Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Manafsirkan Alkitab Adalah Suatu Keniscayaan (Cara Menafsir Vs Cara "Memahami")

Julius Tarigan's picture

Kata “tafsir”, “tafsiran”, atau “menafsir” memang “terasa” sebagai sebuah kata yang agak “kasar” atau “duniawi” di telinga dari kebanyakan kita. Rasanya, kata tersebut lebih cocok jika digunakan di bidang-bidang yang “akali-duniawi” dari pada kepada bidang-bidang yang “rohani”, seperti Alkitab. Jadi, rasanya agak kurang  pas, kalau kita menggunakan kata tafsir, tafsiran atau menafsir itu untuk Alkitab, yang adalah firman Tuhan.

       Selain dari alasan yang lebih bersifat  atau bertumpu pada sisi perasaan itu, ada alasan yang lain lagi yang menyebabkan beberapa orang berkeberatan dengan penggunaan kata tafsir (tafsiran atau menafsir) itu terhadap Alkitab, yang kali ini lebih dilihat dari sisi akali (pikiran). Yang saya maksudkan itu ialah  orang-orang yang memandang Alkitab itu sebagai sebuah kitab undang-undang dasar (UUD) atau “buku Tuhan” atau “buku kebenaran”, yang berisikan “kebenaran-kebenaran yang sudah siap pakai”. Pandangan yang seperti ini terhadap Alkitab adalah terlalu idealis. Atau, pandangan yang terlalu menekankan hanya pada sisi Alkitab itu semata, sehingga melupakan sisi manusia kita, yang sudah nyata bahwa tak ada seorang pun yang bisa menjadi obyektif sepenuhnya.

       Memang, jika kita hanya melihat dari sisi Alkitab itu semata, kita bisa saja mengatakan bahwa Alkitab itu 100% firman Tuhan dan, karena itu, Alkitan itu adalah 100% kebenaran. Itu memang pernyataan yang benar 100%, yaitu jika hanya dilihat dari sisi Alkitabnya saja (Alkitab itu sebagaimana adanya saja). Tetapi, setiap kata yang telah diambil (dikutip) seseorang dari Alkitab itu, misalnya dengan membacanya, maka hasil bacaannya itu sudah bukan Alkitab atau kata-kata Alkitab (yang orisinil) lagi. Sebab, membaca itu adalah suatu kegiatan pikiran dari seseorang, dan pikiran semua orang itu adalah hasil dari pengondisian yang dialaminya selama masa hidup yang sudah dilaluinya, hingga menjadikannya seperti adanya sekarang ini. Ketika dia membaca Alkitab dengan pikirannya itu, maka hasil bacaannya itu akan sangat diwarnai oleh kondisi pikirannya (yang sudah mengalami pengondisian-pengondisian) tersebut.

       Seseorang bisa saja mendidik, melatih dan mendisiplin dirinya sendiri (atau dengan bantuan guru/pelatih), sehingga dia bisa mencapai tinggkatan yang cukup tinggi dalam hal menjadi obyektif, ketika dia hendak mempelajari sesuatu (hal ini tentunya adalah satu hal yang dituntut dari setiap ilmuwan di segala bidang). Tetapi, setinggi-tingginya tingkat obyektifitas yang dimiliki oleh seseorang itu, satu hal yang pasti ialah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mencapai hingga menjadi obyektif sepenuhnya atau obyektif 100%. Dan, karena fakta itulah, maka sudah merupakan hal yang tak terbantahkan lagi bahwa semua bacaan sesorang terhadap kata-kata (dari) Alkitab sudah bukan lagi kata-kata dari Alkitab itu sendiri lagi, tetapi sudah berubah, dan arti yang ditangkapnya dari bacaannya itu pun sudah sangat dipengaruhi/diwarnai oleh kondisi pikirannya itu.

       Sesungguhnyalah kita tidak bisa menarik keluar (dari Alkitab) kata-kata yang ada di dalam Alkitab itu. Karena itu, apapun yang sudah (berhasil) kita “tarik” keluar dari Alkitab, itu bukanlah Alkitab atau kata-kata dari Alkitab itu (lagi). Tetapi, Itu hanyalah pengertian atau pemahaman kita mengenai Alkitab atau mengenai kata-kata dari Alkitab tersebut.

 

Apakah Alkitab itu Sudah Jelas bagi Setiap Orang?

Suatu hal yang tidak perlu untuk ditafsirkan atau tidak memerlukan penafsiran lagi, berarti hal itu adalah hal yang sudah sangat jelas (artinya) bagi semua orang. Dan kalau suatu hal itu masih perlu untuk ditafsirkan, berarti hal itu masih belum jelas (artinya) bagi semua orang. Karena itu, pertanyaannya sekarang ialah: apakah Alkitab itu sudah jelas bagi setiap orang? Akan terlalu naiflah kalau ada orang yang berkata bahwa Alkitab itu memang sudah jelas (artinya) bagi semua orang (sekalipun yang dimaksud dengan “orang” itu adalah orang-orang Kristen).

Izinkan saya untuk mengutip dari buku saya sebagai yang berikut ini:

Ada sebuah perkataan bijak berkaitan dengan Alkitab, yaitu: “Orang yang membaca hanya Alkitab saja, sebenarnya tidak pernah membaca Alkitab itu sendiri.” Itu sangat tepat. Mengapa? Sebab, “Alkitab itu sendiri” tidaklah (sudah/bisa) jelas dengan sendirinya. Seperti yang dinasehatkan oleh kedua orang tua kita ini: “Janganlah kita beranggapan, bahwa isi Alkitab dengan sendirinya sudah jelas kepada kita!” (Dr. G.C. van  Niftrik dan Dr. B.J. Boland, Dogmatika Masa Kini, BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 2005, hal. 20).

       Bagi orang yang mau membaca Alkitab dan memahami isinya (terlebih lagi bagi para pendeta dan pengkhotbah) haruslah menyadari, bahwa membaca Alkitab itu tidak boleh (maksudnya, tidak cukup) dilakukan dengan cara yang sederhana, seperti ketika kita membaca majalah mingguan atau koran harian. Sebab, peristiwa-peristiwa yang diceritakan di dalamnya bukanlah peristiwa-peristiwa yang baru terjadi hanya beberapa waktu yang lalu. Baik penulis-penulisnya maupun pembaca-pembaca pertamanya bukanlah orang-orang yang hidup pada masa sekarang ini.      

       Sesungguhnya (ini bukanlah untuk merendahkan nilainya, tetapi hanya untuk mengatakan apa adanya atau kebenaran tentangnya), apa yang terdapat di dalam Alkitab itu adalah teks-teks yang sangat kuno (berasal dari zaman yang jauh sekali berbeda dengan zaman di mana kita hidup sekarang ini). Karena itu, untuk memahaminya dengan benar, dibutuhkan sedikitnya (masih merupakan syarat awalnya saja) penguasaan dalam pengetahuan dan keahlian dalam memperlakukan teks-teks kuno (baik dalam teori secara umumnya maupun penerapan khususnya terhadap bahan-bahan/teks-teks “asli” Alkitab itu sendiri). (Julius Tarigan, Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun [versi e-book/pdf], C-Reformers Publishing, 2009, hal. 80-81).

 

 

Penafsiran Alkitab adalah “Biang Keladi” dari Perpecahan di dalam Kekristenan?

 

Pendekatan yang menggunakan penafsiran dituduh oleh orang-orang tertentu sebagai biang keladi dari terjadinya banyak perpecahan di antara umat Kristen, sehingga kekristenan sekarang ini telah terpecah-pecah ke dalam begitu banyak denominasi. Katanya, hal itu terjadi karena orang-orang itu menafsirkan Alkitab, sehingga masing-masing orang akan menafsirkan Alkitab menurut pandangannya sendiri-sendiri. Maka, terjadilah perpecahan-perpecahan itu.

       Patutlah untuk kita pertanyakan, apakah pendekatan yang tidak menggunakan penafsiran terhadap Alkitab akan menghasilkan kesatuan dan persatuan di antara umat Kristen atau akan bisa menghindarkan terjadinya perpecahan di antara umat Kristen? Jawabannya adalah kata “tidak” yang tegas! Mengapa? Sebab, ada pun yang menjadi alasan mengapa orang-orang Kristen menerapkan/melakukan penafsiran kepada Alkitab, justru adalah karena didapati bahwa Alkitab itu ternyata tidaklah sudah jelas (artinya) bagi semua orang. Masing-masing orang akan mengartikan Alkitab itu menurut minat, kemampuan, latar-belakang, dan kepentingannya sendiri-sendiri. Karena itu, demi supaya orang-orang Kristen tidak dengan sesukanya saja dalam mengartikan kata-kata di dalam Alkitab itu, maka  dibuat atau disusunlah suatu cara/metode yang baik dan yang bisa dipertanggungjawabkan dalam menentukan artinya atau menafsirkan Alkitab itu. Kalau saja Alkitab itu memang sudah jelas bagi semua orang, tentulah mereka itu tidak akan bersusah-susah untuk mencari dan merumuskan cara-cara untuk melakukan penafsiran tersebut.

       Dari sana justru dapat dilihat bahwa cara menafsirkan Alkitab (yang dilakukan dengan cara2/metode2 yang terstandard) adalah jauh lebih baik dari pada cara yang hanya “memahami” Alkitab itu secara langsung saja.

