PB: Where have you been?
pb: Here and there, wherever you are :)
PB: Apa menurutmu tentang alkitab?
pb: Baik-baik saja.
PB: Innerancy?
pb: Tergantung, manuskrip atau terjemahan?
PB: isinya?
pb: Mungkin innerancy. Tapi bukankah kata-kata setan, Yudas, dan banyak orang juga terdapat di situ?
PB: Betul. Mungkin maksud kamu kalo bicara bahwa alkitab adalah firman Tuhan?
pb: Gak salah kalo alkitab bahasa Inggris menuliskan kata-kata Yesus dalam tinta merah, sementara kata-kata yang lain dalam tinta hitam
PB: Mungkin untuk memudahkan soal "the bible interprets itself"?
pb: Tidak mungkin. Para teolog mempelajari budaya, sejarah, arkeologi bahkan geologi untuk membantu menerjemahkan alkitab. The bible interprets itself? Gak usah sekolah, belajar sejarah, arkeologi, geologi, budaya, dan lain-lain. Cukup membaca alkitab kalau mau interpret alkitab. Jadi kesimpulannya: Tidak mungkin.
PB: Tapi bukankah semua itu diinspirasikan oleh Roh Kudus?
pb: Kata guru sekolah minggu dan pendeta. Tapi dari mana kamu tahu?
PB: Semua di dalamnya harmonis.
pb: Hahaha.
PB: Kamu kenal yang menyusun alkitab, para anggota septuaginta itu?
pb: Tidak
PB: Dari mana kamu tahu kalau mereka tidak diinspirasikan Roh Kudus untuk mensortir mana surat atau kitab yang akan masuk ke dalam alkitab, dan mana yang tidak layak masuk ke dalam alkitab?
pb: Dari mana kamu tau kalau mereka memang benar diinspirasikan Roh Kudus, bukan hanya para Rasul saja yang diinspirasikan? Coba tanyakan kepada gereja katolik, they seem to be proud of the septuagints.
PB: Dan kamu akan menanyakan kepada protestan, kenapa Martin Luther sempat berpendapat bahwa kitab Yakobus tidak layak masuk alkitab?
pb: Sempat katamu?
PB: Martin Luther bukan Paus. He could be wrong sometimes.
pb: Dan dari mana kamu tahu Martin Luther salah soal kitab Yakobus, dan benar soal 99 thesis?
PB: Dari yang tertulis. Interested in talking free will and predestination?
pb: Gak ah. Lagu lama. Nothing new under the sun kalau kata Salomo.
PB: Bukankah yang baru belum tentu benar, dan yang lama belum tentu bukan kebenaran?
pb: Hanya membosankan. Itu saja.
PB: Berbahasa roh?
pb: Tentu saja. Kenapa tidak?
PB: Bisakah berbahasa roh sambil berpikiran kotor?
pb: Bisa saja. Kenapa tidak?
PB: Bisakah orang dipenuhi roh adalah orang yang munafik?
pb: Lihat Petrus. Bukankah dia seorang yang dipenuhi Roh, dia ditegur Paulus karena menurutnya Petrus bersalah.
PB: Tapi bahasa roh sudah berhenti. Karena kanonisasi alkitab.
pb: Salah satu lagu lama lagi. Itu kan kata mereka, sebagai justifikasi bahwa mereka tidak berbahasa roh.
PB: Ada ayatnya mengenai itu.
pb: Banyak ayat karet di alkitab. Bukan saja ayat di Undang Undang atau KUHP. Ayat-ayat alkitab pun bisa jadi ayat karet. Kata-kata Yesus pun bisa ditarik kemana-mana.
PB: Yesus kasar?
pb: Yesus kompleks, tepatnya.
PB: Pisau tidak bersalah. Yang bersalah adalah yang memakai pisau untuk membunuh. Pisau tidak pernah dijatuhi hukuman atau dipenjara.
pb: Tepat. Kamu mau memaki? Tinggal ambil contoh bahwa Yesus pernah memaki. Justifikasikan tindakan kamu dengan Yesus. Kamu mau kasar? Tinggal ambil cerita bahwa Yesus pernah obrak abrik dagangan orang di depan bait Allah. Kamu mau berkata bahwa orang yang memaki adalah non-kristen, tinggal ambil ayat dari tulisan Paulus atau Timotius bahwa jemaat Kristus diperintahkan untuk lemah lembut dalam bertindak atau berkata-kata.
PB: Jadi mesti bagaimana?
pb: Lebih baik memaki tapi jujur, ataukah berkata lembut tapi dalamnya busuk?
PB: Tidak bisakah berkata lembut, dan juga didalamnya tetap tulus?
pb: Seperti itu membosankan. Mungkin malah mengerikan.
PB: Membosankan erat kaitannya dengan subyektifitas. Begitu juga memilih ayat-ayat mana yang akan dipakai. Mau bilang Yesus sebagai manusia, ada ayatnya. Mau pilih free will, ada ayatnya. Mau predestinasi, adaayatnya. Mau bilang Tuhan adalah penuh kasih, ada ayatnya. Mau bilang Tuhan pilih kasih, ayatnya juga banyak. Tinggal pilih. Seribu tiga, seribu tiga.
pb: Iman juga subyektif. Apa bedanya dengan pemilihan ayat-ayat alkitab?
