Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Dipisahkan Oleh Mertua

naga0276's picture

Saya menikah tahun 2003, dan mempunyai anak umur 3thn, sudah 8 bulan yg lalu, istri saya meninggalkan saya dan anak karna dipaksa tinggal dengan mamanya, selama menikah saya tidak pernah melakukan tindak kekerasan dan wajar jika terjadi perselisihan sewaktu-waktu.... dan selama itu saya masih memberikan nafkah meskipun istri saya tidak menjalankan kewajibannya. Pada okt'07 rumah saya jual dan uangnya saya gunakan utk biaya hidup dan pendidikan dan melunasi hutang2 istri saya (meskipun saya tau itu hutang judi mama dan keluarganya). Nov 07 saya baru tau cin2 pernikahan dan emas anak saya digadai untuk bayar utang2 judi (saya marah, karna dia beralasan di simpan di sdb bank). Terjadi krisis ekonomi jd pada jan'08 saya tidak dapat memberikan nafkah kepada istri sampai sekarang...dan rencananya saya akan dicerai pada bulan maret dengan alasan 3bulan tdk memberikan nafkah (padahal banyak uang saya yg dipinjam keluarganya blm dibayar, karna saya tidak tega managih orang yg kesusahan karena judi togel). Sekarang saya masih membiayai anak saya dan mengurusnya seorang diri....Saya tau istri saya masih mencintai saya dan anak dan dia sadar bahwa sikap (matre) mamanya salah, tapi dia tidak dapat melawan kata2 "ANAK TIDAK BERBAKTI" yg selalu di ucapkan mamanya jika dia mau kembali ke saya.... rumah tangga saya hancur...

tgl.25-01-2008 say menunggu didepan rumahnya dari jam 19.00-24.00 hany untuk bertemu istri saya walau hujan dan angin menghampiri saya, tapi saya diusir oleh mamanya. Ke esokkan harinya (26-01-2008) saya datang, terjadi perang mulut antara saya dengan mama dan keluarganya..karna saya tidak tahan lagi utk mengungkapkan kekecewaan dan kesedihan hati saya selama dipisahkan dari istri saya... dan saya dimaki dan di usir di depan orang banyak..... cin2 pertunangan dikembalikan istri saya pada saat itu juga... dan saya lihat istri saya menyerah dengan keadaan yg ada dan membiarkan/menjalani perbuatan yg salah dan tidak sesuai dengan hati nuraninya.... tapi sampai sekarang saya masih mencintai dan sayang dan berharap dialah wanita yg terakhir dalam hidup saya........

1. Apakah seorang kristen harus pada pada perintah orangtuanya meskipun perintah dan ajaran itu salah secara agama dan hukum?

2. Harus bagaimana saya bersikap dan berpikir sesuai dengan ajaran Allah dengan kondisi seperti ini?

3. Istri saya hampir terjatuh dalam dosa selingkuh dengan rekan kerjanya...dan saya pergoki mereka, tapi saya bisa memaafkan, tapi kenapa orangtua dan keluarganya mengijinkan hal tersebut terjadi?

4. Dosakah istri saya jika melawan orangtuanya itu?

5. Mohon nasehat dan jalan keluar terbaik dari rekan2 semua......Terima kasih.

 

Tgl.28-01-2008

Saya kembali menghubungi istri saya, dan saya katakan saya ingin mencari rumah seperti yg kamu mau agar hidup mandiri, tapi istri saya mengajukan persyaratan yang sangat memukul jiwa dan hati saya..... dia mau saya harus putus hubungan dengan orangtua dan semua saudara saya jika saya ingin dia kembali seperti dulu lagi....... dan tidak boleh telpon dan menginjakkan kakinya dirumah yang saya tempati dengan dia................. tapi hal itu tidak berlaku untuk dia.......... dengan alasan orangtua dan saudara terlalu mencampuri urusan rumah tangga saya, dan saya bersumpah untuk dia bahwa saya akan mati mengenaskan dan tragis jika benar apa yg dia tuduhkan itu  benar dan terbukti......  Istri saya seakan-akan menutup mati hati dan pikirannya serta tidak melihat kenyataan yang ada bahwa keluarganyalah yang selalu mencampuri setiap tindakan dan ucapannya..... tapi saya tidak mau berdebat/ribut, saya hanya bilang, "Jika memang persyaratan yang kamu mau seperti itu dan sudah kamu pikirkan baik dan benar, saya akan bawa dan renungkan dalam doa, apakah ini jalan hidup berumah tangga yang harus saya tempuh?" .......... Sungguh besar kuasa kegelapan atas dirinya sehingga dia mau/ingin memisahkan orangtua yg tidak bersalah berumur 65 dan 61 tahun dengan anaknya untuk selama-lamanya....... sungguh saya terpukul dengan persyaratan itu..... saya hanya berserah semuanya kepada Allah...karna sebagai manusia sungguh saya jatuh dan berbeban berat... 