       Memang, harus diakui juga bahwa dengan cara menafsirkan itu (dengan menerapkan cara/metode yang berstandard) masih terdapat banyak kelemahan-kelemahannya. Tetapi, jika dibandingkan dengan cara “memahami” itu tadi, maka cara penafsiran tersebut jauh lebih bisa diandalkan. Mengapa? Karena TINGKAT OBYEKTIFITASNYA BISA CUKUP TINGGI. Sebab, cara menafsir itu bisa diperiksa/dinilai/diukur oleh banyak orang (untuk melihat apakah pemahaman yang didapatkan dari penafsiran itu memang diperoleh dengan menerapkan cara/prosedur yang semestinya atau tidak). Dan, yang terpenting, tingkat obyektifitasnya itu pasti jauh lebih tinggi, jika dibandingkan dengan cara “memahami” itu tadi, yang nyata-nyata sangat subyektif, karena hanya merupakan hasil pemahaman dari seseorang saja.

       Tingkat obyektifitas yang cukup tinggi itu bisa didapatkan dari cara manafsir tersebut, karena cara menafsir itu memiliki standard yang tertentu untuk bisa dijadikan sebagai ukuran, yang melaluinya orang-orang lain dapat menilai: apakah seseorang itu telah menempuh tahapan-tahapan yang sewajarnya dan yang sepatutnya dalam usahanya untuk mengetahui arti dari kata-kata yang terdapat di dalam Alkitab itu atau tidak. Jadi, dengan kata lain, cara menafsir itu melibatkan banyak orang untuk bisa sampai kepada kesimpulan akhirnya (itulah sebabnya yang namanya penafsiran Alkitab itu tidak pernah “sudah final”, tetapi masih terus dilakukan dari masa-ke masa, sampai nanti “yang sempurna itu tiba”). Sedangkan, dalam  cara “memahami” itu tadi, ukurannya hanyalah pendapat atau keyakinan dari orang yang bersangkutan itu saja. Sehingga, hasilnya itu adalah sangat sangat subyektif.

       Jadi, alih-alih hendak membuat terjadinya kesatuan pemahaman di antara umat Kristen, cara “memahami” itu malahan justru akan membuat perpecahan yang jauh lebih parah lagi! Karena dengan pendekatan yang seperti itu, masing-masing orang akan menjadi yakin dengan apa yang “dipahaminya” (secara langsung) itu. Dan, karena hal itu hanyalah suatu pemahaman yang diyakini semata, yang dalam proses untuk sampai ke sana tidak memiliki suatu cara/sistem atau prosedur yang sudah tertentu (yang nantinya bisa diamati dan diukur oleh orang lainnya), maka akan mustahillah untuk menentukan apakah pemahaman tersebut memang memiliki dasar yang cukup atau tidak. Karena itu, keyakinan akan “pemahaman” yang dimiliki dengan cara yang seperti itu hanya patut disebut sebagai asumsi atau, bahkan, spekulasi semata.

       Sedangkan, cara menafsir ini tidak bisa dikatakan seperti itu, yaitu hanyalah merupakan asumsi atau spekulasi semata. Sebab, cara menafsir ini  memiliki hal-hal yang tidak dimiliki oleh cara “memahami” itu tadi, yaitu (seperti yang sudah disinggung sebelumnya) adanya seperangkat cara/metode yang merupakan suatu sistem (dan prosedur), yang cara kerjanya bisa diamati dan diukur oleh pengguna dan oleh orang lain juga. Sehingga, bagaimana seseorang itu bisa sampai kepada suatu kesimpulan yang tertentu, hal itu akan dapat diperiksa/diamati: Apakah untuk sampai kepada kesimpulan tersebut dia memang sudah menjalankan atau mengikuti prosedurnya dengan benar atau tidak. Namun demikian, sekali lagi, cara menafsir itu sendiri tidaklah saya katakan sudah sempurna atau tidak memiliki kelemahan-kelemahan atau keburukan-keburukan (yang berarti) sama sekali. Memang, sebagai hasil karya dari manusia, cara menafsir itu masih memiliki lumayan banyak kelemahan-kelemahan dan keburukan-keburukannya juga (agaknya karena melihat kelemahan2/keburukan2 tersebutlah, antara lain, yang menyebabkan orang-orang tertentu menjadi terpikir untuk meninggalkan atau mengesampingkan cara menafsir ini dan mencari cara-cara yang lainnya, antara lain dengan cara “memahami” itu tadi). Tetapi, alternatif yang ditawarkan dengan cara “memahami“ itu justru merupakan alternatif yang lebih buruk lagi, dari pada cara menafsir itu tadi. Karena itu, sekalipun cara menafsir ini memang tidak bagus-bagus amat (katakanlah begitu!), tetapi karena inilah satu-satunya cara yang lebih baik yang bisa kita gunakan hingga saat ini, maka mau tak mau kita harus tetap memilih cara menafsir ini saja (setidaknya, untuk masa sekarang ini).

       Sebagai catatan tambahan: Bahkan “karunia-karunia” atau “manifestasi” Roh Kudus, yang dicatat di dalam 1 Korintus 12-14, yang nyata-nyata dikatakan sebagai pekerjaan dari Roh Kudus, masih tergolong dalam penafsiran juga. Inilah yang dikatakan oleh Paulus: “Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna…Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” (1Kor 13:9-12).

 

Happy Christmas buat kita semua!

Sebagai hadiah NATAL dari saya kepada teman-teman sekalian di SS ini, saya akan membagi-bagikan 2 buah e-book karangan saya, yang bisa Anda download dengan gratis.

·       

Rumah Tuhan menjadi Sarang Penyamun (pdf) klik di sini

·       

Ibadah yang Murni (pdf) klik di sini

Semoga menjadi berkat bagi kita semua. Gbu all!

 

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

sandman's picture

@JT menurut anda...

Koment saya disini , menurut anda itu sebuah pemahaman atau penafsiran?

 

Karena kita sungguh berharga bagi-Nya dan Dia mengasihi kita.

__________________

Julius Tarigan's picture

@Sandman: Penafsiran itu suatu bidang/disiplin ilmu pengetahuan

Ilmu penafsiran, khususnya di dalam konteks teologi Kristen, biasanya dibagi ke dalam dua bagian:

  1. Hermeneutika (fokusnya pada pembahasan mengenai teori2  penafsiran. Ini bersifat filosofis)
  2. Eksegese (fokusnya pada praktek atau tata-cara melakukan penafsiran terhadap Alkitab, yg dilakukan seturut dengan teori yg benar)

"Penafsiran" yg dilakukan oleh orang "awam" seperti KITA (jadi, saya jg termasuk) terhadap (ayat-ayat) Alkitab belum (utk tdk mengatakan "tidak") bisa disebut sebagai penafsiran Alkitab sebagaimana mestinya (atau sebagaimana yg saya maksud di dalam tulisan saya di atas).

Sebenarnya yg umumnya kita lakukan itu adalah sekedar share kepada orang lain mengenai apa yg kita rasakan ketika/setelah membaca (atau kepikiran) mengenai ayat Alkitab tersebut.

Ada cara untuk kita yg bukan ahli tafsir bisa mengatakan arti dari suatu ayat Alkitab secara (lebih) berwibawa/berotoritas, yaitu dengan mengutip perkataan/penjelasan dari seorang ahli tafsir (yg kredibilitasnya sudah banyak yg mengakui).

Jadi, orang yang mengutip perkataan/pendapat dari para ahli tafsir Alkitab, sehubungan dengan ayat2 Alkitab tertentu yg hendak ia bagikan, adalah suatu cara yg sangat bijaksana. Di DUNIA YANG RASIONAL, pernyataan yang kuat (bisa dipercaya/diandalkan) hanyalah pernyataan yg dibuat OLEH para ahli (di bidangnya masing-masing) atau pernyataan yg dibuat  BERDASARKAN pernyataan/pendapat dari para ahli itu.

Itulah yang berlaku di DUNIA YANG RASIONAL. Tetapi, tentu saja itu tidak berlaku di DUNIA YANG IRASIONAL alias dunia yang asalan (= dunia suka-suka).

Sandman, kalau kamu milih dunia yang mana dari kedua dunia itu?

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

sandman's picture

@JT Coba deh..

ada baiknya anda mengingat saran dennis disini, dan jawaban anda sepertinya tidak menjawab pertanyaan saya. 

Buat saya, selama bisa dipertanggungjawabkan 22nya ok kok, asal-asalan tapi kalau bener juga asik, sistematis tapi ngawur apa asiknya?

 

Karena kita sungguh berharga bagi-Nya dan Dia mengasihi kita.

__________________

Huanan's picture

@JT: kok bisa beda ya

JT: Jadi, alih-alih hendak membuat terjadinya kesatuan pemahaman di antara umat Kristen, cara “memahami” itu malahan justru akan membuat perpecahan yang jauh lebih parah lagi! Karena dengan pendekatan yang seperti itu, masing-masing orang akan menjadi yakin dengan apa yang “dipahaminya” (secara langsung) itu.

Bro JT, yang lebih aneh lagi dalam memahami maupun menafsirkan alkitab tsb mereka masing2 mengklaim atas petunjuk dan bimbingan dari Roh Kudus. Nah loh !. kok Roh Kudus dalam memberikan petunjuk, hikmat dan akalbudi terhadap mereka bisa beda2 yah. harusnya kan seragam.  roh kudus yg mana nih.. jgn2 si rohjali yang ada di kudus ..hehehehe..

