata yang bermakna positif. Mengkotbahi, kata yang bertendensi negatif. Kerajaan Allah memang sudah dekat, sejak dari 2000 tahun yang lalu. Tapi pendakian spiritual saya pribadi, menemukan kenyataan bahwa saya harus belajar jauh lebih banyak dan jauh lebih keras, untuk mengkotbahi diri saya sendiri, dibanding untuk berkotbah dan mengkotbahi orang lain.

Kenyataan yang pahit memang, karena saya tidak suka dikotbahi orang lain, tapi saya sering melakukan hal yang sama ke orang lain yaitu mengkotbahi mereka. Untuk itulah saya sampai saat ini saya hanya berani berkata seperti itu. Biarlah saya mengkotbahi diri sendiri. Pengecut? Mungkin. Tapi setidaknya saya jujur (dan saya tidak tahu apakah pernyataan jujur saya itu merupakan suatu kejujuran, ataukah hanya untuk mengibur diri sendiri.)

 

 

So help me, God.

josia_sembiring's picture

@ Roti Tawar tanpa selai serikaya

Hehehehe... Bung Roti Tawar sangat bertolak belakang dengan  Bung Roti Hidup. Bung Roti Tawar mempertanyakan Motivasi berkhotbah dan latarbelakangnya sementara Bung Roti Hidup berkhotbah supaya orang lain mendapatkan kemudahan  :D

 

Kalau aku sendiri tidak suka disebut berkhotbah, tetapi lebih kepada menyampaikan informasi yang sifatnya memberi manfaat. Jikalau informasiku tidak bermanfaat baginya, silahkan dibuang. Jadi tidak ada motivasi atau latarbelakang. Bagi saya informasi itu penting sehingga harus disampaikan. Perkara informasi itu bermanfaat bagi pendengar, biarlah pendengar yang menjadi hakim-nya. Kalau bermanfaat akan dia gunakan, kalau ngga ya silahkan dibuang.

Yang pasti semua informasi pasti bermanfaat, termasuk informasi sesat sekalipun. HAHAHAHAHA...

 

Silahkan berguru kepada Bung Roti Hidup....

PlainBread's picture

Berkotbah vs Memberi Informasi

Josia: Hehehehe... Bung Roti Tawar sangat bertolak belakang dengan  Bung Roti Hidup. Bung Roti Tawar mempertanyakan Motivasi berkhotbah dan latarbelakangnya sementara Bung Roti Hidup berkhotbah supaya orang lain mendapatkan kemudahan  :D

Blog saya ini adalah mengupas tentang pengalaman saya mengkotbahi orang lain. Saya mempertanyakan motivasi saya sendiri dalam melakukan hal itu.

Kalo anda baca lebih lambat lagi, anda akan menemukan bahwa saya tidak bertolak belakang dengan Roti Hidup :)

Betul. Yesus berkotbah supaya orang lain mendapat kemudahan.

Tapi (saya benci kata 'tapi') ...

Yesus tahu kapan dia harus berkotbah, kapan dia harus diam. Dia tau kapan harus menyendiri, dan kapan harus berkotbah di depan orang banyak.

Yesus tahu bagaimana dia harus berkotbah. Yang menggertak dia lawan keras. Yang lembut dia berikan pengertian. Yang bodoh dia ajari. Yang bebal dia caci maki.

Yesus tahu kepada siapa dia mesti berkotbah. Kepada natanael dia memuji, kepada perwira dia menyatakan besarnya iman perwira tersebut. Kepada farisi, ugghhh ... never mind.

Pengetahuan Yesus sempurna, alias lengkap. Sementara pengetahuan saya yang tidak sempurna, alias cacat, alias belum lengkap, seringkali saya jadikan dasar sebagai alasan untuk berkotbah atau mengkotbahi orang lain.

 

Kalau aku sendiri tidak suka disebut berkhotbah, tetapi lebih kepada menyampaikan informasi yang sifatnya memberi manfaat. Jikalau informasiku tidak bermanfaat baginya, silahkan dibuang. Jadi tidak ada motivasi atau latarbelakang. Bagi saya informasi itu penting sehingga harus disampaikan. Perkara informasi itu bermanfaat bagi pendengar, biarlah pendengar yang menjadi hakim-nya. Kalau bermanfaat akan dia gunakan, kalau ngga ya silahkan dibuang.
 

Memberi informasi tentu berbeda dengan berkotbah. Memberi informasi itu bersifat narasi dan deskripsi. Berkotbah bersifat argumentasi dan persuasi.

 

Silahkan berguru kepada Bung Roti Hidup....

Anda berkata seperti ini pasti ada dasarnya. Kemungkinan paling besar: Anda mengira bahwa saya tidak berguru kepada Roti Hidup, itulah sebabnya anda melakukan persuasi atau mempersilakan saya untuk berguru kepada Roti Hidup. "Silakan makan" ---> Dari asumsi "orang ini pasti belum makan", padahal orangnya baru aja buang air besar gara2 makan kebanyakan. "Tidur lu sono!" ---> Dikira "belum tidur", padahal kerjanya cuma tidur seharian.

Statement anda Ini adalah contoh yang bagus. Sebelum meminta orang sesuatu, tentu kita melakukannya dengan dasar pengetahuan yang kita punya. "Baca tuh alkitab, udah bulukan berdebu begitu" ---> Landasannya:alkitab orang tersebut udah berdebu, asumsinya: Pasti jarang dibaca. Apakah betul? Belum tentu. Informasi yang ada di alkitab bisa di dapat dari mana aja, dari internet, dari buku, dari alkitab online, dll. Tidak mesti dari alkitab milik sendiri.

