“Joh 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Pada era post-modernism dimana kebenaran absolut tidak lagi dikedepankan, malah banyak para tokoh masyarakat Kristiani akhir-akhir ini membuat statement yang membingungkan seputar “Apa benar Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan?”
Di bawah ini adalah pendapat tokoh-tokoh Kristiani dari tulisan seseorang yang memiliki nickname kristenberea di sebuah komunitas blogger Kristen, sabdaspcace.
Prof. Dr. Phil. Franz Magnis-Suseno SJ mengatakan bahwa banyak jalan keselamatan sehingga Tuhan Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. (Sumber : http://www.islamlib.com/WAWANCARA/291202magnis.html)
Th. Sumartana mengatakan bahwa kekristenan harus beralih dari Kristusentris ke Theosentris karena Kristus juga beriman kepada Tuhan. (Tuhan yang dimaksud adalah juga Tuhannya agama-agama lain) (Sumber : http://www.pgi.or.id/balitbang/bal_06/02_saa_xvii/01.html)
E.G. Singgih mengatakan bahwa kebenaran Tuhan Yesus sama dengan kebenaran Kong Hu Cu jadi keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus sama dengan keselamatan yang diberikan oleh Kong Hu Cu. (Sumber : http://www.pgi.or.id/balitbang/bal_06/02_saa_xvii/07.html)
Pdt. Dr. Budyanto mengatakan “ Yesus Kristus memang Juru Selamat namun orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, seperti yang dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen-pun dikenal banyak jalan menuju keselamatan”( Sumber : Majalah DUTA terbitan GKJW, bulan April 2000, hal 8-9,)
Nah, jika Kristus bukan satu-satunya jalan keselamatan atau keselamatan juga dapat ditemukan di semua agama, mengapa saya harus susah-susah jadi orang Kristen yang menderita karena sering diperlakukan tidak adil, dihambat kariernya, yang darahnya halal, dan penderitaan yang lainnya?
Mendingan jadi seorang muslim saja, bersaksi di masjid-masjid dan mushola bahwa Alkitab itu bla...bla.... Yesus itu bla...bla....bla.... Kemudian belajar sedikit bahasa Arab langsung ngisi pengajian. Tidak lupa nulis buku “ Mengapa saya bukan Kristen?” Di samping rupiah terus mengalir, jabatanpun langsung melesat! Euenaaak Tenaaaan! Tapi puji Tuhan... pendapat Bapak-bapak yang terhomat di atas adalah tidak benar, sebab:
Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus Kristus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”
1Yoh 5:11-12 - “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”.
1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”
So, saya akan tetap terus di dalam Kristus sebab di luar Dia tidak ada keselamatan. Sekalipun khotbah-khotbah kaum pluralis terus berkumandang di gereja-gereja, hal itu tidak akan menggoyahkan imanku. Biarlah mereka menganggap iman yang demikian sebagai iman yang kuno dan tradisional.... saya tetap percaya Yesus satu-satunya jalan yang menuju ke keselamatan.... entah Anda....
Saya tidak saja setuju dengan tanggapan saudara kristenberea, malah saya sangat prihatin bila ada tokoh-tokoh terpelajar, bahkan mereka juga mempelajari Alkitab secara mendalam malah akhirnya menentang Alkitab itu sendiri. Ada beberapa kemungkinan sehingga orang yang mempelajari Alkitab bisa berpikir seperti tokoh-tokoh Kristen yang kemudian kita sepakat mereka adalah kaum pluralis.
(1) Mereka belum mengalami kelahiran kembali (regeneration) yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Sehingga mereka berpikir secara duniawi seperti tokoh agama Yahudi bernama Nekodemus ketika berbincang dengan Yesus (Yoh 3:1-13). Dan Paulus memberi gambaran seperti apa orang yang berpikir secara duniawi itu, yaitu menganggap Injil itu suatu kebodohan. “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.” (1 Kor 2:14).
(2) Mereka menggunakan metode penafsiran eisegesa, yaitu menggunakan ayat-ayat Alkitab demi mendukung opini mereka sendiri. Metode penasiran yang benar adalah eksegesa, yaitu mengeluarkan ide dari dalam Alkitab, sehingga kecil kemungkinan menyimpang dari maksud penulis maupun menyimpang dari maksud Tuhan, karena mendapat iluminasi (pencerahan) oleh Roh Kudus.