GBU

Julius Tarigan's picture

@Huanan: Begitulah, bro!

Banyak orang yang gak mau bersusah-susah untuk melakukan sesuatu dengan cara yang patut/semestinya, tapi (lucunya!) sangat bersemangat untuk melakukannya.

Seharusnya, kalau orang tersebut memang sangat berkeinginan untuk terjun dalam melakukan suatu hal itu, maka dia harusnya rela untuk mempelajari atau membekali diri dulu dengan hal-hal yang menjadi ketentuan2 atau pesyaratan2 yg dituntut dari setiap orang yg hendak melakukan hal tersebut.

Tetapi, kenyataannya, yg paling banyak kita temui sekarang ini di lapangan ialah orang-orang yang sangat bersemangat melakukan suatu hal tetapi mencari banyak alasan untuk dibebaskan dari keharusan untuk memenuhi persyaratan2 yg dituntut untuk itu. Yang paling umum adalah kedua kelompok yang berikut ini:

  1. Orang2 yg suka "nge-roh" (bedain dengan "nge-rock", ya!). Mereka ini adalah yg sering mengatakan bahwa "Roh Kuduslah penafsir Alkitab yg paling akurat dan tidak bisa salah". Karena itu, mereka menolak cara2 penafsiran Alkitab yg wajar. Mereka lebih suka untuk "mendengar langsung" dari Roh Kudus mengenai arti dari ayat Alkitab tersebut. Hasilnya, ya itu tadi, "roh kudus" yg satu berbeda dengan "roh kudus" yg lainnya. Penafsiran berbeda, itu normal. Tapi, kalo Roh Kudus berbeda dengan Roh Kudus? Kacau balaulah!

 

  1. Orang2 yang mengajukan dalih2 yg dikemas secara rasional, yg sebenarnya cuma trick rasionalisasi belaka. Yang ini contohnya adalah orang yg mengajukan mengenai cara "memahami", yg saya kemukakan di dalam tulisan saya di atas itu.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

Adam Kurniawan's picture

@ Cara Menafsir Alkitab

Cara Menafsir Alkitab dengan Baik dan Benar

http://www.sabdaspace.org/cara_menafsir_alkitab_dengan_tepat_dan_benar

1 korintus 15:58

__________________

1 korintus 15:58

Kiem's picture

@ JT, saya sependapat dengan Huanan

Shalom Pak JT, Selamat Natal

Saya menutip lagi kalimat yang dikutip oleh Huanan diatas.

Jadi, alih-alih hendak membuat terjadinya kesatuan pemahaman di antara umat Kristen, cara “memahami” itu malahan justru akan membuat perpecahan yang jauh lebih parah lagi! Karena dengan pendekatan yang seperti itu, masing-masing orang akan menjadi yakin dengan apa yang “dipahaminya” (secara langsung) itu. Dan, karena hal itu hanyalah suatu pemahaman yang diyakini semata, yang dalam proses untuk sampai ke sana tidak memiliki suatu cara/sistem atau prosedur yang sudah tertentu (yang nantinya bisa diamati dan diukur oleh orang lainnya), maka akan mustahillah untuk menentukan apakah pemahaman tersebut memang memiliki dasar yang cukup atau tidak. Karena itu, keyakinan akan “pemahaman” yang dimiliki dengan cara yang seperti itu hanya patut disebut sebagai asumsi atau, bahkan, spekulasi semata.
 

Mengenai ini sudah pernah saya singgung di SS ini, KLIK DISINI, Bahwa agar tidak terjadi perpecahan, kita perlu kembali pada kemurnian Alkitab, tentunya dengan cara MENGABAIKAN ILMU TAFSIR.

Komentar saya :

Alkitab kita yakini adalah Firman Tuhan, yang di Wahyukan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul oleh SATU Kekuatan, yaitu ROH KUDUS (terlepas dari pebedaan sebutan mengenai ROH itu dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tetapi yang pasti ROH itu adalah satu, yaitu ROH TUHAN).

Jika kita membaca alkitab dengan lebih dahulu berdoa MEMOHON TUNTUNAN ROH KUDUS dan Melepaskan Daya Tafsir Pikiran kita, Dipastikan, bahwa Pengertian Kita mengenai Alkitab pasti sama dengan Pengertian TUHAN, dan Pasti sama dengan pengertian PELULISNYA (Penerima Wahyu) yaitu Nabi-nabi dan Rasul-Rasul.

Dan Kalau kita "MENGKOTBAHKANNYA" kepada sidang Jemaat dengan memohon pimpinan Roh Kudus atau Urapan Roh Kudus, dapat dipastikan Pengertian Sidang Jemaat pasti sama dengan Pengertian Tuhan. Tentunya si Pengkotbah harus memenuhi persyaratan, bahwa pada prinsipnya dia adalah seorang Hamba yang tidak memiliki kemampuan dibidang Firman Allah (KECUALI dimampukan oleh Roh Kudus).

Sekarang kita mencoba meraba-raba "SEJARAH" MUNCULNYA KATA-KATA "TAFSIR",

Menurut saya, kata "TAFSIR" muncul, karena beberapa Faktor, antara lain :

  1. Sipengkotbah atau si Penulis bahan bacaan atau si pembaca merasa mampu memahami Firman dengan Pikirannya, sehingga tidak lagi membutuhkan Urapan Roh Kudus (si Pemberi Wahyu).

  2. Sipengkotbah atau si Penulis bahan bacaan atau si pembaca Tidak mematuhi pengertian yang diberikan oleh Roh Kudus melalui Hati NURANInya dan  merasa mampu memahami Firman dengan Pikirannya. Tidak mematuhi, mungkin karena bertolak belakang dengan pikirannya. Maka untuk membela diri, muncullah Penafsiran, berupa latar belakang SEjarahlah, latar belakang perikoplah, bahkan memasukkan penggalan ayat. Untuk poin ini, banyak sekali contoh tafsir, terutama untuk hal-hal yang sulit untuk dilaksanakan, misalnya perpuluhan, masalah kekudusan para pelayan yang masih merokok, dan lain-lain.

  3. Kita, umat Kristen MEMAKSAKAN untuk mengerti apa yang tidak seharusnya menjadi bagian kita. Ibarat dalam dunia ilmu pengetahuan, Anak SD memaksakan untuk mengetahui pelajaran SMA atau Universitas. Atau, kita bidang sosial, tetapi kita memaksakan memahami bidang Eksak, sehingga muncul Penafsiran. Seharusnya menurut 1 Korintus 12, sebua anggota tubuh memiliki tugas dan fungsi masing-masing.

Semoga komentar ini berguna

Tuhan Yesus memberkati

 

 

Julius Tarigan's picture

@Kiem: Saya kenal dengan aliran Anda!

Pak Kiem, saya kenal "lahir baru" di sebuah Gereja Pentakosta di Medan (GSRI) dan Yayasan Persekutuan Kristen "I Care", yg juga beraliran Pentakosta/Kharismatik. Saya pernah gabung pelayanan dgn persekutuan YPI "Jalan Suci", yang terkenal "nge-roh". Saya menjadi gembala di gereja Bethel Indonesia selama sekitar 10 thn (Kalo Anda sdh download e-book saya yg pertama, Anda bisa ikuti lbh lkp "sejarah" saya di aliran Pentakosta-Kharismatik). Aliran gereja Anda sendiri "Gereja Tabernakel" dan yg "satu pengajaran" dengannya, tidak asing bagi saya. Jadi, saya kenal dengan aliran Anda dan saya faham dengan cara berpikir Anda, khususnya dalam persoalan penafsiran Alkitab ini. Karena itu, saya mau memberikan beberapa catatan untuk Anda, sebagai yg berikut ini.

  1. Gereja2 "aliran Roh Kudus"/Pentakosta-Kharismatik adalah suatu aliran dalam kekristenan yg memfokuskan perhatiannya pada kehidupan moral dan ibadah dari orang2 Kristen. Jadi, aliran ini memang tidak berpretensi (karena mmg tidak menyukai) untuk mengkaji atau melakukan pendalaman Alkitab untuk membuatnya menjadi suatu dogma atau sistematika teologia atau doktrin-doktrin yang tersusun rapi. Itulah sebabnya, orang2 yg idealis di dalam kalangan ini sama sekali tidak tertarik untuk mendalami teologi dengan mengikuti study teologi.
  2. Di luar aliran Pentakosta/Kharismatik itu masih ada lagi aliran2 Kristen yg lainnya (bahkan, dari kacamata globalnya, aliran Pentakosta/Kharismatik merupakan kelompok minor bukan mayor). Dan, mereka yg termasuk dlm kelompok mayor itu pada umumnya mendekati Alkitab dengan cara/metode yg ilmiah. Hal itu mereka lakukan sebagai usaha untuk mengkaji firman Allah yg telah pernah diberikan oleh Allah kepada manusia itu, yaitu dalam konteks zaman dan budaya kuno. Sehingga, mereka itu melihat adalah suatu keniscayaan untuk "mengupas lapisan2 kekunoan" itu dari padanya (Alkitab itu), agar didapatilah "intisari" dari firman Allah tersebut kepada manusia2, yg hidup di zaman yang sudah serba canggih sekarang ini.
  3. Sangatlah tidak bijaksana jika Anda (kita) menghakimi mereka (atau apa yg mereka lakukan itu) dari sudut pandang aliran Anda sendiri (kita). Sebab, sudah jelas bahwa aliran Pentakosta/Kharismatik bukanlah aliran yang terarah untuk hal2 yg bersifat teknik-teologis, melainkan hanya kepada pelaksanaan kehidupan Kristen yg praktis (seorang penari tidak patut menghakimi seorang penyanyi, dari sudut pandangnya yg sebagai seorang penari itu!).