xaris's picture

Doa saya

Dear Naga,
 
Saya belum bisa banyak sharing atau bicara lebih banyak tentang hal ini. Saya akan berdoa dulu buat kamu dan saya tahu satu hal yang pasti, bahwa kalau Dia begitu mencintai kamu dengan mati untuk kamu, cintaNya pastilah begitu besar sehingga akan mampu membawa kamu melalui ini semua.
Mr.'s picture

mencoba membantu

Sebelum mencoba membantu, ijinkan saya melontarkan beberapa pertanyaan: 1. Sebelum menikah tahun 2003 bagaimana keadaan mama / calon mertua istri anda? 2. pada point 3. Istri saya hampir terjatuh dalam..... , mengapa istri bisa hampir selingkuh? apa ada hubungan dengan krisis?
naga0276's picture

Dear xaris, thanks ya atas

Dear xaris, thanks ya atas doa dan perhatiannya.... Dear Mr. : 1.Sebelum menikah, semua terlihat baik-baik saja, seperti layaknya sebuah keluarga kristen (karna semua anggota keluarga merupakan jemaat yg taat), dan mertua saya pun sangat ramah dan care banget dengan saya, sampai makan dan mandipun selalu di ingatkan. 2. Memang pada hari rabu malam, saya memergoki mereka pulang kerja bermesraan dan terkesan menutupi kejadian tersebut, saya yakin seorang istri yg dipisahkan secara paksa pasti mengalami beban mental dan godaan yg berat, apalagi dengan kondisi suami dan anak tinggal jauh, dan keluarga pun mendukung semua tindakannya..... tapi saya ada keyakinan bahwa masih ada setitik kesetiaan dan kerinduan akan suami dan anak, itu yg menjadi benteng terakhirnya.
noelgies's picture

Saya mengerti perasaan anda...

Usia penikahan anda masih tergolong muda, +/- 4 th, dan memiliki seorang anak yang masih balita dan itu anda asuh sendiri.
       "Saya menikah tahun 2003, dan mempunyai anak umur 3thn"
Sangat berat bagi seorang bapak yang harus berpisah dengan istri dan harus mengasuh anak yang masih usia 3 th yang masih harus diawasi, dimandikan, diajak bercanda kalau makan minta disuapi, mau tidur harus ditemani pendeknya semua-semua harus dibantu orang lain tidak bisa dikerjakan sendiri. Dan anda masih harus membagi waktu untuk mencari nafkah demi anak tercinta yang sangat-sangat banyak membutuhkan perhatian, kasih sayang kelembutan sentuhan dan belaian tangan kedua orang tuanya. Mana untuk jajannya, mana untuk susunya. Belum lagi kalau anak lagi rewel, anda pasti capek karena disibukkan oleh urusan anak pasti juga anda kurang tidur ditambah masalah dengan keluarga istri yang belum ada titik terangnya malah memperkeruh keadaan.
 
Sedangkan bagi si anak juga turut merasakan permasalahan orang tuanya. Apalagi selama ini anak sudah merasakan betapa semua itu kasih sayang, perhatian, kelembutan, dsb tidak dirasakannya selama 8 bl. Mungkin dalam mengasuh anak bisa saja diserahkan kepada orang lain atau keluarga dekat. Saya memahami kalau anda shock untuk saat ini. Tapi saya juga belum tahu apakah anda mengurus anak hanya seorang diri ataukah ada saudara atau pihak keluarga anda yang membantu..? Dan anda hanya hidup berdua dengan anak anda?
 