Jawaban dari pertanyaan tersebut, akan menentukan apakah pertanyaan selanjutnya valid atau tidak, dan akan menentukan apakah pengetahuan si penanya valid atau tidak.

 

The only difference between a sarcasm and a satire is the first one is usually done with anger while the later one is done with a smile - PlainBread

lentin's picture

motivasi saya - gak gtu jauh beda ma @PlainBread

Kalau alasan aku menceritakan tentang Yesus, kebaikan dan kasih-Nya dan ajaran-Nya.

Karena aku mengasihi Tuhan Yesus yang mengasihi aku terlebih dahulu dan aku mengasihi sesamaku.

Tapi aku cukup pada menceritakan dan mendoakan, gak mau maksa. Karena selanjutnya itu bagian Tuhan dan pribadi org itu sendiri.

 

PlainBread's picture

@Lentin Sok TAU

Elu pernah denger lagu yang enak gak, yang baru elu denger saat itu? Trus karena begitu enaknya, elu juga pengen orang lain denger. Elu pengen bilang ke orang2, bahwa lagu itu enak. Bahkan kadang elu sampe terkesan memaksa bahwa orang harus denger lagu itu, karena menurut elu, lagu itu enak banget. Apa yang buat elu enak, elu pikir orang lain juga sebaiknya ngerasain bahwa itu juga enak.

Gue pernah, Lentin. Bahkan sering. Tapi pada suatu saat, gue tertemplak dengan kenyataan, bahwa gue SOK TAU. Suatu kali, gue bilang ama temen gue soal lagu itu, dan dia bilang begini,"itu lagu udah lama. Gue udah bosen dengernya. Kasian deh elu baru tau tapi nganggap gue blom tau!" sambil lidahnya melet gitu ke gue. Gue di situ menyadari, bahwa gue SOK TAU menganggap orang lain belum pernah denger lagu itu. Jangan2 di seluruh dunia, cuma gue yang baru denger lagu itu. Istilahnya: Gue telmi, tapi gue sok tau. Udah jatuh, tertimpa tangga pula. Double smackdown.

 

Di hari yang lain, gue kadang terkesan memaksa untuk kasih tau orang bahwa lagu itu enak. Walaupun gue merasa gue gak maksa, tapi itu kesan orang yang didapat, HANYA karena ada TEMPTATION yang begitu besar buat gue untuk kasih TAU ke orang2 bahwa lagu itu enak. Tujuannya mungkin baik, supaya orang2 bisa ngerasain perasaan enak yang gue dapet tiap kali denger lagu itu. Pada KENYATAANNYA, gak semua orang lain mau tau, peduli, bahkan udah sering denger lagu itu sampe bosen.

 

Begitu juga dengan apa yang gue dapat dari TUHAN.

Ada temptation yang besar banget di diri gue, untuk kasih tau ke orang lain tentang apa yang gue dapet dari Tuhan. Pada kenyataannya, seringkali temptation tersebut membuat gue tergelincir, akhirnya gue jadi terkesan berkotbah, dan gue SOK TAU. Gue sok tau karena gue pikir cuma gue yang dapet pencerahan dari Tuhan. Gue sok tau karena gue pikir bahwa gue harus kasih tau orang2 tentang apa yang gue dapet dari Tuhan, di mana kenyataannya banyak orang gak peduli, gak mau tau, bahkan udah dapet hal yang sama dari Tuhan bertahun2 yang lalu.

 




"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

agamaitucandu's picture

PB: onani=kebenaran

Kata temen gue: kebenaran itu seperti onani, yg merasakan enaknya (benarnya) cuma kon***-mu sendiri...

__________________

.

PlainBread's picture

Onani vs ML

Makanya bilang ama temen elu, jangan onani. Mendingan ML, at least biar gak semua orang ngerasain, tetep ada seorang lain yang ngerasa enaknya gimana. Jadi bukan elu aja yang enak, tapi **ncomu (unnecessary censorship) atau partnermu juga ngerasa enak :p

 

"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

lentin's picture

@PlainBread kok aku sok tau ? :-)

Pengalaman aku sih belum pernah seperti itu.

Aku SD sampai SMA sekolah di sekolah Katolik. Dan bener-bener ingin menceritakan tentang Tuhan Yesus, sejak SMA. Walaupun di sekolah katolik tp di SMA aku mayoritasnya Budha.

Aku gak pernah ceritain langsung, bilang "eh... eh... kenal Tuhan Yesus gak, Tuhan Yesus gini, Tuhan Yesus gitu loh". Aku blm pernah ky gtu, mungkin suatu saat akan, klo di pedalaman, tp gk tau jg, hehe...

Kalo cara aku, di buku catatan atau cetak aku aku tulis semua tentang Yesus, ayat alkitab, dan lain-lain tentang kebaikan Tuhan. Paling temen2 aku ada yang bilang, wah km religius sekali, iman kuat sekali, tp aku gk ngomong apa2.

Tapi yang paling lucu waktu SMA, ada temen sekelas aku cowo, dan 3 tahun kita sekelas terus, bahkan pas hari2 pertama masuk, aku da disuruh duduk satu bangku ama dia. Awal2 kelas 1 berat banget buat aku, krn aku baru pindah ke daerah baru, banyak hal yang gak menyenangkan. Salah satu dia, yang suka usil bgt. Tapi akhirnya aku males juga naggepinnya, aku diemin aja.