Demikian saja pak Kiem, harap bisa menterjemahkannya sendiri secara lebih jauh lagi. Gbu.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

GODARMY's picture

Om Julius met natal

Biarlah damai natal,sukacita dan kemenangan selalu ada ditengah keluarga anda dan tetaplah dengan semangat reformasi dan menjaga domba-domba dari serigala, obati yang terluka, lindungi yang lemah dan carilah jiwa-jiwa yang terhilang diantara bangsa-bangsa. Tuhan Yesus menyertai.

SELAMAT NATAL 2009

3a

  JESUS IS GOD

__________________

JESUS IS GOD

Julius Tarigan's picture

@GODARMY: Indah sekali!

Wah, ucapan Merry Christmasnya indah sekali, bro!

Aku seneng banget setiap kali ngeliatnya. Thanks banget ya, GODARMY! Gbu.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

hai hai's picture

@JT, Hanya Dua Kata

Ketika membaca judul blog ini saya tersenyum. Setelah membaca isinya saya ngakak. Walaupun nggak BERANI menyebutkan nama namun nampak gamblang bahwa blog ini ditujukan untuk menyerang kalimat yang sering sekali ditulis hai hai:

Alkitab harus dipahami tidak boleh ditafsirkan!

Ada perpecahan gereja ada perpecahan denominasi. Perpecahan gereja disebabkan oleh perselisihan antara manusia namun perpecahan denominasi umumnya terjadi karena perbedaan pandangan teologi. Contoh, Pdt. Dr Stephen Tong mendirikan denominasi Reformed Injili untuk menunjukkan perbedaan pemahamannya dengan para teolog reformed.

taf·sir n keterangan atau penjelasan tt ayat-ayat Alquran agar maksudnya lebih mudah dipahami;-- harfiah tafsir kata demi kata; -- mimpi penggunaan ciri-ciri modern untuk menguraikan arti mimpi;

me·naf·sir·kan v

  1. menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain;
  2. menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;

taf·sir·an n penjelasan atau pendapat (tt suatu kata, kalimat, cerita, dsb); interpretasi; hasil menafsirkan;

pe·naf·sir·an n proses, cara, perbuatan menafsirkan; upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yg kurang jelas: ~ nya ditulis dl buku Serat Dewa Ruci

pa·ham 1 n pengertian: pengetahuan banyak, -- nya kurang; 2 n pendapat; pikiran: -- nya tidak bersesuaian dng -- kebanyakan orang; 3 n aliran; haluan; pandangan: ia mempunyai -- nasionalis; 4 v mengerti benar (akan); tahu benar (akan): sebenarnya saya sendiri tidak begitu -- akan perkara itu; 5 a pandai dan mengerti benar (tt suatu hal): ia -- bahasa Sanskerta; ia -- dl pembuatan gula;

me·ma·hami v 1 mengerti benar (akan); mengetahui benar: ia ~ bahasa dan kebudayaan Arab; 2 memaklumi; mengetahui: pemimpin harus dapat ~ kehendak rakyat;

Apakah dimaksudkan dengan MENAFSIR?

MENAFSIR = menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain;

MENAFSIR = menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri);

Apakah yang dimaksudkan dengan MEMAHAMI?

MEMAHAMI : mengerti benar

MEMAHAMI : mengetahui benar

Alkitab harus dipahami tidak boleh ditafsirkan!

Apabila yang anda maksudkan dengan MENAFSIR = menerangkan maksud ayat-ayat Alkitab, itu berarti anda harus MEMAHAMI-nya dulu.

Apabila yang anda maksudkan dengan MENAFSIR = menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri) itu berarti anda tidak obyektif.

Apabila anda tidak mengerti benar atau tidak tahu benar, itu berarti anda TIDAK memahami.

Julius Tarigan Menulis: Dan, yang terpenting, tingkat obyektifitasnya itu pasti jauh lebih tinggi, jika dibandingkan dengan cara “memahami” itu tadi, yang nyata-nyata sangat subyektif, karena hanya merupakan hasil pemahaman dari seseorang saja.

Julius Tarigan Menulis:  Sedangkan, dalam  cara “memahami” itu tadi, ukurannya hanyalah pendapat atau keyakinan dari orang yang bersangkutan itu saja. Sehingga, hasilnya itu adalah sangat sangat subyektif.

Julius Tarigan Menulis: Karena itu, keyakinan akan “pemahaman” yang dimiliki dengan cara yang seperti itu hanya patut disebut sebagai asumsi atau, bahkan, spekulasi semata.

Pdt. Julius Tarigan yang terhormat, saya mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat. Saya tahu bahwa kata MENAFSIR dan MEMAHAMI hanya DUA kata di antara ratusan kata lainnya dalam blog anda, itu sebabnya saya pasti dianggap TIDAK ADIL bila menyalahkan blog anda hanya gara-gara kedua kata tersebut. Namun izinkanlah saya memberitahu anda bahwa anda SAMA SEKALI tidak memahami arti kata MENAFSIR dan MEMAHAMI ketika menulis blog anda tersebut di atas.

Hermeneutics is the study of interpretation theory, and can be either the art of interpretation, or the theory and practice of interpretation.

Hermeneutik
adalah pelajaran teori menerjemahkan, dan dapat disebut seni menerjemahkan atau teori dan praktek menerjemahkan.

Biblical hermeneutics is the study of the principles of interpretation concerning the books of the Bible.

Hermeneutik Alkitab adalah pelajaran tentang prinsip-prinsip menerjemahkan (menafsirkan) Alkitab.

Alkitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani sementara Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani. Hermeneutik awalnya adalah pelajaran tentang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa latin. Gereja Katolik melarang jemaat untuk membaca Alkitab. Yang boleh membaca Alkitab hanya para biarawan tingkat tertentu. Hermeneutik lalu berkembang, bagaimana menerjemahkan atau menafsirkan ajaran Alkitab agar MUDAH dipahami oleh jemaat.

Awalnya Hermeneutik bukan pelajaran untuk MEMAHAMI Alkitab namun pelajaran untuk MENGAJARKAN Alkitab kepada JEMAAT.

Lalu terjadilah REFORMASI. Salah satu dampak reformasi adalah jemaat BOLEH mempelajari Alkitab. Sejak itulah Hermeneutik berkambang juga menjadi pelajaran untuk MEMAHAMI Alkitab.

Sola Scriptura artinya HANYA Alkitab. Alkitablah standard kebenaran. Selain mengajarkan Sola Scriptura, bapa Reformasi juga mengajarkan: Sacra Scriptura sui interpres artinya Kitab Suci adalah penafsir dirinya sendiri.

Mari kita kembali lagi kepada definisi MENAFSIR dan MEMAHAMI

MENAFSIR = menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri).

MEMAHAMI : mengerti benar;  mengetahui benar

Hermeneutik BUKAN pelajaran prinsip-prinsip MENAFSIRKAN Alkitab namun pelajaran prinsip-prinsip MEMAHAMI Alkitab. MENAFSIRKAN berarti MEMASUKAN hikmat manusia ke dalam ajaran Alkitab sementara MEMAHAMI berarti MENAKLUKKAN hikmat manusia kepada ajaran Alkitab agar dapat mengerti benar atau mengetahui benar apa yang diajarkan Alkitab.

Pdt. Julius Trigan yang terhormat, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, saya setelah berlaku tidak adil kepada anda karena sebuah perumpamaan kecil tentang kambing dan domba, kali ini saya kembali berlaku tidak adil karena menyalahkan tulisan anda HANYA karena dua kata yang karena KHILAF, tidak anda pahami dengan BENAR.

Belajar tanpa berpikir sia-sia. Berpikir tanpa belajar berbahaya.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

Julius Tarigan's picture

@Hai-hai: Dua Alasan yang Tidak Terbantahkan

Untuk menjawab komentarnya Hai-hai terhadap tulisan saya di blog ini, saya akan membagikan apa yang saya sebut sebagai DUA HAL YANG TIDAK TERBANTAHKAN BAGI KEHARUSAN UNTUK MENAFSIRKAN ALKITAB, yaitu:

1. Alkitab Adalah komunikasi dari pihak Allah terhadap kita. Sebagai orang Kristen, kita mengakui bahwa Alkitab itu adalah firman Allah. Nah, sebagai firman Allah Alkitab itu juga berarti adalah usaha komunikasi dari pihak Allah terhadap kita. Dengan atau di dalam Alktab itu, Allah berusaha mengkomunikasikan diri dan kehendak-Nya terhadap kita. Sebagaimana lazimnya sebuah komunikasi, maka dalam mengkomukasikan diri dan kehendak-Nya itu Allah menggunakan instrumen bahasa. Dan, semua instrumen bahasa itu pastilah berisikan tanda-tanda, lambang-lambang, atau kode-kode yang tertentu di dalamnya, yang sudah umum terdapat di dalam suatu bahasa. Bagaimanakah caranya supaya kita bisa mengerti atau menangkap apa yang dikomunikasikan oleh Allah kepada kita itu? Hanya ada satu cara untuk itu, sebagaimana halnya dengan komunikasi-kemunikasi yang melibatkan manusia lainnya, yaitu dengan MENAFSIRKAN tanda-tanda, lambang-lambang, atau kode-kode tersebut.

