Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Para Juruselamat Kecil

y-control's picture
Para juruselamat kecil berjalan merangkak, hingga sampai di satu titik tangan mereka mulai menggapai dan merambati dinding untuk berdiri di salah satu sudut jalanan paling ramai di kota. Mereka memang tidak selalu berjalan sendiri-sendiri, namun mereka jelas tidak ingin berada di satu titik yang sama dengan juruselamat kecil lainnya. "Aku adalah juruselamat", pikir mereka. Tidak mungkin ada dua juruselamat dalam satu tempat. Seorang juruselamat selalu bekerja sendiri. Jika ada dua juruselamat dalam satu tempat, pasti salah satunya adalah juruselamat sesat. Meski mereka tahu bahwa mereka hanya juruselamat kecil namun jangan kaget dengan tingkah mereka yang bahkan jauh lebih penuh gaya dibandingkan Juruselamat Besar.

Di satu sudut itu, mereka berdiri dengan tegak. Sorot matanya dengan angkuh memandangi lalu lalang orang di depannya. "Sungguh dunia yang sesat." batinnya. "Mereka berjalan tak tentu arah, dari satu sudut ke sudut lain untuk kemudian berbalik lagi ke sudut semula. Mereka butuh juruselamat untuk menunjukkan mana jalan yang harus ditempuh agar semua rute bolak-balik ini tidak terus terulang. Dan inilah tugasku." Maka, salah satu juruselamat kecil yang sedang kita amati ini mulai mengangkat tangan kanannya sambil telunjuknya teracung ke atas, dengan suara menggelegar ia berkata, "Wahai, kalian manusia yang tak tahu di mana asal muasal dan ke mana tujuan kalian. Kalian yang tiap hari hanya mondar-mandir kesana kemari. Kalian yang tak mengerti bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Kalian yang terus membuang waktu untuk berjalan tanpa pernah berhenti, karena kalian memang tak tahu ke mana harus berhenti. Lihat, di sini penunjuk jalanmu membawa sesuatu yang tak seorang pun dari kalian pernah tahu." Beberapa orang yang hilir mudik dengan berbagai keperluannya itu sejenak berhenti, sebelum kemudian memandang si juruselamat kecil dari atas ke bawah, lalu berjalan lagi sambil menggelengkan kepala.

Raut wajah si juruselamat kecil semula tampak memerah dan kesal melihat tanggapan itu. Namun, dalam beberapa saat ia bisa segera menguasai diri dan kembali menegakkan posisi tubuhnya. Ia kembali meneriakkan ucapan yang sama. Seorang anak kecil berwajah pucat dan lelah mendatanginya. "Pak, bisakah bapak mencari tahu di mana ibu saya berada? Tadi saya ke sini bersamanya, tapi kami terpisah." Juruselamat kecil memandang mata anak kecil berwajah pucat dan lelah itu. Sejenak kemudian, senyumnya mengembang dan ia kembali berteriak lantang, "Anak ini lebih tahu di mana kebenaran daripada kalian. Ia tahu mana jalan yang benar. Tidakkah kalian malu dengan diri kalian sendiri yang mengira tahu banyak padahal tidak tahu apa-apa?" Anak kecil berwajah pucat dan lelah itu kembali bertanya, "Apakah Bapak polisi?" Juruselamat kecil kembali mengacungkan telunjuknya, kali ini arahnya benar-benar lurus ke atas, tanpa memandang wajah anak kecil itu, ia lagi-lagi berteriak, "Aku bukanlah polisi sebab polisi hanya tahu mana yang salah. Tapi aku… Aku juga tahu mana yang benar. Kalian berjalan tanpa tahu mana arah yang benar dan mana yang salah. Kalian harus mengetahui kebenaran. Kalian sesat, tidak diragukan lagi!" Anak kecil berwajah pucat dan lelah tiba-tiba berbinar, ia melihat ibunya datang diantar seorang ibu lain yang menunjuk-nunjuk ke arah juruselamat kecil. Ibu dari anak berwajah pucat dan lelah itu segera memeluk anaknya. "Kamu tidak apa-apa 'kan? Kamu tidak diapa-apakan orang itu 'kan? Tolong bilang kalau dia melakukan sesuatu kepadamu, ibu akan melaporkannya kepada polisi agar dia ditangkap." Anak kecil berwajah pucat yang kini tidak lagi tampak lelah itu menggeleng. Ibunya pun tersenyum lega.