Tapi akhirnya dia malah sering minta ayat alkitab sama aku. Karena aku sering tulis ayat-ayat Alkitab di notes kecil udah itu aku gunting dan warnain. Sebenernya itu untuk aku buat di baca-baca lagi, aku simpen di kotak pensil. Terus karena dia juga suka, aku jadi bikin dua, satu untuk dia. Malah kalau aku lupa dia yang nagih mana, obatnya katanya, hahaha... Aku tanya kenapa kamu suka, kata dia abisnya ayat-ayat ini buat aku tenang :-)

Trus kuliah, aku lebih banyak kumpul sama orang2 pribumi. Kebiasaan aku sama aja, aku tetep tulis2 buku-buku aku dengan ayat Alkitab, karena waktu kuliah dulu aku cukup rajin *ehm...ehm* sekelas semua copy catatan aku, dan karena penuh dengan ayat Alkitab, ada yang berusaha menghapus ada yang biarin aja, tapi dalam hati aku seneng, mereka at least baca ayat2 itu. Mereka terima atau gk itu urusan mrk.

Karena mereka liat aku kaya orang taat bgt, juga aku doa setiap istirahat sama beberapa temen2 Kristen di kampus, dan gak kumpul bareng mereka jadi sering temen2 aku yg bkn Kristen itu juga nanya tentang Tuhan Yesus, aku ceritain. Aku belum pernah khusus bawa Alkitaba khusus, buat kotbahin orang, mereka tanya aku jawab :-)

Mereka juga sadar, ciri2 orang Kristen gak boleh ngomong kasar, kotor, kata-kata yang sia-sia, disitu mereka liat kami itu beda. Mereka bilang sendiri hal itu. Jadi setiap ada masalah malah mereka curhat ke kita yang Kristen bukan temen2 mereka, abisnya kata mereka, klo ngomong ma kita (yg kristen) bikin tentram dan ngasi solusi dan gk akan di ejekin.

Kesaksian Tuhan Yesus itu juga ada dalam hidup aku, misalnya dulu waktu TA, temen aku marah-marah di telpon "Lentin ayok kekampus, liburan di rumah terus, mank judul TA, dapet waktu tidur" plus di kata2in dgn kata2 yg gk bagus. Aku hanya ngomong iya-iya aja. Terus waktu dapet judul TA nya, temen2 aku bilang udah ganti aja, drpada ngulang tahun depan. Padahal mereka udah takut2in gtu, tp kok perasaan aku tenang aja. Tapi pas buatnya ngerasa dunia jungkir balik, hahaha... Tapi tetep Tuhan tolong, dan disitu temen aku sendiri bilang "Ih Lentin inget gak waktu dlu aku marah-marahin kamu, tapi kamu sekarang da selese ya, tapi aku masih lanjut semester depan." Aku bilang "Semua karena pertolongan Tuhan, aku sendiri gak mampu buatnya." Dia hanya diem aja.

Temen aku malah ada yang parah, dia kristen juga, dia bilang doa-doa terus, doa mu yang selesei TA mu. Aku senyum aja, dan mank bener :))

Di saat-saat seperti itulah aku ceritakan Tuhan. Dari kesaksian hidup aku sendiri. Gimana Tuhan bekerja dan menolong aku. :-)

Dan banyak lagi, tapi aku belum pernah seperti yang kamu bilang di komen @Lentin sok tau.

Hehe panjang bgt ya sekalian sharing hehe :)

 

lentin's picture

@PlainBread maksudnya

Sebenernya kesaksian yang aku maksud bukan hanya sekedar perkataan-kaya promosi. Tapi hidup yang bener-bener menceritakan Tuhan Yesus, dari perkataan dan perbuatan, bkn hanya sekedar perkataan.

The Testimony of Jesus is not just in your mouth, it is in your life. One good deed in His Name is worth more than 1,000 sermons.

I love Jesus

PlainBread's picture

@Lentin Anda gak Mudeng

Saya gak bilang anda sok tau. Saya tulis di judul tersebut @Lentin Sok tau, maksudnya itu buat anda (@Lentin), menceritakan soal "sok tau". Di dalam komen tersebut, saya menceritakan soal ke-soktau-an saya.

Saya juga dulu begitu, seperti cerita anda, mau cerita soal Yesus, kapan saja di mana saja. Tapi saya belajar banyak. Ada banyak pakem untuk bisa bercerita. Ada banyak faktor. Bercerita soal Yesus menganggap audience tidak tahu soal Yesus karena mereka bukan kristen, tentu pakem dan faktornya beda ketika bercerita soal Yesus di mana audience adalah orang2 kristen sama seperti saya.

Teman saya yang non kristen pernah bertanya ke saya, kenapa guru agama kristen di sekolah marah2. Itu kan bukan seperti Yesus. Saya bilang sama dia. Apa yang kamu tahu soal Yesus? Dia cerita kalo Yesus itu lembut, mengasihi, suka tersenyum, dan dia sering liat gambar Yesus memangku anak2 dan menggembala domba sambil bawa tongkat. Saya bilang, ini saya ada alkitab, saya kasih liat cerita2 soal Yesus yang lain. Ternyata di situ pengetahuan dia bertambah, Yesus yang dia kenal ternyata tidak begitu mirip dengan Yesus yang ada di alkitab.