 

Mengapa kita menggunakan kata MENAFSIRKAN di sini? Itu karena usaha untuk mengartikan tanda2, lambang2, dan kode2 tersebut memang bukan sesuatu yang bisa pasti ketepatannya (akurat 100%). Hal yang seperti itu tidak mungkin untuk dicapai di sini. Karena itulah, memang, tepatnya kita harus menyebut usaha tersebut sebagai usaha MENAFSIR.

 

Yang dikemukakan itu tadi barulah hanya menyinggung hal yang paling dasarnya saja, yaitu sekilas mengenai prinsip-prinsip dasar dari suatu komunikasi. Kita tadi masih belum lagi menyinggung mengenai problem-problem yang harus kita hadapi karena Alkitab itu sebenarnya adalah catatan mengenai komunikasi Allah terhadap manusia, yang masa terjadinya sudah ribuan tahun yang lampau. Bukan itu saja, bahkan bahasa, zaman, peradaban, kebudayaan tempat terjadinya atau diberikannya komunikasi dari pihak Allah kepada manusia itu sama sekali tidak ada kait-mengkaitnya dengan kita, yang tinggal di belahan bumi yang berbeda ini.

 

 

2. Ketidak-obyektifan manusia. Selain yang pertama tadi, Hai-hai (disengaja atau tidak disengaja) telah tidak memperhatikan mengenai hal yang kedua ini juga. Manusia itu tidak mungkin untuk bisa obyektif 100%. Karena itu, dalam upaya memahami sesuatu, mengenai apapun itu, manusia tidak mungkin untuk bisa sepenuhnya memahami hal tersebut, sebagaimana adanya hal itu. Pemahaman manusia terhadap sesuatu adalah pemahaman yang sudah terdistorsi. Atau, pemahaman yang sudah tercampur dengan atau dipenggaruhi oleh unsur-unsur yang terdapat di dalam dirinya sendiri (seperti: latar belakang dan kondisinya secara intelektual, emosional, sosial, ekonomi, dsb., minatnya, maksud/tujuannya, dsb.), ketika dia mengupayakan untuk memahami hal tersebut.

 

Karena itulah, pemahaman-pemahaman kita sebagai manusia, tidak bisa dinilai lebih dari PENAFSIRAN-PENAFSIRAN belaka. Hal ini adalah fakta tentang diri kita yang harus kita terima, betapa pun kita memang sangat tidak menyukainya. Sebagai manusia, kita memang hanya bisa MENAFSIR saja. Dan, yang namanya MENAFSIR itu memang bukanlah suatu hal yang bisa dipastikan kebenaran atau keakuratannya. Unsur spekulasi tak dapat terhindarkan di sini.

 

Tetapi, walaupun kita sangat cenderung untuk memungkiri atau menyangkali mengenai hal ini, itu bukanlah jalan yang bijak untuk di tempuh. Satu-satunya jalan yang memungkinkan dan yang juga merupakan jalan yang bijak untuk kita tempuh ialah dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya masukan dari orang-orang lain (khususnya lagi, tentunya, yang berasal dari mereka yang memang tergolong sebagi ahli di bidang tersebut). Sehingga, dengan masukan-masukan yang kita dapatkan tersebut, kita pun akan bisa lebih mantap ketika merumuskan pemahaman kita, mengenai suatu hal yang tertentu.

Sekalipun pemahaman kita tersebut hanyalah merupakan TAFSIRAN saja, tetapi TAFSIRAN yang seperti ini sudah jauh lebih baik dan memadai. Yaitu, jauh lebih baik dan memadai  dari pada hanya merupakakan PENAFSIRAN kita sendirian saja (yang kemudian kita aku-akui sebagai “pemahaman” atau “cara memahami bukan menafsir”). Hal itu hanyalah penyangkalan yang sia-sia belaka!

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

hai hai's picture

@JT, Memahami VS menafsirkan

Julius Tarigan yang terhormat, sebelum melanjutkan diskusi bukankah sebaiknya anda mengakui bahwa anda sama sekali tidak memahami arti kata MENAFSIR dan MEMAHAMI ketika menulis blog anda? Bila anda tidak mengakuinya, mustahil kita melanjutkan diskusi karena DEFINISI kita tentang MENAFSIR dan MEMAHAMI berbeda.

Setelah memiliki pemahaman yang sama tentang DEFINISI yang benar tentang MENAFSIR dan MEMAHAMIbarulah kita bisa melanjutkan diskusi.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

matahari's picture

Dear Bro JT Ada 3 hal yang

Dear Bro JT

Ada 3 hal yang mau saya sampaikan disini:

1)  Rupanya anda memang tidak memahami (bukan menafsir) dengan baik apa yang anda tulis sendiri.  Anda menyatakan bahwa manusia tidak mungkin bisa obyektif 100% karena kemampuan manusia memahami sudah terdistorsi oleh banyak hal.  Dengan demikian anda menyimpulkan bahwa kata "menafsir" itu sudah cukup bagus karena manusia memang tidak mampu "mamahami" secara utuh.  Lalu anda mengarahkan orang agar "jangan menafsir sendiri" karena peluang salah lebih besar, lebih baik / lebih benar bila mengacu pada ahlinya (ahli tafsir / orang pandai2), karena semakin banyak referensi / tafsiran yang sama, tentu akan peluang lebih benar makin banyak.  Apakah anda pikir bahwa umat Kristen ini adalah anggota DPR yang ketika tiada konklusi lalu voting? Apakah voting selalu menghasilkan konklusi yang benar / lebih benar? Apakah anda lupa bahwa para orang pandai / ahli tafsir / ahli taurat dsb itu juga manusia? yg bila saya menggunakan penalaran anda, tentu mereka juga tidak bisa 100% obyektif.  Bukankah itu sama dengan orang buta menuntun orang buta? Ingatlah bahwa 1000 orang gila bergabung tidak akan pernah menghasilkan 1 orang waras.  Metode tafsir yang anda uraikan diatas justru melanggar prinsip Sola Scriptura.  Mengapa? Karena anda mengarahkan orang pada tulisan2 manusia yang juga merupakan tafsiran yg jelas juga sudah terkontaminasi dng pendapat pribadinya.  Bila anda ingat 2 tokoh besar, kakek rohani kita, Calvin dan Armenius, yang sama2 pandai dan ahli tafsir, dan sama2 dijadikan acuan bagi banyak gereja, yang mana yang anda pilih tafsirannya? Bukankah tafsiran kedua orang itu telah membelah kekristenan dalam dua kutub yang bertolak belakang?  Karena bila anda memilih yang satu, berarti anda sedang menyalahkan alias menganggap sesat yang lain.  Ya kalo pilihan anda itu benar, kalo salah? bukankah anda justru menghakimi orang benar? Apakah tidak lebih baik bila anda menggunakan pemahaman anda sendiri?

2)  Anda juga lupa bahwa Alkitab tidak seluruhnya mengandung sesuatu yang sulit dimengerti sehingga harus ditafsirkan.  Ada begitu banyak ayat yang begitu dibaca akan langsung dapat dipahami oleh pembacanya. Dan sisanya memang ayat2 / pasal2 yang sulit, sehingga memerlukan waktu, perenungan, pendapat pihak lain, atau bahkan menunggu penyingkapan dari Tuhan.  Jadi hermeneutik hanya diperlukan bagi sebagian dari Alkitab, dan bukan seluruhnya.  Mari saya beri contoh, misalnya Silsilah Yesus dalam Matius 1.  Itu siapapun yang baca (asalkan waras, tidak idiot dan tidak buta huruf), saya rasa akan langsung paham, karena isinya hanya siapa memperanakkan siapa.  Metode tafsir seperti apa lagi yang kita perlukan untuk bisa memahami konteks pasal tersebut?

3)  Memahami adalah kata yang paling tepat dalam mempelajari Alkitab. Bagaimana kalau tidak paham-paham? jawabannya di point 2 diatas.  Toh tidak semua hal bisa / harus dipahami.  Namun bila kita berpaling dan justru condong kepada kata menafsirkan, maka konotasinya jelas bertolak belakang, karena ketika kita menafsirkan sesuatu itu berarti hanya mengira-ngira, karena interpretasi memang ada unsur subyektifitas, dan itu sangat berbahaya. Segala yang berbau penafsiran harus diawali dengan kalimat.."menurut pendapat saya....".  Dan itu tentu bukan maksud Alkitab tapi maksud penafsir.  Bila tidak diawali dengan kalimat tersebut, sesungguhnya si penafsir sedang merubah maksud alkitab. Apakah ini tidak berbahaya?  Dalam belajar Alkitab, pahamilah yang bisa anda pahami, dan jangan anda paksakan diri anda untuk memahami apa yang tidak bisa anda pahami, karena upaya untuk ini justru akan membuka tafsir-tafsir yang bisa jadi bumerang buat anda sendiri.