Umumnya yang terjadi pada pasangan yang masih muda ini hubungan dalam keluarga inti masih mesra-mesra aja. Walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya pertikaian kecil di dalam keluarga,itu pasti, dan biasanya masih dalam batas kendali. Sebab kalau tidak ada pertengkaran di dalam rumah tangga itu malah jadi pertanyaan. Nah, sekarang masalahnya mengapa persoalan ini seolah-olah meledak secara tiba-tiba? Dan menurut pemaparan anda seolah tidak ada sebab awalnya.........maaf!!??!
       "sudah 8 bulan yg lalu, istri saya meninggalkan saya dan anak karna dipaksa tinggal dengan mamanya, selama menikah saya tidak pernah melakukan tindak kekerasan dan wajar jika terjadi perselisihan sewaktu-waktu.... dan selama itu saya masih memberikan nafkah meskipun istri saya tidak menjalankan kewajibannya"
 
Apakah munculnya persoalan dalam rumah tangga anda dipicu karena anda sudah tidak bekerja dan ekonomi rumah tangga anda sedang semrawut..., sehingga apa-apa harus dijual? Dan lagi anda mengatakan kalau anda sudah tidak lagi memberi uang belanja selama 3 bl.
       "Terjadi krisis ekonomi jd pada jan'08 saya tidak dapat memberikan nafkah kepada istri sampai sekarang...dan rencananya saya akan dicerai pada bulan maret dengan alasan 3bulan tdk memberikan nafkah"
 
Sekedar saran dari saya....
1. Saya tahu permasalahan anda berat, tapi anda harus tetap jernih pikiran supaya dalam membuat keputusan anda tetap terlihat bijak.
2. Utamakan semua perhatian untuk anak anda saat ini dan masa depannya. Dan dialah satu-satunya "harta" yang sangat berharga, dan hanya dialah yang dapat memberi penghiburan dan harapan untuk menyelesaikan permasalan keluarga anda. Dia tak ubahnya seperti lilin yang menerangi anda. Walaupun dia tida bisa memberi saran atau pemikiran. Dia juga sumber kekuatan batin. Saya yakin, walaupun hanya dengan anak anda saja anda kuat dalam menjalani liku-liku hidup ini. Bukan berarti saya dan teman-teman di sabdaspace membiarkan anda, bukan.
3. Istri anda nampak kurang tegar dalam menghadapi permasalahan, dia nampak bimbang dalam menentukan pilihan dan akhirnya dia jatuh pada pilihan yang kurang tepat yaitu meninggalkan anak. Sebaiknya anda perlu bertemu dengan istri anda entah bagaimana caranya untuk membicarakan semuanya, terlebih masalah anak. Anda harus membicarakan existensi perkawinan anda. Karena perkawinan itu bukanlah "kontrak janji" dengan manusia atau pihak keluarga masing-masing, melainkan dengan yang "di atas". Nah, kalau sudah begitu berarti semua dasar/norma/atau kaidah untuk menilai secara bijak suatu permasalahan harus didasarkan pada norma-normanya yang "di atas" tadi. Anda juga harus tegas menentukan ini lho yang namanya keluarga yaitu suami, istri dan anak pada istri dan keluarga istri maupun keluarga nada. Orang tua dan saudara dalam hal ini  juga merupakan bagian dari keluarga besar. Tapi,  dalam hal urusan rumah tangga mereka tidak harus melakukan intervensi bahkan turut mengatur dan mengambil keputusan dalam rumah tangga anda. Mereka harus menghormati lembaga keluarga yang sudah di"bentuk" oleh TUHAN. Bukan, maksud saya memperkeruh keadaan, tetapi saya mecoba memberi saran membantu untuk mengembalikan peran yang seharusnya buat seorang istri dalam rumah tangga anda.
4. Be wise, be strong, and never give up. God Bless You, man.
5. Peluk cium buat ananda. SmileSmileSmile
naga0276's picture

