Halaman yang luas, beranda dengan kursi besar yang kokoh, yang tiap sore kududuki sambil menggendong bayi mungilku..(klik "disini") ku pandangi sekali lagi untuk terakhir kali…
Kulangkahkan kakiku keluar pagar tinggi yang di bangun suamiku untuk
mencegahku keluar .. kembali ke masa laluku.. ku lewati pintu dengan
mudah karena memang tidak dikunci oleh sang penjaga yang adalah
kekasihku. Kulayangkan pandanganku sekali lagi dan kukatakan selamat
tinggal … kenangan … indah… namun mengikat...
Ketika sampai di kotaku … tubuhku lelah.. ku cari teman lamaku..
kuingin berteduh dan menetap sebentar untuk mencari kekasihku saudagar
dari selatan..(klik "disini")
Ku tunggu kekasihku.. tidak datang juga.. ku tunggu di tikungan biasa
tempat pertemuan bisnis saudagar dari semua penjuru.. kekasihku tidak
kelihatan juga..
Berhari-hari, berbulan-bulan.. hidupku berjalan.. tidak bisa hanya mencari kekasihku..
Kembali ku berikan tubuhku kepada setiap orang yang membutuhkannya..
tidak seperti yang kubayangkan.. tiada nikmat.. tetapi ada rasa
bersalah..
Awalnya banyak yang datang mencariku .. bukan hanya untuk kenikmatan..
lebih karena keingintahuan mereka.. seperti apa Gomer pelacur pemegang
rekor lelang.. (klik "disini") mereka hanya menemui seorang perempuan yang gamang.. perempuan beranak tiga.. perempuan biasa…
Hari-hariku dalam kebebabasan yang kuimpikan.. bebas melakukan apa
saja, bebas bercinta, bebas berpetualang.. adakah aku bahagia ..lepas
bebas..
Ternyata.. kebebasan tanpa batas.. juga bukanlah berarti kebebasan..
justru di dalam keterikatan yang suka rela di situ ada kebebasan..
Waktu-waktu berlalu.. kurindukan saat lalu.. saat aku bersama suamiku
.. berjubah panjang, selalu pergi menemui tuhannya.. namun selalu
kurasakan kasih dan kepercayaannya .. kepercayaan yang pernah kuabaikan
dengan kesenangan sesaat..
Ku berjalan mendekat sinagoge bersembunyi di balik tembok untuk melihat
banyak orang-orang berjubah seperti suamiku.. cukup sudah hanya melihat
jubahnya seakan aku melihatnya..
Malam ketika kusendiri kususuri sepanjang tepi jalan, dingin menyentuh
kulit, hanya jubah tipis yang aku punya, kuhangatkan di api unggun yang
dibuat pengemis tua.. kuingin duduk menghangatkan diriku..
Orang tua itu melihatku.. sambil memasukkan kayu ke api unggun.. dia
bercerita tentang kehidupan.. dia seorang pelukis yang bisa
menggambar.. pekerjaan hina di israel.. karena kepercayaannya tidak
boleh membuat gambar yang menyerupai apapun..
Pak tua bercerita tentang cinta.. cinta tak akan kita temukan dalam
sosok orang lain, melainkan dalam diri kita sendiri ; kita hanya perlu
mambangkitkannya.. katanya.
Namun untuk membangkitkan cinta kita butuh kehadiran orang lain untuk
berbagi setiap perasaan cinta… aku hanya mendengarkannya tidak tahu
benar tidaknya..
Malam itu pak tua memberiku selimutnya.. dia diberi oleh kawannya katanya..
Persetan dengan pelacuran. Kini aku membencinya, pekerjaan yang
menghancurkan jiwaku, yang mengajariku bahwa uang bisa membeli
segalanya dan di jadikan pembenaran untuk apa saja. Tetapi meski
membencinya aku tetap melakukannya.. bagimana melepaskannya aku tidak
tahu..