Alkitab harus dipahami tidak boleh ditafsirkan !

Julius Tarigan's picture

@Hai-hai & Matahari: Definisi menafsir

Dari kedua komentar yang diberikan oleh Hai-hai dan Matahari intinya adalah menuntut untuk kejelasan mengenai definisi atau apa yg saya maksudkan dengan MENAFSIR itu. Baiklah, saya akan menjawab di sini untuk keduanya.

Untuk dasar yg sama mengenai kata "tafsir" atau "menafsir", saya akan menggunakan kamus yg digunakan juga oleh Hai-hai, sbb:

taf·sir n keterangan atau penjelasan tt ayat-ayat Alquran agar maksudnya lebih mudah dipahami;
-- harfiah tafsir kata demi kata; -- mimpi penggunaan ciri-ciri modern untuk menguraikan arti mimpi;
me·naf·sir·kan v 1 menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain; 2 menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;
taf·sir·an n penjelasan atau pendapat (tt suatu kata, kalimat, cerita, dsb); interpretasi; hasil menafsirkan;
pe·naf·sir·an n proses, cara, perbuatan menafsirkan; upaya untuk menjelaskan arti sesuatu yg kurang jelas: ~ nya ditulis dl buku Serat Dewa Ruci

Ada 2 keterangan yg perlu ditindaklanjuti dari yg tertrera di atas, yaitu yg terdapat di bawah kata me·naf·sir·kan:

  1. menerangkan maksud ayat2 kitab suci. Mengapa ini harus dilakukan? Jelaslah karena sdh lazim diakui bahwa ayat2 kitab suci (yg mana pun itu) tidaklah sudah terang dgn sendirinya (arti atau maksudnya) bagi setiap orang.
  2. menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dgn mengutarakan pendapatnya sendiri). Memang kata2nya di sini terkesan "buruk" atau "negatif", tetapi itu hanyalah bagi orang2 yg sdh berprasangka begitu sblmnya. Sesungguhnyalah sesuatu itu baru akan patut untuk disebut menafsir (dengan baik) kalau tidak hanya sekedar terpaku pada kata2nya sbgmana adanya saja, tetapi harus bisa melihat apa yg tersirat dari yg tersurat. Hal itu justru merupakan kelebihan dari seorang penafsir. Dan, dalam hal inilah, salah satunya, banyak sekali orang yg menolak cara menafsir itu telah melakukan kesalahan, yaitu hanya terpaku pada apa yang tersuratnya saja.

Kata2 yg selanjutnya di bagian ini mgkn lbh mudah lg utk diselewengkan maksudnya, yaitu: mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri; Bagi org yg berprasangka, kata2 di sini seolah-olah mengatakan bahwa menafsir itu dilakukan menurut kepentingannya (si penafsir) sendiri. Padahal, akhiran "nya" di sana sama sekali bukan ditujukan pada si penafsir, melainkan pada "pasal" yg ditafsirkan itu. Jadi, yg dimaksudkan di sana sesungguhnya ialah: mengartikan setiap pasal itu menurut kepentingan dari pasal tersebut masing-masing (karena setiap pasal itu memiliki kepentingan yg berbeda-beda, jadi tidak boleh disamaratakan begitu saja). Itulah sesungguhnya maksud dari perkataan itu tadi.

Dari komentar Hai-hai yang pertama, ketika dia mengutip dan memberi penjelasan dari kamus yg sama itu, nampak sekali dia melakukannya dengan berprasangka (prasangka yg negatif terhadap cara menafsir), khususnya pada dua frasa yg sudah saya "luruskan kembali" maksudnya itu tadi (yaitu: "dengan mengutarakan pendapatnya sendiri" dan "mengartikan: setiap~pasal itu menurut kepentingannya sendiri").

Dari sini, sebenarnya, kita sudah bisa melihat bahwa cara yg dibangga-banggakan oleh Hai-hai (cara "memahami") itu sesungguhnyalah merupakan cara yg sangat subyektif dan sangat berprasangka. Bagaimana Hai-hai bisa kita percayai untuk "memahami" Alkitab, sedangkan dalam "memahami" kamus saja dia sudah menunjukkan keberprsangkaan yang begitu parah (seperti yg nyata dari komentarnya yg pertama dan penjelasan yg saya lakukan di sini)?

Sekali lagi, saya kemukakan di sini bahwa sekalipun cara menafsir bukanlah cara yg sempurna untuk kita bisa menangkap pesan dari Allah di dalam Alkitab, tetapi hanya cara inilah yang memungkinkan dan yg terbaik (dari semua cara yg ada) untuk kita gunakan sekarang ini. Subyektifitas manusia adalah suatu hal yg sudah tidak terpungkiri lagi. Karena itu, apa yg hrs kita lakukan bukanlah memungkiri atau menyangkali mengenai subyektifitas kita itu, tetapi kita seharusnya memfokuskan perhatian dan usaha2 kita untuk mengiimbangi dan meminimalisir sedemikian rupa dampak dari subyektifitas kita itu.

Bagaimanakah cara yg bisa kita tempuh untuk itu? Yaitu dengan memilih dan menggunakan cara yg paling tidak subyektif. Dan, satu2nya cara yg paling tidak subyektif (dari semua cara yg ada sekarang ini) ialah cara menafsir, yg di dalamnya terbuka peluang yg selebar-lebarnya untuk menerima masukan2 dari orang2 lain. Sehingga, hasil dari sebuah tafsiran itu bukanlah sesuatu yg merupakan pandangan dari satu orang saja, melainkan merupakan sintesa dari pandangan2 yg berasal dari berbagai sumber (orang), khususnya yg berasal dari orang2 yg memang ahli di bidang tersebut.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

hai hai's picture

@JT, Kapokmu Kapan?

Maling yang tertangkap basah dan menyangkal dirinya maling adalah hal biasa. Namun, maling yang tertangkap basah dan digebukin karena dia menyerang lalu menuduh orang yang menangkap dan menggebuknya sebagai PENJAHAT, benar-benar MENYEBALKAN.

Menunjukkan kesalahan orang lain itu tidak sulit namun mengajarkan hal yang benar itu tidak mudah. Ketika seseorang menunjukkan kesalahannya sekaligus mengajarkan hal yang benar, orang Kristen yang baik akan bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada orang tersebut. Namun, orang-orang Kristen yang telah menjadi DEWA justru memaki orang tersebut membabibuta sambil MEMPERMALUKAN diri dengan membela diri dengan KALAP.

Kalimat-kalimat di bawah ini ditulis oleh orang Kristen yang telah menjadi DEWA ketika saya menunjukkan kesalahannya ketika mengajarkan bahwa Alkitab tidak boleh

DIPAHAMI

karena memahami itu sifatnya subyektif namun harus

DITAFSIRKAN

karena menafsirkan itu sifatnya relatif OBYEKTIF dan ada standardnya.Ada 2 keterangan yg perlu ditindaklanjuti dari yg tertrera di atas, yaitu yg terdapat di bawah kata me·naf·sir·kan:

Julius Tarigan: 1. menerangkan maksud ayat2 kitab suci. Mengapa ini harus dilakukan? Jelaslah karena sdh lazim diakui bahwa ayat2 kitab suci (yg mana pun itu) tidaklah sudah terang dgn sendirinya (arti atau maksudnya) bagi setiap orang.

Gereja Katolik melarang jemaat membaca Alkitab karena yakin bahwa jemaat MUSTAHIL mampu memahaminya dengan benar. Bapak Reformasi mengajarkan: Sola Scriptura artinya HANYA Alkitab. Alkitablah standard kebenaran. Selain mengajarkan Sola Scriptura, bapa Reformasi juga mengajarkan: Sacra Scriptura sui interpres artinya Kitab Suci adalah penafsir dirinya sendiri.

Dalam generasi ini banyak pengkotbah-pengkotbah yang kembali MENGIDAP penyakit "setengah DEWA" sehingga mengajarkan bahwa Alkitab MUSTAHIL dipahami itu sebabnya harus DITAFSIRKAN.

Julius Tarigan: 2. menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dgn mengutarakan pendapatnya sendiri). Memang kata2nya di sini terkesan "buruk" atau "negatif", tetapi itu hanyalah bagi orang2 yg sdh berprasangka begitu sblmnya. Sesungguhnyalah sesuatu itu baru akan patut untuk disebut menafsir (dengan baik) kalau tidak hanya sekedar terpaku pada kata2nya sbgmana adanya saja, tetapi harus bisa melihat apa yg tersirat dari yg tersurat. Hal itu justru merupakan kelebihan dari seorang penafsir. Dan, dalam hal inilah, salah satunya, banyak sekali orang yg menolak cara menafsir itu telah melakukan kesalahan, yaitu hanya terpaku pada apa yang tersuratnya saja.