Thanks ya noelgies Awalnya

Thanks ya noelgies Awalnya hanya masalah sepele.... waktu pulang kerja saya duduk dan istirahat dimeja makan (istri , anak dan mamanya ada dikamar saya dan tau saya baru pulang kerja), saya lihat kebersihan rumah kurang baik, jadi saya ambil inisiatif untuk menyapu dan ngepel, setelah seluruh ruangan dibersihkan, lalu saya pel dan bereskan kamar anak saya yg juga kadang dipakai istirahat mertua saya.. setelah dibersihkan kamar itu, tiba-tiba saja mamanya tersinggung dan marah2 menggangap saya mengusir mamanya keluar dari rumah saya...hal itu terjadi didepan istri saya dan saya dalam kondisi cape kerja dan juga beresin rumah, maka saya jelaskan klo saya hanya ingin membersihkan rumah tanpa ada maksud apa2... dan seketika itu juga dia membereskan semua barang2nya dan pergi sambil memaki2 saya.... dan istri saya jg menyalahkan saya kenapa saya membersihkan kamar itu?! Pekerjaan tersebut seharusnya bukan saya yg mengerjakan tapi istri yg mengerjakan, kenapa saya disalahkan sekarang? dan sejak itu hubungan saya dengan mertua merenggang dan istri saya setiap hari banyak menghabiskan waktunya di rumah mamanya, pulang kerumah jam 21.00-21.30 bersama anak saya... pernah saya menegur untuk tidak setiap hari pulang malam karna km punya tugas dan kewajiban dirumah dan saya juga butuh waktu untuk berkumpul dengan keluarga (istri dan anak)... tapi hasilnya hanya keributan dan puncaknya ketika kakak ipar saya pinjam mobil, tapi tidak jelas arah dan tujuannya, karna melihat kilometer mobil saya dipakai jauh sekali (pp = 250-300km)... saya curiga jgn2 dipakai untuk mencari dukun togel (karna beberapa x mereka pergi mencari dukun ke daerah banten, serang, bogor atau cirebon), dan memang saya ngk pernah rela barang2 saya dipakai untuk judi atau sejenisnya. Hal tersebut saya tanyakan ke istri saya, dan istri saya bilang tidak tau...mereka pinjam mobil melalui istri saya, pasti mereka bilang kemana mereka pakai mobil tersebut ke istri saya....tidak ada informasi yg jelas dan saya pun marah jika hal tersebut benar2 terjadi, lalu istri saya mengadu ke mamanya dan keributan terjadi lagi...dan saya dituduh macam2 oleh keluarganya padahal jika mengikuti norma sopan santun, seharusnya mereka bilang kemana, buat apa ditutup2i dan disembunyikan informasi itu? dan istri saya dilarang tinggal disana oleh mamanya dan sejak itu anak sementara diti2pkan ke istri saya dan saya tinggal sendiri selama 1-2bln saya stres dgn kondisi seperti ini, karna terkesan kesalahan dan alasan yg dibuat2 untuk memisahkan keluarga saya.... akhirnya saya putuskan untuk merawat anak saya sendiri tanpa bantuan istri dan mamanya...karna mereka selalu mengungkit apa yg sudah mereka perbuat dan lakukan terkesan meminta jasa dan balas budi...seakan2 mereka itu mahluk TUHAN yg sempurna dan sayalah pendosa itu....saya berhenti kerja dan mengurus anak saya seorang diri (karna mama dan saudara saya di tangerang, saya dipluit) sejak bln maret 07 - okt 07 saya jual rmh pindah ke rmh mama saya...karna saya kuatir dengan kondisi phisikologis anak..... Krisis jan'08 karna uang saya menipis dan tak mungkin saya membagi untuk dia karna anak lebih membutuhkan biaya daripada dia yg bekerja tapi tdk pernah membantu saya dalam hal keuangan dan sering x membutuhkan uang 1-2jt mendadak (bayar bandar, utang mama dan cicinya)...saya bilang tolong mengerti uang saya untuk bertahan hidup bukan untuk judi dan senang2..karna dengan keringat dan darah uang itu saya cari dan dapatkan.... begitulah cerita detailnya...karna sungguh sakit hati saya untuk menceritakan kembali semua kisah derita kehidupan rumah tangga saya..... Terima kasih atas dukungan doa dan waktunya.
noelgies's picture

Mungkin awalnya... misunderstanding...

Maaf, kalau komentar saya membuat anda mengingat kembali permasalahan yang pahit. Itu memang tidak mudah untuk dilupakan, saya pikir masalah ini jangan dilupakan tetapi harus dipikirkan rumusan pemecahannya. Kalau anda sudah dapat membuat rumusan pemecahan masalahnya, 60% jalan keluar permasalahan sudah ada dan masalah itu sudah terselesaikan 60% tinggal mengambil tindakan lanjutan.

Dengan banyaknya komentar membuat anda harus bercerita panjang lebar di forum yang terbuka. Mungkin anda merasa kurang enak karena ada hal-hal harusnya bersifat pribadi dan rahasia jadi terpaksa harus dibuka dalam forum, mungkin anda jadi terganggu (maaf).

Anda saat ini memang membutuhkan seorang teman yang dapat diajak bercerita atau minimal yang mau mendengarkan keluhan-keluhan anda. Hubungi sahabat anda yang bisa dipercaya, yang bisa membantu anda untuk selalu berfikir jernih dan bersikap netral.

