Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

KPI

victorc's picture
Teks: 2 Raj. 12:11-15
    11  Mereka menyerahkan jumlah uang yang ditentukan ke tangan para pekerja yang diangkat mengawasi rumah TUHAN, dan mereka ini membayarkannya kepada tukang-tukang kayu, kepada tukang-tukang bangunan yang mengerjakan rumah TUHAN itu,  
    12  kepada tukang-tukang tembok dan kepada tukang-tukang pemahat batu; mereka memakainya juga bagi pembelian kayu dan batu pahat untuk memperbaiki rumah TUHAN dan bagi segala pengeluaran untuk memperbaiki rumah itu.  
    13  Tetapi untuk rumah TUHAN tidaklah dibuat pasu perak, pisau, bokor penyiraman, nafiri, atau sesuatu perkakas emas dan perak dari uang yang telah dibawa ke dalam rumah TUHAN itu.  
    14  Melainkan mereka menyerahkannya kepada para pekerja, supaya dipakai memperbaiki rumah TUHAN.  
    15  Mereka kemudian tidak mengadakan perhitungan dengan orang-orang yang diserahi uang itu untuk memberikannya kepada tukang-tukang, sebab mereka bekerja dengan jujur.  

Shalom, selamat pagi saudaraku. Kali ini izinkanlah saya menulis sedikit tentang hubungan antara etika Kristen dan manajemen perusahaan. 

Studi kasus
Memang saya belum ada pengalaman mengelola ribuan orang dalam dunia bisnis, namun mungkin sedikit pengalaman dalam dunia konsultan dapat berguna. Pernah suatu kali saya ikut dalam konsultan manajemen yang direkrut untuk memperbaiki kinerja suatu perusahaan tekstil besar. Posisi saya waktuu itu sebagai programmer, namun entah sengaja atau tidak saya sering juga bertukar pikiran dengan tim lain yang membenahi keuangan maupun produksi.
Dari diskusi kami, ada sinyalemen tentang rendahnya produksi perusahaan tersebut adalah karena beberapa faktor: 
a. mesin-mesin yang sudah usang
b. morale karyawan yang rendah
c. Administrasi keuangan yang kurang tertib dll
Memang manajemen telah berusaha untuk memperbaiki proses bisnis melalui penerapan ERP (enterprise resource planning), namun setelah berjalan 1-2 tahun ternyata situasi tidak kunjung membaik.

Etika bisnis
Sejauh pengamatan saya, banyak perusahaan maupun organisasi publik lainnya yang mengawasi karyawan dengan ketat berdasarkan sekumpulan kaidah dan standar kinerja, di antaranya yang disebut dengan indeks kinerja kunci (key performance indicator: KPI).* Ditambah lagi dengan beragam aturan yang berhubungan dengan etika bisnis. (1)(2);(3)
Namun, apakah semua langkah manajemen modern ini berdampak positif terhadap produktivitas dan morale karyawan?
Memang menerapkan etika bisnis yang baik itu wajib dan perlu, namun apakah itu dengan sendirinya akan meningkatkan kinerja perusahaan? (1) Demikian pula menerapkan ERP mungkin akan memudahkan manajemen untuk memantau perusahaan secara menyeluruh, sehingga akan memudahkan pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang andal. Namun itu juga bukan jaminan akan meningkatnya produktivitas karyawan.
Lebih lanjut, mematok semua karyawan dengan target kinerja tertentu, dan mengancam akan menghukum karyawan yang berkinerja rendah, justru akan menurunkan morale karyawan dan membuat mereka tidak betah.

Melampaui etika bisnis
John Maxwell pernah menulis buku yang menarik berjudul : There is no such thing as business ethics. (1) Intinya ia menyarankan kepada para pemimpin untuk menerapkan peraturan Emas (the Golden Rule) yang dberikan Yesus, ketimbang mewajibkan seperangkat etika bisnis...(3)(4(5)
Dalam konteks yang mirip, Harry Paul dan Ross Reck menulis sebuah novel bisnis yang sangat inspiratif tentang bagaimana perusahaan dapat meningkatkan morale dan 
produktivitas karyawan, bukan dengan cara memberlakukan KPI secara ketat, melainkan justru dengan belajar lebih peduli kepada karyawan. Intinya, bukan memotivasi dengan ketakutan, melainkan dengan kepercayaan.(2)
Mereka mengajukan argumen antara lain sbb berikut: 
a. Mengatur karyawan secara tegas berdasarkan kinerja memberikan pesan-pesan yang salah sebagai berikut:
1. Tingkat kinerja dan keuntungan lebih penting daripada karyawan itu sendiri
2. Manajer tidak memercayai karyawan
3. Karyawan dapat dikorbankan
4. Manajer tidak peduli dengan kesejahteraan karyawan
Pesan-pesan ini tidak hanya memotivasi karyawan menjadi sangat tidak produktif, tetapi juga memberikan dorongan yang kuat bagi mereka yang berkinerja lebih baik untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Sebaliknya karyawan yang puas :
1. Lebih banyak tersenyum
2. Lebih banyak bergembira
3. Bekerja lebih keras
4. Memiliki kerja sama lebih baik dengan rekan-rekan sekerjanya
5. Menyukai atasan mereka
Kesimpulan: karyawan yang puas adalah karyawan yang produktif.
(c) Riset menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang mengutamakan karyawan mereka juga mendapatkan keuntungan-keuntungan tambahan berikut.
Karyawan mereka:
- bekerja lebih keras
- memiliki kinerja dengan kualitas lebih tinggi
- lebih banyak mengambil inisiatif
- lebih mampu bertanggung jawab
- tidak takut perubahan
- kerjasama antar rekan kerja lebih baik.
Selanjutnya, ada 4   "Be" untuk memotivasi karyawan:
- be real
- be appreciative
- be interested
- be nice