Tersurat + Tersirat + Pendapat Sendiri = TAFSIRAN

Itulah yang diajarkan oleh KBBI. Hanya orang-orang bodoh yang mengajarkan bahwa untuk memahami arti kata MENAFSIR diperlukan PRASANGKA  buruk.

me·naf·sir·kan v 1 menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain; 2 menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;

Apa arti kalimat di dalam KBBI tersebut di atas?

me·naf·sir·kan adalah kata kerja

me·naf·sir·kan memiliki DUA arti yaitu:

1 menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain;

2 menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); mengartikan:

me·naf·sir·kan CONTOH penggunaan kata tersebut adalah setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;

menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri); ARTINYA mengartikan

CONTOH penggunaan kata MENAFSIRKAN adalah:

setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri;

setiap MENAFSIRKAN pasal itu menurut kepentingannya sendiri;

Julius Tarigan: Kata2 yg selanjutnya di bagian ini mgkn lbh mudah lg utk diselewengkan maksudnya, yaitu: mengartikan: setiap ~ pasal itu menurut kepentingannya sendiri; Bagi org yg berprasangka, kata2 di sini seolah-olah mengatakan bahwa menafsir itu dilakukan menurut kepentingannya (si penafsir) sendiri. Padahal, akhiran "nya" di sana sama sekali bukan ditujukan pada si penafsir, melainkan pada "pasal" yg ditafsirkan itu. Jadi, yg dimaksudkan di sana sesungguhnya ialah: mengartikan setiap pasal itu menurut kepentingan dari pasal tersebut masing-masing (karena setiap pasal itu memiliki kepentingan yg berbeda-beda, jadi tidak boleh disamaratakan begitu saja). Itulah sesungguhnya maksud dari perkataan itu tadi.

Sungguh mengherankan bertemu dengan orang yang merasa dirinya pandai berbahasa Indonesia namun TIDAK tahu cara membaca KBBI dengan benar. Indonesia sudah merdeka 64 tahun, seorang pdt dengan pengalaman 10 tahun mengajarkan jurus tafsir 1001 mimpi untuk memahami KBBI? Benar-benar MENGENASKAN. Ha ha ha ha ha ... Pdt. Julius Tarigan, Ahli TAFSIR Kamus Besar Bahasa Indonesia. 

Julius Tarigan: Dari komentar Hai-hai yang pertama, ketika dia mengutip dan memberi penjelasan dari kamus yg sama itu, nampak sekali dia melakukannya dengan berprasangka (prasangka yg negatif terhadap cara menafsir), khususnya pada dua frasa yg sudah saya "luruskan kembali" maksudnya itu tadi (yaitu: "dengan mengutarakan pendapatnya sendiri" dan "mengartikan: setiap~pasal itu menurut kepentingannya sendiri").

Bung Julius, selain ahli TAFSIR KBBI nampaknya anda juga ahli FITNAH ya? Inilah yang saya tulis di dalam komentar saya. Anda boleh klik di sini untuk mengeceknya sendiri:

Apakah dimaksudkan dengan MENAFSIR?

MENAFSIR = menerangkan maksud ayat-ayat Alquran atau kitab suci lain;

MENAFSIR = menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri);

 

Mari kita kembali lagi kepada definisi MENAFSIR dan MEMAHAMI

MENAFSIR = menangkap maksud perkataan (kalimat dsb) tidak menurut apa adanya saja, melainkan diterapkan juga apa yg tersirat (dng mengutarakan pendapatnya sendiri).

MEMAHAMI = mengerti benar;  mengetahui benar

Julius Tarigan: Dari sini, sebenarnya, kita sudah bisa melihat bahwa cara yg dibangga-banggakan oleh Hai-hai (cara "memahami") itu sesungguhnyalah merupakan cara yg sangat subyektif dan sangat berprasangka. Bagaimana Hai-hai bisa kita percayai untuk "memahami" Alkitab, sedangkan dalam "memahami" kamus saja dia sudah menunjukkan keberprsangkaan yang begitu parah (seperti yg nyata dari komentarnya yg pertama dan penjelasan yg saya lakukan di sini)?

Pdt. Julius Tarigan yang terhormat, prilaku anda benar-benar TIDAK terhormat sama sekali. Oleh karena itu jangan berharap para blogger akan menghormati anda. Bila hendak dihormati, berprilakulah TERHORMAT.

Bila tahu katakan tahu, bila tidak tahu katakan tidak tahu. Itulah tahu.

Belajar tanpa berpikir sia-sia. Berpikir tanpa belajar berbahaya.

Pdt. Julius Tarigan yang mulia, saya sangat membenci para pengkotbah yang menganggap dirinya manusia setengah dewa yang mustahil berbuat salah namun tidak memiliki KEHORMATAN sama sekali itu sebabnya mereka berkeliling mengembik-embik seperti BANDOT untuk mencari orang yang bisa diseruduknya. Ketika melihat pengkotbah-pengkotbah demikian unjuk TANDUK saya akan memaksa mereka menyeruduk tembok sampai mereka benar-benar KAPOK.

Anda tahu? saya menggelari pengkotbah-pengkotbah demikian, "Berjanggut namun tidak berjubah" Seperti domba namun ada tanduknya.

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

__________________

Karena Di Surga, Yang Terbesar Adalah Anak-anak

matahari's picture

@ JT: Pesimis

Dear bro JT,

Pada uraian saya sebelumnya, walau 3 pertanyaan saya bersifat retorik, namun sebetulnya saya mengharapkan tanggapan anda. Tapi sayangnya anda tidak menanggapi satupun 3 uraian saya sebelumnya.

Bila saya baca ulang paragraph terakhir tulisan anda yang merupakan pengulangan esensi dari tulisan di blog ini, saya lihat anda begitu pesimis dalam menilai sesuatu... sepertinya anda berpijak pada filsafat skeptik yang circular, sampai menyimpulkan tiada hal yang obyektif ketika berhadapan dengan Alkitab.

Saya sendiri sudah menyampaikan bahwa menyangkut Alkitab, tidak semuanya sulit dipahami sehingga sampai perlu tafsir. Ada cukup banyak yang mudah dipahami, seperti contoh yang saya berikan yaitu Matius 1. Bila sesuatu yang sudah jelas bisa dipahami masih dibelokkan dengan tafsiran, bukankah itu suatu upaya sengaja untuk mendistorsikan makna harafiah? Menurut saya, tindakan seperti ini justru ngawur dan berbahaya.

Bro JT menulis:

Sekali lagi, saya kemukakan di sini bahwa sekalipun cara menafsir bukanlah cara yg sempurna untuk kita bisa menangkap pesan dari Allah di dalam Alkitab, tetapi hanya cara inilah yang memungkinkan dan yg terbaik (dari semua cara yg ada) untuk kita gunakan sekarang ini. Subyektifitas manusia adalah suatu hal yg sudah tidak terpungkiri lagi. Karena itu, apa yg hrs kita lakukan bukanlah memungkiri atau menyangkali mengenai subyektifitas kita itu, tetapi kita seharusnya memfokuskan perhatian dan usaha2 kita untuk mengiimbangi dan meminimalisir sedemikian rupa dampak dari subyektifitas kita itu.

Bagaimanakah cara yg bisa kita tempuh untuk itu? Yaitu dengan memilih dan menggunakan cara yg paling tidak subyektif. Dan, satu2nya cara yg paling tidak subyektif (dari semua cara yg ada sekarang ini) ialah cara menafsir, yg di dalamnya terbuka peluang yg selebar-lebarnya untuk menerima masukan2 dari orang2 lain. Sehingga, hasil dari sebuah tafsiran itu bukanlah sesuatu yg merupakan pandangan dari satu orang saja, melainkan merupakan sintesa dari pandangan2 yg berasal dari berbagai sumber (orang), khususnya yg berasal dari orang2 yg memang ahli di bidang tersebut.

Sekarang saya mau bertanya, mohon agar dijawab:

1)  Penulis perjanjian baru, saya ambil 1 contoh Paulus. Menurut anda, apakah Paulus memahami "Kitab Korintus" atau "Surat Paulus kepada Jemaat di Korintus" atau Paulus masih perlu menafsirkan apa yang ditulisnya sendiri?

(kenapa saya tanyakan ini? karena anda bilang bahwa subyektifitas manusia sudah tidak terpungkiri lagi alias siapaun manusianya sudah pasti tidak mungkin bisa 100% obyektif)

2) Anda menganggap bahwa semakin banyak orang yang berpandangan sama, itu semakin mendekati kebenaran. Sedangkan saya menganggap (melanjutkan penalaran anda) bahwa 100 orang subyektif tidak mungkin menghasilkan 1 pandangan yg solid obyektif.  Atau saya pake bahasa pertama, 1000 orang gila berkumpul / bersepakat, tidak akan pernah menghasilkan 1 orang waras.  Pertanyaannya: tolong jawab, menurut anda siapakah yang benar, Calvin atau Armenius dalam soal Predestinasi vs Freewill.  Anda jangan lupa bahwa kedua tokoh diatas sama2 memiliki penganut yang sangat besar.

Saya menunggu jawaban anda bro JT, karena jawaban anda akan dapat membuktikan kualitas blog anda ini.  Jangan sampai niat baik kita untuk belajar, mengajar atau berbagi informasi rohani yang baik, justru menjadi batu sandungan baik bagi diri kita maupun orang lain.

Selamat Natal 2009, saya sedang menantikan tanggapan / jawaban anda...

 

Julius Tarigan's picture

@Matahari: Jawaban untuk Anda

Bro Matahari, saya rasa secara prinsip hal2 yang Anda persoalkan itu sdh terjawab dari jawaban saya yg sblmnya. Tetapi, kalau Anda merasa msh blm, baiklah saya akan memberikan beberapa hal lagi di sini (yg lbh spesifik) sebagai jawaban untuk Anda. (Nb: Demi diskusi yg tetap tertuju pd topiknya saja, saya hanya menjawab yg msh berkaitan dekat dgn topik blog ini saja).

