Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

The Smiling General & Cenderawasih

anakpatirsa's picture

        Aku pergi ke Bank Indonesia. Gara-gara Alkitab. Tepatnya, gara-gara uang kadaluarsa di Alkitab.

        Adikku yang jadi pendeta di pedalaman sana yang buat gara-gara. Hari Jumat, ia yang baru sampai berkata, "Aku mau ke bank dulu. Mau nukar uang yang kutemukan di Alkitab jemaatku ini."

        Itu The Smiling General dan burung cenderawasih. The Smiling General ditarik tahun 2000. Artinya, mungkin saja uang itu sudah terselip di sana selama sepuluh tahun. Alkitab memang paling pas untuk menyelibkan uang, selain foto, surat cinta, dan KTP tentunya. Benda-benda itu bisa menjadi awet.

        "Bank mana?"

        "Tentu saja Bank Indonesia."

        Aku kecewa dengan adikku. Bukan karena ia tidak bisa mendidik jemaatnya membaca Alkitab. Tetapi karena ia tidak paham tugas dan tanggung jawab Bank Indonesia. Ia boleh saja tinggal di pedalaman sana, tetapi jangan sampai ketika kembali ke kota, seenaknya masuk ke bank sentral.

        "Bank Indonesia adalah bank yang melayani bank umum, bukan melayani masyarakat umum," kataku, sedikit prihatin. "Kamu pernah melihat orang antri di Bank Indonesia? Masuk saja tidak bisa. Bank Indonesia mencetak uang, dan bertanggung jawab atas pendistribusiannya ke bank-bank umum. Bank-bank umum itu yang bertanggung jawab atas pendistribusiannya ke masyarakat."

        Ia hanya diam.

        Aku menambahkan, kalau saja kami di kampung, dan si bungsu belum membakar buku-buku pelajaran kami. Aku bisa menunjukkan bagian itu di buku IPS Ekonomi dan Koperasi untuk SMP kelas II terbitan Ganeca Exact Bandung.

        Adikku percaya kakaknya bisa menunjukkan bagian itu hanya dengan sekali buka.

        "Kalau begitu, aku pergi ke BNI saja."

        Pilihan bagus.

        Ketika pulang, ia berkata, "Ternyata aku masih bodoh, benar-benar tetap sebodoh dulu."

        "Mengapa?"

        "Karena aku masih percaya sama orang yang selama ini memang kukenal sok tahu," jawabnya. "Bisa-bisanya aku masih mau dibodoh-bodohin. Ketika kecil masih bisa kuterima. Sekarang? Aku sudah menikah, tetapi masih juga bisa dibodoh-bodohin."

        "Oleh siapa?"

        "Tadi aku ke BNI. Setelah antri setengah jam, petugasnya berkata, ‘Maaf Pak, penukaran uang Bapak hanya bisa dilayani oleh BI.’"

        Aku tidak bisa menahan senyum. Aku bilang, aku tidak bermaksud membodoh-bodohin-nya. Berdasarkan teori fungsi dan tanggung-jawab bank sentral, Bank Indonesia tidak melayani nasabah perorangan. Bank Indonesia nasabahnya adalah bank-bank umum.

        "Itulah masalahnya," kata adikku, "Aku tahu kamu tidak bermaksud membodoh-bodohin aku."

        Ia berkata, seharusnya tidak langsung percaya begitu saja dengan pengetahuanku yang banyak itu.

        Aku tidak ingin mengajaknya berdebat, aku diam saja.

        Ia minta tolong aku ke Bank Indonesia Senin nanti. Hari Jumat Bank Indonesia sudah tutup. Ia tidak bisa menunggu, ada khotbah hari Minggu, jadi harus pulang besok.

        Aku tidak keberatan. Ia melanjutkan, "Aku sudah punya bahan dan ilustrasi yang bagus untuk khotbah lusa."

        "Tentang Alkitab yang seharusnya lebih sering dibuka?"

        "Bukan," jawabnya. "Tentang pengajaran yang benar dan pengajaran yang palsu."

        Aku ingin membanggakan situs Alkitab yang membuatnya bisa mendapat ilustrasi tentang ajaran palsu hanya dengan mengetik "ajaran yang benar." Kupikir lain kali saja. Ia sedang tidak berminat dengan teknologi.