"Awalnya hanya masalah sepele....lalu saya pel dan bereskan kamar anak saya yg juga kadang dipakai istirahat mertua saya.. setelah dibersihkan kamar itu, tiba-tiba saja mamanya tersinggung dan marah2 menggangap saya mengusir mamanya keluar dari rumah saya...hal itu terjadi didepan istri saya dan saya dalam kondisi cape kerja dan juga beresin rumah..."

Cerita yang anda sampaikan itu merupakan kebenaran (menurut anda di salah satu sisi) tetapi lain halnya dengan keluarga istri anda. Dengan sikap anda membersihkan rumah menurut mereka bukanlah sepatutnya seorang suami (laki-laki) mengerjakan pekerjaan perempuan dan turut campur dalam urusan pekerjaan rumah. Apalagi ada seorang ibu tua (yaitu mertua anda sendiri), mungkin yang sudah tidak lagi memiliki pekerjaan dan berpenghasilan tetap, yang saat itu tersinggung karena merasa harga diri seorang perempuan eksistensinya tidak dihargai. Letak perasaan tidak dihargai itu karena anda tidak memberikan kesempatan pada ibu mertua ataupun istri untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tersebut di salah satu sisi. Dan yang lebih parah anda sudah memasuki "wilayah" privasi mertua yaitu kamar anak yang sering ditempati tidur mertua. Padahal anda tidak memiliki maksud apa-apa, kecuali ingin rumah kelihatan bersih. Artinya, dari tindakan yang anda lakukan bermakna bahwa anda menganggap bahwa orang yang di rumah sudah kurang bisa dipercaya dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Itulah sebabnya mengapa mereka tersinggung. Salah satu cara menghargai orang tua atau seorang perempuan adalah dengan membiarkannya untuk mengerjakan pekerjaannya, selagi ia mau. Biarpun anda kurang pas dengan hasilnya. Bahkan anda sendiri juga terganggu, karena toh itu rumah anda sendiri juga bukan punya mertua.

Ada contoh lain dan ini benar-benar terjadi, seorang ibu merasa tidak dihargai kalau dia tidak dibiarkan bekerja seperti memasak membersihkan rumah, padahal dia sudah tua maksud anak-anak dan menantunya biarlah ibu itu istirahat dan ga usah cape-cape urusi pekerjaan rumah tangga. Tapi apa yang terjadi, dia malah marah-marah dan gak mau datang lagi ke rumah anaknya. Akhirnya, anak dan menantulah yang harus mengalah, walau apapun yang dikerjakan oleh ibu mertua itu banyak yang tidak sesuai dengan keinginan hati anak.

Akhirnya, bukan hanya dengan mertua saja hubungan anda jadi memburuk, dengan istri juga. Rupanya istri anda juga sudah salah dalam menentukan sikap menghindar dari keluarga sendiri dan setiap hari mengahabiskan waktu di rumah mamanya hanya untuk tidak mau ada kontak verbal dengan anda, atau mungkin juga karena ingin meredam permasalahan...
sejak itu hubungan saya dengan mertua merenggang dan istri saya setiap hari banyak menghabiskan waktunya di rumah mamanya, pulang kerumah jam 21.00-21.30 bersama anak saya... pernah saya menegur untuk tidak setiap hari pulang malam karna km punya tugas dan kewajiban dirumah dan saya juga butuh waktu untuk berkumpul dengan keluarga (istri dan anak)... tapi hasilnya hanya keributan.

Bersabarlah dulu tahan sikap anda jangan sampai terpancing emosi baik kepada istri maupun keluarganya..   cobalah tunjukkan kelembutan, kerendahan hati dan kasih untuk istri (karena dia toh mama dari anak anak juga) syukur kalau anda mengambil sikap untuk memaafkan istri anda.

Walaupun, saya tidak setuju dengan konsep pembagian kerja secara seksual, artinya ini harus dikerjakan oleh laki-laki saja sedangkan yang itu harus yang perempuan. Namun nasi sudah menjadi bubur, ini sudah terlanjur meledak menjadi masalah. Menurut saya. Bagaimana kalau saya mengusulkan ke anda kalau anda harus mencoba untuk mengalah dan meminta maaf pada istri anda (barangkali???). Alasan saya setiap permasalahan tidak dapat diselesaikan dengan hati dan pikiran yang sedang kacau, harus ada salah satu yang mau mengalah lepas itu benar atau salah. Harus ada kerelaan dan kerendahan hati untuk meminta maaf, walaupun anda yang benar. Lepas dari itu semua. Kebenaran dicari kalau hati masing-masing sudah bisa saling menerima dan terbuka, dalam suasana hati gembira kala sedang berkumpul dan bercanda, itulah saat untuk mengevaluasi masalah, introspeksi maupun restrospeksi.