 

1.      Sesungguhnya kita tidak mungkin bisa memahami suatu ungkapan (yang secara lisan maupun yang tertulis) tanpa sebelumnya kita melakukan penafsiran terhadapnya. Sebab, penafsiran itu tidak lain adalah usaha untuk memahami. Jadi, mustahil orang bisa memahami sesuatu (suatu pernyataan, misalnya), tanpa sebelumnya dia telah melakukan penafsiran terhadap pernyataan tersebut.

 

a.   Perhatikanlah bahwa ketika saya mempertentangkan antara cara menafsir dan cara “memahami” di blog saya itu, saya selalu membubuhkan tanda kutip ganda pada kata “memahami” tersebut. Dalam hal itu saya sebenarnya hanya menunjuk kepada “memahami” versinya Hai-hai. Sebab, Hai-hailah yang mempertentangkan antara menafsir dan memahami. Menurut saya itu sebuah pendapat yang sangat tidak beralasan dan hanya mengada-ada saja. Mengapa? Sebab, mustahillah untuk memisahkan, apa lagi untuk mempertentangkan keduanya itu (menafsir dan memahami). Karena, sekali lagi, menafsir itu tidak lain adalah bagian dari usaha untuk memahami.

b.   Memahami itu menurut kamus berarti “mengerti benar mengenai sesuatu”. Untuk bisa mencapai ke tahap itu (minimal mendekati ke sana), kita harus melalui tahapan-tahapannya, mulai dari yang paling dasar/rendahnya. Penafsiran itu adalah merupakan salah satu dari tahapan-tahapan untuk menuju kepada tahap memahami tersebut.

 

2.  Memang cukup banyak orang awam yang berpikir/beranggapan bahwa yang memerlukan penafsiran di dalam Alkitab itu hanyalah ayat-ayat atau bagian-bagian yang tertentu saja dari Alkitab, yaitu yang nyata-nyata memang sangat sulit untuk dimengerti secara biasa saja. Pemikiran/anggapan ini keliru. Mengapa? Pertimbangkanlah hal yang saya kemukakan berikut ini.

 

Sesungguhnya Alkitab yang kita miliki sekarang ini (yang sudah diterjemahkan dari bahasa aslinya, Ibrani dan Yunani, ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa-bahasa yang lainnya lagi), di dalam semua kata yang terdapat di sana, tidak lain adalah merupakan hasil penafsiran yang dilakukan oleh para ahli.

 

Mungkin Anda akan berargumen begini: “itu kan terjemahan, bukan tafsiran!”. Memang, sering juga kita yang awam berpikir begitu. Tetapi, kita harus menyadari bahwa tidak ada satu pun dari terjemahan Alkitab itu yang, dalam prosesnya, tidak melibatkan penafsiran.

 

Dan, satu hal yang tidak terbantahkan ialah: jika Alkitab itu hanya diterjemahkan saja secara leterleks/harfiah (saya sebenarnya tidak setuju bahwa terjemahan yang leterleks itu pun dianggap bukan tafsiran atau tanpa melibatkan penafsiran, tetapi kita andaikan saja dulu bahwa terjemahan yang harfiah tersebut bukanlah hasil dari penafsiran), maka bisa dipastikan bahwa hasilnya nanti akan sama sekali tidak dapat dimengerti, ketika kita membacanya.

 

Sesungguhnyalah para penterjemah Alkitab telah melakukan (menambah-kurangi dan menyesuaikan di sana-sini) banyak hal di dalam “terjemahan” mereka itu. Sehingga, hanya dengan demikianlah, di tangan kita sekarang telah tersedia sebuah Alkitab dalam bahasa  kita sendiri dan dengan kalimat-kalimat yang, pada umumnya, cukup “mudah” untuk kita mengertinya. Dan, itu semua bisa menjadi seperti itu adalah karena Alkitab itu tidak hanya sekedar diterjemahkan begitu saja dari bahasa aslinya ke dalam bahasa kita, tetapi karena dalam men-“terjemah”-kannya itu para ahli juga memasukkan unsur penafsiran di dalamnya (kalau Anda tidak bisa mempercayai hal ini hanya karena saya yang mengatakannya, silahkan Anda tanyakan hal ini kepada orang-orang di Lembaga Alkitab Indonesia atau lembaga2 Alkitab lainnya!). Untuk mendapatkan sekedar gambaran saja mengenai hal tersebut, cobalah membuka beberapa versi terjemahan Alkitab yang ada, dan lihatlah betapa beragamnya pilihan kata yang dipakai oleh para penterjemahnya untuk “menterjemahkan” suatu kata atau ungkapan yang tertentu di dalam bahasa aslinya (Ibrani/Yunani), ke dalam bahasa-bahasa yang lainnya itu.

 

Nah, kalau semua kata di dalam Alkitab kita itu pada dasarnya adalah merupakan tafsiran juga, maka bukanlah hal yang aneh kan, kalau hasil2 tafsiran (yg saat ini terdapat di dalam Alkitab kita itu) masih ditafsirkan lagi sekarang ini? Sebab, pengetahuan manusia itu masih terus-menerus mengalami perkembangan. Hasil tafsiran dari orang-orang yang sebelumnya masih perlu untuk “lebih disempurnakan” lagi oleh orang-orang pada masa sekarang ini. Sebab, yg namanya penafsiran itu adalah sesuatu yang masih terus terbuka untuk perubahan dan “penyempurnaan”. Infabilitas Alkitab itu hanyalah pada teks-teks Alkitab yang aslinya saja. Tetapi, di dalam teks-teks yang sudah di-“terjemahkan”, pastilah masih perlu untuk terus-menerus diperbaharui atau disesuaikan lagi (dan ini berlaku untuk semua kata atau ayat di dalam Alkitab kita tersebut).

 

3.     Mengenai subyektifitas yang Anda katakan bahwa 100 orang subyektif tidak mungkin menghasilkan 1 pandangan yang solid obyektif” dan ”Anda menganggap bahwa semakin banyak orang yang berpandangan sama, itu semakin mendekati kebenaran. Di situ Anda telah membuat kekeliruan. Kekeliruannya pada 2 hal yg berikut ini:

 

a.   Yang saya kemukankan di sana adalah usaha untuk “meminimalisir” subyektifitas kita itu, yaitu dengan membuka diri bagi masukan-masukan dari orang-orang lain, bukan  usaha untuk mendapatkan “1 pandangan yang solid obyektif” atau untuk mencapai keobyektifan sepenuhnya (yang sudah saya katakan sebagai suatu hal yang mustahil bisa dicapai oleh manusia).

 

b.    Anda keliru ketika berkata begini: ”Anda menganggap bahwa semakin banyak orang yang berpandangan sama, itu semakin mendekati kebenaran.” Itu bukanlah apa yang saya katakan/maksudkan. Tetapi inilah yang saya katakan: Satu-satunya jalan yang memungkinkan dan yang juga merupakan jalan yang bijak untuk kita tempuh ialah dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya masukan dari orang-orang lain (khususnya lagi, tentunya, yang berasal dari mereka yang memang tergolong sebagi ahli di bidang tersebut). Dalam usaha untuk “meminimalisir” subyektifitas itu, caranya bukanlah dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya pendapat/pandangan yang sama, tetapi memperkaya pendapat/pandangan kita sendiri dengan pendapat2/pandangan2 dari orang2 lain. Justru, pendapat2/pandangan2 yang berbeda dengan yang kita miliki sendiri adalah merupakan masukan yang lebih berarti/berguna, dari pada pendapat2/pandangan2 yang sama dengan yang kita miliki. Sebab, pendapat2/pandangan yang berbeda dengan yang kita miliki itulah yang akan memperkaya pendapat/pandangan kita sendiri.

 

Demikianlah saja dulu yang bisa saya berikan sebagai jawaban untuk Anda pada kesempatan ini. Kiranya jawaban ini bisa menjelaskan kepada Anda. Thanks buat komentar Anda di sini. Gbu.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

matahari's picture

@ JT

Dear bro JT,

Dalam topik ini rupanya kita tidak sepaham, kacamata kita berbeda dalam melihat topik anda.  Jadi saya pikir tidak perlu dilanjutkan.  Nanti ketemu lagi di topik yang lain saja.

 

Julius Tarigan's picture

@Matahari: Ok, bro!

Kita tidak terikat dan tidak ada tekanan apa-apa. Diskusi kita di SS ini kan lebih merupakan sharing semata, jadi tidak ada target2 tertentu yang harus kita kejar atau tidak untuk merebut apapun.

Saya senang Anda telah memberikan komentar2 Anda di sini, dan kalau sekarang Anda memutuskan untuk berhenti, itu adalah hak Anda sepenuhnya! Saya hanya bisa mengatakan: terima kasih atas kesediaan Anda berpartisipasi di blog saya ini, dengan memberikan komentar2 Anda hingga sejauh ini. Gbu.

 

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN; Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~

__________________

~“Mereka telah mengubah RUMAH TUHAN menjadi SARANG PENYAMUN;
Adalah tugas suci kita sekarang ini untuk MEREFORMASInya!”~