Juruselamat kecil terus mengamati ibu dan anak itu berjalan menjauh. Tak berapa lama kemudian ia kembali berteriak, lebih lantang dari sebelumnya. "Satu jiwa selamat... Satu jiwa mengikuti kebenaran… Kini giliran kalian. Masih belum terlambat sebelum api turun membakar kota ini"

Seorang tua dengan pakaian compang-camping mendekat. Aroma tubuhnya yang menjijikkan dan penampilan yang tidak menandakan kewarasan membuat juruselamat kecil mundur sempoyongan beberapa langkah. "Aku juga ingin menjadi juruselamat, yang kecil saja cukup…" kata pria tua itu. Sambil berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya, juruselamat kecil memandang tajam sosok pria tua di depannya, wajahnya lagi-lagi memerah. "Pergi kau!" hardiknya. Seorang remaja yang rupanya sedari tadi mengamati tingkah keduanya tertawa terbahak-bahak. Juruselamat kecil tampak makin marah. Tanpa peduli pada posisi tubuhnya yang miring dan tidak lagi menunjukkan keanggunan, ia berteriak, "Apa yang kau tertawakan, manusia sesat?? Aku tidak sedang mengusir orang gila ini, tapi aku mengusir hasrat sesatnya untuk menjadi juruselamat. Juruselamat bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh sembarang orang. Aku telah dipanggil sebagai juruselamat karena itulah tugas yang diberikan Juruselamat besar kepadaku." Remaja itu masih tertawa, setelah menengok ke kanan kiri memastikan keadaan agak sepi, ia berkata, "heh, orang gila… jangan sembarangan omong ya. Kamu bisa ditangkap karena bikin keonaran." Mendengar kalimat "ditangkap karena membuat keonaran" raut juruselamat kecil justru terlihat makin bersemangat. "Ayo tangkaplah aku… Aku tidak takut menderita, aku tidak takut disiksa… Aku tidak pernah takut mati, hanya pengecut yang takut mati sehingga mau menjual dirinya pada kesesatan." Remaja itu berhenti tertawa, ia tampak kesal. Terlebih setelah melihat ada orang yang datang, ia segera mundur meninggalkan juruselamat kecil dan orang gila itu. "Anak muda… jangan lari!" teriak si orang tua gila. "Kejar dia! Jangan sampai lepas!" perintah juruselamat kecil pada orang tua gila itu. Tanpa menoleh apalagi membantah, perintah itu diikuti dan membuat si remaja tanggung itu makin mempercepat langkahnya.