Malam-malam ketika tidak ada yang membeli tubuhku.. sering aku berjalan
ke tepi jalan tikungan tempat pak Tua membuat api unggun, sambil tetap
mengintip pintu rumah tuhannya bangsa Israel, seandainya bisa melihat
punggung Hosea suamiku..
Hari itu aku di beri pak tua bungkusan berisi selimut dan pakaian tebal
untuk musim dingin.. diberi secara rutin oleh sahabatnya katanya..
Bulan berganti bulan tibalah saat berganti tahun.. seperti biasa
setahun sekali ada lelang budak dan “putri penghibur”.. aku ingat
bertahun-tahun lalu aku pernah memenangkannya.. kembali teringat hosea
pria berjubah yang membeliku dengan harga tertinggi..
Malam ini.. aku lelah … kuingat Hosea suamiku pernah mengajariku
sembahyang kepada tuhannya. Entah mengapa malam itu aku ingin berdoa
kepada allahnya hosea..
Tuhan apabila engkau ada.. biarlah besok ciptaanmu yang hina ini boleh
ada yang menebus di pasar lelang.. aku berjanji akan taat dan mengabdi
sebagai budak kepada pembeliku, aku akan tunduk dan ikut menyembah
allah pembeliku.. aku sudah lelah..
Keesokan hari kudandani wajahku, aku pakai pakaian yang di beri pak Tua.
Lelang sudah dimulai ketika aku datang.. saat tiba giliranku.. aku maju
naik tangga satu persatu tanpa berani mengangkat wajahku.. Gomer..
mulai ditawarkan.. ada yang menawar 5 perak, lalu kudengar suara 6
perak, di tawar kemabli 7.5 perak, suara yang sama lagi tetap menawar
diatasnya menjadi 10 perak, ketika ada yang menawar 11 perak, suara
yang sama untuk ketiga kalinya menawar 15 perak dan 1.5 homer jelai.
Setelah itu tidak ada suara lagi.. kuangkat sedikit kepalaku untuk
melihat siapa suara yang tiha kali menawarku.. hatiku bergejolak,
kakiku gemetar ketika kutahu siapa penawarku siapa penebusku.. dia
adalah pria berjubah bertahun-tahun lalu, pria yang setiap malam
kurindukan tanpa berani berharap..
Ketika ditanya mengapa dia menawarku 15 syikal perak dan 1.5 homer
jelai.. dia menjawab.. itulah semua uang yang ku punya saat ini..
mendengar jawabanya hatiku kembali bergetar.. ku ditebus dengan seluruh
uang yang dia punya..
Dia membawaku pulang, memberi baju tebal untuk melindungi dari
dinginnya musim. Malam itu dia berkata kepadaku : “Aku mencintaimu
namun aku tidak akan bersetubuh denganmu, sampai tiba waktunya nanti”
kudengarkan apa yang dikatanya, seperti janjiku dalam doaku ketika aku
minta kepada tuhannya hosea minta seorang penebus yang membeliku dan
aku akan taat seperti budak kepada tuannya.
Ku mulai hari-hariku dengan bersama-sama suamiku, dia mengajari-ku
berdoa, dia mengenalkan kepadaku kepada seorang nenek tua yang adalah
tabib yang tinggal dekat rumah ibadah hosea.
Bersama nenek aku belajar tentang hidup. Nenek mengajariku melakukan
segala sesuatu dengan seluruh jiwa dan rasa, seperti ketika aku melihat
nenek membersihkan tempat obat dan daun2 ramuan dengan hati-hati.
Setiap sore nenek membersihkan dengan kain sambil berbicara seolah
setiap benda sahabatnya. Nenek juga mengajari memilih domba dan burung
merpati untuk korban, meski dulu aku pernah belajar, tetapi dengan
nenek berbeda, dia bilang jangan hanya pilih berdasarkan syarat umur,
tetapi juga perhatikan setiap sayapnya, matanya, seluruh badannya
apakah dia sehat dan sempurna untuk dipersembahkan demikian juga ketika
memilih domba, perhatikan kesempurnaan phisiknya sehingga kamu
mempersembahkan bukan hanya sesuai peraturan tetapi kamu memberikan
yang terbaik dan sempurna untuk tuhan allahmu. Lakukanlah segala
sesuatu dengan segenap akal, sgenap hti dan segenap jiwamu seperti
untuk tuhan allahmu, katanya. Demikian juga ketika kamu mendidik
anak-anakmu..