        Itulah awal mulanya aku sampai masuk ke Bank Indonesia ini. Menunggu petugas memanggil pengantri nomor 57. Di sebelahku, seorang pria menunggu dengan sabar. Kulihat nomor antriannya, 21.

        Aku masih punya banyak waktu untuk melamun.

        Empat puluh dua menit, pria disampingku berdiri. Penderitaannya berakhir. Aku sudah menggunakan kalkulator di ponselku untuk menghitung nilai rata-rata. Dua jam lagi baru giliranku.

        Satu jam, terdengar, "Nomor antrian 57, bilik 3."

        Statistik juga bisa salah.

        Aku jadi tahu mengapa bisa ada yang setengah jam di bilik. Kalau uang yang mau ditukar itu rusak atau robek, petugas menambalnya dengan kertas supaya utuh. Pasti supaya mudah dihitung kalau mau dibakar nanti.

        Petugas di depanku memperhatikan uang yang kuserahkan. Ia bertanya, "Tahu dari mana kalau dua minggu lagi uang bergambar Soeharto ini sudah tidak bisa ditukar?"

        Aku tidak mengetahuinya dari siapa-siapa. Uang itu mungkin sudah tersimpan dengan aman selama sepuluh tahun.

        Ia menjelaskan, bulan Agustus 2000 Bank Indonesia mencabut dan menarik beberapa pecahan uang kertas. Salah satunya, uang Rp. 50.000 bergambar Soeharto. Jangka waktu penukarannya, dari 21 Agustus 2000 s/d 20 Agustus 2005 dilakukan di Bank Indonesia dan bank-bank umum. Sedangkan sejak 21 Agustus 2005 s/d 20 Agustus 2010 penukaran hanya bisa dilakukan Bank Indonesia. Setelah itu, dua minggu lagi, Bank Indonesia tidak akan melayani penukaran uang-uang tersebut.

        Aku tidak akan menceritakannya pada adikku. Nanti ia jadikan ilustrasi khotbah. Jemaatnya nanti bersaksi, "Karena sebentar lagi tidak bisa ditukar, Tuhan membuat pendeta saya menemukan uang yang terselip sepuluh tahun di Alkitab saya."

        Begitu sampai di halaman parkir, dengan tujuh lembar uang Rp. 20.000 yang masih bau pabrik, aku mengirim SMS ke adikku, "Uangnya sudah kuambil. Mau diapain?"

        Ia menelpon satu jam kemudian, katanya pemilik uang itu kemarin berkata, "Wah, ternyata masih ada yang lebih sok tahu, ya?" Uang itu sebenarnya ia beri. Kalau bisa ditukar, uangnya boleh dipakai. Kalau tidak, boleh juga jadi koleksi.

        Pantas adikku bersemangat ke bank. Itu sudah jadi uangnya.

        Ia minta aku membeli voucher TV kabel seharga Rp. 75.000 di Telkom. Sisanya, sisa uang itu, jatahku. Terserah mau aku apakan.

        Lumayan. Adikku bisa nonton TV Kabel sebulan penuh, aku bisa membeli USB 2.0 to SATA IDE Cable, alat yang membuat komputerku akhirnya bisa mengakses DVD drive.

joli's picture

nemu senyum

Halo AP apa khabar? kangen oiii

Smiling general, jadi ingat, beberapa bulan lalu waktu bongkar2 kardus di gudang juga nemu amplop berisi lembaran lembaran senyum pak presiden. Itu adalah amplop gaji mas Paul ketika menjadi kepala sekolah. Memang tak pernah di buka,  dikumpulin bila ada yang memerlukannya..

Eh, nemu satu amplop, iya uang itu harusnya untuk kenangan, namun namanya duit, ya Joli tukarin i bank juga ;)

anakpatirsa's picture

Kabar dari Jauh

Kabarnya baik-baik saja.

Sekarang hanya lihat di tv tentang Solo,

Termasuk nonton Arema di Manahan. Juga nonton berita tentang Solo yang lagi ramai dengan isu penangkapan itu.

Di sini tidak ada pasar loak, baik buku maupun barang-barang seperti baut rusak, dll. Juga tidak ada nasi liwet.

