Submitted by Adrina on

‘Selamat’, siapa yang tidak membutuhkan hal ini? Pada umumnya setiap manusia pasti merindukan agar dirinya ‘selamat’. Namun bagaimana memperoleh ‘selamat’? apa yang harus dilakukan manusia, agar dirinya beroleh ‘selamat’?

Ketika sedang mengendarai mobil, kita dianjurkan untuk menggunakan ‘sabuk pengaman’. Untuk apa? Agar bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Saat mengendarai sepeda motor, kita juga dianjurkan untuk menggunakan ‘helm’, karena hal itu berguna bagi keselamatan kita. Saya bekerja sebagai seorang tukang servis motor listrik / dinamo. Pada saat membongkar / memperbaikinya, saya harus menggunakan ‘sarung tangan’ untuk menghindari luka / lecet pada tangan. Motor listrik yang saya kerjakan, kadang-kadang ada yang  memiliki bobot lebih dari 1 ton, oleh karena itu, harus digunakan ‘takal’, suatu alat yang berfungsi untuk mengangkat beban yang berat. Hal itu dilakukan, agar saya terhindar dari kecelakaan yang bisa membuat saya ‘patah tulang’ atau bahkan ‘mati’ akibat tertindis motor tersebut. Jadi, tindakan penyelamatan merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk menghindari pengaruh yang buruk / negative, bagi keselamatan kita.

Ketika manusia menghembuskan nafas terakhirnya, sebetulnya dia sedang pindah ke dua  tempat yang kekal yang bernama ‘surga’ atau ‘neraka’. Surga adalah tempat yang kekal bagi orang yang beriman / percaya, tetapi neraka adalah tempat yang kekal bagi mereka yang tidak beriman. Surga adalah ‘hadiah’ yang di berikan Tuhan secara cuma-cuma  bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya, tetapi neraka adalah tempat penghukuman yang kekal bagi mereka yang tidak percaya.

Lalu apa yang harus dilakukan manusia agar dirinya bisa selamat dari penghukuman Allah itu? Kitab Suci menjelaskannya dengan gamblang, manusia bisa selamat HANYA oleh IMAN (Sola Fide)! [Efesus 2:8].

Ada banyak hamba Tuhan yang mengajarkan bahwa keselamatan itu diperoleh  hanya oleh iman, dan merupakan suatu kepastian, tetapi anehnya, mereka tidak mengajarkan bahwa keselamatan itu terjamin kekal. Menurut saya, kedua hal ini tidak boleh dipisahkan satu dengan yang lainnya. Keselamatan yang telah diperoleh manusia karena iman kepada Kristus, itu tidak akan pernah bisa hilang. Sekali manusia itu selamat, dia tetap selamat sampai selama-lamanya. Inilah yang disebut dengan doktrin ‘Perseverance of the Saints’ atau yang dikenal dengan ‘Ketekunan Orang-orang Kudus’ (point ke 5 dari TULIP).

Ada 5 point besar yang dipercayai oleh kaum Calvinist; Total Depravity (Kebejadan Total), Unconditional Election (Pemilihan tanpa syarat), Limited Atonement (Penebusan terbatas), Irresistible Grace  (Anugerah yang tidak dapat ditolak) dan Perseverance of the Saints (Ketekunan orang-orang kudus). 5 point ini disingkat: TULIP.

Beberapa waktu yang lalu, saya terlibat diskusi dengan salah seorang pengguna ‘SABDA Space’ yang bernama bapak Makimpos Gaol atau yang lebih dikenal dengan bapak Kiem disini . Dalam diskusi tersebut, kami membahas beberapa hal, diantaranya mengenai persoalan keselamatan. Menurutnya, keselamatan itu tidak cukup hanya percaya pada Yesus, tetapi juga harus dibaptis, hidup suci dan memiliki karunia Roh. Disamping itu, bagi dia, keselamatan orang Kristen, bisa hilang / gugur.

Dalam diskusi tersebut, kami sepakat untuk melanjutkan pembahasan tentang “keselamatan yang tidak bisa hilang”, di blog ini. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi adanya tulisan saya ini.

Kalau ditanya: Apakah orang Kristen bisa kehilangan keselamatannya?  Dalam hal ini ajaran Reformed / Calvinisme bertentangan dengan Arminianisme. Reformed mengajarkan bahwa keselamatan tidak bisa hilang, tetapi kelompok Armenianisme mengajarkan keselamatan itu bisa hilang.