 

Ketika saya masuk ke sebuah forum kristen, saya pikir orang GAK tahu sebanyak yang saya tahu. Makanya saya suka bikin artikel mengkotbahi mereka. Saya pikir itu bukan mengkotbahi, tapi membagi. Tapi ternyata ada bedanya. Membagi itu hanyalah narasi. Mengkotbahi itu dengan mengajak, persuasi, argumentasi. Dan saya berpikir kenapa saya bisa berbuat seperti itu karena saya pikir saya lebih tau dari mereka (walaupun pada kenyataannya saya dan mereka sama2 orang kristen).

Ketika saya masuk ke sebuah forum kristen, saya liat dua orang berdebat, saya pikir itu bukan ciri2 orang kristen. Saya punya standar sendiri soal kekristenan. Tapi ternyata saya salah. Perdebatan sering dilakukan oleh pengikut2 Kristus di alkitab, bahkan di sejarah kekristenan. Kekristenan yang semula saya anggap sebagai gak boleh marah, gak boleh berdebat, semuanya bernyanyi haleluya dan mengucapkan kata2 berkat satu sama lain, gambaran tersebut ternyata bubar semua. Standar dan image saya tentang kekristenan hancur berantakan dan diganti dengan yang baru.

Saya gak tau apakah anda sok tau atau tidak (setidaknya saat ini). Saya cuma membagikan bahwa apa yang saya pikir soal kekristenan dan soal Yesus mungkin gak sepenuhnya benar. Kalo gak sepenuhnya benar, ada kemungkinan bahwa itu juga yang terjadi kepada orang2 kristen lainnya.

Ketika anda pernah bilang Yesus itu begini dan begitu, makanya di situ saya bilang, Yesus yang anda gambarkan hanya sebagian, atau mungkin tidak seperti itu. Orang2 selalu melihat Yesus sebagai laki2 setengah baya yang selalu tersenyum, lembut, dan terlihat mengasihi, terlihat bijak, dan yang bagus2. Jarang ada lukisan atau karya seni yang menggambarkan soal Yesus ngamuk di Bait Allah, atau soal Yesus memaki orang2 Farisi dengan sebutan ular beludak. Padahal itu Yesus yang sama, bukan? Jadi kenapa persepsi orang tentang Yesus hanya Yesus yang 1/2, yang 1/4, kenapa tidak penuh? Persepsi yang tidak sempurna, bahkan cenderung misleading.

Jadi kalo anda bilang "ciri2 kekristenan" atau soal Yesus seperti yang anda tahu, silakan anda cek dan ricek lagi, apakah memang seperti itu? Apakah anda gak menjadikan standar anda sebagai kebenaran? Apakah Yesus yang anda punya di dalam pikiran adalah Yesus yang ada di dalam alkitab? Pertanyaan2 itu yang sering dan sampe sekarang ada di kepala saya. Gunanya buat apa? Supaya saya gak menjadikan diri saya sebagai standar kebenaran, walaupun saya pikir itu tentang Yesus, tentang alkitab, tentang kekristenan. Iya itu semua adalah kebenaran, tapi persepsi Yesus, tafsiran alkitab, standar atau ciri kekristenan, wadah itu semuanya adalah saya karena semuanya itu saya sodorkan ke orang lain berdasarkan persepsi saya.

Contoh lain: Saya ketemu SBY, dan dia sedang tersenyum, dan saya cerita ke anda kalo SBY itu keliatannya sabar dan suka tersenyum dan tertawa. Lalu kalo si Tono ketemu SBY di mana dia lagi ngamuk karena menteri2nya gak becus kerjanya, dan si Tono cerita ke anda kalo SBY itu pemarah, suka ngamuk, apakah anda gak bakal stuck dalam persepsi? Mana yang anda percaya, PlainBread atau Tono? Atau dua2nya benar? Kalo dua2nya benar, berarti saya gak bisa memegang HANYA salah satunya, berarti SBY suka senyum tapi bisa juga ngamuk.

Jadi kenapa saya bisa menghakimi orang kristen yang sedang marah bahwa itu tidak sesuai dengan kekristenan, tidak sesuai dengan diri Yesus? Karena standar yang saya gunakan hanya standar yang saya tahu. Saya pikir kekristenan itu penuh dengan stepford wives yang selalu tersenyum dan Yesus yang selalu tersenyum, padahal realitanya tidak seperti itu.

Semoga mengerti maksud saya.

 

 

 

 

 

 

"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

lentin's picture

@PlainBread Ok deh :)

Ok aku ngerti deh. hehehe...

Iya, saya juga belajar, ternyata menceritakan tentang Yesus gk gampang (walaupun punya hasrat ingin selalu menceritakan Yesus karena Tuhan Yesus itu baik sekali), karena orang-orang ngelihat orang juga, kecuali orang itu memank mendapat jamahan dari Tuhan, sebelum atau sesudah seseorang menceritakan padanya tentang kasih Yesus sehingga Dia mau menebus dosa umat manusia yg menyebabkan kebinasaan, jadi orang itu bisa liat Yesus sejatinya.

Iya, aku tau Tuhan Yesus pernah marah. Dia marah karena hal yang tidak benar. Contohnya kenapa Yesus mengamuk di Bait Allah, karena Bait Allah itu Rumah Tuhan, jad Yesus marahlah, Rumah Bapanya(Rumah Yesus) kok di kotorin. Sangat mudah dipahami, jika kita benar-benar mengenal Yesus, dan kita akan tau dimana implementasinya untuk kehidupan kita. Sehingga gk hanya menampilkan satu sisi Yesus plus yang disalah mengertikan. Karena dasarnya Allah itu kasih.