PB: Suatu kasus: Satu ayat alkitab kontra dengan puluhan ayat alkitab yang lain. Mana yang harus digunakan?
pb: Lihat konteksnya
PB: Hahaha. Subyektif itu namanya.
pb: Bisa jadi. Apakah satu ayat bisa gugur karena ada puluhan ayat alkitab yang terlihat kontra, ataukah eksistensi satu ayat bisa menahan lajunya puluhan ayat lain tersebut?
PB: Rethorical questions. Menyebalkan.
pb: Bagaimana menurut kamu, apakah Tuhan menyebalkan?
PB: Tergantung dari mana melihatnya. Agnostic tidak melihat konsep itu.
pb: Agnostic memang tidak peduli. Orang tidak akan peduli dengan sesuatu yang dianggap tidak mungkin.
PB: Belum tentu. Kristen menganggap tetangga sebelah itu tidak mungkin tapi seringkali kita terganggu dengan ketidakmungkinan yang dipercaya tetangga sebelah. Begitu juga sebaliknya. Tetangga sebelah tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, tapi ketidakmungkinan yang mereka percaya itu kadang mengganggu mereka, sampai mereka mau berargumen dengan kita.
pb: Bagaimana dengan atheist?
PB: Tergantung definisi kamu mengenai atheist. Apakah atheist; seseorang yang tidak percaya eksistensi Tuhan, ataukah seseorang yang percaya bahwa Tuhan tidak exist?
pb: Bedanya memang tipis, setipis G-string
PB: Apakah Tuhan melihat diri-Nya sebagai pihak yang menyebalkan?
pb: Bisa jadi.
PB: Apakah Tuhan mencintai diri-Nya?
pb: Most likely.
PB: Pernah dengar humor "Jesus loves you but ..", kan?
pb: Hahaha. Sudah lama itu. Sekarang sudah banyak beredar di internet. Setiap mendengarnya, saya tertawa. Mirip seperti pengakuan iman di gereja.
PB: Jesus loves you, but he has a messiah complex. Jesus loves you, but he is under contract. Jesus loves you, but it's complicated. Jesus loves you, but he is high maintenance. Jesus loves you but he's missing a Y chromosome. Jesus loves you but he's probably a little too old for you, Jesus loves you but you're a guy. Jesus loves you but he loves other people, too. Jesus loves you so hurry up while supplies last, and so on and so on.
pb: Yang paling saya suka dari joke itu: Jesus loves you but I'm his favorite.
PB: Saya rasa itu yang mendasari solipsism.
pb: Bisa jadi. Solipsism gak kenal pendapat lain. Semuanya false, cuma dia yang benar.
PB: Mungkinkah Yusuf menderita solipsism syndrome sewaktu dia bermimpi disembah oleh saudara-saudara dan orang tuanya?
pb: Tidak mungkin. Sepertinya sindrom solipsism bukan seperti itu. Lagipula cerita di dalam alkitab menyajikan bahwa pengalaman mimpi dia dilalui dengan tulus dan jujur.
PB: Tergantung dari mana cerita tersebut dipandang.
pb: The beauty is in the eyes of beholder.
PB: Duluan mana, ayam atau telur?
pb: Tergantung, apakah seorang scientist ataukah seorang agamais. Kalau scientist, kemungkinan akan menjawab telur. Kalau seorang agamais, akan menjawab ayam.
PB: Kenapa mesti dikelompokkan? Bagaimana dengan scientist yang reiligius, atau seorang religius yang science expert, bagaimana mereka akan menjawab?
pb: Itu gunanya sepatu. Makanya kita tidak seharusnya cuma punya satu pasang sepatu, supaya bisa mencoba beberapa jenis sepatu.
PB: Saya sedikitnya punya 2 jenis sepatu.
pb: Mungkin karena kamu kaya.
PB: Itu karena kamu melihat jumlahnya, jadi berasumsi bahwa saya kaya. Bagaimana dengan alternatif lain, bahwa sepasang sepatu saya yang berumur 10 tahun lebih, tidak pernah saya buang. Begitu juga sepasang sepatu saya yang lain yang berumur 5 tahun. Jadi ketika kemarin saya membeli sepatu baru, saya sekarang punya 3 pasang sepatu. Apakah saya kaya? Tidak.
pb: Don't judge the book by its cover. Don't judge a man by his shoes.
PB: Tergantung. Terkadang saya melihat buku dari covernya. Pemilihan judul dan sampul merupakan faktor penting dalam menilai isi buku.
pb: Saya lapar
PB: Saya juga.
pb: Dwitunggal atau tritunggal?
PB: Bukan karena kita berdua bercakap-cakap, itu berarti cuma ada kita berdua. Bisa jadi ada pihak ketiga. Keberadaan pihak ketiga harus diperhitungkan walaupun hanya mendengar dan tidak berkata-kata.
pb: Argghh. Saya semakin lapar.