Ev. Andereas Samudera kembali membual. Kali ini dia mengajarkan bahwa Allah benci karya seni berupa patung, ukiran, boneka, lukisan dan foto serta barang-barang ofset. Menurutnya, barang-barang seni tersebut adalah celah bagi merasuknya roh-roh jahat ke dalam tubuh manusia sehingga mendatangkan penumpasan.
Memberanikan diri bertanya; Dalam buku Barang-Barang Tumpas Andereas Samudera menulis:
Bila seseorang menyembah berhala, roh dewa atau setan yang disembah melalui berhala itu akan memasuki, mendiami, serta menguasai jiwa si penyembah berhala. Bila ia menikah dengan anak Allah, percampuran darah itu akan membawa benih pemujaan berhala kepada keturunan mereka karena di dalam darahlah terletak nyawa seseorang. Nyawa adalah bagian dari jiwa seseorang. Barang-Barang Tumpas hal 27
Beberapa orang kaya yang telah berhasil dalam bisnis seringkali membuat monumen-monumen atas keberhasilan mereka berupa patung diri mereka atau koleksi patung lain, barang antik, binatang-binatang buas yang dikeringkan, mungkin sebagai kenang-kenangan atas keberhasilan mereka sebagai pemburu binatang hutan pada masa mudanya, dan sebagainya. Kehadiran barang-barang itu di dalam rumah seseorang kemudian ternyata mendatangkan penumpasan bagi dia dan anak cucunya. Ibid hal 31
Tidak semua patung dapat disebut berhala dan sebaliknya, tidak semua berhala berbentuk patung. Memang benar bahwa setiap pemuja berhala selalu mempunyai patung dewa yang dipujanya, yang telah diukir dalam bentuk tertentu. Akan tetapi tidak ada seorangpun dari mereka yang bersedia mendapatkan julukan penyembah berhala. Mereka selalu mengatakan bahwa patung itu hanya sebagai alat bantu untuk mengarahkan pikiran mereka kepada dewa mahasuci yang disembahnya. Justru itulah yang kita namakan menyembah berhala! Ibid hal 44
Kemudian muncul seniman-seniman patung yang semula mengerjakan patung dewa-dewa menurut pesanan para pemuja dewa, tetapi bila tidak ada pesanan lagi, mereka mengarahkan kepandaian mereka dalam memahat dan mengukir patung untuk menghasilkan karya-karya seni yang lain. Ibid hal 44
Jadi, ada dua macam patung yang dibuat: Patung berhala dan patung seni. Ayat di bawah ini menyatakan bahwa Allah membenci kedua bentuk patung itu. Ibid hal 44
Ulangan 4:15-19
Jadi, Tuhan melarang pembuatan makluk segala berhala dan segala sesuatu yang berbentuk makluk hidup. Tuhan bukan hanya tidak menyukai pembuatannya, melainkan juga penyimpanan barang-barang seperti itu. Oleh Firman Tuhan, pelanggaran akan hal ini disebut berlaku busuk. Ibid hal 45
Peringatan ini sungguh serius sehingga hal itu berarti bahwa orang yang melanggarnya akan mendapatkan bahaya yang buruk. Di mata Allah, pelanggaran ini dianggap sebagai perbuatan busuk dan bagi si iblis adalah suatu celah yang akan mencelakakan si pelanggar. Ibid hal 45-46
Allah sama sekali tidak menyukai patung dan dibuatkan patung. Dahulu Ia tidak suka dibuatkan patung, demikian pula sekarang dan selamanya. Mengapa? Ia hendak menampakkan diri secara langsung kepada mereka yang percaya kepada-Nya di dalam Roh. Ibid hal 47
Ia tidak suka seseorang membuat patung diri-Nya, terlebih lagi patung makluk ciptaan-Nya yang derajatnya lebih rendah daripada-Nya. Ia pasti lebih tidak suka lagi. Ibid hal 47-48
Dalam ulangan 4:15, kita mengetahui bahwa yang tidak disukai Allah adalah bentuk-bentuk patung itu. Tidak peduli apakah patung itu disembah atau tidak, asalkan bentuknya menyerupai berhala, laki-laki atau perempuan, atau binatang-binatang di udara, darat atau air, Allah tidak suka melihatnya. Ibid hal 48