(Sorry ya di sini aku pake kata kita, abis aku bingung klo pake kata ganti orang bentuk lain, tapi aku percaya km bisa nangkep maksud aku, gak maksud menceramahi loh, beneran...)

Aku sendiri gak bermaksud menceramahi, mungkin karena kebiasaan aku baca renungan, yang selalu pake kata kita, mari, ayo, yg seperti ajakan, jadi aku gak tau cara yang lain.

Gak semua bacaan renungan aku setujui, jadi walaupun pake kata kita, mari, dll, itu tetep keputusan aku untuk mengikuti apa tidak. Dan aku sendiri gak pernah merasa di ceramahi, toh aku gak kenal ma penulisnya, hehehe... Kecuali sama org tua aku, sering tu aku di ceramahin, km harus gini, km harus gtu, hehehe...

Ya, aku memank teralu banyak baca renungan, hehe... Seneng aja baca-baca tulisan yang selalu mendorong untuk hidup sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Kadang2 kalau bawaan dah suntuk bgt baca renungan Firman Tuhan yang sejati buat seger kembali. kalau km mau, aku ada beberapa dalam bhs Inggris, klo km mau aja, aku seneng bisa bagiinya. Kalau mau aja, aku gak maksa, hehe...

Aku juga mau minta maaf, sama km waktu awal2 dlu yang km kasi aku saran ttg cara menulis itu. Aku tau maksud km baik, tapi respon aku mungkin kurang baik, karena saat itu bingung aja sama SS ini dan kesal juga ma beberapa orang disini. Jadi km yg kena imbasnya krn malah ceramahin cara menulis :p Tapi aku tau maksud km baik, thanks ya :)

agamaitucandu's picture

@lentin

Kalo mau belajar berbagi iman ke domba-domba tanpa resiko dikejar-kejar anjing gara-gara dianggap serigala nyasar... coba deh baca buku Going Public With Your Faith, William Carr Peel, TH.M. & Walt Larimore, M.D.

Salah satu key concept buku ini adalah bahwqa bersaksi tidak sama dengan  menjadi saksi. Baca ndiri dah... 

__________________

.

PlainBread's picture

@Lentin Menulis (renungan) itu Gampang

Saya ingat sekitar 6-7 tahun lalu turut menyumbang beberapa renungan yang saya tulis ke dalam sebuah buku/majalah renungan yang dijual di toko-toko buku kristen.

Saya berani bilang bahwa menulis renungan itu gampang. Kenapa? Karena memang gampang :)

 

Ada kesamaan antara pendeta dan penulis renungan dalam melakukan pekerjaan mereka. Apa itu? Yaitu audience mereka adalah audience yang sudah siap mendengar. Audience yang patuh. Audience yang siap diajar. Audience yang memiliki, menurut istilah kristen, "hati yang terbuka". Audience yang sebelum membaca renungan, sudah berdoa terlebih dahulu minta pimpinan Tuhan. Audience yang sebelum mendengar kotbah, sudah disirami oleh beberapa lagu pujian dan penyembahan yang melunakkan hati mereka.

Dalam psikoanalisis, kondisi atau situasi tersebut disebut sebagai trance, situasi di mana kesadaran orang terpengaruh oleh hal lain di luar dirinya (altered). Anda bisa baca di sini untuk detailnya.

Mungkin anda gak tertarik dengan bidang psikoanalisis atau tidak setuju dengan pengertian trance di website tersebut. Tidak apa2. Yang penting anda sudah nangkep intinya.

 

Sebaliknya, menulis atau membaca sesuatu yang bukan "renungan kristen" umumnya memiliki audience yang memiliki sifat yang berbeda. Audience yang cenderung memiliki critical thinking. Audience yang walaupun menganguk-nganguk saat membacanya, namun tidak sama rasanya sewaktu membaca renungan di kamar pribadi atau sewaktu mendengar kotbah seorang pendeta. Audience yang tidak dalam sikon belajar, tapi audience yang juga cenderung mau mengajar. Jadi akan ada dilema kalo anda punya maksud untuk membagi ke mengajar orang lain tentang apa yang anda dapat, sementara audience anda, misalnya saya, juga punya maksud untuk mengajar anda. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Itulah yang terjadi.

Sementara ketika di kamar pribadi lagi saat teduh atau lagi duduk di gereja mendengarkan kotbah, yang terjadi adalah jemaat bukan sebagai besi, namun sebagai tanah liat atau sebagai murid, dan pendeta di atas mimbar atau renungan di atas meja adalah sebagai pencunan, sebagai pengajar atau sebagai orang yang punya otoritas untuk mencambuk si audience.

Kira2 begitulah bedanya. Soal maaf dan terima kasih, sama2, No big deal at all.

 

"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

lentin's picture

@PB boleh tuh

Boleh donk kapan2 renungan2 yang PB buat di share :-)

 

agamaitucandu's picture

ML butuh kerja sama

Makanya Paulus nyinggung soal kerja sama antara  roh dengan Roh ya? Kadang ga begitu jelas Paulus sedang ngomongin roh atau  ngomongin Roh... 

Masak sih roh dan ROh....

*kabur*

__________________

.

sandman's picture

@Lentin kamu dari mana?

Trus kuliah, aku lebih banyak kumpul sama orang2 pribumi.

Loe gak ngerasa orang indonesia? atau emang loe dari luar negeri ?

 

Karena kita sungguh berharga bagi-Nya dan Dia mengasihi kita.

