Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

#Shifting

yujaya27's picture

Pernah membaca tulisan Pak Rhenald Kasali yang judulnya Lawanlah "Shifting" dengan Inovasi? Bisa dibaca di website kompas kolom Rhenald Kasali, atau saya copas saja link addressnya untuk memudahkan https://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/06/080714226/lawanlah-shifting-dengan-inovasi, dan pernahkah membaca tulisan Pak Yuswohady "Welcome Leisure Economy", ini linknya http://www.yuswohady.com/2017/10/28/welcome-leisure-economy/

Kedua tulisan di atas intinya berbicara tentang pergeseran pola konsumen yang terjadi di hampir segala negara (termasuk Indonesia), khususnya negara yang sudah maju, dan memang beberapa tahun terakhir ini perkembangan technoly sudah berkembang begitu cepat sekali, beberapa waktu yang lalu saya menerima tulisan di dalam sebuah grup WA tentang technology 5G, yang katanya akan jauh lebih cepat berkali lipat dari 4G, dan sekali lagi dengan hal ini akan merubah atau menggeser pola yang sudah ada.

Bagaimana dengan gereja? Apakah terjadi "Shifting" juga? Jelas ada, contoh yang mudah, dulu dulu sekali gereja-geraja tradisional puji-pujiannya selalu memakai lagu "hymne", lagu jaman abad 18 dan 19, sekarang terjadi pergeseran banyak gereja tradissional mulai menyanyikan lagu kontemporer, alat musiknya dari hanya piano/pipe organ, sekarang ada gitar, band etc, tadi pagi saya mengikuti ibadah di sebuah gereja Presbyterian, lagu yang dinyanyikan pun ada lagu kontemporer dan alat musiknya spt band :), ehh... saya ke sana karena hari ini tidak bisa ikut kebaktian, harus bantuin di fund raising, jadi bukan maksudnya mau membelot ataupun jajan di luar ya :P

Lanjut lagi ttg shifting di gereja, kalau gereja tradisional shifting ke musik, maka sebaliknya gereja-gereja Kharismatik shifting ke pengajaran dan pendalaman Alkitab, masih ingatkan tulisan Pdt JS tentang trend yang terjadi di Amerika, banyak anak-anak muda yang berasal dari latar belakang Kharismatik, mereka akhirnya giat dalam menuntut pengajaran reform, pembinaan dan pendalaman Alkitab., trend ini tidak hanya di Amerika, sekitar 10 tahun yang lalu di dalam sebuah grup milis yang saya saya ikuti, saya mendengar istilah "Kharismatik Injili" yang ada di Indonesia, paling tidak di dalam grup yang saya ikuti itu (seingat saya) ada 2 orang yang dari latar belakang Kharismatik, pemahaman mereka sangat baik, tidak hanya cuma berbahasa lidah, nubuat, hidup sukses etc. Bagaimana dengan gereja tradisional yang asalnya dari gereja reform? Saya ndak tahu, karena saya sudah lama tidak di Indonesia dan asal gereja saya bukan gereja tradisional tersebut :).

Lalu bagaimana dengan gereja kita di Singapore, apakah terjadi shifting juga? Jelas terjadi, dulu jemaat kita sering disebut sebagai jemaat transit, tetapi sekarang apakah masih disebut sebagai jemaat transit? Tahun lalui saya pernah protes keras ke seseorang, karena masih menyebut gereja kita sebagai jemaat transit, dia sebagai jemaat yang sudah lama di gereja kita, tetapi tidak bisa melihat perubahan yang terjadi di gereja, jemaat transit itu adalah mindset yang lama, yang sudah harus ditinggalkan :) Shifting masih terus berlanjut di gereja kita, anak-anak sekolah minggu hampir 100% lahir di Singapore, begitu juga dengan komisi remaja, sebagian besar juga lahir di Singapore dan dari sekolah Minggu, dan mau tidak mau bahasa menjadi kendala, dan akan menjadi kendala yang sangat besar jika kita tidak mengajar berbicara bahasa Indonesia, seperti saya walaupun ngomong berbahasa Indonesia dengan anak2 (kadang campur Inggris jika mrk tidak ngerti), tetapi itupun untuk mereka mendengarkan kotbah dalam bahasa Indonesia, hanya dapat menangkapnya terbatas sekali, tidak 100% mengerti, karena kalimat di dalam kotbah sangat berbeda dengan perkataan sehari-hari, karena itu saya bisa mengerti jika ada teman dari keluarga muda yang protes kenapa komisi remaja sering libur, sehingga terpaksa anaknya ikut di Kebaktian Umum, mendengarkan kotbah di korem saja sudah sulit, apalagi dengerin kotbah di Kebaktian Umum :)

Saya tidak punya formulasi solusi yan tepat untuk hal ini, yang pasti gereja kita adalah jemaat berbahasa Indonesia, oleh karena itu bahasa Indonesia adalah bahasa utamanya, untuk sekarang ini kami menyuruh anak kami mengambil 3rd language Bahasa Indonesia, saya rasa itu akan sangat membantu dia, bukan kami saja, saya lihat teman-teman yang lain anak-anaknya juga sudah pernah mengambil 3rd language Bahasa Indonesia :). Saya rasa kita sebagai orang tua di Komisi Keluarga Muda perlu memikirkan hal ini, jika kita ingin anak-anak kita tetap satu gereja berbakti bersama dengan kita. Sebaliknya gereja mungkin juga perlu memikirkan hal ini, mungkin seperti tulisan Pak Rhenald Kasali perlu adanya terobosan inovasi, karena shifting akan terus berlanjut :)

Singapore 04 Mar 2018

Note: #Shifting tidak hanya terjadi di gereja-gereja luar negeri berbahasa Indonesia, tetapi juga terjadi di gereja-gereja tradisional, khususnya yang memakai bahasa daerah.