Saya berpikiran bahwa masalah ini hanyalah sebagai pelatuk atau pemicu munculnya permasalahan yang lebih besar dan terpendam lama. Apa itu? Mungkin saja, salah satunya sikap anda terhadap mertua dan saudara istri yang secara terang-terangan atau terbuka tidak anda setujui berjudi, mencari dukun togel ataupun meminjam mobil untuk usaha tersebut, atau mungkin ada hal lain.... Hal itu nampak dari sikapnya.....tersinggung, merasa diusir.... 

"tiba-tiba saja mamanya tersinggung dan marah2 menggangap saya mengusir mamanya keluar dari rumah saya...hal itu terjadi didepan istri saya dan saya dalam kondisi cape kerja dan juga beresin rumah, maka saya jelaskan klo saya hanya ingin membersihkan rumah tanpa ada maksud apa2... dan seketika itu juga dia membereskan semua barang2nya dan pergi sambil memaki2 saya.... dan istri saya jg menyalahkan saya kenapa saya membersihkan kamar itu?!"

Apakah memang benar mertua anda ingin memisahkan anda dengan istri dan anak anda,  apa penyebabnya..? Masak hanya karena rumah anda bersihkan lalu mertua tersinggung dan berusaha memisahkan anda dengan istri...? 

Masalah istri anda yang selingkuh,

"saya memergoki mereka pulang kerja bermesraan"

yang perlu anda ketahui apakah sikap istri anda itu didasari atas pikiran sadarnya untuk melakakukan penyelewengan. Kalau memang benar ya sudah itu tergantung pada anda sendiri. Anda bisa saja meloloskan perceraiannya, atau anda harus mengampuninya dan melupakan semuanya dan memulai hidup dengan membuka "lembaran baru". God Bless You. SmileSmileSmile

xaris's picture

To Naga0276

Dear Naga,

Persoalan yang kamu hadapi sekarang mungkin akan lebih baik kalau ada konselor yang membantu. Saya bukan seorang konselor dan tidak bisa memberikan konseling yang baik. Bagaimana kalau kamu mencoba menghubungi LK3I? Teman2 di Sabda mungkin banyak yang kenal dengan mereka dan bisa memberikan informasi cara menghubungi.

Saya coba share pendapat dengan mencoba menempatkan diri di posisi kamu sekarang, tapi tentu tidak memadai. Jadi kalaupun kamu baca pendapat saya, disaring aja baik2, apalagi cuma sebegini yang saya tahu tentang kamu dan situasi kamu.

Kalau saya jadi kamu, mungkin yang akan jadi fokus utama saya sekarang adalah mencari pekerjaan dulu sambil berusaha yang terbaik untuk mengurus anak. Betul2 one day at a time. Mungkin ada banyak sekali pertanyaan yang butuh jawaban. Tapi mungkin akan terlalu menghabiskan energi mencari jawaban2 itu sekarang. Mungkin Tuhan belum mengijinkan hal2 itu dibukakan untuk kamu karena kamu sendiri belum siap menerima jawaban2nya.

Kalau saya jadi kamu, mungkin saya sekarang akan berfokus untuk kembali membaca Alkitab tetapi bukan untuk mencari jawaban2 atas pertanyaan2 saya. Tetapi untuk lebih mengenal Tuhan dengan lebih dalam. Pasti ngga mudah karena dalam situasi terluka boro2 mikirin orang lain = ) Tapi percayalah bahkan di saat inipun Tuhan tengah membawa kamu menuju pemulihan yang sesungguhnya atas segala luka yang kamu alami sekarang ini.

Itulah sebabnya lebih berharga untuk mengenali siapa Dia dan kemudian memilih untuk terus berjalan bersamaNya meskipun saat ini mungkin banyak hal tentang Dia yang kamu  mengerti, tidak menyukakan hati kamu. Kalau kamu anakNya, Dia akan membuktikan bahwa Dia adalah pemilikMu, Dia tidak akan membiarkan kamu.

Itu dulu Naga, pertanyaan tidak akan habis, jawaban tidak tentu melegakan. Tapi jalan bersama Tuhan, mengenal Dia, mengalami pemeliharaanNya, itu yang betul2 berharga. Segala sesuatu ada waktunya. Tapi duka tidak pernah bertahan hingga kekekalan.