Juruselamat kecil menghela napas. Tubuhnya kini ditegakkan lagi. Seorang polisi yang kebetulan lewat berhenti sebentar, mengamatinya. Juruselamat kecil diam, sedikit bergidik melihat seragam, terlebih pistol yang melekat di sabuk si petugas. Namun, ia dengan cepat bisa menguasai keadaan. Ia tidak berteriak lagi melainkan hanya memandangi gerak-gerik polisi yang kini berdiri di depannya sambil menyalakan rokok. Seorang wanita muda menghampiri polisi, memberi tahu bahwa bemper mobilnya ringsek ditabrak seseorang tak dikenal saat ia memarkir mobilnya tidak jauh dari situ. Polisi segera mengikuti wanita itu. Dari tempatnya, juruselamat kecil terus mengawasi dan mencoba menguping pembicaraan mereka. "Jadi ibu tadi parkir di sini? Berapa jam Bu?" Tanya polisi sambil mengeluarkan buku kecil dan pulpen.
"Semalaman Pak"
"Semalaman? Apakah Ibu tinggal di sini?"
"Tidak Pak… saya menginap di rumah teman saya…"
"Siapa nama teman Anda, di mana rumahnya?"
"Ehmm.. . apa kaitannya dengan laporan mobil saya ditabrak Pak?"
"Ini penting Bu, KAMI perlu motif…"
"Teman saya tinggal di apartemen depan itu.."
"Namanya?"
"Ubadi Ubada"
"Hmm?" Polisi mengernyitkan dahi. "Apa hubungan Ibu dengan bapak Ubadi?"
"Kami rekan kerja"
Dalam beberapa detik, polisi meletakkan pulpen, mengeluarkan pistol dari sarung di ikat pinggangnya, diletakkan di atas kap mobil sedan wanita itu, demikian juga dengan borgol.
"Ada apa ini?"
"Ibu telah melanggar hukum susila di negeri ini… Ibu telah melakukan tindakan amoral dengan bapak Ubadi dan mengotori nilai moralitas serta mengganggu keamanan di negeri ini…"
"Anda salah paham, pak Polisi… Saya semalaman bekerja membahas rancangan desain proyek dengan pak Ubadi, kami tidak hanya berdua di sana. Ada lagi seorang rekan yang terlibat dalam proyek ini. Ini adalah proyek yang…"
"Alasan ibu bisa dibicarakan di kantor, mari ikuti saya"
"Tidak bisa…" wanita itu menepis tangan polisi yang berupaya memegang pundaknya dan memborgol pergelangan tangannya. Namun dengan sigap, polisi meraih sebelah tangannya yang lain dan dalam satu gerakan memutarnya ke belakang, dan kedua tangan polisi itu dalam hitungan detik telah melingkar erat di pinggang wanita muda itu dari belakang dengan sangat erat, mendekatkannya pada tubuhnya sendiri.
"Ibu jangan melawan, KAMI bisa mendakwa Anda melawan…"
"Lepaskan saya… Anda juga dapat saya dakwa melakukan pelecehan dan penyerangan secara seksual…" Teriak wanita itu sambil kedua tangannya berusaha memukul tangan polisi dan melepaskan dekapan eratnya di pinggang dan perutnya. Namun, polisi justru mengencangkan dekapannya, jari-jarinya bahkan mulai diarahkan ke atas dan memegang bagian dada wanita itu. "Diam, Bu! Atas nama hukum KAMI perintahkan diam!! Jangan melawan!! Menyerahlah!!"
"Tolooongg…" wanita itu menjerit, suaranya terdengar putus asa saat menyadari tangan polisi makin jauh menggerayangi tubuhnya.

Ketika itu hari menunjukkan pukul sebelas. Di jalanan yang telah ramai dan giat tersebut, beberapa orang mulai mengerumuni polisi yang terus mendekap dan melumpuhkan wanita muda yang mencoba berontak itu. Beberapa anak bersorak. Beberapa pria tertawa. Beberapa ibu setengah baya menggeleng. Beberapa gadis menunjuk-nunjuk pemandangan itu dengan agak marah tapi tidak berani berbuat apa-apa, sementara beberapa pemuda mencoba membicarakan hal itu, membahasnya dengan serius bersama para rekannya yang lain, salah seorang bahkan telah mendapat ide akan menjadikan kejadian tersebut sebagai inspirasi bahan tulisannya.