Di rumah aku melakukan pekerjaan sehari-hari seperti yang nenek
ajarkan, terkadang suamiku juga bersamaku memberitahu cara-cara dan
adapt istiadat keluarga yang harus aku lakukan sebagai istri. Dia
sangat baik, kasihnya nyata setiap harinya.. tetapi suamiku tidak
pernah sekalipun berusaha untuk menjamahku.. Dia diam..
Ketika aku rindu kepada suamiku.. tidak berani aku ungkapkan .. termasuk dengan isyarat tubuhpun..
Nenek mengetahui kegundahanku.. kuceritakan isi hatiku kepadanya..
Setiap persatuan tubuh tidak bisa dilakukan kapan saja, masing2 punya
waktu dan siklus biologis dalam diri kita, untuk mewujudkan cinta dan
persatuan tubuh yang sempurna harus menunjukan waktu yang sama. Jika
kalian menjalani hidup ini dengan rasa syukur dan total maka kalian
akan merasa nyaman sepanjang waktu dan tidak tergantung pada persatuan
tubuh. Dan ketika pada waktunya kalian benar-benar bercinta, maka
perbuatan itu adalah ungkapan gejolak cinta yang meluap secara alamiah
menyambut panggilan alam…Tunggulah pada waktunya semuanya akan indah..
kata nenek.
Aku pulang dan menjalani hari-hariku, mendidik anak-anak-ku sehingga
mereka semua mempunyai hati yang tulus dan taat seperti bapaknya, dan
mempunyai kecerdasan seperti ibunya.. ku ingin mereka dikenal dan
dipanggil Ruhama untuk anakku perempuan dan Ami untuk anakku lelaki..
Suatu hari ketika sore kami duduk diteras, memandang halaman yang luas,
dan awan hitam tanda akan hujan.. suamiku mendekatiku, melihatku tidak
seperti biasanya, dia bilang sore ini aku nampak berbeda..
Dia bercerita sahabat-sahabatnya, ada sahabat tua yang selalu bercerita
kepadanya tentang cinta, sahabat dekat yang kurang beruntung sehingga
dia menjadi pengemis yang selalu tidur di jalan di tikungan dekat
tempat suamiku beribadah.. setiap menjelang musim dingin seringkali
suamiku memberi selimut dan pakaian.. aku teringat pak Tua sahabatku
juga, yang memberkan selimut dan baju hangat kepadaku..
Aku cerita kepada suamiku.. dia bilang dia tahu bahwa aku sahabat pak
Tua dan suamiku tahu kebutuhanku sehingga dia juga yang mengirim
selimut dan baju kepada pak tua untukku.. hatiku terharu ketika
mengetahui cinta suamiku kepadaku tak pernah padam.. dia memperhatikan
aku padahal kusangka dia diam…
Hari ini suamiku memeluk-ku.. ada damai dan nyaman.. ketika kutanyakan
kenapa selama ini suamiku diam.. dia menjawab : aku mencintaimu,
menebusmu dan mengharapkan hal sama denganmu.. aku menunggu engkau
mencintaiku dengan rela..
Aku jawab : “aku belajar mengasihinya, dan sekarang aku mengasihi dan
mencintainya, ajarilah aku menjalani hidup tetap di dalam cinta.. “
Sekarang .. saat ini..di dalam cinta dan atas nama cinta, juga dalam
waktu siklus cinta yang sama.. saat ini kami berpelukan bahagia..
benar kata nenek bila tiba waktunya semuanya sangat indah..