Perhatikan bahwa dalam Keluaran 20:4, Tuhan dengan tegas melarang orang membuat patung dan dalam Keluaran 20:5 melarang orang menyembah patung-patung itu. Bukan hanya menyembah patung yang dilarang, membuatnya pun dilarang. Dengan kata lain, membuat patung saja dilarang apalagi menyembahnya! Ibid hal 48
Ikatan batin atau ikatan jiwa adalah hubungan antara jiwa seseorang dengan seseorang lainnya atau dengan benda-benda tertentu. Ikatan-ikatan seperti itu dapat menjadi saluran yang akan dipakai oleh roh-roh yang ada di alam roh ini untuk memasuki jiwa seseorang. Ada lima tingkat hubungan batin. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut: Ibid hal 49
Pada suatu hari seorang keturunan Cina berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah patung porselen yang terletak di etalase sebuah toko. Sejenak ia mengamati patung itu. Karena hatinya merasa tertarik pata patung itu, ia lalu masuk ke dalam toko itu. Setelah tawar menawar, ia membayar patung itu seharga lima juta rupiah. Ibid hal 49
Mengapa ia berani mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sebuah patung? Hatinya telah terpikat oleh keindahan patung itu! Setibanya di rumah, patung porselen itu ia taruh di atas sebuah rak hias yang terletak di tengah ruangan tamunya. Ibid hal 49
Seorang sahabatnya kemudian datang berkunjung ke rumahnya. Sahabat ini dengan segera tertarik kepada barang baru di atas rak hias itu. Ia mulai mengamat-amatinya dan bertanya, “Barang ini bagus sekali, berapa harga yang kau bayar untuk patung ini?”
“Coba terka, menurutmu berapa?
“Barangkali sepuluh juta rupiah?”
“Wah, kamu berani membayar sebanyak itu?”
“Ya, aku suka barang antik. Barang ini bagus sekali. Aku berani membayar sepuluh juta rupiah kalau kau melepasnya!”
“Ah, aku tidak berniat menjualnya, aku sendiri suka barang ini! Harga sebenarnya sih hanya lima juta!” Ibid hal 49
Mengapa ia tidak berniat menjual patung itu walaupun secara bisnis dapat memperoleh keuntungan yang besar sekali? Ia sudah mulai mencintai barang itu! Cinta tidak bisa dijual cinta yang bisa dijual itu adalah pelacuran! Ibid hal 49-50
Ketika seorang temannya yang lain datang, ia segera menceritakan perihal patung itu kepada temannya. Ia bercerita akan betapa bagusnya patung itu, bahwa ada orang lain yang telah menghargai patung tersebut sepuluh juta rupiah, bahkan kemudian menceritakan riwayat benda itu. Ia mulai membuka buku katalog barang antik dan menemukan riwayat benda mahal itu di sana. Ibid hal 50
“Barang ini berasal dari dinasti Ming, milik seorang gundik kaisar yang lari dari istana, menaiki sebuah kapal tetapi kapalnya karam di laut. Akan tetapi, lama setelah kejadian itu, kapal itu diangkat dari dasar lautan dan benda itu ditemukan lalu dijual kepada bangsawan anu, lalu terhilang pada suatu saat, … dan seterusnya.” Ibid hal 50
Kemudia dia menguraikan betapa bagusnya barang itu, betapa halus ukirannya, ciri-ciri benda zaman Ming itu, dan sebagainya. Orang ini sekarang telah memakai mulutnya untuk memuja patung itu. Memuja berarti mengucapkan kata-kata sanjungan untuk seseorang atau sebuah benda – padahal tujuan utama Allah menciptakan mulut manusia adalah untuk memuliakan Allah, selain untuk makan dan berkomunikasi. Ibid hal 50
Apabila suatu saat orang Cina ini meninggal, anak cucunya akan menghormati dia dengan cara menaruh benda kesayangannya itu di samping foto atau tempat abu sang ayah. Selanjutnya, sampai pada keturunannya yang ketiga atau keempat, mereka sudah tidak tahu lagi mengapa patung itu berada di atas meja sembahyang arwah nenek moyang mereka. Mereka akan menyembahyangi juga patung itu pada waktu menyembahyangi nenek moyang mereka. Ibid hal 50
Jadi, ikatan batin itu cenderung bertumbuh: mula-mula tertarik (to be attracted), senang atau terpikat (to like), cinta (to love), tidak lama kemudian mulai memuja (to adore), dan lama kelamaan menjadi menyembah (to worship). Ibid hal 50-51