"Hey… hentikan!" tiba-tiba sebuah suara keras menggelegar dari balik kerumunan itu. Semua menoleh, mencari sumber suara itu, termasuk sang polisi dan wanita muda yang beberapa kancing bajunya telah lepas akibat pergumulan itu.
"Orang gila, ngapain dia?" Seorang bapak tampak kecewa mengetahui siapa yang berteriak itu. Sosok tua dekil yang telah kembali setelah beberapa saat sebelumnya berusaha mengejar seorang pemuda itu menyeruak dari antara kerumunan orang. Tangan kanan gelandangan tua yang dikenal kurang waras itu terangkat ke atas. Aroma yang sangat busuk segera menyebar. Beberapa orang menutup hidung.
"Jangan hiraukan dia.." satu suara dari balik kerumunan menimpali.
Orang gila itu menoleh. "Tahan! Aku tahu yang lebih baik kita lakukan untuk memutuskan ini…" Beberapa orang tertawa keras, "Dasar orang gila tolol!"
"Tolong saya Pak.." wanita muda itu memelas, masih dalam dekapan erat sang polisi. Bajunya telah compang-camping, satu kancing baju lagi jatuh ke tanah, roknya terangkat, sebagian besar pahanya tersingkap menjadi tontonan banyak orang, salah satu tali branya putus, rambutnya acak-acakan, wajahnya lelah, bingung, marah, dan ketakutan.
"Kita bawa dia kepada juruselamat. Ia tahu keadilan…"
"Siapa yang dia bicarakan?" tanya seorang pemuda.
"Pria di sana itu…" seorang lain menunjuk ke arah juruselamat kecil yang segera berusaha tampak anggun.
"Tahu apa dia?"
"Iya, tahu apa dia.. Bukankah di sini kita sudah memiliki polisi?"
"Pak Polisi, bagaimana?" seorang wanita setengah baya bertanya pada polisi itu.
"Aku polisi, akulah petugas penegak keadilan" teriak polisi itu sambil matanya mengerling pada wanita muda yang makin lemah dalam dekapannya.
"Juruselamat… mohon berikan keadilanmu…" teriak si orang gila sambil berlari ke arah juruselamat kecil.
"Hey lepaskan aku, Gila… Mau kaubawa kemana aku ini?" Juruselamat kecil berusaha melepaskan pegangan tangan kotor si orang gila. Namun, orang gila itu terlalu kuat untuknya dan dalam beberapa detik juruselamat kecil sudah berada di tengah-tengah kerumunan massa, di depan sang polisi yang tampak mulai kembali melancarkan aksinya mendekap, meraba, meremas, dan menekan tubuh wanita itu hingga terguncang-guncang ke segala arah.