 

Purnawan Kristanto's picture

Ck...ck..ckk...Joli Joli

Itu adalah amplop gaji mas Paul ketika menjadi kepala sekolah. Memang tak pernah di buka,  dikumpulin bila ada yang memerlukannya..

Ckk..ck..ck... kalau sudah kebanyakan duit emang gitu ya. Amplop gaji aja nggak sampai dibuka. Wis to Cik, diwenehke aku wae. Nggak untuk diri sendiri kok, tapi untuk pekerjaan kemanusiaan. Piye?

__________________

------------

Communicating good news in good ways

helloworld's picture

serasa....

baca blog ini jadi serasa u masi ada di sini.
tybyt masih sehat2 saja kan? :)

__________________


TGBTG (Yoh 3:30 - IA harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.)

anakpatirsa's picture

tybyt

Hallo Teman, sekarang benar-benar ikut mengawasi SS, ya.

Tentang tybyt. Aku sms malam itu, tanya apakah tybyt pakai yang i386 atau x86_64? itu karena tidak bisa kutemukan DVD yang dari Solo. Aku sempat berpikir itu dibuang adikku karena tidak tahu arti kata CentOS. Ternyata ada di lemari, jadi tidak jadi download yang 3.9 GB itu dari warnet (Ngomong-ngomong aku pikir dulu yang didownload itu 1 GB, ternyata hampir 4 GB ya. Ha.. ha.. ha.. rekor teman).

Tybyt baik-baik saja. Kubawa pergi setiap hari. Tinggal colok ke LCD Proyektor tampillah boot screen-nya CentOS yang memang sengaja kupamerkan di depan kelas.

Konverter itu yang membuatku akhirnya bisa update software-nya. Aku keliling kota mencarinya. Masuk ke hampir semua toko komputer. Mencari alat itu di sini lebih sulit daripada mencari alat yang sama di bengkel kita, walaupun waktu itu power supply-nya bercerai dengan kabel USB-nya. Aku akhirnya menemukan toko yang menjualnya. Setelah menyerah menggunakan kata IDE dan (S)ATA. “Aku hanya perlu berkata, “itu, alat yang bisa untuk membaca CD-ROM pakai colokan USB.” Di toko pertama, harganya Rp. 200.000. Setelah keliling lagi, dapat yang lebih murah, Rp. 100.000. Jadi aku tinggal menombok 35.000 saja.

Kemarin dapat pesan bagus ini dari tybyt. (He.. he… Pasti ketahuan sama yang sudah tahu kalau hanya baru tahu.)

[anakpatirsa@tybyt ~]$ sudo su
We trust you have received the usual lecture from the local System
Administrator. It usually boils down to these three things:
#1) Respect the privacy of others.
#2) Think before you type.
#3) With great power comes great responsibility.
Password:

Error di bagian bawahnya tidak perlu kutulis. Pasti tahu.

helloworld's picture

Hehehe

Hallo Teman, sekarang benar-benar ikut mengawasi SS, ya.

Ngga sih, aku cuman suka baca-baca blog yg enak dibaca, tanpa bumbu perdebatan theologis. Belajar mengerti karakteristik orang dari tulisan mereka. Belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Melihat dari jendela dimana mereka melihat. :)

Tentang tybyt. Aku sms malam itu, tanya apakah tybyt pakai yang i386 atau x86_64? itu karena tidak bisa kutemukan DVD yang dari Solo.

Aku emang sempat mengira, apakah DVDnya ilang. Kalaupun ilang, didalam harddisk sudah ada copynya kok. :)

Aku sempat berpikir itu dibuang adikku karena tidak tahu arti kata CentOS.

Penyakit suka nuduhnya masih tetap. :)

Ternyata ada di lemari, jadi tidak jadi download yang 3.9 GB itu dari warnet (Ngomong-ngomong aku pikir dulu yang didownload itu 1 GB, ternyata hampir 4 GB ya. Ha.. ha.. ha.. rekor teman).

Itu belum seberapa, Teman. Aku sempat download MacOS 7GB Cuman lum sempat di install sih :D Lagian di sana download speednya kencang ya? Kalo 4G bisa berapa lama tuh? Apa ga bikin kantong bolong? Satu jam disana berapa, Teman?