__________________

lentin's picture

@sandman maksud aku haha

Maksud aku, waktu SMA cuma dikit bgt orang pribumnya, mayoritas Tionghoa, dan mereka pake bahasa mandarin, yang bener2 aku gk ngerit.

Tapi pas kuliah hampir semua pribumi tapi agama mereka beda. Aku juga pribumi, org Indonesia.

Orang sini sih bilangnya gtu.

 

sandman's picture

@Lentin Pribumi?

setelah berlakunya UU Kewarganegaraan dan amandemen Undang-undang Dasar 1945, maka setiap manusia yang lahir di Indonesia dianggap warga negara Indonesia tanpa ada embel-embel pribumi atau non-pribumi melekat karena perbedaan latar belakang etnis. 

 

Karena kita sungguh berharga bagi-Nya dan Dia mengasihi kita.

__________________

lentin's picture

@sandaman iya

Aku amin kan apa yang km bilang.

Tapi gtu lah mereka menyebutkan diri mereka, kalo aku sendiri terserah aja org mau label apa diri mereka, toh mereka tetep warga negara Indonesia. Awalnya aku kaya km jg, krn dlu di tempat asal aku, semua kaya sama aja.

Tp istilah pribumi dan non-pribumi itu ada, tapi tetep org yg warga negara Indonesia, ya orang Indonesia. Mungkin maksudnya pribumi itu suku primitif(asli) di suatu bangsa, ky di amerika suku Indian.

Waktu aku ngajar, ada murid aku yg gk ada keturunan asli Indonesianya sedikitpun, maminya filipin dan papinya bule, dia lama di Indonesia, dan udah nganggep dia bener2 org Indonesia.

tonypaulo's picture

@PB mengapa dipersulit?

Hasilkan perbuatan sesuai dengan buah-buah roh dan pertobatan  

agar apa yang @PB kotbahkan mempunyai dampak dan kuasa     

 

Kenapa dipersulit dengan ukuran-ukuran?,   

KASIH KARUNIA KRISTUS itu bila diukur tak bisa terukur,  

untuk menyatakan kebenaran, ukurannya FIRMAN,  

sebagaimana orang percaya menyembah dalam roh dan kebenaran  

bila masih munafik, dihajar dan dihukum berat sama TUHAN    

 

saya ingat teks lirik Testament (band Trash Metal dulu);  

Practice what you preach,  

dan 1-2 orang pendeta itu bukan suatu generalisasi  

bahwa semua pendeta seperti itu

Semakin tinggi pohon kan semakin kencang angin, hamba Tuhan juga manusia yang terus diproses, Daud pun pernah jatuh dan konsekuensinya pahit

Tidak selalu bisa alur dalam pikiran anda adalah suatu realitas jika itu hanya artikulasi dari suatu fakta dimana 1-2 orang pendeta yang jatuh dalam dosa tersebut sementara ratusan ribu pendeta yang tidak melakukan itu, tidak anda masukan dalam ruang pemikiran anda

Kotbah bukanlah suatu term yang “negative”, dan tidak semua orang punya kapasitas dan kerinduan untuk berkotbah, menyampaikan sesuatu misalnya dalam forum ini, tidak selalu bisa diartikan berkotbah, hal tsb bisa dikategorikan sharing, memberikan pendapat, atau bahkan sekedar arguing

Jadi jika menyampaikan suatu kebenaran untuk maksud yang baik, belum tentu berkotbah, namun menyampaikan sesuatu

Memang terkadang sering disalah pahami, menjadi mengurui, karena pada dasarnya manusia punya kecenderungan memuji dirinya sendiri (narsis) untuk tetap eksis sebagai satu pribadi

Seperti besi menajamkan besi,manusia juga menajamkan sesamamnya manusia

 

GBU

 

 

 

agamaitucandu's picture

@PB

ada penggemar baru nih :p

__________________

.

lentin's picture

@tonypaulo YAY! senang sekali mendengar perkataan seperti ini

Iya, knp mesti persulit :p heheheh

Selamat dateng ya pak, saya sering liat avatar anda di forumkristen, hehe... sama ky hannah jg...

 

PlainBread's picture

@Tony Saya justru mempermudah

Tony, apakah anda membaca isi blog saya ini dengan hati2 dan membaca semua komen saya di blog ini dengan perlahan? Kalo tidak, tolong lakukan.

 

Saya hanya memaparkan apa yang terjadi, dan mencoba menjawab kenapa pada KENYATAANNYA kotbah di luar gereja memang tidak mudah.

Kotbah di dalam gereja itu mudah, karena yang berkotbah sudah ada otoritas, sudah diberikan trust, sehingga audience bisa menerimanya dengan mudah. Makanya saya bilang kenapa berkotbah dalam gereja atau menulis renungan itu gampang, karena audiencenya sudah siap dengan apa saja. Thus tidak jarang kotbah atau renungan walaupun isinya misleading, audience tidak akan memperhatikan karena mereka tunduk dengan otoritas.

Berbeda dengan membagi renungan di luar kamar pribadi atau di luar gereja. Tidak ada otoritas. Kecendrungan audience justru memiliki critical thinking. Berdiri sama tinggi duduk sama rendah. Anda mengajar saya mengajar. Tidak ada yang namanya sini saya ajar. "Sapa elu mau ajar gue? Kebalik! Sini gue ajar elu!" Begitu kata audience.

 

Yohanes tidak langsung berkotbah. Yesus tidak langsung berkotbah. Paulus juga tidak. Kalo memang berkotbah di depan orang banyak (bukan gereja) itu mudah, kenapa Yesus dan Yohanes tidak langsung berkotbah sewaktu umur 18 atau 20 tahun? Kenapa mesti menunggu? Kenapa komunitas sudah mengenal mereka bahkan sebelum mereka berkotbah?

Yesus tau kapan harus berkotbah, kapan harus lari menghindar, kapan harus bilang jangan cerita, kapan bilang ceritakanlah. Semua ada pakemnya. Menganggap bahwa bisa berkotbah di mana saja dan kapan saja tentu adalah kebodohan.

Idealnya memang kebenaran adalah kebenaran, tidak peduli siapa messeger atau si pembawa pesan. Makanya ada pepatah "don't kill the messenger" walaupun tidak setuju pesan yang dibawa. Tapi KENYATAAN yang terjadi di luar sana (atau di sini) tidaklah seperti itu. Orang2 tidak mudah mengakui orang lain sebagai pembawa pesan. Elu siapa ngaku2 sebagai nabi, sebagai guru, sebagai pengkotbah? 

Di luar gereja, orang2 tidak akan mudah dikotbahi atau diajari oleh orang lain karena sebelum melakukan hal2 tersebut, ada satu hal penting yang jadi landasan, yaitu KENALAN dulu. Mengenal dulu. Ngobrol, berbincang2, akrab, liat kiri kanan. Kenali sikon. Kenali audience. Baru berkotbah. Itu salah satu cara bijaksana di dalam komunitas lepas seperti pasar klewer ini. Datang2 langsung mau berkotbah? Sapa elu? Ngaku sebagai orang kristen? Gue juga kristen. Kecuali kalo memang orang yang mau berkotbah diberikan otoritas oleh audience untuk berkotbah, alias sebagai pengajar dan pendeta di atas mimbar, itu baru beda. Until it happens, Kotbah atau membagi apa yang anda anggap sebagai kebenaran, di LUAR gereja, memang tidak mudah, kenyataannya seperti itu. Bukan saya yang mempersulit.

 

Soal 1-2 pendeta jatuh dalam dosa, sepertinya saya gak pernah tulis mengenai itu di blog ini atau di komentar2 saya di blog ini.

 

 

"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

alvarez's picture

@tonypaulo, jangan dipersulit!

Tonypaulo :

Jadi jika menyampaikan suatu kebenaran untuk maksud yang baik, belum tentu berkotbah, namun menyampaikan sesuatu

AZ :

Berikut ini adalah kotbah dan maksud baik Budi Asali dan murid-muridnya yaitu Pniel, Gondrong dan Adrina:

Kalau nenek moyanglu bukan orang Yahudi dan bukan beragama Kristen, maka dipastikan ada di Neraka Jahanam.

Jadi tony, menurut anda, apa yang diajarkan oleh Budi Asali dan murid-muridnya yaitu Pniel, Gondrong dan Adrina itu termaksud kotbah atau menyampaikan maksud baik?

 

Seperti besi menajamkan besi,manusia juga menajamkan sesamamnya manusia

tonypaulo's picture

@lentin, aduh jangan pangil pak

terima kasih atas sambutnya sis

biasanya itu mentalitas birokrasi...yang mudah dipersulit biar panjang dan wibawa...hahaha

iya saya dari FK, sama seperti Hannah dan Liel, saya tidak tahu siapa lagi yang dari FK....

jadi masih butuh bimbingan nih....

 

lentin's picture

@tonypaulo ok, hehehe

saya juga masi baru kok disini, hehe...

 

tonypaulo's picture

@PB mempermudah dengan mempersulit?

@PB mengapa harus mempersulit ketika ingin mempermudah?

kalau memang mudah, tentunya maknanya pun mudah diamini dan memberikan damai sejahtera

tetapi mari lihat setiap respon yang ada

mungkin saja bisa salah semua yang meresponnya, dan   @PB menjadi benar sendirian

apakah itu yang dinamakan mempermudah?

tentu tidak

mengenai kotbah, tidak perlu dipaksakan menjadi

berkotbahlah sebab kerajaan Allah sudah dekat

namun beritakanlah injil baik atau tidak waktunya

2Ti 4:2  Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

mengenai 1 atau 2 pendeta yang saya maksudkan, mungkin saya salah paham terhadap pernyataan @PB yang ini

Masih segar di memori otak saya, bagaimana 1-2 orang pendeta yang gemar berkotbah mengenai bahaya seks, mengenai amat bencinya Allah dengan para pemburit, pelacur, dan para kriminal seksual lainnya, ternyata jatuh pada dosa yang amat sangat sama, yaitu dosa seksual.

maafkan saya @PB jika salah memahaminya

jika memang untuk mempermudah

bolehkah berbaik hati untuk merangkumkan apa yang dimaksudkan 741 huruf pada @PB blog menjadi beberapa kalimat saja ?

 

GBY

PlainBread's picture

@Tony Preteks dan Konteks

@PB mengapa harus mempersulit ketika ingin mempermudah?

kalau memang mudah, tentunya maknanya pun mudah diamini dan memberikan damai sejahtera

Kalo memang mudah seperti bayangan anda, kenapa ada bentrokan dan gontokan di komunitas2 lepas? Bukankah kenyataanya itu tidak mudah sama sekali, melainkan sulit?

