Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

KUTUKAN DARI SANGHYANG TUNGGAL

Tante Paku's picture

   
KAHYANGAN Jonggringsaloka sepeninggal Sanghyang Tunggal yang pergi jauh, Sanghyang Jagadnata menggantikannya bertahta di Suralaya dan namanya berubah menjadi Hyang Pramesthi.

     Sebagai wayang yang masih muda, memerintah kraton megah Jonggringsaloka jika tidak mempunyai background kuat pastilah runtuh. Untunglah Hyang Pramesthi mampu menelusup dengan luwes di balik megahnya undang-undang dan sederet perekat kuat lainnya. Namanya gejolak muda, pengalaman belum banyak maka sering terjadi emosi menguasai dalam mengambil keputusan daripada akal sehat.

     Banyak kebijakan-kebijakan yang dilakukan Hyang Pramesthi hanya mampu menyentuh di sektor RETORIKA saja. Akibatnya banyak warga COMPLAIN  ke DPR-nya Jonggringsaloka. Hyang Pramesthi mengetahui gejolak itu, tapi ia biarkan saja, sebagai penguasa ya tidak etis kalau menerima mereka. Biar para wakilnya saja yang mengatasi. Ia tahunya beres, tak perduli laporannya ABS. Bukankah laporan-laporan menyenangkan memang sejatinya menyenangkan?

     "Duhai Manikmaya, janganlah you ceroboh dalam menjalankan tugas!"  wayang yang berani menegur Hyang Pramesthi ini kalau bukan penasihat Suralaya yang istimewa jelas tidak mungkin, mereka ini Ismaya dan Togog. Dua mantan wayang cakep yang telah jadi korban operasi plastik yang berakibat nggak karuan bentuknya.

     "Sanghyang Tunggal pasti kecewa melihat sikapmu itu," lanjut Togog mengingatkan.

     "KEKUASAAN ITU TIPIS, KESOMBONGAN ITU SINIS, kalau you menginginkan pembangunan yang PROGRESIF janganlah mewayangkan wayang. KESEJAHTERAAN PASTI ADA PENGORBANAN. Pembangunan gaya POLITIS-PSIKOLOGIS merupakan INDOKTRINASI dan FETAKOMPLI tidak akan menyelesaikan masalah untuk menuju JER BASUKI MAWA BEA," sambung Ismaya bijak.

     "Ingsung tidak menginginkan segala macam teori 1001 tafsir mimpi. Ingsun punya kuasa. Ente Togog dan Ismaya, jangan coba-coba MEROBAH TRADISI YANG MEMPUNYAI NILAI HISTORIS CUKUP PANJANG. Bahasa MONOARTIKULASI  di sini lebih keren dan punya wibawa tinggi," jawab Hyang Pramesthi angkuh.

     "Apakah you tidak mau mengembangkan FENOMENA PEMBANGUNAN? Dengan bahasa STEREOARTIKULASI bukankah lebih enak di telinga? Segala pembangunan spektakuler di Suralaya ini memang perlu, barangkali hanya menambah citra Suralaya sebagai wilayah yang tidak sekedar berkembang tetapi maju," ujar Togog mengurai ANTI THESIS.

     "Ingat Manikmaya, di Suralaya masalah tanah bisa ,menjadi masalah berdarah, tinggal tunggu DEADLINE saja!" sambung Ismaya.

     "Aku tidak mau dengar! Program yang sudah dicanangkan harus berjalan, aku tidak mau jadi plin-plan dalam baju kekuasaan ini!" berkata begitu Hyang Pramesthi meninggalkan dua tokoh penasihatnya itu.

 


Keangkuhan Hyang Pramesthi membawa dampak juga akhirnya. Para tokoh oposisi, seperti Kalamercu, terlihat paling vokal MEMBENTUK OPINI,yang mampu menjerat wayan-wayang muda hingga terbuka mata politiknya, meski hanya luarnya saja.

     "Begitulah saudara-saudara terkasih," pidato Kalamercu tanpa teks berapi-api. "Kita harus melawan jurus-jurus pembangunan di Suralaya Jonggringsaloka yang MEMISKINKAN rakyat kecil tanpa solusi. Banyak rakyat kita yang jadi buronan TANPA STRUKTUR KESALAHAN yang jelas!"

     "Benaaar!!"

     "Benul eh betuuuul!!!"

     "Suralaya semakin makmur, pejabatnya hidup foya-foya, kita semakin sengsara, seperti YESUS MEMANGGUL SALIB untuk kematianNya sendiri, apakah kita akan bernasib sama? Itukah keadilan yang diimpikan mereka?!"

     "Kita demo anarkhis saja!"

     "Kita bunuh saja mereka!!"

    "Tenang, tenang saudara-saudara. Pejabat Suralaya utamanya Hyang Pramesthi, tidak mau menyerap ASPIRASI kita. Kita bisa  MEMBEDAKAN antara UPIL dan APEL, tetapi mereka hanya tahu manis asinnya saja. Apakah pejabat demikian pantas kita sanjung?!"