Interpretasi teks 2 Raj. 12:11-15
Wawasan manajemen yang diusulkan oleh Harry Paul dan Ross Reck di atas, tampaknya juga telah diterapkan bahkan dalam pengelolaan Bait Suci. Dalam teks 2 Raja2 dikisahkan bahwa kewenangan untuk memperbaiki kerusakan dalam gedung Bait Suci dipindahkan dari imam kepada para pekerja. Kepada mereka dipercayakan urusan sehari-hari merawat Bait Suci, termasuk memilih dan mengupah tukang-tukang. Artinya, mereka bekerja dan dimotivasi atas dasar kepercayaan. Dan hasilnya, seluruh gedung terpelihara dengan baik.

Penutup
Demikian artikel ringkas kiranya berguna dalam meningkatkan produktivitas dan kinerja perusahaan Anda, tanpa harus menjalankan manajemen dengan ketakutan. Btw, jika Anda belum yakin bahwa ketakutan tidak akan menghasilkan produksi dan energi yang diharapkan,cobalah lihat film Monster Inc. ;-)

Versi 1.0: 24 feb. 2017, pk. 9:53
VC

*Note: trims buat Amalia atas koreksinya terhadap definisi KPI.

Referensi:
(1) John C. Maxwell. There is no such thing as Business Ethics. Warner books, 2003.
(2) Harry Paul & Ross Reck. Instant Turnaround. New York:William Morrow, 2009.
(3) Komite Nasional Kebijakan Governance. Pedoman etika bisnis perusahaan. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2010
(4) Norman Bowie & Meg Schneider. Business ethics for Dummies. Indianapolis: Wesley Publ. inc, 2011
(5) Scott Rae & Kenman Wong. Beyond integrity: a judeo-christian approach to business ethics.  Zondervam, 1996
__________________

Publikasi buku yang dapat dipesan secara online:
1. Sangkakala Sudah Ditiup: Apa yang akan Anda lakukan? (Sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
3. NEW! Teologi Yesus Sobat kita: 10 artikel dialog antara teologi dan sains (Juni 2017). URL: http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-ar...
4. 5 books published by Germany publisher: https://www.morebooks.de/gb/search?utf8=?&q=Christianto

victorc's picture

komentar dari Amalia, mantan CEO Havas Worldwide Jkt

Sebenarnya yang dilakukan bukan melampaui bisnis standard sih, karena memberikan rasa aman dan nyaman pada karyawan adalah standard karena ada UU.
Pendekatan menakut-nakuti karyawan adalah style atau culture. Baik perusahaan kreatif dan nonkreatif menerapkan KPI dan target. Bahkan etika bisnisnya sama juga. Hanya culture dan style yang berbeda.
Sebagai contoh:
1. Coca-cola menerapkan 1minggu sekali karyawannya boleh bekerja dari rumah, karena budaya mereka adalah Happiness, dan happiness bagi mereka adalah berkumpul bersama keluarga. Apakah ada KPI dan target, wow...tinggi banget target dan KPI-nya.
2. Citibank: style dan culturenya adalah Competition, jadi di situ persaingan yang dahsyat dibina. Tidak boleh ada pertemanan karena semua berdasarkan produktivitas dan kinerja. Bagaimana KPI-nya...yaaa sama tinggilah dengan Coca-cola.
Jadi keputusan strategis dari CEO, culture dan style perusahaannya mau dibawa ke mana? Happiness atau Competition? Kalau happiness maka semua hal harus dilakukan dengan cara-cara yang fun..misalnya dari hal yang sederhana saja, meja kursinya berwarna, ada riang bermain atau beristirahat.
Note: Google turun ke peringkat no. 2 dikalahkan oleh 3M sebagai the most wanted company (perusahaan paling diminati) oleh para milenial. Padahal kurang apa fun kerja di Google, fisik kantornya keren banget. Kerjaannya pun fun banget. Tapi kalah sama 3M yang notabene bukan perusahaan kreatif.
__________________

Publikasi buku yang dapat dipesan secara online:
1. Sangkakala Sudah Ditiup: Apa yang akan Anda lakukan? (Sept. 2016). Dapat dipesan melalui: http://nulisbuku.com/books/view_book/9035/sangkakala-sudah-ditiup
2. Menggugat Eisenman (Nov. 2016). Dapat dipesan melalui email: admin@nulisbuku.com
3. NEW! Teologi Yesus Sobat kita: 10 artikel dialog antara teologi dan sains (Juni 2017). URL: http://nulisbuku.com/books/view_book/9661/teologi-yesus-sobat-kita-10-ar...
4. 5 books published by Germany publisher: https://www.morebooks.de/gb/search?utf8=?&q=Christianto