Semua mata mengarah pada juruselamat kecil.
"Ehh… kalian mau percaya padaku?" suara juruselamat kecil terdengar mencari tahu sekaligus agak kurang yakin.
"Siapa kau?" suara seorang gadis dari belakang.
"Aku juruselamat. Kalian akan kuselamatkan.."
"Dari mana asalmu?" suara pemuda dari samping.
"Pak… tolong saya Pak…" wanita muda itu memandang juruselamat kecil dengan mata putus asa, seperti tak peduli lagi pada polisi yang kini bahkan mulai menciumi tengkuk dan punggungnya dengan ganas. Tubuhnya yang semula sakit kini seperti telah mati rasa, tenaganya habis.
"Asalku tidak usah kalian tahu. Aku tidak tahu, bahkan sebenarnya aku tak tahu apa-apa. Yang aku tahu adalah kalian perlu diselamatkan dan aku ada di sini untuk itu?"
"Selamat dari apa?" Tanya seorang pria di deretan depan.
"Selamat dari kesesatan, dari kekacauan!" suara juruselamat kecil mulai yakin.
"Juruselamat, wanita ini butuh keadilan" orang gila itu mengingatkan.
"Ya, aku tahu. Diamlah.." hardik juruselamat kecil. "Wanita ini butuh keadilan. Polisi ini bukanlah keadilan. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai petugas penegak keadilan,.. benar 'kan?" katanya sambil melirik ke arah polisi yang sejenak berhenti.
"Penegak keadilan? Ya.. ya.. benar.. benar.. itulah aku, penegak keadilan." kata sang polisi yang tampak tak begitu peduli.
"Jadi, sebagai seorang penegak keadilan, ia bertugas meluruskan yang tidak benar, hal yang tidak sesuai dengan keadilan dibuat adil lagi, lalu kenapa kita butuh kamu?." Tanya seorang wanita di baris kedua.
"Pertanyaan bagus…" Juruselamat kecil tersenyum sambil menoleh ke kanan kiri, jarinya menunjuk ke arah wanita yang bertanya itu. "Kalian logis, tapi logika tidak dapat menyelamatkan hidup kalian. Yang kalian butuhkan adalah orang yang bisa mengarahkan kepada jalan yang benar. "
"Jangan katakan kami harus percaya padamu lagi, jawab saja pertanyaannya.. kenapa kau mengira kami membutuhkanmu?" pria di baris depan mulai terlihat kesal.
"Polisi ini tidak adil. Lihat ia menyiksa wanita itu…" si orang gila mencoba ikut bicara, suaranya pelan.
"Aku juruselamat, aku ada untuk meluruskan keadilan, aku datang untuk menghancurkan penyimpangan. Mereka yang hidupnya tidak benar akan kubawa kepada kebenaran. Kalian butuh aku sebab di sini tidak ada yang cukup mengerti tentang mana yang benar dan mana yang salah."
"Hahaha… mari kita uji kebenarannya. Pak polisi, kenapa wanita ini harus kau perlakukan seperti itu?"
"Hah… apa? Ehm… eh… wanita ini pelacur, dia mengganggu rumah tangga orang. Tuan Ubadi adalah pria terhormat dan dia ini telah membawa dosa kepadanya dan polusi moral ke daerah ini… dia sangat berbahaya… tapi dia juga melawan saat hendak ditangkap. Lihat, ia tetap saja berontak…" kata polisi yang kini tubuhnya telah berada di atas tubuh wanita yang sudah dalam keadaan setengah telanjang itu.
"Bohong… aku hanya rekan kerjanya, aku mengadakan pembicaraan dengan pak Ubadi… ia juga masih lajang… aku bersama satu orang lagi.. tolong aku juruselamat… aaaduuh" wanita itu mengerang saat polisi memilin tangannya sambil menghardiknya agar berhenti bicara.
"Dasar penjahat perusak moral!" seru seorang wanita di baris belakang.
"Pelacur!" seru yang lain.
"Pezina!"
"Jalang!"
"Pembawa maksiat!"
"Perempuan pendosa!!"
Massa menjadi riuh dengan cemooh dan cacian. Beberapa mengacung-acungkan tangan. Beberapa menunjuk-nunjuk. Beberapa tertawa sambil bertepuk tangan. Beberapa menggeleng. Sang polisi tertawa terbahak-bahak, makin lama makin keras, hingga terbatuk-batuk, kemudian terengah-engah.