Patung adalah tiruan bentuk suatu makluk hidup, yang berada baik di dunia nyata ini maupun di alam roh, terbuat dari bahan-bahan yang ada di dunia ini, tetapi yang sendirinya tidak hidup. Ibid hal 51
Tanpa disadari, banyak sekali patung-patung dan boneka yang telah memasuki rumah-rumah orang yang hidup pada zaman modern sekarang. Bahkan, ia seperti suatu hal yang sewajarnya ada di setiap rumah sebagai pengisi atau penghias ruangan. Banyak rumah anak-anak Allah yang juga dipenuhi dengan patung atau boneka dan tanpa disadari anak-anak Allah ini telah melanggar hukum Firman Tuhan dan mengundang berbagai bentuk penumpasan ke dalam rumah mereka. Ibid hal 51
Kitab Perjanjian Lama sama sekali tidak memberikan penjelasan mengapa Allah melarang umat Israel membuat patung. Akan tetapi, pada masa Perjanjian Baru ini, Roh Kudus yang mampu membawa kita ke dalam seluruh kebenaran, telah diberikan kepada kita sehingga bila kita bertanya kepada-Nya, Ia akan menjelaskan arti hukum-hukum Allah itu melalui hikmat Roh Kudus. Ibid hal 51-52
Ketika Tuhan untuk pertama kalinya membukakan rahasia barang tumpas ini kepada saya, saya bertanya kepada Roh Kudus mengapa Tuhan melarang pembuatan patung. Roh Kudus lalu menerangkan bahwa di alam roh terdapat makluk-makluk rohani dengan berbagai bentuknya. Bila membaca kitab Wahyu, di sana anda akan menemukan adanya berbagai bentuk makluk di alam roh, seperti roh naga, roh ular, roh-roh najis yang menyerupai katak (Wahyu 16:13), roh burung nazar (Wahyu 8:13), dan roh yang berbentuk kuda. Mereka pastilah binatang-binatang yang ada di alam roh karena kuda hijau (Wahyu 6:8), misalnya, jelas-jelas bukan kuda yang ada di alam nyata ini. Demikian pula dengan makluk yang menyerupai kalajengking, tetapi bermuka perempuan dan sayapnya bersuara keras seperti kereta perang (Wahyu 9:2-11). Masih ada banyak makluk alam roh yang bentuknya tidak kita lihat di dunia materi ini. Ibid hal 52
Bila melihat patung atau gambar dirinya ada di dalam sebuah rumah, makluk-makluk dari alam roh ini akan merasa memiliki hak untuk datang dan berkeliaran di dalam rumah tersebut, sama seperti bila anda memasang gambar atau foto seorang bintang film atau tokoh sejarah yang anda kagumi di dalam rumah anda, itu berarti anda memberikan penghargaan kepada tokoh itu. Gambar orang jahat atau seseorang yang anda benci tentu tidak akan anda pampangkan di dalam rumah anda. Ibid hal 52
Habakuk 2:19
Firman Tuhan dengan jelas menerangkan kepada kita bahwa patung-patung itu tidak memiliki roh di dalamnya. Akan tetapi patung-patung yang ditaruh di dalam sebuah rumah akan menjadi tanda hadir bagi roh-roh yang menyerupai bentuk patung itu untuk berada di dalam rumah tersebut. Dengan kata lain, patung-patung itu menjadi alasan yang sah bagi roh-roh jahat untuk mendiami patung itu di rumahnya. Jiwa setiap orang yang tinggal di dalam rumah itu akan menjadi sasaran yang terbuka untuk dimasuki dan dikuasai roh-roh jahat. Ibid hal 53
Bila kuasa roh-roh itu hendak ditiadakan dari jiwa orang itu, tanda hadir itu harus dimusnahkan terlebih dahulu. Beberapa hamba Tuhan sering mengucapkan doa pemutusan hubungan seperti ini, “Dalam nama Tuhan Yesus, aku memutuskan ikatan dengan patung-patung di dalam rumah ini yang membelenggu sudaraku!” Kenyataaannya, doa seperti ini tidak cukup karena patung-patung itu masih diberikan tempat di rumah tersebut, sebagai tanda bahwa roh-roh itu masih diberikan wewenang untuk berkuasa di dalam rumah itu. Sekalipun tidak terdapat roh di dalam sebuah patung, patung itu tetap harus disingkirkan guna menyingkirkan pengaruh kehadiran roh jahat di situ. Ibid hal 53-54