Yang mana yang benar: keselamatan bisa hilang, atau tidak bisa hilang? Inilah yang akan kita pelajari bersama.


Definisi


Doktrin tentang ‘Ketekunan orang-orang kudus’, mengajarkan bahwa keselamatan yang diperoleh karena iman pada Tuhan Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh, itu tidak akan bisa hilang; Sekali seseorang menjadi Kristen yang sejati, dia tidak akan bisa berhenti menjadi Kristen / murtad, sekali selamat, tetap selamat !

Saya sebenarnya adalah salah seorang yang menolak istilah ‘Ketekunan orang-orang kudus’. Mengapa? Karena istilah ini bisa menimbulkan ‘salah tafsir’. Orang bisa saja beranggapan bahwa keselamatan itu ternyata diperoleh karena manusia itu tekun / taat pada Tuhan dan bukan karena anugerah semata. Saya lebih setuju dengan penggunaan istilah ‘Jaminan Kekal’ atau ‘Jaminan Keselamatan’, karena yang menyebabkan keselamatan manusia tidak bisa hilang, itu karena Tuhan sendiri yang setia menjaga / menjaminnya, dan bukan karena kerja keras / usaha dari manusia itu sendiri.


Mengapa manusia harus percaya pada doktrin ‘Jaminan Keselamatan’ dan menolak ajaran Arminian?

1)    Karena Kitab Suci mengajarkannya.

Yohanes 10:28-29, merupakan salah satu dasar yang sangat kuat untuk mendukung  doktrin ini.

Joh 10:28-29  “Dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.”

Sebelum membahas ayat ini, ada baiknya kita melihat dulu latar belakang / konteks yang ada, sehingga kita tidak salah dalam memahaminya.

    •    Ayat 9 di pasal 10 ini, menjelaskan bahwa Yesus adalah “pintu” untuk memperoleh “selamat”, yaitu hidup yang kekal secara “berlimpah” (ayat 10), [bdk Yoh 14:6].

    •    Ayat 11, menjelaskan Yesus sebagai Gembala yang baik, yang rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya.

    •    Ayat 12-13, merupakan gambaran tentang ‘orang upahan’ / gembala yang palsu, yang tidak perduli dan tidak bertanggung jawab terhadap dombanya. Hal ini tentunya berbeda dengan Gembala sejati (Yesus) yang mengenal / perduli terhadap domba-domba-Nya (ayat 14-15).

    •    Domba-domba-Nya adalah mereka yang percaya pada Yesus (ayat 26)

    •    Ciri domba adalah: mentaati suara-Nya dan mengikuti-Nya (ayat 27)    

Yohanes 10:28-29, merupakan janji yang sangat indah bagi semua domba-dombaNya (orang percaya). Ayat ini menjelaskan adanya kepastian keselamatan yang tidak mungkin bisa hilang karena Allah sendiri yang ‘memegang’ domba-dombaNya itu.

Ada 5 hal yang dapat kita pelajari dari ayat ini:

    1.    Yesus memberi  hidup yang kekal kepada orang percaya

Yang pertama, ayat ini menjelasan bahwa “hidup kekal” yang dimiliki  oleh orang percaya, bersumber dari Yesus. Keselamatan yang kita peroleh itu, semata-mata hanya karena anugerah Tuhan (Sola Gratia). Tidak ada apapun dari dalam diri kita yang bisa membuat kita menjadi selamat. Perbuatan baik, ketaatan dan karunia yang kita miliki, sama sekali tidak mempunyai andil untuk membawa kita ke sorga. Manusia sama sekali tidak punya kemampuan / kekuatan untuk menyelamatkan dirinya. Allah sendirilah yang harus memberi keselamatan itu pada manusia

Kata “kekal” (Yunani: aionios), berarti: terus menerus, abadi, selama-lamanya, kekal. Ini menunjukkan bahwa, ketika Allah memberi ‘hidup’ bagi orang yang percaya, Allah tidak memberikannya secara ‘berjangka’. Keselamatan yang dianugerahkan-Nya itu, berlangsung secara tetap, tidak berubah dan terus-menerus tanpa henti.
 
    2.    Mereka pasti tidak akan binasa

Setelah kita diberi keselamatan, maka Kristus menjamin, kita pasti tidak akan binasa. Hal ini menegaskan bahwa dalam Kristus, ada kepastian keselamatan. Tidak ada seorangpun / agama manapun di dunia ini yang bisa membawa manusia ke sorga, selain harus lewat Kristus. Banyak orang (termasuk orang Kristen), ket