"Apa menurutmu ada yang salah dengan itu?" Tanya pria di baris depan pada juruselamat kecil.
"Eh… polisi ini… wanita itu… mungkin telah bersalah karena melakukan perbuatan melanggar nilai moral. Ia juga membiarkan dirinya berpakaian secara tidak pantas seperti itu di depan umum…. Tapi… ia seharusnya… kita seharusnya… eh.. hmm… cukup memenjarakannya saja… hehehe… ya benar, kita penjarakan saja dia. Tidak perlu menyiksa seperti itu.. tapi aku bukan polisi… aku bukan siapa-siapa… aku hanya tahu beberapa hal tentang kebenaran… tapi, aku akan menyelamatkan semua orang… ya.. ya."
"Apakah kau akan menyelamatkan wanita ini juga?" tiba-tiba polisi bertanya.
"Ehh.. tentu saja.. wanita ini juga" kata juruselamat kecil sambil tangannya menyeka dahinya yang mulai dibasahi keringat.
"Lawan polisi itu, juruselamat. Selamatkan wanita itu dari tangannya" si orang gila mendekat dan berkata nyaris berbisik di dekat juruselamat kecil.
"Namun, wanita ini mungkin saja bukan bagianku. Akan ada Juruselamat Besar yang akan menyelamatkannya…"
"Kau bicara apa lagi?" seru wanita di baris kedua.
"Aku bicara apa adanya. Dosanya terlalu besar… Di atasku ada Juruselamat Besar. Dialah yang memberitahuku tentang kebenaran sejati. Wanita ini adalah bagiannya… Kalian adalah bagianku."
"Jadi aku bisa mengurus wanita ini untuk sementara bukan?" Sang polisi bangkit dan berjalan ke arah juruselamat kecil. Wanita muda itu terlihat pingsan, memar di dahinya.
"Apa yang kaulakukan dengannya? Kau membunuhnya!! Polisi ini pembunuh" seru si orang gila itu kalap sambil mengelus dahi wanita muda yang pingsan dan tubuhnya hanya ditutupi selembar kertas koran.
"Apa kau bisa mempercayai aku untuk mengurusnya? Ataukah kau tidak percaya denganku?" polisi kembali bertanya, wajahnya didekatkan hingga tepat berhadapan dengan wajah juruselamat kecil. Tangannya tampak mengelus-elus gagang pistol yang disarungkan di pinggangnya.
"POLISI PEMBUNUH!!!" Orang gila itu makin kalap, sebuah batu dilemparkannya dan mengenai kaki sang polisi. Dan beberapa saat kemudian, tiga kali suara letusan terdengar, semua hening. Orang gila itu telah bersimbah darah, berlutut, dan jatuh di samping wanita muda tersebut.
"Diberkatilah dia. Ia hanya melakukan yang ia tahu. Namun, ia belum tahu yang sebenarnya. Sayang, kematiannya sangat cepat. Aku belum sempat membawanya ke jalan keselamatan" juruselamat kecil berkata sambil menegakkan kepala.
"Kau hendak membela orang gila muridmu itu?" Tanya sang polisi sambil masih memegang pistolnya yang berasap.
"Tidak.. Eh… Dia bukan muridku… dia sama sekali tidak sama denganku… ia hanya orang gila."
"Kau hendak membela wanita itu? Kau tidak membolehkanku mengurusnya?" polisi kembali bertanya.
"Hahaha… jelas tidak… aku selalu menuruti aturan yang berlaku. Kau adalah yang berwenang mengatur dan menegakkan ketertiban. Kaulah yang berhak… tapi aku akan menyelamatkanmu…" sambil berkata-kata, mata juruselamat kecil tak lepas dari pistol yang baru saja menghabisi nyawa satu-satunya orang yang tampak seratus persen percaya padanya itu.
"Kau akan menyelamatkanku dari apa?" Tanya polisi kembali.
"Dari kesesatan manusia. Maksudku, kau baru saja bersatu dengan kebejatan moral… tapi.. tapi tampaknya kau cukup kuat… kau mungkin tidak akan terkontaminasi hanya dengan persatuan secara tubuh… tapi kau tidak tahu hari ke depan. Kau harus tetap percaya padaku."
"Terserah… percaya tidak percaya, kau akan tetap sama cerewetnya. Lagipula, siapa pula kau ini? Pemimpi? Pengkhayal? Orang yang sama gilanya? Hahahaha…" sambil terus tertawa terbahak-bahak polisi itu berbalik meninggalkan juruselamat kecil, menendang jasad si orang gila, mengangkat tubuh telanjang wanita muda itu, menaruhnya di mobil, dan pergi.