Tybyt baik-baik saja. Kubawa pergi setiap hari. Tinggal colok ke LCD Proyektor tampillah boot screen-nya CentOS yang memang sengaja kupamerkan di depan kelas.

Penyakit tukang pamermu ini emang ga bisa sembuh rupanya. Hehehe

Kemarin dapat pesan bagus ini dari tybyt. (He.. he… Pasti ketahuan sama yang sudah tahu kalau hanya baru tahu.)

[anakpatirsa@tybyt ~]$ sudo su

We trust you have received the usual lecture from the local System

Administrator. It usually boils down to these three things:

#1) Respect the privacy of others.

#2) Think before you type.

#3) With great power comes great responsibility.

Password:

Error di bagian bawahnya tidak perlu kutulis. Pasti tahu.

Kalo u pake su seharusnya ga usah pake sudo lagi teman. :) Kalo pake sudo dilanjutkan perintahnya langsung aja, ga usah pake su. Cuman harus udah didaftarkan pake perintah visudo
Haiyah, malah jadi omongin pinguin. :)
Glad to be able to chat with you again. :)

__________________


TGBTG (Yoh 3:30 - IA harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.)

anakpatirsa's picture

Tentang downloadnya, gambar

Tentang downloadnya, gambar di bawah ini bisa bercerita.

Ini kuambil setelah download selama dua jam. Ku print screen sebelum menyerah.

Warnet sejam, hampir sama dengan di Solo. Rata-rata Rp. 4000 perjam.

Rusdy's picture

Latihan Berdebat

"...Aku tidak ingin mengajaknya berdebat, aku diam saja..."

Pintar juga si AP ini, pasti AP memilih diam karena belum latihan berdebat di pasar klewer. Setelah mampu berdebat dengan orang tersebut siang-malam, sampai berminggu-minggu kemudian, sampai masa tukarnya tidak berlaku lagi di BI, lalu, berdebat lagi tentang salah siapa yang mengakibatkan perdebatan ini sampai berlanjut berminggu-minggu sehingga tujuan utamanya (menukar uang) jadi tidak tersampaikan... jadi tontonan menarik :)

anakpatirsa's picture

Debat

Terima kasih mengatakan anakpatirsa pintar, kalau kuajak berdebat pun, aku tidak pernah menang.

Tetapi aku suka melihat orang berdebat, termasuk berdebat di SS. Apalagi kalau lihat orang debat udah gak pakai logika.

 

 

Purnomo's picture

AP, kali ini kita berseberangan

AP: "Tetapi aku suka melihat orang berdebat, termasuk berdebat di SS. Apalagi kalau lihat orang debat udah gak pakai logika."

purnomo: Saya suka melihat orang berdebat di SS terlebih bila mereka berdebat sudah gak pakai logika ditambah emosi yang meletup-letup. Ini hiburan buat saya karena banyak lucunya. Dalam pekerjaan saya pernah diajari ketrampilan bernegosiasi yang salah satu trik untuk mengetahui "isi perut" lawan bicara adalah membuatnya marah atau emosional sehingga ia lepas kontrol. Dalam keadaan marah maka semua yang ada dalam pikiran orang itu akan diucapkannya. Topeng pun terlepas.

          Selain itu, lewat debat kita bisa menajamkan pengetahuan akan orang lain. AP mau ikutan latihan berdebat? Helloworld enak dijadikan sparing partner lho.

          Btw, menyimak pertarungan kata dalam SS ini saya mengangkat topi kepada gkmin yang selalu santun dalam merespon komentar sekasar apa pun.

          Salam.

          

 

clara_anita's picture

AP

#3) With great power comes great responsibility.

Ah.. saya jadi teringat Omnya mas Spiderman...

Halo AP.. apa kabar? Rasanya sudah lama tak bersua...

GBU

anakpatirsa's picture

Spiderman?

Spiderman memang membuat banyak ungkapan lama menjadi terkenal.

Ada ungkapan Mr. Monk yang paling saya suka, 'It's a gift and a curse."

Itu juga diambil Spiderman:
Whatever life holds in store for me, I will never forget these words: "With great power comes great responsibility." This is my gift, my curse. Who am I? I'm Spider-man.

Tentang kabar, banyak yang menanyakan, jawabannya adalah, "Kabarnya baik-baik saja."