Bilamana diamati dari cerita di blog rekan @Purnomo, sebenarnya apa yang disampaikan adalah fenomena gunung es dimana jika pola penyebaran injil yg sekedar "kristenisasi" tidak diubah, akan tercetap para hamba Tuhan yg menjadi pendeta sebagai ORANG UPAHAN, bukan sebagai Gembala, atau bahkan Rasul atau Nabi
Namun hal ini tidak lepas dari tata kelola organisasi gereja tersebut, bilamana gereja tersebut adalah gereja "cabang" tentu pengelolaan baik secara finansialpun ikut aturan gereja induk, apalagi bilamana pendeta tersebut menjalani "tour of duty" sebagai profesi belaka, tentu penghidupan keseharian juga menjadi persoalan harian yg utama dan memusingkan bagi pendeta tersebut
Saya melihat polanya baru injil keselamatan, karna ketika ada suatu komunitas kristen mendirikan gereja, (bukan melebur pada gereja lokal lainnya) biasanya dimensi yang dijalani hanya injil keselamatan, artinya fokus hanya kepada keselamatan jiwa namun belum mengupayakan suatu pola injil kerajaan.
Seringkalah pola injil kerajaan diartikan orang kaum tradisional (termasuk Injili) adalah teologi kemakmuran, dimana seorang hamba Tuhan yg menyandang status pendeta diharamkan untuk memiliki usaha atau profesi yang menghasilkan pendapatan tetap, padahal akan lebih bermartabat apabila seorang pendeta justru memenuhi kebutuhannya sendiri seperti Paulus pernah lakukan.
Memang banyak pengusaha yg meninggalkan usahanya kemudian beralih jadi pendeta full time, tapi sejatinya jika ia bisa tetap jadi pengusaha (dimana punya fleksibel time) dan sekaligus pendeta itu justru merupakan nilai tambah bagi dunia market place. Dengan menjadi pengusaha, apakah pendeta tersebut bisa mengaplikasikan keseluruhan firman tuhan atau bahkan ladang pekerjaan yg dikelolanya bisa sekaligus jadi ladang pemuridan dan penginjilan.
Tidak salah juga pendeta di desa2 punya lahan untuk berkebun, dan tidak salah juga pendeta bekerja mencangkul kebunnya, atau ada pendeta yg jago buat website atau jualan online, dan pendeta bisa merekrut para jemaat atau meminta partisipasi jemaat untuk membantu usahanya
Seperti yang saya lakukan saat ini, ketika gembala yang sekaligus bapa rohani saya ingin membuat usaha makanan kecil, saya mengambil bagian dalam perencanaan produksi dan perencanaan keuangan serta SDM, sekalgus sebagai QC, istri saya mengambil peran di finance & accounting, serta pajak, teman saya mengambil peran di sales, kemudian teman saya yg satu lagi mengambil peran di marketing serta perijinan, teman saya yg lainnya lagi mengambil peran di logistik dan warehouse, walau kami tetap bekerja ditempat kerja masing2, namun disela waktu luang kami, kami bekerja untuk mensupport gembala kami
Esensi dari pendeta sekaligus menjadi pengusaha adalah membawa dampak konkrit kepada lingkungan, bagaimana para pendeta tidak hanya terampil membawakan firman Tuhan namun juga terampil membangun suatu daerah dengan usahanya dengan pola kristiani yang berdasarkan firman Tuhan
Sehingga ketika jemaat yg memang bergerak di bidan marketplace membutuhkan solusi atau impartasi, setidaknya pendeta yg juga adalah pelaku, memiliki perspektif yang lebih jernih dan lebih tajam tentang bagaimana memberikan dampak serta membangun pola entreprenuership dilingkungan jemaatnya