Makanya seperti yang saya bilang, justru saya mempermudah. Kenyataan di lapangan tidak seperti persepsi beberapa orang ketika membaca alkitab. Berkotbah, ya berkotbah saja. Ngapain dipersulit. Oh well, kalo berkotbah memang mudah, kenapa Yohanes, Yesus, Paulus, Petrus, dan ribuan orang lain yang berkotbah malah berakhir nasibnya dengan nahas? Bukankah itu menunjukkan bahwa berkotbah tidak mudah?

Hal yang saya lakukan dengan mempermudah adalah:

1. Menulis blog ini dengan kata "saya", artinya saya juga melakukan kebodohan, saya melakukan kesalahan besar

2. Menulis blog ini bahwa pembelajaran yang saya dapatkan adalah dari apa yang saya lalui sendiri, bukan dari pengamatan atas orang2 lain misalnya menyuruh orang lain tidak megkotbahi sementara saya sendiri melakukan yang sama

3. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lewat pengalaman2 saya tersebut

4. Mencoba menjawab kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana supaya itu tidak terjadi lagi, setidaknya di hidup saya

 

Dari 4 point tersebut, apakah saya mempersulit? Bagaimana dengan orang2 yang tidak mengerti, bertanya2 kenapa mereka mendapatkan resistensi sewaktu mereka mencoba bermaksud baik dengan membagi renungan, mencoba membagi apa yang mereka dapat dari Tuhan? Bukankah ketidakmengertian mereka sudah saya jawab di blog ini, dengan memakai contoh dan pengalaman yang saya alami sendiri?

 

mengenai 1 atau 2 pendeta yang saya maksudkan, mungkin saya salah paham terhadap pernyataan @PB yang ini

Itu hanya sebagai contoh, bukan sebagai "hanya artikulasi dari suatu fakta dimana 1-2 orang pendeta yang jatuh dalam dosa tersebut sementara ratusan ribu pendeta yang tidak melakukan itu" seperti yang anda bilang. Kalo anda mau baca dengan hati terbuka dan tanpa prasangka, di situ saya justru tidak membandingkan antara 1-2 orang pendeta dengan ribuan pendeta. Di situ justru saya mencoba menjelaskan bahwa 1-2 orang tersebut tidak sepenuhnya bersalah, alias saya mencoba memahami apa yang terjadi dengan mereka.

Kalo anda bisa membaca blog ini secara keseluruhan dan tanpa prasangka, anda bisa kok dapet pointnya. Cuma karena pendekatan yang saya ambil agak berbeda dengan pendekatan umum, seringkali orang salah paham dengan maksud dan tujuan saya menulis karena mereka terlalu cepat membentengi diri mereka dengan berbagai prasangka dan preteks yang ada. Preteks yang sama sekali tidak ada di dalam tulisan saya.

 

 

 

"It's not what I think that's important. It's not what you think that's important. It's what God thinks that's important. Now I'm going to tell you what God thinks!" - Chosen people of God

tonypaulo's picture

@alvarez yang mempersulit bukanlah saya

@alvarez

Jadi tony, menurut anda, apa yang diajarkan oleh Budi Asali dan murid-muridnya yaitu Pniel, Gondrong dan Adrina itu termaksud kotbah atau menyampaikan maksud baik?


tentu pernah mendengar maksud baik dengan cara yang kurang tepat bisa tidak menyampaikan maksud baiknya tersebut

namun niat awalnya adalah baik

jika tidak tersampaikan dengan baik, tidak selalu yang menyampaikan bisa dipersalahkan

mengenenai kotbah (preaching) itu ada metodologinya dan tehniknya, sedang saya belum pernah mendengar ada orang kotbah hanya melalui tulisan yang dibaca

yang ada adalah kotbah yang dicatatkan untuk dibaca berulang-ulang agar mengerti

secara terminologi saja menulis blog ini belum bisa dikatakan berkotbah

terlepas dari itu

saya belum tahu dan kenal Budi Asali, dan individu2 yang @alvarez sebutkan

karena itu malah mempersulit konteks yang sebenarnya

GBU

tonypaulo's picture

@PB dimana janji untuk mempermudah?

@PB

kalo berkotbah memang mudah, kenapa Yohanes, Yesus, Paulus, Petrus, dan ribuan orang lain yang berkotbah malah berakhir nasibnya dengan nahas? Bukankah itu menunjukkan bahwa berkotbah tidak mudah?

kalau bukan karena Kotbah mereka, tentu saya tidak akan menulis di blog ini kebaikan KRISTUS

dan miliaran individupun tidak akan mengenal TUHAN yang sejati

Bukankah ketidakmengertian mereka sudah saya jawab di blog ini, dengan memakai contoh dan pengalaman yang saya alami sendiri?

persuasi dengan cara "pembalikan" terkadang menjadi bias maknanya, karena dari awal sudah disampaikan dengan pesimisme

seperti yang pernah saya sampaikan

Hasilkan perbuatan sesuai dengan buah-buah roh dan pertobatan  

agar apa yang @PB kotbahkan mempunyai dampak dan kuasa     

dan bagaimana bisa dapat mempermudah, ketika kecenderungan pembalikan menurut @PB lazim?

seringkali orang salah paham dengan maksud dan tujuan saya menulis karena mereka terlalu cepat membentengi diri mereka dengan berbagai prasangka dan preteks yang ada.

mengapa sering disalahpahami?

yang mudah itu justru mudah dipahami dan tidak disalahpahami

karena itulah kalau mudah mengapa dipersulit dan mengundang salah paham menjadi respon yang sering berkunjung?

GBU