Kini tinggallah juruselamat kecil bersama kerumunan orang. Ketika itu hari menunjukkan pukul dua belas siang. Di jalanan yang telah makin ramai dan makin giat tersebut, orang-orang makin banyak mengerumuninya dan menyaksikan semua yang terjadi dan setiap pembicaraannya. Beberapa anak bersorak saat si polisi pergi. Beberapa pria tertawa saat melihat dan mendengar ucapan juruselamat kecil. Beberapa ibu setengah baya menggeleng. Beberapa gadis menunjuk-nunjuk ke arah polisi itu dengan agak marah tapi tidak berani berbuat apa-apa, sementara beberapa pemuda mencoba membicarakan semua yang terjadi, membahasnya dengan serius bersama para rekannya yang lain, salah seorang bahkan telah mendapat ide akan menjadikan kejadian tersebut sebagai inspirasi bahan tulisannya.
"Juruselamat? Juruselamat apa? Ia hanya orang bodoh!" seru seorang gadis.
"Mari kita bunuh saja dia. Dasar pengganggu ketentraman…" seru seorang pemuda.
"Hei… apa maksud kalian? Jangan biarkan kesesatan merasuki pikiran kalian!" seru juruselamat kecil sambil berjalan mundur menyaksikan beberapa orang yang berwajah kesal mulai maju mendekatinya.
"Kau membiarkan pembunuh itu pergi! Bodoh! Kau hanya penjilat!" seru si gadis.
"Tidak… aku tahu polisi itu hanya mengetahui kesalahan, tapi aku mengetahui kebenaran. Kalian salah jika menganggap aku tidak tahu kalau dia bersalah telah membunuh orang gila itu…" wajah juruselamat terlihat makin pucat.
"Dia bukan orang gila, dia adalah nabi…" seorang ibu menangis sambil bersimpuh di samping jasad si orang gila.
"Ayo kita singkirkan pembunuh nabi kita ini…" seru yang lain.
"Hei.. tunggu dulu. Kalian salah orang. Bukan aku yang membunuhnya, polisi itulah pembunuhnya…" juruselamat kecil bergidik sambil melangkah mundur melihat wajah beringas orang-orang.
"Tapi kau membiarkannya!" sergah yang lain.
"Tidak… kalian juga membiarkannya… kalian juga salah. Jangan kalian dibutakan oleh kegelapan yang dibawa kekuatan polisi itu…" juruselamat kecil makin pucat. Di belakangnya adalah sebuah tembok besar. Ia tak bisa kemana-mana lagi. Ia telah tersudut.
"Rasakan!" entah dari mana munculnya, tiba-tiba guyuran bensin telah membasahi sekujur tubuh juruselamat kecil. Mereka akan membakarnya hidup-hidup. Juruselamat kecil berjongkok, tangannya memohon, ketakutan yang tak terhingga tampak jelas di matanya.
"Tolong, kalian telah salah sangka. Aku membawa misi khusus untuk kalian. Lihatlah dengan mata hati kalian… tolong, kumohon hentikan semua ini… Aku berjanji akan pergi dari sini."
"Bakar." Suara itu datar, tidak keras, tidak pelan, namun penuh wibawa. Sejenak orang-orang terdiam, terpesona mendengarnya. Namun sedetik kemudian, nyala api telah menjilat dan mendekap erat tubuh juruselamat kecil yang lari, berteriak, mencoba bergulingan di tanah, namun semua sia-sia saja. Tubuh juruselamat kecil segera berubah menjadi kobaran api, semua memandang dengan tatapan wajar, tanpa ekspresi khusus.

Seorang pemuda tegap, tampan, berkulit bersih, rambut tersisir rapi, namun telapak tangannya terlihat agak kotor, muncul dari belakang kerumunan orang. Beberapa gadis tersipu melihatnya lalu berbisik-bisik satu sama lain. Pemuda itu membuka suara, orang-orang segera terpesona. Dengan nada datar, tak keras dan tak pelan, wibawanya segera terasa.
"Aku juruselamat kalian, jangan banyak bicara lagi. Segeralah bersiap… aku datang untuk membasmi kesesatan."

***
Pengunjung's picture

cocok buat...

ini cerita cocok buat orang yang punya slogan die as martyr hahaha... anak kecil belum tau dunia