(3) Mereka ingin menjadi pahlawan kesatuan yang bersifat humanis. Keinginan untuk diterima oleh semua pemeluk agama akan mengakibatkan seseorang kompromi, yang cenderung mencampur-adukkan, atau berusaha mencari titik temu antara sistem kepercayaan satu dengan sistem kepercayaan lain. Padahal sikap yang benar adalah toleransi, yang dilandasi oleh pengertian (understanding) bukan kompromi, yang melibatkan juga inti kepercayaan, sehingga pada dasarnya seseorang yang kompromi tidak memiliki keyakinan yang mapan.
Saya ingin ikut mengkritisi cara berpikirnya Pdt. Dr. Budyanto yang mengatakan “ Yesus Kristus memang Juru Selamat namun orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, seperti yang dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen-pun dikenal banyak jalan menuju keselamatan”
Cara berpikir demikian sebetulnya “terlalu pintar.” Karena beliau terkesan lebih pintar dari Yohanes, Lukas, dan Paulus sebagai penulis Injil Yohanes, Kisah Para Rasul dan surat 1 Timotius. Hebat kan? Kalau kita jujur dan tulus mencari kebenaran maka kita akan menemukan ternyata sang penulis, yaitu Yohanes, Lukas dan Paulus tidak punya beban mental, atau di bawah tekanan siapapun ketika menuliskan pernyataan itu, mereka menulis apa yang diilhamkan Roh Kudus. Bukan mereka menjadi manusia mekanik, tetapi Tuhan memakai mereka seutuhnya untuk menuliskan kehendak-Nya sesuai dengan kepribadian dan gaya bahasa mereka masing-masing tetapi pesan utamanya tidak kabur, yaitu bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan, yaitu menuju kepada Bapa di surga.
Memang ironis jika bapak pendeta Dr. Budiyanto itu tidak memahami tiga ayat yang dikutip oleh saudara kristenberea di atas. Tetapi akhirnya saya harus toleran. Kenapa saya bisa mengerti jika beliau-beliau ini berpikir demikian tentang keselamatan. Bisa saja karena tuntutan budaya, tuntutan sosial, dan juga bisa karena memang imannya belum mapan. Bukankah bapak seharusnya turut memperkenalkan Allah yang disembah oleh bapa Abraham, Ishak, dan Yakob adalah Allah yang kemudian menyatakan diri dalam Yesus Kristus, yaitu Tuhan atas semua orang dan semua bangsa.
Rom 10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya
Nah, sebagai anak kemarin sore rasanya kurang hormat, jika saya mengkritisi para tokoh yang sudah mendunia tersebut. Tetapi setidaknya saya sudah melakukan sesuatu dalam rangka mengantisipasi keimanan kristen saya, dan sebagai bagian dari Tubuh Kristus, saya merasa perlu mengkitisi gejala-gejala penyesatan/penyimpangan terhadap Alkitab sebagai standard keimanan Kristen. Saran saya lebih baik beliau-belau ini kembali merenungkan keimanan mereka, atau membuat kitab sendiri untuk meyakinkan penganut pluralisme, dan jangan memakai Alkitab untuk mendukung opini, bahkan keyakinan yang pada dasarnya tidak kristiani.
Melalui sabdaspace ini saya hanya ingin mengajukan pertanyaan kepada para tokoh tersebut di atas.
Kepada Yth.
Bapak ------------
• Prof. Dr. Phil. Franz Magnis-Suseno SJ
• E.G. Singgih
• Pdt. Dr. Budyanto
Bagaimana bapak-bapak menjelaskan Yohanes 14:6, Kisah Para Rasul 4:12, 1 Yohanes 5:11-13; 1 Tim 2:5 kepada umat yang meminta pertanggunganjawab kepada bapak-bapak tentang iman Kristen, jika bapak-bapak tidak yakin bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan? Jika ada kitab lain mohon dipopulerkan ke seluruh dunia. Tapi jika bapak-bapak bukan pemercaya Kristus, ya saya dapat mengerti.