Aku ucapkan terimakasih kepada tuhan allah suamiku.. atas kebahagiaan sejati yang kudapat hari ini..
The end
Ketika Tuhan diam .. sebenarnya Tuhan tidak diam
Menunggu kita berbalik, menunggu kita belajar mengasihiNya..
Tuhan tidak diam, Dia mengasihi kita mengetahui setiap kebutuhan dan memberi keperluan kita ..
Tuhan hanya memberi waktu… untuk kita mencari Dia.. dengan caraNya..
Ketika Tuhan “diam”.. tetap carilah Dia
Ketika Tuhan “diam”.. tetaplah gigih melakukan kehendakNya
Ketika Tuhan “diam”.. janganlah kita diam..
| Yes. 59:2 | tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. |
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika Tuhan Diam.. ini adalah tulisanku terakhir tentang Gomer.. yang
diilhami dari kitab Hosea.. dari sudut pandang Gomer (Joli)
Seri I "Aku seorang pelacur"
Seri II "Aku ingin selingkuh"
Seri III "Cinta adalah Perbudakan"
Seri IV "Ketika Tuhan diam"

>
>
>
>
>
>
>
>
sabdaspace.org |
Happy ending story
Joli menulis:
Ketika Tuhan “diam”.. tetap carilah Dia
Ketika Tuhan “diam”.. tetaplah gigih melakukan kehendakNya
Ketika Tuhan “diam”.. janganlah kita diam..
Deta komentar,
Sebuah akhir cerita yang indah, seperti yang Allah kehendaki! Tepat sekali Joli, apa yang Joli katakan diatas itulah yang perlu dilakukan manusia. Bila kita sesat, kemudian berbalik kepadaNya, Dia tidak akan menolak kita. Sama seperti Bapa selalu menantikan anaknya yang hilang. Bapa sabar menanti anak yang hilang hingga muak dengan dosa-dosanya sendiri! Bapa akan selalu menyambut anaknya yang hilang dengan sukacita!
Demikianlah Allah “membiarkan” manusia mencari jalannya sendiri. Jangan menyalah-kan Allah terhadap keadaan diri sendiri. Bukannya Allah tidak mau menolong, tapi Allah menunggu niat dari diri sendiri untuk mau berubah, Allah menunggu pertobatan sejati!
Sayangnya tidak semua cerita berakhir indah, banyak anak yang menikmati dosa-dosanya sampai mati, dan banyak anak yang lain lagi tidak percaya bahwa bapanya akan menerima dia kembali! Banyak anak yang hilang tidak mau merendahkan diri dihadapan Bapa yang di Sorga. Sungguh menyedihkan!
@Deta.. takut tetapi tidak takut
Deta:
Sayangnya tidak semua cerita berakhir indah, banyak anak yang menikmati
dosa-dosanya sampai mati, dan banyak anak yang lain lagi tidak percaya
bahwa bapanya akan menerima dia kembali! Banyak anak yang hilang tidak
mau merendahkan diri dihadapan Bapa yang di Sorga. Sungguh menyedihkan!
------------------------------------------------------------------------------------------------
Terkadang dan seringkali aku juga takut datang kepadaNya ketika aku berdosa, tidak berani menyapanya, tidak berani memandangNya.. tidak berani berdoa.. Justru ketika Tuhan diam seringkali aku juga diam..
Aku mempunyai patung tuhan yesus yang sengaja aku pesan dari teman ku seorang pemahat dari lereng gunung merapi.. aku pesan patung yesus tanpa muka.. ketika dia tanya kenapa.. pertama karena yesus bisa dalam muka siapa saja (ada yesus di dalam orang2 yang kutemui setiap harinya) dan alasan kedua adalah.. supaya aku berani nekad datang kepadanya.. ketika aku tidak berani melihat wajahnya karena aku berdosa..
Aku seringkali mengingatkan diriku sendiri untuk takut berbuat dosa tetapi tidak takut datang kepada Tuhan untuk mohon pengampunanNya