Sikap hati seseorang terhadap suatu lukisan, gambar, boneka, atau patung menyatakan ikatan batinnya dengan bentuk-bentuk itu. Disadari atau tidak, ikatan batin tersebut akan menyebabkan makluk-makluk itu memasuki jiwanya. Kehadiran roh-roh yang tidak kudus itu akan menyebabkan berbagai gangguan, baik dalam jiwa, pikiran, maupun kesehatan seseorang serta berbagai bentuk penyimpangan dari kehendak Allah. Ibid hal 55
Ketika pergi ke Kudus untuk kali berikutnya, pada sore harinya saya menyempatkan diri menengok ibu ini. Ibu ini bernama Anna dan berlatar belakang Katolik. Setelah dijelaskan mengenai kelahiran baru, ia mau menerima Tuhan Yesus masuk ke dalam hatinya. Setelah itu, saya mulai menangani penyakitnya. Di seluruh dunia, kebanyakan orang menderita sakit gula tinggi, tetapi ibu ini malah sebaliknya. Jadi, sekalipun ia meminum air gula dalam jumlah yang banyak, kadar gula di dalam darahnya tetap rendah. Akibatnya, ibu ini selalu bergerak dengan lamban dan terus menerus merasa lelah. Ia telah mengunjungi dokter-dokter Semarang, Jakarta dan Singapura, namun tidak ada satupun yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ibid hal 55
Ketika memasuki tokonya yang terletak di sebelah rumahnya, saya melihat dua ekor kura-kura kering yang besar sekali. Usianya pasti telah ratusan tahun. Saya mulai bertanya kepadanya, “Apa maksud anda menaruh dua kura-kura besar di depan toko itu?” Ibid hal 55
“Oh, itu dulu pesanan seorang turis asing. Ia minta dicarikan sebanyak lima buah. Saya baru mendapatkan dua buah lalu turis itu membatalkan pesanannya. Jadi kura-kura itu saya biarkan saja di sana sebagai hiasan. Kenapa pak Andereas?” Ibid hal 56
“Saya merasa tidak sejahtera dengan keberadaan dua buah kura-kura itu. Coba usahakan agar kedua kura-kura itu disingkirkan dari rumah ini. Taruhlah di tempat lain, asalkan tidak berada dalam satu lingkungan di mana keluarga anda tinggal.” Ibid hal 56
Tia-tiba seorang anggota tim yang menyertai saya berkata, “Pak Andereas, tadi siang ketika kita beristrirahat, saya bermimpi melihat seekor kura-kura melompat keluar dari kamar tidur bapak!” Ibid hal 56
Saya tidak tahu apa hubungan antara mimpi anggota tim saya itu dengan masalah yang kami hadapi, tetapi pernyataan itu rupanya telah berhasil meyakinkan ibu Anna sehingga pada akhirnya ia berkata, “Jika demikian baiklah, saya akan menyingkirkan kura-kura itu ke hotel saya. Saya mempunyai sebuah hotel di kota ini.” Ibid hal 56
Setelah mendoakan Ibu Anna, kami kembali ke Bandung. Sebulan kemudian Ibu Anna menulis surat kepada kakaknya di Bandung yang isinya menyatakan bahwa ia telah sembuh total dan benar-benar sehat setelah kami layani. Belakangan saya berjumpa lagi dengan ibu ini. Ia memberi tahu saya bahwa kura-kura kering itu tidak jadi ditaruh di hotelnya, tetapi dijual semuanya kepada orang yang datang segera setelah kami pulang. Ibid hal 56
Setelah peristiwa ini, saya bertanya kepada Roh kudus dan Ia menerangkan bahwa keberadaan kura-kura kering di dalam rumah ibu itulah yang telah menjadi celah dan jembatan bagi roh-roh kura-kura di alam roh sehingga mereka berdatangan ke rumah itu. Kura-kura kering itu adalah sejenis patung juga walaupun terbuat dari kulit binarang itu sendiri. Roh itu tentunya tidak terlalu senang berdiam dalam patung yang tidak bergerak. Oleh karena itu, ia berusaha untuk memasuki tubuh seseorang di dalam rumah itu karena dengan demikian ia akan memperoleh lebih banyak kesempatan untuk bergerak di alam nyata ini dan mempengaruhinya. Mereka yang sensitif, biasanya wanita dan anak-anak, lebih mudah dimasuki oleh roh-roh. Karena merupakan orang yang paling sensitif di dalam rumahnya, roh kura-kura itu mendi