     "Begitulah saudara-saudara, mereka tidak mau tau RUH KEADILAN. Mereka maunya kita LEGA LILA LAHIR BATHIN menyerahkan sejengkal tanah, demi MAHLUK PEMBANGUNAN tanpa perduli nasib kita di kemudian hari. Terus terang kita tidak dapat memikirkan masa depan, masa ABSTRAK yang belum pasti OBJEKTIF. Apakah kita hanya diam saja diperlakukan sewenang-wenang saudara-saudara?" pidato Kalamercu semakin membakar emosi.

    "Mari kita rapatkan barisan DESTRUKTIF untuk menyerang Suralaya!"

     "Tunggu dulu, " sahut tokoh yang lain. "Apakah tidak lebih baik kita salurkan saja ketidakpuasan ini lewat INSTANSI RESMI Suralaya? Bathara Ismaya dan Togog adalah pejabat demokrat yang tahu benar soal TEORI-TEORI YANG BERUBAH JADI FAKTA dan FAKTA-FAKTA YANG MENJELMA MENJADI TEORI?!"

     "Itu jelas bukan jalan yang EFEKTIF ! Hyang Pramesthi bukan pejabat karbitan, ia tahu siapa teman siapa lawan di Suralaya. Dialog kita dengan wakil Suralaya hasilnya sering mengambang. Sudah JANGAN BANYAK BACOT ! JANGAN BANYAK OMONG yang hanya memberi peluang untuk berubah pikiran. Kita siapkan saja alat-alat untuk menggempur Suralaya." teriak Kalamercu dengan mata memancarkan daya magis.

     Serentak semua wayang berontak. Wayang yang tidak tahu KONTRUKSI KEADILAN, KEBENARAN dan KEKELUARGAAN, berusaha lepas dari tatanan yang sudah dipondasi akibat rangsangan kalimat Kalamercu. Nyatanya Kalamercu berhasil MENYEPARASI MENTALITAS wayang cilik untuk membobol kemapanan Suralaya.

     "Kita buka saja pintu gerbang itu!" teriak Ismaya begitu melihat lautan wayang menyerbu dengan beringas.

     "Apakah kita bisa menang tanpa ada darah di pihak kita?" tanya Sanghyang Pramesthi.

     "Kenapa tidak?" sahut Togog cepat.

     "Tidak mungkin kita utuh, sedangkan mereka begitu banyak?!" Hyang Pramesthi tidak yakin.

     "APA YANG TAMPAKNYA TIDAK MUNGKIN SERINGKALI HANYA KARENA BELUM DICOBA!" jawab Ismaya sambil membuka pintu gerbang itu secara otomatis.

     Melihat pintu gerbang di buka, langsung Kalamercu menyerbu dengan buasnya. Seperti kawanan Srigala menyergap Rusa muda. Togog atau Antaga dan Semar alias Ismaya menghadang Kalamercu dengan kehebatan jurus kungfunya.

     Kini perang sudah tidak dengan kata-kata penuh filsafat maupun referensi filsuf terkenal lainnya. Kata-kata sudah tiada bermakna. Otot bertemu otot memang bukan penyelesaian yang tepat, kata bertemu kata juga sering buntu, lalu apa?

     Antaga dan Ismaya bagai PENDEKAR IMAJINASI, membabat anak buah Kalamercu dengan tangkas. Setiap tangan atau kakinya bergerak, beberapa wayang jadi korban. EKSES POLITIK MEMANG MENYAKITKAN. Toh menurut pakem, Kalamercu dkk harus kalah.

     Sementara Sanghyang Pramesthi diam memandang pertempuran itu. Ingatannya masih mengiang dengan kata-kata Sanghyang Tunggal beberapa waktu lalu.

     "Manikmaya, kalau engkau BERSIKAP MEMALUKAN Suralaya dan ENGGAN MENGAKUI serta BERTOBAT, kelak lehermu akan berwarna biru dengan sebutan baru yaitu Nilakanta. Engkau juga akan bertaring sebesar buah randu dan namamu bertambah lagi jadi Randuwana. Jangan puas dulu, tanganmu akan jadi empat, namamu jelas tambah Siwaboja. Kakimu juga akan mengecil sebutanmu jadi Lengin. Nah, tunggu saja waktunya pasti tiba. Semua tidak akan bisa diobati, lewat apapun kecanggihan ilmu kedokteran maupun ilmu perdukunan!"

     Sang Hyang Pramesthi hanya bisa menunduk.

     "Mumpung masih bersuasana lebaran, saya MINTA MAAF Sanghyang Tunggal....." ujar Manikmaya mengharukan.

     Sanghyang Tunggal mendengar atau tidak atau pura-pura tidak mendengar, rumput yang bergoyang pun tidak akan bisa menjawab.

 

Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat